Kematian Kecil dan Kematian Besar

Tafsir Al-Qur’an: Surah Az-Zumar ayat 42

0
105

Tafsir Al-Qur’an: Surah Az-Zumar ayat 42. Penjelasan tentang hakikat kematian. Kematian Kecil dan Kematian Besar. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

اللَّهُ يَتَوَفَّى الأنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الأخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (٤٢)

Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir. (Q.S. Az-Zumar : 42)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Allāhu yatawaffal aηfusa (Allah mengambil jiwa-jiwa), yakni menggenggam ruh orang-orang.

Hīna mautihā (ketika matinya), yakni ketika ajalnya tiba.

Wal latī lam tamut (dan jiwa [orang-orang] yang belum mati).

Fī manāmihā fa yumsikul latī qadlā ‘ālaihal mauta wa yursilul ukhrā (di waktu tidurnya. Maka Dia menahan jiwa [orang] yang telah Dia tetapkan kematiannya dan melepaskan [jiwa] yang lain) yang belum mati di waktu tidurnya.

Ilā ajalim musammā (sampai batas waktu yang telah ditentukan), yakni sampai waktu tertentu.

Inna fī dzālika (sesungguhnya pada yang demikian itu), yakni pada penahanan dan pelepasan itu.

La āyātin (benar-benar terdapat ayat-ayat), yakni benar-benar terdapat berbagai bukti dan pelajaran.

Li qaumiy yatafakkarūn (bagi kaum yang berpikir) tentang hal itu.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [35]Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya[36] dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur[37]; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan[38]. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir[39].

[35] Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan bahwa Dia yang sendiri mengurus hamba-hamba-Nya baik saat mereka jaga maupun tidur, baik saat mereka hidup dan mati.

[36] Ini adalah kematian kubra (besar). Syaikh As Sa’diy berkata, “Pemberitahuan Allah bahwa Dia memegang nyawa manusia pada saat kematiannya, dan perbuatan itu disandarkan kepada Diri-Nya tidaklah menafikan bahwa Dia telah menyerahkan pekerjaan itu kepada malaikat maut dan para pembantunya sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu,” (Terj. As Sajdah: 11), dan “Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (Terj. Al An’aam: 61) Karena Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyandarkan berbagai perkara kepada Diri-Nya karena melihat sisi Dia sebagai Pencipta dan Pengaturnya, dan Dia menyandarkannya kepada sebab-sebabnya karena melihat sisi termasuk sunnah Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan hikmah-Nya Dia mengadakan sebab untuk semua perkara.”

[37] Ini adalah kematian shughra (kecil), Dia menahan nyawa orang yang belum mati ketika tidurnya.

[38] Maksudnya, orang-orang yang mati itu ruhnya ditahan Allah sehingga tidak dapat kembali kepada tubuhnya; dan orang-orang yang tidak mati hanya tidur saja, ruhnya dilepaskan sehingga dapat kembali lagi kepadanya dan terus hidup sampai sempurna rezeki dan ajalnya.

[39] Dari sana mereka dapat mengetahui, bahwa yang kuasa melakukan hal itu, maka berarti kuasa pula membangkitkan manusia yang telah mati, namun orang-orang kafir tidak memikirkan hal itu.

Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa ruh atau nyawa adalah tubuh yang berdiri sendiri berbeda dengan tubuh badan (lahiriah/jasmani manusia), dan bahwa ruh tersebut diciptakan dan diatur Allah. Allah bertindak padanya pada saat wafat, pada saat memegangnya dan pada saat melepaskannya, dan bahwa ruh orang yang hidup dan orang yang mati dapat saling bertemu di alam barzakh, sehingga berkumpul dan berbincang-bincang, lalu Allah melepaskan ruh orang yang masih hidup dan menahan ruh orang yang telah mati.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Allah mematikan jiwa orang ketika matinya dan) memegang (jiwa orang yang belum mati di waktu tidurnya) artinya Allah memegangnya di waktu ia tidur (maka Dia tahan jiwa orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dan melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan) bagi kematiannya. Jiwa yang dilepaskan itu hanyalah dimatikan perasaannya saja, tetapi ia masih hidup, berbeda dengan jiwa yang benar-benar dimatikan. (Sesungguhnya pada yang demikian itu) pada hal-hal yang telah disebutkan itu (terdapat tanda-tanda) yang menunjukkan akan kekuasaan Allah (bagi kaum yang berpikir) maka karenanya mereka mengetahui, bahwa yang berkuasa melakukan hal tersebut berkuasa pula untuk membangkitkannya; dan orang-orang kafir Quraisy tidak memikirkan hal ini.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Dalam ayat ini disebutkan dua kematian, yaitu kematian kecil, kemudian kematian besar. Sedang dalam surat Az-Zumar disebutkan sebaliknya, yaitu pada mulanya disebut kematian besar, kemudian kematian kecil, melalui firman-Nya:

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. (Az-Zumar: 42)

Di dalam makna ayat ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa semua roh dikumpulkan di mala-ul a’la, seperti yang disebutkan di dalam hadis marfu’ yang diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dan lain-lainnya. Di dalam kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim disebutkan melalui hadis Ubaidillah ibnu Umar, dari Sa’id ibnu Abu Sa’id, dari ayahnya, dari Abu Hurairah r.a. yang telah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فلْينْفُضْه بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي مَا خَلَفَهُ عَلَيْهِ، ثُمَّ لِيَقُلْ: بِاسْمِكَ رَبِّي وَضَعْتُ جَنْبِي، وَبِكَ أَرْفَعُهُ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ

Apabila seseorang di antara kalian menempati peraduannya, hendaklah terlebih dahulu menyapu tempat tidurnya dengan bagian dalam kainnya, karena sesungguhnya dia tidak mengetahui kotoran apa yang telah ditinggalkannya pada peraduannya itu. Kemudian hendaklah ia mengucapkan doa, “Dengan menyebut nama Engkau, ya Tuhanku, aku letakkan lambungku dan dengan menyebut nama Engkau aku mengangkat (membangunkan)nya. Jika Engkau memegang jiwaku, maka kasihanilah ia; dan jika Engkau melepaskannya, maka peliharalah ia sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang saleh.

Sebagian ulama Salaf mengatakan bahwa arwah orang-orang yang mati dicabut bila mereka mati, begitu pula arwah orang-orang yang hidup dicabut bila mereka tidur, lalu mereka saling kenal menurut apa yang telah dikehendaki oleh Allah Swt.

maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya. (Az-Zumar: 42)

Yakni arwah orang yang telah mati dan melepaskan arwah orang yang hidup sampai waktu yang ditentukan. As-Saddi mengatakan sampai tiba saat ajalnya.

Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa Allah menahan jiwa orang yang telah mati dan melepaskan jiwa orang yang hidup, dan tidak pernah terjadi kekeliruan dalam hal ini.

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir. (Az-Zumar: 42)

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

 ««««« juz 23 ««««      «««« juz 24 ««««      «««« juz 25 «««««