Dua Orang yang Berselisih

Tafsir Al-Qur’an: Surah Shaad ayat 21-24

0
267

Tafsir Al-Qur’an: Surah Shaad ayat 21-24. Seorang hamba diuji sesuai keimanannya, ujian bagi Nabi Dawud ‘alaihis salam, kisahnya terhadap dua orang yang berselisih. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَهَلْ أَتَاكَ نَبَأُ الْخَصْمِ إِذْ تَسَوَّرُوا الْمِحْرَابَ -٢١- إِذْ دَخَلُوا عَلَى دَاوُودَ فَفَزِعَ مِنْهُمْ قَالُوا لَا تَخَفْ خَصْمَانِ بَغَى بَعْضُنَا عَلَى بَعْضٍ فَاحْكُم بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَلَا تُشْطِطْ وَاهْدِنَا إِلَى سَوَاء الصِّرَاطِ -٢٢- إِنَّ هَذَا أَخِي لَهُ تِسْعٌ وَتِسْعُونَ نَعْجَةً وَلِيَ نَعْجَةٌ وَاحِدَةٌ فَقَالَ أَكْفِلْنِيهَا وَعَزَّنِي فِي الْخِطَابِ -٢٣- قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ إِلَى نِعَاجِهِ وَإِنَّ كَثِيراً مِّنْ الْخُلَطَاء لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَّا هُمْ وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعاً وَأَنَابَ -٢٤

Dan apakah telah sampai kepadamu berita orang-orang yang berselisih ketika mereka memanjat dinding mihrab? Ketika mereka masuk (menemui) Dawud lalu dia terkejut karena (kedatangan) mereka. Mereka berkata, “Janganlah takut! (Kami) berdua sedang berselisih, sebagian dari kami berbuat zalim kepada yang lain; maka berilah keputusan di antara kami secara adil dan janganlah menyimpang dari kebenaran serta tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja, lalu dia berkata, “Serahkanlah (kambingmu) itu kepadaku! Dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.” Dia (Dawud) berkata, “Sungguh, dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Memang banyak di antara orang-orang yang bersekutu itu berbuat zalim kepada yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; dan hanya sedikitlah mereka yang begitu.” Dan Dawud menduga bahwa Kami mengujinya; maka dia memohon ampunan kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertobat. (Q.S. Shaad : 21-24)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa hal atāka (dan apakah sudah sampai kepadamu), yakni belum sampai kepadamu, kemudian sampai kepadamu, hai Muhammad!

Naba-ul khashm (berita tentang orang-orang yang beperkara), yakni kisah tentang orang-orang yang beperkara dan bertengkar di hadapan Dawud a.s.

Idz tasawwarul mihrāb (ketika mereka memanjat pagar menuju mihrab), yakni mereka turun menemuinya dari atas mihrab.

Idz dakhalū ‘alā dāwūda fa fazi‘a minhum (ketika mereka menemui Dawud lalu dia terkejut karena [kedatangan] mereka), yakni Dawud terkejut dengan (kedatangan) mereka.

Qālū (berkatalah mereka), yakni dua malaikat yang menemui Dawud itu.

Lā takhaf khashmāni (“Jangan takut, dua orang yang sedang beperkara), yakni kami adalah dua orang yang tengah beperkara.

Baghā ba‘dlunā ‘alā ba‘dlin (yang salah seorang dari kami bertindak zalim kepada yang seorang lagi), yakni bertindak sewenang-wenang dan berbuat zalim kepada yang seorang lagi.

Fahkum bainanā bil haqqi (karena itu, berilah keputusan di antara kami dengan benar), yakni dengan adil.

Wa lā tusythith (dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran), yakni janganlah berpihak dan berbuat dosa.

Wahdinā ilā sawā-ish shirāth (dan tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus”), yakni tunjukkanlah kami kepada kebenaran.

Inna hādzā akhī lahū tis‘uw wa tis‘ūna na‘jatan (sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina), maksudnya mempunyai sembilan puluh istri.

Wa liya na‘jatuw wāhidah (sedang aku mempunyai seekor kambing betina saja), maksudnya mempunyai seorang istri saja.

Fa qāla akfilnīhā (kemudian dia berkata, “Serahkanlah kambingmu itu kepadaku), yakni berikanlah kambing betinamu itu kepadaku.

Wa ‘azzanī fil khithāb (dan dia mengungguliku dalam perkataan”), yakni dia mengalahkanku dalam perdebatan. Ini merupakan perumpamaan yang dikemukakan oleh kedua malaikat kepada Dawud a.s. supaya dia dapat memahami apa yang telah dia lakukan terhadap Uriya.

Qāla (dia berkata), yakni Dawud a.s.

Laqad zhalamaka bi su-āli na‘jatika (sungguh dia telah bertindak zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu), yakni dengan mengambil kambingmu.

Ilā ni‘ājihī ([untuk ditambahkan] kepada kambingnya), yakni padahal kambingnya cukup banyak.

Wa inna katsīram minal khulathā-i (dan sesungguhnya banyak di antara orang-orang yang berserikat itu), yakni banyak di antara orang-orang yang berserikat dan mengadakan rekanan.

La yabghī ba‘dluhum ‘alā ba‘dlin (sebagian mereka benar-benar berbuat zalim kepada sebagian lainnya), yakni benar-benar berbuat zalim kepada yang lain.

Illal ladzīna āmanū (kecuali orang-orang yang beriman) kepada Allah Ta‘ala.

Wa ‘amilush shālihāti (dan mengerjakan amal-amal saleh), yakni ketaatan-ketaatan yang berhubungan dengan Rabb-nya.

Wa qalīlum mā hum (dan amat sedikitlah mereka ini), yakni yang tidak berbuat zalim. Kemudian kedua malaikat itu keluar melalui tempat mereka masuk.

Wa zhanna dāwūdu (dan Daud mengetahui), yakni sesudah itu Dawud a.s. mengetahui dan meyakini.

Annamā fatannāhu (bahwa Kami telah mengujinya) dengan kesalahan yang ada pada dirinya.

Fastaghfara rabbahū (kemudian dia memohon ampunan kepada Rabb-nya) atas kesalahan itu.

Wa kharra rāki‘aw wa anāb (serta menjatuhkan diri bersujud dan bertobat), yakni dan kembali kepada Allah Ta‘ala dengan bertobat dan rasa menyesal.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [16]Dan apakah telah sampai kepadamu berita orang-orang yang berselisih ketika mereka memanjat dinding mihrab[17]?

[16] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan bahwa Dia telah memberikan kepada Nabi-Nya Dawud ‘alaihis salam kebijaksanaan dalam memutuskan perkara di antara manusia, dan Beliau sudah terkenal dengan kebijaksanaannya dalam memberikan keputusan, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan berita dua orang yang bertengkar tentang suatu masalah di hadapan Nabi Dawud yang Allah Subhaanahu wa Ta’aala jadikan sebagai ujian bagi Nabi Dawud dan sebagai nasihat terhadap ketergelincirannya, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerima tobatnya dan mengampuninya.

[17] Mihrab Dawud di sini maksudnya adalah masjidnya atau tempat ibadahnya atau tempat utama di rumahnya yang dia pakai untuk ibadah. Ketika itu, Beliau memerintahkan agar tidak ada yang masuk menemuinya pada hari itu, tetapi ada dua orang yang masuk tanpa meminta izin dan tidak melewati pintu, bahkan dengan memanjat dinding, sehingga Nabi Dawud ‘alaihis salam terkejut dan takut.

  1. Ketika mereka masuk (menemui) Dawud lalu dia terkejut karena (kedatangan) mereka. Mereka berkata, “Janganlah takut! (Kami) berdua sedang berselisih, sebagian dari kami berbuat zalim kepada yang lain; maka berilah keputusan di antara kami secara adil dan janganlah menyimpang dari kebenaran serta tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus[18].

[18] Mereka berdua menerangkan maksud kedatangannya, dan bahwa maksudnya adalah baik, yaitu untuk mencari yang hak, dan keduanya akan menceritakan masalahnya. Setelah diberitahukan demikian, Nabi Dawud ‘alaihis salam menjadi tenang dan tidak memarahi keduanya.

  1. [19]Sesungguhnya saudaraku[20] ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina[21] dan aku mempunyai seekor saja, lalu dia berkata, “Serahkanlah (kambingmu) itu kepadaku! Dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan[22].”

[19] Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Di sini para mufassir menyebutkan kisah yang kebanyakan diambil dari cerita israiliyyat, dan tidak ada hadits shahih pun yang wajib diikuti tentang hal ini dari Rasul yang ma’shum ﷺ. Akan tetapi, Ibnu Abi Hatim meriwayatkan di sini sebuah hadits yang tidak shahih sanadnya karena melalui riwayat Yazid Ar Raqaasyi dari Anas radhiyallahu ‘anhu. Yazid meskipun termasuk orang-orang saleh, tetapi lemah haditsnya menurut para imam. Oleh karena itu, sebaiknya membatasi diri dengan membaca kisah ini dan mengembalikan pengetahuan tentang hal itu kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena Al-Qur’an adalah hak dan kandungannya juga hak. Mereka (para mufassir) menyebutkan, bahwa orang yang bertengkar itu adalah malaikat Jibril dan Mikail, dan dhamir (kata ganti nama) jama’ pada kata “tasawwaruu” kembalinya kepada keduanya karena melihat lafaz khashm. Sedangkan kata na’jah (kambing betina) menurut mereka adalah kiasan untuk wanita, maksudnya adalah ibu Sulaiman, sedangkan sebelumnya ia adalah istri Auriya’ sebelum dinikahi Dawud dan perkataan lainnya yang disebutkan yang tidak sahih.”

[20] Yakni saudara seagama, senasab atau seperkawanan.

[21] Ini adalah kebaikan yang banyak yang seharusnya disikapi dengan qanaa’ah (diterima dengan apa adanya).

[22] Dari susunan perkataan mereka berdua dapat diketahui bahwa seperti itulah kenyataannya, oleh karena itu tidak perlu yang satu lagi berbicara sehingga tidak bisa dikatakan, “Mengapa Nabi Dawud ‘alaihis salam langsung memutuskan sebelum mendengar perkataan orang yang satunya lagi?”

  1. Dia (Dawud) berkata, “Sungguh, dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Memang banyak di antara orang-orang yang bersekutu itu berbuat zalim kepada yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan[23]; dan hanya sedikitlah mereka yang begitu.” Dan Dawud menduga[24] bahwa Kami mengujinya[25]; maka dia memohon ampunan kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertobat.

[23] Yakni iman dan amal saleh yang mereka lakukan menghalangi mereka berbuat zalim.

[24] Yaitu ketika memberikan keputusan di antara keduanya.

[25] Yakni Kami mengujinya dan mengatur masalah itu untuknya agar ia sadar.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan adakah) Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna Ta’ajjub dan Tasywiq, atau dengan kata lainmengandung makna yang mendorong dan merangsang pendengar untuk mendengarkan kalimat-kalimat selanjutnya (sampaikepadamu) hai Muhammad (berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar mihrab?) yaitu mihrab Nabi Dawud, yang dimaksud adalah mesjidnya; demikian itu terjadi karena mereka dilarang masuk, sebab Nabi Dawud sedang beribadah. Akhirnya mereka masuk dengan memanjat pagar mihrabnya. Makna ayat ialah apakah kamu telah mendengar berita dan kisah mereka?
  2. (Ketika mereka masuk menemui Daud lalu ia terkejut karena kedatangan mereka. Mereka berkata, “Janganlah kamu merasa takut) kami (adalah dua orang yang bersengketa) menurut suatu pendapat dikatakan, bahwa yang bersengketa ituadalah dua golongan, demikian itu supaya sesuai dengan dhamir jamak yang sebelumnya. Menurut pendapat yang lain disebutkan bahwa orang yang bersengketa itu dua orang, sedangkan dhamir jamak diartikan dengannya. Lafal Al-Khashmudapat diartikan untuk satu orang atau lebih. Kedua orang itu adalah dua malaikat yang menjelma menjadi dua orang yang sedang bersengketa. Persengketaan yang terjadi di antara keduanya hanyalah sebagai perumpamaan, dimaksud untuk mengingatkan Nabi Dawud a.s. atas apa yang telah dilakukannya. Karena ia mempunyai istri sebanyak sembilan puluh Sembilan orang wanita. Tetapi sekalipun demikian ia melamar istri orang lain yang hanya mempunyai seorang istri kemudian ia mengawininya dan menggaulinya (salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain, maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran) janganlah kamu berlaku berat sebelah (dan tunjukilah kami) bimbinglah kami (ke jalan yang lurus) yakni keputusan yang pertengahan dan adil.
  3. (Sesungguhnya saudaraku ini) maksudnya, saudara seagamaku ini (mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing) ini sebagai kata kiasan dari istri (dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata, ‘Serahkanlah kambing itu kepadaku) yakni jadikanlah aku sebagai suaminya (dan dia mengalahkan aku) atau dia menang atas diriku (dalam perdebatan'”) yakni dalam sengketa ini, dan lawannya pun mengalah.
  4. (Dawud berkata, “Sesungguhnya dia telah berbuat lalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu) dengan maksud untukmenggabungkannya (untuk ditambahkan kepada kambingnya. Sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu) yakni orang-orang yang terlibat dalam satu perserikatan (sebagian mereka berbuat lalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini”) huruf Ma di sini untuk mengukuhkan makna sedikit. Lalu kedua malaikat itu naik ke langit dalam keadaan berubah menjadi ujud aslinya seraya berkata, “Lelaki ini telah memutuskan perkara terhadap dirinya sendiri.” Sehingga sadarlah Nabi Dawud atas kekeliruannya itu.Lalu Allah berfirman, (Dan Dawud yakin) yakni merasa yakin (bahwa Kami mengujinya) Kami menimpakan ujian kepadanya, berupa cobaan dalam bentuk cinta kepada perempuan itu (maka ia meminta ampun kepada Rabbnya lalu menyungkur rukuk) maksudnya bersujud (dan bertobat.)

.

Tafsir Ibnu Katsir

Para ulama tafsir sehubungan dengan ayat ini telah mengetengahkan suatu kisah yang kebanyakan sumbernya berasal dari kisah-kisah Israiliyat, dan tidak ada suatu hadis pun dari Nabi ﷺ yang menerangkannya hingga dapat dijadikan sebagai pegangan. Akan tetapi, Ibnu Abu Hatim sehubungan dengan masalah ini telah mengetengahkan sebuah hadis yang sanadnya tidak sahih, melalui riwayat Yazid Ar-Raqqasyi dari Anas r.a. Dan Yazid sekalipun ia termasuk orang yang saleh, tetapi dalam periwayatan hadis predikatnya lemah menurut penilaian para imam ahli hadis. Maka bisikan yang paling utama ialah hanya membatasi diri terhadap kisah ini sebagai bahan bacaan semata, mengenai pengetahuan yang sebenarnya kita kembalikan kepada Allah Swt. Yang Maha Mengetahui. Karena sesungguhnya Al-Qur’an merupakan hal yang hak, dan apa yang terkandung di dalamnya pun adalah hak.

Firman Allah Swt.:

ia terkejut karena (kedatangan) mereka. (Shad: 22)

Disebutkan demikian tiada lain karena saat itu Daud a.s. sedang berada di mihrabnya yang merupakan tempat yang paling dimuliakan di dalam rumahnya; dan sebelum itu Daud telah memerintahkan kepada para pengawalnya agar tidak mengizinkan seorang pun masuk menemuinya di hari itu. Tanpa sepengetahuannya tiba-tiba ada dua orang yang memanjat tombol menemuinya di mihrab, yakni keduanya menginginkan agar kasus keduanya tidak diketahui oleh orang lain kecuali hanya Dawud a.s.

Firman Allah Swt.:

dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan. (Shad: 23)

Yakni aku tidak dapat menandinginya dalam bersilat lidah; dikatakan ‘Azza Ya’uzzu artinya mengalahkan.

Firman Allah Swt.:

Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya. (Shad: 24 )

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r a bahwa makna yang dimaksud ialah Kami mengujinya. Dalam firman selanjutnya disebutkan:

lalu ia menyungkur sujud dan bertobat. (Shad: 24)

Dari kata raki’an yang artinya rukuk dapat ditakwilkan bahwa bisa saja pada awal mulanya Dawud rukuk, setelah itu dia sujud. Menurut suatu riwayat, Dawud pernah bersujud terus-menerus selama empat puluh pagi hari.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 22 ««««      «««« juz 23 ««««      «««« juz 24 «««««