Menerima Tobat dan Keras Hukuman-Nya

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Mu’min ayat 3

0
379

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Mu’min ayat 3. Menyebutkan nama-nama Allah, sifat-Nya dan perbuatan-Nya. Yang mengampuni dosa dan menerima tobat dan keras hukuman-Nya; yang memiliki karunia. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ (٣)

Yang mengampuni dosa dan menerima tobat dan keras hukuman-Nya; yang memiliki karunia. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah (semua makhluk) kembali. (Q.S. Al-Mu’min : 3)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Ghāfiridz dzambi (yang mengampuni dosa) orang-orang yang mengucapkan lā ilāha illallāh.

Wa qābilit taubi (dan yang menerima tobat) dari orang-orang yang bertobat dari kemusyrikan.

Syadīdil ‘iqābi (yang amat keras hukuman-Nya) terhadap orang-orang yang mati dalam kemusyrikan.

Dzith thaul (yang memiliki karunia), yakni yang memiliki anugerah, keutamaan, dan kekayaan. Maksudnya, yang memiliki anugerah dan keutamaan bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya, dan tidak membutuhkan orang-orang yang enggan beriman kepada-Nya.

Lā ilāha (tidak ada tuhan) yang dapat melakukan semua itu.

Illā huw, ilaihil mashīr (melainkan Dia. Hanya kepada-Nya [semua] kembali), baik orang-orang yang beriman kepada-Nya maupun orang-orang yang tidak beriman kepada-Nya.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Yang mengampuni dosa[3] dan menerima tobat dan keras hukuman-Nya[4]; yang memiliki karunia. [5]Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah (semua makhluk) kembali.

[3] Bagi orang-orang yang berdosa.

[4] Bagi orang-orang kafir atau orang yang berani berbuat dosa dan tidak mau bertobat darinya.

[5] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menetapkan apa yang Dia tetapkan tentang kesempurnaan-Nya, dimana hal itu mengharuskan Dia saja yang diibadahi dan diikhlaskan amal untuk-Nya, maka Dia berfirman, “Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia.”

Sisi kesesuaian ayat di atas dengan menyebutkan turunnya Al-Qur’an dari sisi Allah Yang memiliki sifat-sifat di atas adalah bahwa sifat-sifat tersebut menghendaki semua makna yang dicakup oleh Al Qur’an. Hal itu, karena Al-Qur’an isinya memberitakan tentang nama-nama Allah, sifat-Nya dan perbuatan-Nya, sedangkan ayat di atas menyebutkan nama-nama Allah, sifat-Nya dan perbuatan-Nya. Bisa juga isinya memberitakan tentang perkara-perkara gaib yang lalu dan yang akan datang, dimana hal itu termasuk pengajaran Allah Yang Maha Mengetahui kepada hamba-hamba-Nya. Bisa juga memberitakan tentang nikmat-nikmat-Nya yang besar dan banyak serta perkara-perkara yang dapat menyampaikan kepadanya, dimana hal ini ditunjukkan oleh firman-Nya, “Dzith thaul” (artinya: yang memiliki karunia). Bisa juga memberitakan tentang hukuman-Nya yang keras dan sesuatu yang membuat seseorang dihukum demikian serta maksiat yang mengharuskan hukuman itu, dimana hal ini ditunjukkan oleh firman-Nya, “Syadiidil ‘iqaab” (artinya: dan keras hukuman-Nya). Bisa juga berisi ajakan kepada orang-orang yang berdosa untuk bertobat, kembali dan beristighfar, dimana hal ini ditunjukkan oleh firman-Nya, “Ghaafiridz dzanbi wa qaabilit taubi syadiidil ‘iqaab” (artinya: Yang mengampuni dosa dan menerima tobat dan keras hukuman-Nya;). Bisa juga isinya pemberitaan bahwa Allah satu-satunya yang berhak diibadahi serta penegakkan dalil ‘aqli (akal) maupun naqli (wahyu) yang menunjukkan demikian, yang mendorong kepadanya, serta melarang beribadah kepada selain Allah sambil menerangkan dalil-dalil ‘aqli dan naqli yang menunjukkan rusaknya syirk dan menakut-nakutinya, dimana hal ini ditunjukkan oleh firman-Nya, “Laailaaha illaa Huwa” (artinya: tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia). Bisa juga memberitakan tentang hukum jaza’I (balasan)-Nya yang adil, pahala untuk orang-orang yang berbuat ihsan, hukuman bagi orang-orang yang durhaka, dimana hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala, “Ilaihil mashiir” (kepada-Nyalah semua kembali). Inilah yang dicakup Al-Qur’an yang merupakan tuntutan yang tinggi.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Yang mengampuni dosa) orang-orang mukmin (dan menerima tobat) mereka (lagi keras hukuman-Nya) terhadap orang-orang kafir, yaitu Dia mengeraskan azab-Nya terhadap mereka (Yang mempunyai karunia) yakni Pemberi nikmat yang lapang; Dia bersifat demikian selama-lamanya. Dimudhafkannya lafal Ghaafir kepada Adz-Dzanbi, lafal Qaabil kepada At-Taubi, dan lafal Syadiid kepada Al-Iqaabi mengandung makna Takrif sebagaimana lafal terakhir yaitu Dzith Thauli. (Tiada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali) semua makhluk pasti kembali kepada-Nya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Yang mengampuni dosa dan menerima tobat. (Al-Mu’min: 3)

Yaitu Yang mengampuni dosa yang telah lalu dan menerima tobat di masa mendatang bagi orang yang bertobat kepada-Nya dan tunduk patuh kepada-Nya.

Firman Allah Swt.:

lagi keras hukuman-Nya. (Al-Mu’min: 3)

Yakni terhadap orang yang membangkang, melampaui batas, memilih kehidupan dunia, menentang perintah-perintah Allah, dan bersikap menantang. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الألِيمُ

Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih. (Al-Hijr: 49-50)

Kedua sifat ini sering disebutkan secara berbarengan dalam berbagai tempat dalam Al-Qur’an, dimaksudkan agar seseorang hamba selalu berada dalam keadaan rasa harap dan takut kepada-Nya.

Firman Allah Swt.:

Yang mempunyai karunia. (Al-Mu’min: 3)

Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah Yang mempunyai keluasan dan kecukupan.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid dan Qatadah.

Yazid ibnul Asam mengatakan bahwa Dzit Thaul artinya Yang mempunyai kebaikan yang banyak.

Ikrimah mengatakan bahwa Dzit Thaul artinya Yang mempunyai karunia. Qatadah mengatakan, Yang mempunyai nikmat dan keutamaan-keutamaan. Makna yang dimaksud ialah bahwa Allah Swt. adalah Tuhan Yang melimpahkan karunia kepada hamba-hamba-Nya yang merasa tidak puas dengan semua karunia dan nikmat yang telah ada pada mereka, yang semuanya itu tidak akan mampu mereka mensyukuri salah satu pun darinya. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. (An-Nahl: 18)

Adapun firman Allah Swt.:

Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. (Al-Mu’min: 3)

Yakni tiada tandingan bagi-Nya dalam semua sifat yang dimiliki-Nya. Maka tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, dan tiada Rabb selain Dia.

Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk). (Al-Mu’min: 3)

Yaitu kepada-Nyalah semuanya dikembalikan, lalu Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing.

وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

dan Dialah Yang Maha Cepat hisab (perhitungan)-Nya (Ar-Ra’d:41)

Abu Bakar ibnu Iyasy mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Ishaq As-Subai’i mengatakan bahwa pernah ada seorang lelaki datang kepada Khalifah Umar ibnul Khattab, lalu lelaki itu bertanya, “Hai Amirul Mu’minin, sesungguhnya aku pernah membunuh (orang), maka masih adakah tobat bagiku?” Maka Umar r.a. membacakan firman-Nya: Ha Mim. Diturunkan Kitab ini (Al-Qur’an) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, Yang Mengampuni dosa dan Menerima tobat lagi keras hukuman-Nya. (Al-Mu’min: 1-3) Lalu Khalifah Umar berkata kepadanya, “Beramallah, janganlah kamu berputus asa.”

Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan atsar ini, juga Ibnu Jarir, sedangkan teksnya menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Marwan Ar-Ruqqi, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Ayyub, telah menceritakan kepadaku Ja’far ibnu Barqan, dari Yazid Al-Asam yang telah menceritakan bahwa dahulu ada seorang lelaki penduduk negeri Syam yang mempunyai kekuatan (berpengaruh). Dia biasa menghadap kepada Khalifah Umar r.a. sebagai perutusan kaumnya. Maka pada suatu hari Khalifah Umar merasa kehilangan dia, lalu menanyakan tentangnya, “Apakah yang telah dilakukan oleh si Fulan bin Anu?” Orang-orang menjawab, “Wahai Amirul Mu’minin, dia sekarang gemar minum-minuman ini (khamr).” Maka Khalifah Umar memanggil juru tulisnya (sekretarisnya), lalu berkata kepadanya, “Tulislah, dari Umar ibnul Khattab kepada Fulan bin Anu. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, sesungguhnya aku memuji kepada Allah dalam surat yang ditujukan kepadamu ini, bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah, Yang Mengampuni dosa dan Menerima tobat serta sangat keras hukuman-Nya Yang Mempunyai karunia, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, dan hanya kepada-Nyalah makhluk dikembalikan.” Setelah itu Khalifah Umar menyerukan kepada teman-temannya agar mendoakan buat teman mereka, semoga ia sadar dan kembali bertobat kepada Allah. Ketika surat itu sampai kepada lelaki yang dimaksud, maka ia langsung membacanya dan ia baca berulang-ulang, lalu berkata, “Yang Mengampuni dosa, Yang Menerima tobat, Yang sangat keras hukuman-Nya. Umar telah memperingatkan diriku akan hukum-Nya dan dia menjanjikan bahwa Allah akan memberikan ampunan bagiku.”

Atsar yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Na’im melalui hadis Ja’far ibnu Barqan yang dalam riwayatnya ditambahkan bahwa lelaki itu setelah menerima surat terus-menerus mengoreksi dirinya hingga ia menangis, lalu menghentikan perbuatannya dan bersikap baik dalam tobatnya itu. Ketika beritanya sampai kepada Khalifah Umar r.a., maka Umar r.a. berkata, “Cara inilah yang harus kalian lakukan bila kalian melihat ada seseorang dari teman kalian yang terjerumus ke dalam kekeliruan. Maka luruskanlah dia, teguhkanlah hatinya, dan mohonkanlah kepada Allah semoga Dia menerima tobatnya, dan janganlah kalian menjadi penolong setan terhadapnya.”

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Waqid, telah menceritakan kepada kami Abu Umar As-Saffar, telah menceritakan kepada kami Sabit Al-Bannani yang mengatakan bahwa ia pernah bersama Mus’ab ibnuz Zubair r.a. di daerah pedalaman Kufah. Lalu ia memasuki sebuah kebun dan melakukan salat dua rakaat di dalamnya. Ia membuka salatnya dengan membaca surat Ha Mim Al-Mu’min hingga sampai pada firman-Nya: Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk). (Al-Mu’min: 3). Tiba-tiba ada seorang lelaki di belakangku yang mengendarai bagal berbulu blonde dengan mengenakan pakaian burdah yamani. Lelaki itu berkata: Jika engkau katakan, “Yang Mengampuni dosa, ” maka katakanlah olehmu, “Ya Tuhan Yang Mengampuni dosa, ampunilah bagiku dosa-dosaku.” Dan jika engkau katakan, “Yang Menerima tobat, ” maka katakanlah olehmu, “Ya Tuhan Yang Menerima tobat, terimalah tobatku.” Dan jika engkau katakan, “Yang keras hukuman-Nya, maka katakanlah olehmu, “Ya Tuhan Yang keras hukuman-Nya, janganlah Engkau menghukumku.” Maka aku menoleh ke belakang, dan ternyata aku tidak melihat seorang manusia pun, lalu aku keluar menuju ke pintu kebun itu dan bertanya, “Apakah kalian melihat seorang lelaki yang mengenakan kain burdah yamani?” Mereka menjawab, “Kami tidak melihat seorang pun.” Maka mereka berpendapat bahwa lelaki tersebut adalah Nabi Ilyas a.s.

Kemudian Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya pula melalui jalur lain dari Sabit dengan lafaz yang semisal, hanya dalam riwayatnya kali ini tidak disebutkan Nabi Ilyas a.s.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

 ««««« juz 23 ««««      «««« juz 24 ««««      «««« juz 25 «««««