Alam Semesta Adalah Milik Allah

Tafsir Al-Qur’an: Surah Asy-Syuura ayat 4-6

0
112

Tafsir Al-Qur’an: Surah Asy-Syuura ayat 4-6. Alam semesta adalah milik Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (٤) تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْ فَوْقِهِنَّ وَالْمَلائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الأرْضِ أَلا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (٥) وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَولِيَاءَ اللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيْهِمْ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ (٦)

Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Allah) dan malaikat-malaikat bertasbih memuji Tuhan-nya dan memohonkan ampunan untuk orang yang ada di bumi Ingatlah, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, Allah mengawasi (perbuatan) mereka; adapun engkau (Muhammad) bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka. (Q.S. Asy-Syuura : 4-6)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Lahū mā fis samāwāti wa mā fil ardl (Kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan segala apa yang ada di bumi), yakni semua makhluk adalah Hamba-Nya.

Wa huwal ‘aliyyu (dan Dia-lah Yang Maha Tinggi), yakni Yang paling tinggi dari segala sesuatu.

Al-‘azhīm (lagi Maha Agung), yakni Yang paling agung dari segala sesuatu.

Takādus samāwātu yatafaththarna (hampir saja langit terbelah), yakni berantakan.

Miη fauqihinna (dari atasnya), yakni secara beruntun lantaran keagungan (Allah) Yang Maha Pengasih. Menurut yang lain, lantaran perkataan kaum Yahudi.

Wal malā-ikatu (dan malaikat-malaikat) di langit.

Yusabbihūna bi hamdi rabbihim (bertasbih sambil memuji Rabb mereka), yakni shalat sesuai dengan Perintah Rabb mereka.

Wa yastaghfirūna (serta memohonkan ampunan), yakni mereka berdoa memohon magfirah.

Li maη fil ardl (bagi orang-orang yang ada di bumi), yakni bagi kaum mukminin yang ikhlas.

Alā innallāha huwal ghafūru (ingatlah, sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Pengampun) kepada orang-orang yang bertobat.

Ar-rahīm (lagi Maha Penyayang) kepada orang-orang yang wafat dalam keadaan bertobat.

Wal ladzīnattakhadzū (dan orang-orang yang mengambil), yakni yang menyembah.

Miη dūnihī (selain Dia), yakni selain Allah Ta‘ala.

Auliyā-a (pelindung-pelindung), yakni tuhan-tuhan berupa berhala.

Allāhu hafīzhun ‘alaihim (Allah Maha mengawasi mereka), yakni Allah Ta‘ala Maha menyaksikan mereka dan perbuatan mereka.

Wa mā aηta ‘alaihim bi wakīl (dan kamu [Muhammad] bukanlah wakil bagi mereka), yakni bukanlah seorang penjamin yang akan mendapat hukuman lantaran perbuatan mereka. Kemudian Allah Ta‘ala memerintahkan untuk memerangi mereka.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi[3]. Dan Dialah Yang Maha Tinggi[4] lagi Maha Besar[5].

[3] Yakni milik-Nya, ciptaan-Nya dan hamba-Nya. Semuanya di bawah pengaturan-Nya baik yang bersifat qadari (ketetapan-Nya terhadap alam semesta) maupun syar’i (ketetapan-Nya dalam agama).

[4] Baik zat-Nya, kedudukan-Nya maupun kekuasaan-Nya.

[5] Karena kebesaran-Nya langit itu hampir saja pecah.

  1. Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Allah) dan malaikat-malaikat[6] bertasbih memuji Tuhan-nya[7] dan memohonkan ampunan untuk orang yang ada di bumi[8]. Ingatlah, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[9].

[6] Yakni malaikat yang mulia lagi didekatkan tunduk kepada keagungan-Nya, menyerahkan diri kepada keperkasaan-Nya dan tunduk dengan rububiyyah-Nya.

[7] Maksudnya, mengagungkan-Nya dari setiap kekurangan, dan menyifati-Nya dengan semua kesempurnaan.

[8] Yaitu kaum mukmin.

[9] Kalau bukan karena ampunan dan rahmat-Nya, tentu Dia akan menyegerakan hukuman yang membinasakan kepada makhluk-Nya yang durhaka. Dengan disifatinya Allah Subhaanahu wa Ta’aala dengan sifat-sifat ini setelah disebutkan bahwa Dia memberi wahyu kepada para rasul secara umum dan Nabi Muhammad ﷺ secara khusus terdapat isyarat bahwa dalam Al-Qur’anul Karim ini terdapat dalil-dalil dan bukti-bukti serta ayat-ayat yang menunjukkan kesempurnaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Demikian pula disifatinya Allah Subhaanahu wa Ta’aala dengan nama-nama yang agung akan membuat hati penuh dengan ma’rifat (mengenal) kepada-Nya, mencintai-Nya, mengagungkan-Nya dan memuliakan-Nya, serta membuat manusia mengarahkan ibadah baik yang tampak maupun yang tersembunyi kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala, dan bahwa sebuah kezaliman yang paling besar serta perkataan yang paling buruk adalah ketika mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal tandingan-tandingan itu tidak mampu memberikan manfaat dan menimpakan madharrat.

  1. Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah[10], Allah mengawasi (perbuatan) mereka[11]; adapun engkau (Muhammad) bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka[12].

[10] Yaitu kepada patung dan berhala, dimana mereka menyembah kepadanya. Maka sesungguhnya yang mereka ambil adalah sesuatu yang batil, bukan pelindung sama sekali.

[11] Yakni menjaga amal mereka, dan akan membalasnya dengan yang baik atau yang buruk.

[12] Kewajibanmu hanyalah menyampaikan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Kepunyaan-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi) sebagai milik-Nya semua makhluk dan hambahamba-Nya. (Dan Dialah Yang Maha Tinggi) di atas semua makhluk-Nya (lagi Maha Besar) atau Maha Agung.
  2. (Hampir saja) dapat dibaca Takaadu atau Yakaadu (langit itu pecah) dibaca Yatafath-tharna dengan huruf tha yang ditasydidkan menurut qiraat lain dibaca Yanfathirna dengan memakai huruf Nun (dari sebelah atasnya) hampir setiap langit itu pecah menimpa yang lainnya karena kebesaran Allah swt. (dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Rabbnya) disertai dengan mengucapkan puji-pujian (dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi) yakni bagi orang-orang yang beriman. (Ingatlah! Bahwa sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun) kepada kekasih-kekasih-Nya (lagi Maha Penyayang) kepada mereka.
  3. (Dan orang-orang yang mengambil selain Allah) mengambil berhala-berhala (sebagai pelindung-pelindung, Allah mengawasi) mencatat (perbuatan mereka) untuk membalas mereka kelak (dan kamu bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka) untuk memperoleh apa yang diminta dari mereka, tugasmu tiada lain hanya menyampaikan.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Kepunyaan-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. (Asy-Syura: 4)

Yakni semuanya adalah hamba-hamba-Nya dan milik-Nya serta berada di bawah kekuasaan dan pengaturan-Nya.

Dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Asy-Syura: 4)

semakna dengan firman-Nya:

الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ

Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. (Ar-Ra’d: 9)

Dan firman-Nya:

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Saba: 23)

Ayat-ayat yang semakna dengan ayat di atas di dalam Al-Qur’an cukup banyak.

Firman Allah Swt.:

Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya. (Asy-Syura: 5)

Ibnu Abbas r.a, Ad-Dahhak, Qatadah, As-Saddi, dan Ka’bul Ahbar mengatakan bahwa langit hampir pecah karena takut kepada kebesaran Allah Swt.

dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhannya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. (Asy-Syura: 5)

Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا

(malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu.” (Al-Mu’min: 7)

Adapun firman Allah Swt.:

Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Asy-Syura: 5)

ini merupakan pemberitahuan tentang sifat Allah dan isyarat yang menunjukkan akan hal tersebut. Dalam firman selanjutnya disebutkan:

Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah. (Asy-Syura: 6)

Yaitu kaum musyrik.

Allah mengetahui (perbuatan) mereka. (Asy-Syura: 6)

Allah Maha Menyaksikan semua amal perbuatan mereka, Dia men¬catatnya dan menyimpannya dengan rapi, dan kelak mereka akan mendapat balasannya dengan pembalasan yang setimpal.

dan kamu (ya Muhammad) bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka. (Asy-Syura: 6)

Yakni sesungguhnya tugasmu hanyalah pemberi peringatan kepada manusia, dan Allah-lah yang mengawasi segala sesuatunya.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 24 ««««      «««« juz 25 ««««      «««« juz 26 «««««