Pertengkaran di Antara Penghuni Neraka

Tafsir Al-Qur’an: Surah Shaad ayat 62-64

0
267

Tafsir Al-Qur’an: Surah Shaad ayat 62-64. Azab bagi orang-orang yang menentang para nabi, Ketika mereka memasuki neraka, maka antara pemimpin dengan pengikut akan saling mencela. Sungguh, yang demikian itu benar-benar terjadi, yaitu pertengkaran di antara penghuni neraka. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَقَالُوا مَا لَنَا لَا نَرَى رِجَالاً كُنَّا نَعُدُّهُم مِّنَ الْأَشْرَارِ -٦٢- أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيّاً أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصَارُ -٦٣- إِنَّ ذَلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ أَهْلِ النَّارِ -٦٤

Dan (orang-orang durhaka) berkata, “Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina). Dahulu kami menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena penglihatan kami yang tidak melihat mereka?” Sungguh, yang demikian itu benar-benar terjadi, (yaitu) pertengkaran di antara penghuni neraka. (Q.S. Shaad : 62-64)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa qālū mā lanā lā narā (dan mereka berkata, “Mengapa kami tidak melihat) di dalam neraka.

Rijālan (orang-orang), yakni orang-orang fakir mukminin.

Kunnā na‘udduhum minal asyrār (yang dahulu kami anggap sebagai orang-orang yang buruk), yakni orang-orang awam dan fakir.

Attakhadznāhum sikhriyyan (apakah kami dahulu menjadikan mereka sebagai olok-olok), yakni kami telah mencemooh mereka di dunia.

Am zāghat ‘anhumul abshār (ataukah mata [kami] tidak dapat melihat mereka) sehingga kami tidak dapat melihat mereka.

Inna dzālika (sesungguhnya hal itu), yakni informasi tentang ahli neraka yang telah Kami terangkan itu.

La haqqun (pasti terjadi), yakni pasti benarnya.

Takhāshumu ahlin nār (yaitu pertengkaran ahli neraka), yakni tentang percekcokan penghuni neraka, satu sama lain.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan (orang-orang durhaka) berkata[13], “Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia)[14] kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina)[15].

[13] Ketika mereka berada di neraka.

[14] Yang mereka maksud di sini adalah orang-orang mukmin, terutama golongan yang lemah dan fakir.

[15] Yakni kami menganggap mereka sebagai orang-orang yang jahat yang berhak masuk neraka.

  1. Dahulu kami menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena penglihatan kami yang tidak melihat mereka[16]?”

[16] Maksud mereka dengan kata-kata ini adalah bahwa tidak melihatnya mereka orang-orang yang mereka anggap jahat mengandung dua kemungkinan: (1) Bisa jadi karena salah menilai mereka, bahkan sebenarnya mereka adalah orang yang baik sehingga anggapan mereka itu merupakan olok-olokkan kepada orang-orang itu, dan inilah kenyataannya sebagaimana firman Allah Ta’ala kepada penghuni neraka, “Lalu kamu menjadikan mereka bahan ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan kamu selalu mentertawakan mereka, Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka. Sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.” (Terj. Al Mu’minun: 110-111), (2) Bisa jadi karena mereka tidak melihat orang-orang yang mereka anggap jahat itu.

  1. [17]Sungguh, yang demikian itu benar-benar terjadi[18], (yaitu) pertengkaran di antara penghuni neraka[19].

[17] Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman menguatkan berita-Nya, dan Dia adalah yang paling benar ucapannya.

[18] Yakni tidak perlu diragukan lagi.

[19] Sebagaimana yang diterangkan dalam ayat sebelumnya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan mereka berkata,) yakni orang-orang kafir Mekah, sedang mereka berada dalam neraka, (“Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu kami anggap) sewaktu di dunia (sebagai orang-orang yang hina.”)
  2. (Apakah kami dahulu menjadikan mereka olok-olokan) lafal Sukhriyyan dapat pula dibaca Sikhriyyan, yakni kami dahulu sewaktu di dunia menghina mereka. Huruf Ya pada lafal Sukhriyyan adalah Nasab; maksudnya apakah mereka tidak ada (ataukah karena tidak melihat) yakni terhalang (mata kami dari melihat mereka) sehingga mata kami tidak dapat melihat mereka. Yang mereka maksud adalah kaum muslimin yang miskin, seperti Ammar, Bilal, Shuhaib, dan Salman.
  3. (Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi) sudah pasti terjadinya, yaitu (pertengkaran penghuni neraka) sebagaimana yang telah dijelaskan tadi.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Dan (orang-orang durhaka) berkata, “Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina). Apakah kami dahulu menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena mata kami tidak melihat mereka?” (Shad: 62-63)

Hal ini menceritakan keadaan orang-orang kafir di neraka, bahwa mereka merasa kehilangan banyak orang yang dahulunya mereka kira dalam keadaan sesat. Yang mereka maksudkan sebenarnya adalah orang-orang mukmin, yang menurut dugaan mereka dinilai sesat. Untuk itu mereka mengatakan, “Mengapa kami tidak melihat mereka bersama kami di neraka ini?”

Menurut Mujahid, ini adalah ucapan Abu Jahal. Ia mengatakan, “Mengapa saya tidak melihat Bilal, Amar, Suhaib, dan si Fulan dan si Anu.”

Sebenarnya ini adalah tamsil belaka, karena sesungguhnya semua orang kafir mengalami keadaan seperti ini; mereka mempunyai dugaan bahwa orang-orang mukmin masuk neraka. Setelah orang-orang kafir itu dimasukkan ke dalam neraka, maka mereka kehilangan orang-orang mukmin dan tidak melihatnya. Untuk itu mereka mengatakan:

Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina). Apakah kami dahulu menjadikan mereka olok-olokan? (Shad: 62-63)

Yakni semasa berada di dunia.

ataukah karena mata kami tidak melihat mereka? (Shad: 63)

Mereka bertanya kepada diri sendiri tentang hal yang mereka anggap mustahil; mereka mengatakan atau barangkali orang-orang mukmin itu ada bersama kami di neraka Jahanam, tetapi kami tidak melihat mereka di sini. Maka pada saat itu mereka baru mengetahui bahwa orang-orang mukmin berada di atas kedudukan yang tinggi, sebagaimana yang disebutkan kisahnya oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:

Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan), “Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?” Mereka (penduduk neraka) menjawab.”Betul.” Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu.”Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim.” (Al-A’raf: 44)

sampai dengan firman-Nya:

(Kepada orang-orang mukmin itu dikatakan), “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.” (Al-A’raf: 49)

Adapun firman Allah Swt.:

Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran penghuni neraka. (Shad: 64)

Yakni sesungguhnya peristiwa ini yang Kami beritakan kepadamu, hai Muhammad, menyangkut pertengkaran ahli neraka sebagian dan mereka dengan sebagian yang lainnya, dan saling laknat di antara sesama mereka adalah berita yang benar dan tiada keraguan atau kebimbangan padanya, yakni pasti terjadi.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 22 ««««      «««« juz 23 ««««      «««« juz 24 «««««