Permusuhan kepada Al-Qur’anul Karim

Surah Fushshilat ayat 26-29

0
392

Tafsir Al-Qur’an: Surah Fushshilat ayat 26-29. Permusuhan orang-orang kafir kepada Al-Qur’anul Karim. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ (٢٦) فَلَنُذِيقَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا عَذَابًا شَدِيدًا وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَسْوَأَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ (٢٧) ذَلِكَ جَزَاءُ أَعْدَاءِ اللَّهِ النَّارُ لَهُمْ فِيهَا دَارُ الْخُلْدِ جَزَاءً بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ (٢٨) وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا رَبَّنَا أَرِنَا الَّذَيْنِ أَضَلانَا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ نَجْعَلْهُمَا تَحْتَ أَقْدَامِنَا لِيَكُونَا مِنَ الأسْفَلِينَ (٢٩)

Dan orang-orang yang kafir berkata, “Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Al-Qur’an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan.” Maka sungguh, akan Kami timpakan azab yang keras kepada orang-orang yang kafir itu dan sungguh, akan Kami beri balasan mereka dengan seburuk-buruk balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Demikianlah balasan (terhadap) musuh-musuh Allah (yaitu) neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai balasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami. Dan orang-orang yang kafir berkata, “Ya Tuhan kami, perlihatkanlah kepada kami dua golongan yang telah menyesatkan kami yaitu (golongan) jin dan manusia, agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami agar kedua golongan itu menjadi paling bawah.” (Q.S. Fushshilat : 26-29)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa qālal ladzīna kafarū (dan berkatalah orang-orang kafir), yakni orang-orang kafir Mekah: Abu Jahl dan kawan-kawannya.

Lā tasma‘ū li hādzal qur-āna (“Janganlah kalian mendengarkan Al-Qur’an ini), yakni Al-Qur’an yang dibacakan Nabi Muhammad ﷺ kepada kalian.

Walghau (dan buatlah kegaduhan), yakni buatlah hiruk pikuk.

Fīhi (terhadapnya). Ini adalah bentuk penghasutan.

La‘allakum taghlibūn (supaya kalian dapat mengalahkan”), yakni supaya kalian dapat mengalahkan Muhammad ﷺ sehingga ia terdiam.

Fa la nudzīqannal ladzīna kafarū (maka sungguh Kami akan merasakan kepada orang-orang kafir), yaitu Abu Jahl dan kawan-kawannya.

‘Adzābaη syadīdan (azab yang keras) di dunia pada Perang Badr.

Wa la najziyannahum aswa-al ladzī kānū ya‘malūn (dan Kami pasti akan memberi mereka balasan dengan seburuk-buruk [pembalasan] atas apa yang dahulu mereka perbuat), yakni dengan seburuk-buruk (pembalasan) atas apa yang dahulu mereka perbuat ketika di dunia.

Dzālika (itulah) bagi mereka di dunia.

Jazā-u a‘dāillāhi (balasan terhadap musuh-musuh Allah) dan balasan terhadap musuh-musuh Allah di akhirat.

An-nāru lahum fīhā ([yaitu] neraka. Mereka mendapatkan di dalamnya), yakni di dalam neraka.

Dārul khuldi (tempat tinggal yang abadi) di mana mereka benar-benar kekal di dalamnya.

Jazā-am bimā kānū bi āyātinā yajhadūn (sebagai balasan atas keingkaran mereka kepada Ayat-ayat Kami), yakni atas kekafiran mereka kepada Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an.

Wa qālal ladzīna kafarū (dan berkatalah orang-orang kafir) di dalam neraka.

Rabbanā (“Rabbana), yakni ya Tuhan kami.

Arinal ladzīna adlallānā (perlihatkanlah kepada kami dua jenis [makhluk] yang telah menyesatkan kami) dari kebenaran dan petunjuk.

Minal jinni wal iηsi (yaitu dari kalangan jin dan manusia). Dari kalangan jin adalah iblis dan dari kalangan manusia adalah Qabil yang telah membunuh saudaranya, Habil. Ada yang berpendapat, dari kalangan jin adalah iblis dan setan-setan, dan dari kalangan manusia adalah para pemuka mereka.

Naj‘alhumā tahta aqdāminā (kami akan menjadikan keduanya di bawah telapak kaki kami) sebagai siksaan.

Li yakūnā minal asfalīn (agar keduanya menjadi kaum yang terhina”), yakni kaum yang pertama merasakan azab.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [4]Dan orang-orang yang kafir berkata[5], “Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Al-Qur’an ini[6] dan [7]buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan[8].”

[4] Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan tentang berpalingnya orang-orang kafir dari Al-Qur’an dan saling berwasiatnya mereka untuk itu.

[5] Ketika Nabi ﷺ membacakan Al-Qur’an.

[6] Yakni palingkanlah pendengaranmu dan janganlah menoleh kepadanya, jangan mendengarkannya dan jangan memperhatikan orang yang membawanya.

[7] Jika ternyata berbetulan kamu mendengarnya atau kamu mendengar seruan kepadanya, maka buatlah kegaduhan terhadapnya.

[8] Sehingga Beliau berhenti membacakan.

Ini merupakan persaksian dari musuh, bahwa apabila mereka mau mendengarnya tentu mereka akan kalah karena apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah kebenaran; sejalan dengan akal dan fitrah mereka. Dengan demikian, pantaslah mereka disesatkan Allah karena niat mereka memang buruk, tidak mau mencari yang hak bahkan menghalangi manusia daripadanya, dan pantaslah mereka mendapat hukuman yang berat, dan benarlah Allah, bahwa Dia tidak pernah berbuat zalim kepada seorang pun.

  1. Maka sungguh, akan Kami timpakan azab yang keras kepada orang-orang yang kafir itu dan sungguh, akan Kami beri balasan mereka dengan seburuk-buruk balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
  2. Demikianlah[9] balasan (terhadap) musuh-musuh Allah[10] (yaitu) neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya[11] sebagai balasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami[12].

[9] Yakni azab yang keras dan balasan yang paling buruk itu.

[10] Yaitu mereka yang menentang Allah dan memerangi para wali-Nya dengan sikap kufur, mendustakan, mendebat dan memerangi secara fisik.

[11] Azab yang ditimpakan kepada mereka tidak akan diringankan meskipun sesaat, dan mereka tidak akan ditolong.

[12] Padahal ayat-ayat-Nya merupakan ayat-ayat yang jelas, dalil-dalilnya qath’i (pasti) dan membuahkan keyakinan. Oleh karena itu, merupakan kezaliman dan kekerasan yang paling besar adalah mengingkari ayat-ayat yang begitu jelas.

  1. Dan orang-orang yang kafir berkata[13], “Ya Tuhan kami, perlihatkanlah kepada kami dua golongan yang telah menyesatkan kami yaitu (golongan) jin dan manusia[14], agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami agar kedua golongan itu menjadi paling bawah[15].”

[13] Yang menjadi pengikuti. Mereka berkata dengan nada kesal dan benci.

[14] Ada yang menafsirkan dengan Iblis dan Qabil anak Adam. Iblis mencontohkan kekafiran, sedangkan Qabil mencontohkan pembunuhan. Bisa juga maksudnya jin dan manusia yang menyesatkan mereka sehingga mereka mendapatkan azab.

[15] Yakni lebih keras azabnya daripada kami. Bisa juga diartikan dengan “menjadi orang yang hina lagi direndahkan” karena mereka menyesatkan kami dan menguji kami serta menjadi sebab rendahnya kami.

Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang kafir satu sama lain saling kesal dan marah serta berlepas diri meskipun di dunia mereka berteman akrab, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Terj. Az Zukhruf: 67)

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan orang-orang yang kafir berkata) sewaktu Nabi ﷺ membaca Al-Qur’an, (“Janganlah kalian mendengar bacaan Alquran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya) yakni buatlah suara gaduh dan hiruk-pikuk untuk mengganggu bacaannya, dan mereka memang membuat hiruk-pikuk bilamana Nabi membaca Al-Qur’an (supaya kalian dapat mengalahkan”) bacaannya lalu ia menjadi diam tidak membaca Al-Qur’an.
  2. Allah swt. berfirman mengisahkan tentang mereka, (Maka sesungguhnya Kami akan merasakan azab yang keras kepada orang-orang kafir dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan) yakni pembalasan yang paling buruk sebagai imbalan dari perbuatan mereka itu.
  3. (Demikianlah) azab yang keras itu dan pembalasan yang paling buruk itu (balasan terhadap musuh-musuh Allah) dapat dibaca Jazaa-u A’daaillaahi atau Jazaa-uwa`daaillaahi, yaitu dapat dibaca Tahqiq dan Tas-hil (yaitu neraka) menjadi ‘Athaf bayan dari lafal Jazaa-u dan berfungsi menjelaskan maknanya (mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya) tempat menetap yang tidak akan dipindahkan lagi daripadanya (sebagai pembalasan) dinashabkan karena menjadi Mashdar dari Fi’ilnya yang diperkirakan keberadaannya (dari sikap mereka terhadap ayat-ayat Kami) yakni Al-Qur’an (yang mereka ingkari.)
  4. (Dan orang-orang kafir berkata) sedang mereka di dalam neraka, (“Ya Rabb kami! Perlihatkanlah kepada kami dua jenis makhluk yang telah menyesatkan kami yaitu sebagian dari jin dan manusia) yakni iblis dan Qabil yang keduanya adalah orang pertama yang mengerjakan kekafiran dan pembunuhan (agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami) dalam neraka (supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang paling bawah”) di neraka, artinya, azabnya lebih hebat daripada kami.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Dan orang-orang yang kafir berkata, “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini.” (Fushshilat: 26)

Mereka saling berpesan di antara sesamanya agar jangan taat kepada Al-Qur’an dan jangan tunduk kepada perintah-perintah yang terkandung di dalamnya.

dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya. (Fushshilat: 26)

Yakni apabila Al-Qur’an dibacakan, janganlah kamu mendengarkannya.

Mujahid mengatakan bahwa makna walghaufihi ialah buatlah hiruk pikuk dengan tepuk tangan, suitan, dan bicara keras terhadap Rasulullah ﷺ bila ia sedang membaca Al-Qur’an. Orang-orang Quraisylah yang melakukan hal ini.

Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya. (Fushshilat: 26) Maksudnya, celalah dia.

Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah ingkarilah dia dan musuhilah dia.

supaya kamu dapat mengalahkan. (Fushshilat: 26)

Demikianlah sikap orang-orang yang bodoh dari kalangan orang-orang kafir dan orang yang mengikuti jejak mereka manakala mendengar Al-Qur’an. Allah Swt. telah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman supaya bersikap berbeda dari hal tersebut. Untuk itu Dia berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (Al-A’raf: 204)

Kemudian Allah Swt. membela Al-Qur’an dan mengecam orang-orang yang memusuhi Al-Qur’an dari kalangan orang-orang kafir melalui firman-Nya:

Maka sesungguhnya Kami akan merasakan azab yang keras kepada orang-orang kafir. (Fushshilat: 27)

sebagai balasan yang setimpal atas perbuatan mereka terhadap Al-Qur’an saat mereka mendengarnya.

dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. (Fushshilat: 27)

Yaitu karena amal perbuatan mereka yang jahat dan sepak terjang mereka yang buruk.

Demikianlah balasan (terhadap) musuh-musuh Allah, (yaitu) neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai pembalasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami. Dan orang-orang kafir berkata, “Ya Tuhan kami, perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami (yaitu) sebagian dari jin dan manusia agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina.” (Fushshilat: 28-29)

Sufyan Ats-Tsauri telah meriwayatkan dari Salamah ibnu Kahil, dari Malik ibnul Husain Al-Fazzari, dari ayahnya, dari Ali r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: dua jenis orang yang telah menyesatkan kami. (Fushshilat: 29) Bahwa yang dimaksud adalah iblis dan anak Adam yang telah membunuh saudaranya.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas r.a.

As-Saddi telah meriwayatkan dari Ali r.a. bahwa iblis menyeru manusia untuk mempersekutukan Allah, dan anak Adam (yang telah membunuh saudaranya) menyeru manusia untuk melakukan dosa besar. Iblis yang memegang peranan yang menyeru manusia untuk berbuat kejahatan, seperti mempersekutukan Allah; dan dosa-dosa lainnya yang di bawah syirik perannya dipegang oleh anak Adam yang pertama, seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis yang mengatakan:

مَا قُتِلَتْ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا؛ لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ

Tidak sekali-kali seseorang dibunuh secara zalim (aniaya), melainkan anak Adam yang pertama menanggung sebagian dari darahnya, karena dialah orang yang mula-mula melakukan pembunuhan.

Ucapan mereka yang disitir oleh firman-Nya:

agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami. (Fushshilat: 29)

Yakni lebih rendah tempatnya daripada kami dalam neraka, agar azabnya lebih keras daripada kami. Karena itulah disebutkan dalam perkataan selanjutnya:

supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina. (Fushshilat: 29)

Yaitu berada di dasar yang paling bawah dari neraka, seperti yang telah diterangkan di dalam surat Al-A’raf yang menceritakan permintaan para pengikut kemusyrikan kepada Allah agar Dia mengazab para pemimpin mereka dengan azab yang berlipat ganda. Lalu dijawab oleh Allah Swt.:

لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَكِنْ لَا تَعْلَمُونَ

Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, tetapi kamu tidak mengetahui. (Al-A’raf: 38)

Allah Swt. telah memberi azab dan pembalasan kepada masing-masing golongan yang berhak diterimanya sesuai dengan amal perbuatan masing-masing dan sesuai dengan kerusakan yang telah dilakukannya, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ

Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan. (An-Nahl: 88)

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

 ««««« juz 23 ««««      «««« juz 24 ««««      «««« juz 25 «««««