Iman di Waktu Azab Telah Datang

Surah Al-Mu’min ayat 82-85

0
289

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Mu’min ayat 82-85. Sunnatullah tidak berubah, pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa yang terjadi pada umat-umat terdahulu, dan bahwa iman di waktu azab telah datang tidak berguna lagi. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْهُمْ وَأَشَدَّ قُوَّةً وَآثَارًا فِي الأرْضِ فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (٨٢) فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (٨٣) فَلَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا قَالُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهِ مُشْرِكِينَ (٨٤) فَلَمْ يَكُ يَنْفَعُهُمْ إِيمَانُهُمْ لَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ فِي عِبَادِهِ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْكَافِرُونَ (٨٥)

Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu lebih banyak dan lebih hebat kekuatannya serta (lebih banyak) peninggalan-peninggalan peradabannya di bumi, maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka. Maka ketika para rasul datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka merasa senang dengan ilmu yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh (azab) yang dahulu mereka memperolok-olokkannya. Maka ketika mereka melihat azab Kami, mereka berkata, “Kami hanya beriman kepada Allah saja, dan kami ingkar kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah.” Maka iman mereka ketika mereka telah melihat azab kami tidak berguna lagi bagi mereka. Itulah sunnah (ketentuan) Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan ketika itu rugilah orang-orang kafir. (Q.S. Al-Mu’min : 82-85)

.

Tafsir Ibnu Abbas

A fa lam yasīrū (maka tidakkah mereka mengadakan perjalanan), yakni tidakkah orang-orang kafir Mekah itu bepergian.

Fil ardli fa yaηzhurū (di bumi kemudian memperhatikan), yakni merenungkan.

Kaifa kāna ‘āqibatu (bagaimana jadinya akibat), yakni balasan.

Alladzīna ming qablihim (bagi orang-orang yang sebelum mereka), yakni bagaimana Kami membinasakan mereka manakala mendustakan rasul-rasul.

Kānū aktsara minhum (adalah orang-orang yang sebelum mereka lebih banyak daripada mereka), yakni daripada penduduk Mekah secara kuantitas.

Wa asyadda qawwatan (lebih hebat kekuatannya) secara fisik.

Wa ātsāraη fil ardli (dan bekas-bekas mereka di muka bumi), yakni lebih hebat pencariannya dan lebih jauh perjalanannya.

Fa mā aghnā ‘anhum (namun, tiadalah dapat menolong mereka) dari Azab Allah Ta‘ala.

Mā kānū yaksibūn (apa yang mereka usahakan itu), yakni apa yang mereka katakan dan mereka lakukan dalam agama mereka.

Fa lammā jā-at-hum rusuluhum bil bayyināti (maka ketika rasul-rasul mereka datang dengan membawa keterangan-keterangan), yakni dengan membawa perintah dan larangan.

Farihū (mereka pun merasa gembira), yakni merasa bangga.

Bimā ‘iηdahum minal ‘ilmi (dengan pengetahuan yang ada pada mereka), yakni dengan agama dan amal yang ada pada mereka. Padahal semua itu hanyalah sangkaan belaka tanpa adanya suatu keyakinan.

Wa hāqa (dan dikepunglah), yakni diturunkanlah dan dikelilingilah.

Bi him mā kānū bihī yastahzi-ūn (mereka oleh apa yang selalu mereka cemoohkan itu), yakni oleh siksaan karena cemoohan mereka terhadap para rasul.

Fa lammā ra-au ba’sanā (kemudian ketika mereka melihat siksaan Kami), yakni Azab Kami.

Qālū āmannā billāhi wahdahū wa kafarnā bimā kunnā bihī musyrikīn . (mereka berkata, “Kami beriman kepada Allah semata, dan kami kafir kepada tuhan-tuhan yang selalu kami persekutukan dengan-Nya), yakni dengan Allah Ta‘ala. Tetapi hal itu hanya dalam ucapan saja dan bukan dengan hati, ketika azab sudah di depan mata.

Fa lam yaku yaηfa‘uhum īmānuhum lammā ra-au ba’sanā (namun, iman mereka tiadalah berguna bagi mereka ketika mereka telah melihat siksaan Kami), yakni melihat Azab Kami untuk membinasakan mereka. Tidaklah bermanfaat adanya iman setelah melihat azab dengan mata kepada sendiri, tapi iman yang sebelum itulah yang bemanfaat dan demikian pula halnya dengan tobat.

Sunnatallāhi ([itulah] Sunnah Allah), yakni seperti itulah Cara Allah Ta‘ala.

Allatī qad khalat (yang telah berlaku), yakni yang telah berlalu.

(pada), yakni terhadap.

‘Ibādihī (Hamba-hamba-Nya), yaitu adanya azab ketika terjadi pendustaan, serta penolakan iman dan tobat manakala azab telah muncul di depan mata.

Wa khasira hunālika (dan saat itu binasalah), yakni saat azab sudah di depan mata, tertipulan lantaran mendapat sikasa.

Al-kāfirūn (orang-orang yang kafir) kepada Allah Ta‘ala.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [34]Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di bumi lalu memperhatikan[35] bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka[36]. Mereka itu lebih banyak dan lebih hebat kekuatannya serta (lebih banyak) peninggalan-peninggalan peradabannya di bumi[37], maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka[38].

[34] Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengajak orang-orang yang mendustakan rasul untuk mengadakan perjalanan di bumi baik dengan hati maupun badan serta bertanya kepada orang-orang yang mengetahui.

[35] Sambil memikirkan, tidak sekedar melihat namun hatinya lalai.

[36] Dari kalangan umat-umat yang terdahulu, seperti ‘Aad, Tsamud dan lainnya, dimana mereka lebih besar kekuatannya dan lebih banyak hartanya serta lebih banyak peninggalannya.

[37] Seperti bangunan, alat perlengkapan, benteng-benteng dan istana-istana.

[38] Ketika datang kepada mereka perintah Allah (untuk mengazab mereka). Ketika itu kekuatan mereka tidak berguna, mereka tidak mampu menebusnya dengan harta mereka serta tidak mampu berlindung di balik benteng mereka.

  1. [39]Maka ketika para rasul datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata[40], mereka merasa senang dengan ilmu yang ada pada mereka[41] dan mereka dikepung oleh (azab) yang dahulu mereka memperolok-olokkannya.

[39] Selanjutnya Allah menyebutkan kesalahan besar mereka.

[40] Yaitu dengan kitab-kitab samawi, mukjizat, ilmu yang bermanfaat yang menerangkan petunjuk daripada kesesatan, yang hak dari yang batil.

[41] Mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka maksudnya ialah bahwa mereka sudah merasa cukup dengan ilmu pengetahuan yang ada pada mereka dan tidak merasa perlu lagi dengan ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh rasul-rasul mereka, malah mereka memandang enteng dan memperolok-olokkan keterangan yang dibawa rasul-rasul itu. Sudah menjadi maklum, bahwa kegembiraan mereka menunjukkan ridhanya mereka terhadapnya dan berpegangnya mereka kepadanya serta menentang kebenaran yang dibawa para rasul. Termasuk ke dalam contoh ilmu yang biasanya manusia berbangga dengannya adalah ilmu Filsafat dan ilmu Mantiq Yunani, dimana dengan ilmu itu mereka bantah banyak ayat-ayat Al-Qur’an, mengurangi keagungannya di hati manusia, serta menjadikan dalil-dalilnya yang yakin dan qath’i (pasti) sebagai dalil-dalil lafzhi yang tidak membuahkan sedikit pun keyakinan, mereka dahulukan akal orang-orang yang bodoh dan batil daripada dalil-dalil tersebut. Ini termasuk sikap menyimpang dalam ayat-ayat Allah dan menentangnya, wallahul musta’aan.

  1. Maka ketika mereka melihat azab Kami, mereka berkata[42], “Kami hanya beriman kepada Allah saja, dan kami ingkar kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah[43].”

[42] Sebagai sikap pengakuan, namun ketika itu pengakuan tidak lagi bermanfaat.

[43] Baik patung maupun berhala, dan kami berlepas diri dari segala sesuatu yang menyelisihi rasul, baik yang berupa ilmu maupun amal.

  1. Maka iman mereka ketika mereka telah melihat azab kami tidak berguna lagi bagi mereka. Itulah sunnah (ketentuan) Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya[44]. Dan ketika itu rugilah orang-orang kafir[45].

[44] Yakni iman tidaklah bermanfaat ketika azab telah datang. Hal itu, karena iman tersebut adalah iman karena terpaksa dan sudah menyaksikan langsung, padahal iman hanyalah bermanfaat ketika masih gaib, yaitu sebelum ada tanda-tanda azab.

[45] Yakni jelas sekali kerugian mereka bagi setiap orang. Sedangkan mereka sebelum itu juga selalu rugi.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Adalah orang-orang yang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan lebih banyak bekas-bekas mereka di muka bumi) seperti gedung-gedung dan bangunan-bangunan lainnya sebagai peninggalan mereka (maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka.)
  2. (Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa keterangan-keterangan) yakni mukjizat-mukjizat yang nyata (mereka merasa senang) orang-orang kafir itu (dengan apa yang ada pada mereka) yakni rasul-rasul itu (yaitu pengetahuan mereka) pengertian gembira di sini mengandung makna ejekan dan olok-olokan seraya ingkar kepada apa yang didatangkan oleh para rasul itu (dan menimpalah) maksudnya, turunlah (kepada mereka apa yang selalu mereka perolokolokkan itu) yaitu, azab Allah yang selalu mereka ejek itu.
  3. (Maka tatkala mereka melihat azab Kami) yakni betapa kerasnya azab Kami (mereka berkata, “Kami beriman hanya kepada Allah saja, dan kami kafir kepada sesembahan-sesembahan yang telah kami mempersekutukannya dengan Allah.”)
  4. (Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunah Allah) dinashabkannya lafal Sunnatallaahi karena menjadi Mashdar dari Fi’il yang diperkirakan keberadaannya, dan Fi’il tersebut diambil dari lafalnya (yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya) yaitu pada semua umat, bahwasanya iman tiada gunanya apabila timbul di kala azab turun. (Dan di waktu itu merugilah orang-orang kafir) yakni jelaslah kerugian mereka; masing-masing di antara mereka mengalami kerugian yang nyata; dan memang sebelum itu pun mereka adalah orang-orang yang merugi.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. menceritakan tentang umat-umat terdahulu yang mendustakan rasul-Nya, dan apa yang telah menimpa mereka berupa azab yang keras, padahal mereka adalah orang-orang yang kuat dan berpengaruh di muka bumi dan mempunyai harta benda yang banyak serta kekayaan yang berlimpah. Akan tetapi, semuanya itu tidak memberikan manfaat barang sedikit pun kepada mereka dan tidak dapat menolak dari mereka barang sedikit pun dari perintah (azab) Allah.

Demikian itu karena ketika datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa keterangan-keterangan, bukti-bukti yang jelas, serta hujah-hujah yang pasti, mereka tidak mengindahkan seruan para rasul itu dan tidak mau menerimanya, bahkan mereka merasa cukup dengan pengetahuan yang ada pada mereka dengan anggapan bahwa itu lebih baik daripada apa yang disampaikan oleh para rasul kepada mereka.

Mujahid mengatakan bahwa umat-umat terdahulu itu mengatakan, “Kami lebih mengetahui daripada mereka (para rasul itu), bahwa kami tidak akan dibangkitkan dan tidak akan diazab.”

As-Saddi mengatakan bahwa mereka merasa senang dengan pengetahuan yang mereka miliki, padahal sikap mereka itu jahil (bodoh), maka ditimpalah mereka oleh azab Allah yang belum pernah mereka alami sebelumnya.

dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu. (Al-Mu’min: 83)

Yakni azab yang dahulunya mereka dustakan dan mereka anggap mustahil akan terjadi.

Maka tatkala mereka melihat azab Kami. (Al-Mu’min: 84)

Yaitu di saat mereka menyaksikan terjadinya azab atas diri mereka dengan mata kepala mereka sendiri.

mereka berkata, “Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah.” (Al-Mu’min: 84)

Pada saat itulah mereka mengesakan Allah Swt. dan kafir kepada berhala-berhala, tetapi hal itu terjadinya sesudah nasi menjadi bubur dan tiada gunanya lagi alasan dan permintaan maaf. Seperti yang dikatakan oleh Fir’aun pada saat ia ditenggelamkan, yaitu:

آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Saya percaya bahwa tiada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). (Yunus: 90)

Maka dijawab oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:

آلآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (Yunus: 91)

Yakni Allah tidak menerima imannya karena dia telah dikutuk oleh Musa a.s. saat Musa a.s. memohon kepada Allah Swt., dan permohonannya diperkenankan, yaitu:

وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلا يُؤْمِنُوا حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الألِيمَ

dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih. (Yunus: 88)

Hal yang sama dikatakan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya dalam surat ini, yaitu:

Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. (Al-Mu’min: 85)

Demikianlah hukum Allah terhadap orang yang bertobat kepada-Nya di saat ia menyaksikan azab. Yaitu bahwa Allah tidak mau menerima tobatnya. Karena itulah disebutkan di dalam sebuah hadis yang mengatakan:

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

Sesungguhnya Allah Swt. senantiasa menerima tobat hamba-(Nya) selama dia belum sekarat.

Yakni apabila ia sekarat dan rohnya sampai di tenggorokan dan malaikat maut telah dilihatnya, maka pintu tobat sudah tertutup baginya saat itu. Karenanya disebutkanlah oleh firman-Nya:

Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir. (Al-Mu’min: 85)

Demikian akhir surah Al-Mu’min. Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

 ««««« juz 23 ««««      «««« juz 24 ««««      «««« juz 25 «««««