Aturan Agama

Tafsir Al-Qur’an: Surah Asy-Syuura ayat 21-22

0
279

Tafsir Al-Qur’an: Surah Asy-Syuura ayat 21-22. Penghinaan terhadap orang-orang zalim dengan azab. Apakah mereka mempunyai sembahan selain Allah yang menetapkan aturan agama bagi mereka yang tidak diizinkan (diridhai) Allah? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menunda hukuman dari Allah tentulah hukuman di antara mereka telah dilaksanakan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَلَوْلا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٢١) تَرَى الظَّالِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا كَسَبُوا وَهُوَ وَاقِعٌ بِهِمْ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فِي رَوْضَاتِ الْجَنَّاتِ لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ (٢٢)

Apakah mereka mempunyai sembahan selain Allah yang menetapkan aturan agama bagi mereka yang tidak diizinkan (diridhai) Allah? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menunda (hukuman dari Allah) tentulah hukuman di antara mereka telah dilaksanakan. Dan sungguh, orang-orang zalim itu akan mendapat azab yang sangat pedih. Kamu akan melihat orang-orang zalim itu sangat ketakutan karena (kejahatan-kejahatan) yang telah mereka lakukan, dan (azab) menimpa mereka. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan. Yang demikian itu adalah karunia yang besar. (Q.S. Asy-Syuura : 21-22)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Am lahum (apakah mereka mempunyai), yakni apakah orang-orang kafir Mekah mempunyai

Syurakā-u (sekutu-sekutu), yakni tuhan-tuhan.

Syara‘ū lahum (yang telah mensyariatkan untuk mereka), yakni yang telah memilihkan untuk mereka.

Minad dīni mā lam ya’dzam bihillāh (agama yang tidak Diizinkan Allah), yakni yang tidak diperintahkan Allah Ta‘ala kepada orang-orang kafir: Abu Jahl dan kawan-kawannya.

Wa lau lā kalimatul fashli (dan kalaulah tidak ada perkataan yang menentukan), yakni kepastian penangguhan azab dari umat ini.

La qudliya bainahum (niscaya diputuskanlah di antara mereka), yakni niscaya dituntaskanlah pembinasaan mereka.

Wa innazh zhālimīna (dan sesungguhnya orang-orang zalim itu), yakni orang-orang kafir: Abu Jahl dan kawan-kawannya.

Lahum ‘adzābun alīm (bagi mereka adalah azab yang pedih), yakni azab yang menyakitkan.

Tarazh zhālimīna (kamu akan melihat orang-orang zalim), yakni orang-orang kafir pada hari kiamat.

Musyfiqīna mimmā kasabū (sangat ketakutan karena apa yang telah mereka perbuat), yakni karena perkataan dan perbuatan mereka dalam kekafiran.

Wa huwa wāqi‘um bihim (sedangkan ia akan mengenai mereka), yakni apa yang mereka takutkan itu akan menimpa mereka.

Wal ladzīna āmanū (dan orang-orang yang beriman) kepada Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an.

Wa ‘amilush shālihāti (serta mengerjakan amal-amal saleh), yakni kebajikan yang berhubungan dengan Rabb-nya. Mereka adalah Abu Bakr dan teman-temannya.

Fī raudlātil jannāti lahum mā yasyā-ūna (berada di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki), yakni apa yang mereka angankan dan mereka inginkan.

‘Iηda rabbihim (di sisi Rabb mereka), di dalam surga.

Dzālika (hal itu), yakni surga itu.

Huwal fadlul kabīr (adalah karunia yang besar), yakni anugerah yang agung.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [40]Apakah mereka mempunyai sembahan selain Allah yang menetapkan aturan agama bagi mereka yang tidak diizinkan (diridhai) Allah[41]? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menunda (hukuman dari Allah) tentulah hukuman di antara mereka telah dilaksanakan[42]. Dan sungguh, orang-orang zalim itu[43] akan mendapat azab yang sangat pedih[44].

[40] Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan bahwa kaum musyrik mengambil para sekutu, dimana mereka berwala’ (menaruh sikap setia) kepadanya, dan mereka bersama-sama dengan para sekutu itu dalam kekafiran dan amalan kufur, dari kalangan setan manusia para penyeru kekafiran.

Ada pula yang menafsirkan, apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan yang menetapkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?

[41] Seperti syirk, mengingkari kebangkitan, bid’ah, mengharamkan apa yang Allah halalkan dan menghalalkan apa yang Allah haramkan dan sebagainya sesuai hawa nafsu mereka. Padahal aturan dalam agama itu tidak boleh kecuali apa yang disyariatkan Allah Ta’ala. Dengan demikian, hukum asal dalam ibadah itu haram sampai ada dalil yang memerintahkannya dari Allah dan Rasul-Nya.

[42] Pada saat itu juga karena yang menghendaki untuk dibinasakan sudah ada, akan tetapi Dia menundanya karena santun-Nya dan karena kebijaksanaan-Nya.

[43] Yakni orang-orang kafir.

[44] Di akhirat.

  1. [45]Kamu akan melihat orang-orang zalim[46] itu sangat ketakutan karena (kejahatan-kejahatan) yang telah mereka lakukan, [47]dan (azab) menimpa mereka. Dan orang-orang yang beriman[48] dan mengerjakan kebajikan[49] (berada) di dalam taman-taman surga[50], mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan[51]. Yang demikian itu adalah karunia yang besar[52].

[45] Pada hari itu.

[46] Kepada diri mereka dengan kekafiran dan kemaksiatan.

[47] Oleh karena orang yang takut terhadap sesuatu yang ditakuti terkadang mendapatkan sesuatu yang ditakuti itu dan terkadang tidak, maka Allah memberitahukan, bahwa sesuatu yang ditakuti itu (azab) akan menimpa mereka. Hal itu, karena mereka telah mengerjakan sebab yang sempurna yang menghendaki mereka disiksa tanpa ada penghalang, seperti tobat atau lainnya dan telah mencapai tempat yang tidak berlaku lagi penangguhan dan penundaan.

[48] Dengan hati mereka kepada Allah, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan apa yang mereka bawa.

[49] Baik yang terkait dengan hati, lisan maupun anggota badan, yang wajib maupun yang sunat.

[50] Taman tersebut disandarkan ke surga, maka berarti indahnya tidak dapat terbayangkan, baik sungainya, pohon-pohonnya, burung-burungnya, suara yang terdengar di sana dan berkumpul dengan kekasih. Taman-taman tersebut semakin hari semakin bertambah indah dan eloknya, dan tidak menambah kepada penduduknya selain kerinduan kepada kenikmatannya.

[51] Apa yang mereka inginkan selalu ada dan apa yang mereka minta selalu hadir di hadapan, dimana kenikmatannya sampai tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas di hati manusia.

[52] Karunia apa yang lebih besar daripada mendapatkan keridhaan Allah, mendapatkan kenikmatan di dekat-Nya di tempat istimewa-Nya (surga).

.

Tafsir Jalalain

  1. (Apakah) sebenarnya (mereka mempunyai) yang dimaksud adalah orang-orang kafir Mekah (sesembahan-sesembahan) yaitu setan-setan mereka (yang mensyariatkan) maksudnya, sesembahan-sesembahan mereka itu mensyariatkan (untuk mereka) untuk orang-orang kafir (agama) yang rusak (yang tidak diizinkan oleh Allah?) seperti ajaran menyekutukan Allah dan mengingkari adanya hari berbangkit. (Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan dari Allah) ketentuan yang telah terdahulu yang menetapkan bahwa pembalasan itu pada hari kiamat (tentulah telah diputuskan di antara mereka) dan orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang kafir akan langsung diazab di dunia. (Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu) yakni orang-orang kafir (akan memperoleh azab yang amat pedih) yang amat menyakitkan.
  2. (Kamu lihat orang-orang yang zalim) kelak di hari kiamat (sangat ketakutan) sangat ngeri (karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan) di dunia, mereka takut akan menerima pembalasannya (sedangkan pembalasan itu) yakni pembalasan perbuatan jahat mereka itu (menimpa mereka) pasti menimpa mereka kelak di hari kiamat. (Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh berada di dalam taman-taman surga) berada di surga yang paling indah bila dibandingkan dengan orang-orang yang derajatnya di bawah mereka (mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Rabb mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.)

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? (Asy-Syura: 21)

Yakni mereka tidak mau mengikuti apa yang telah disyariatkan oleh Allah kepadamu berupa agama yang lurus, bahkan mereka mengikuti apa yang telah diperintahkan oleh setan-setan mereka dari kalangan jin dan manusia, seperti mengharamkan apa yang dihalalkan bagi mereka, misalnya hewan bahirah, saibah, wasilah, dan ham. Dan mereka menghalalkan memakan bangkai, darah, berjudi, dan kesesatan-kesesatan lainnya. Itulah kejahilan yang batil yang telah mereka ada-adakan di masa Jahiliahnya, seperti menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, dan melakukan penyembahan-penyembahan yang batil yang mengusahakan harta yang haram.

Di dalam kitab sahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

رَأَيْتُ عَمْرَو بْنَ لُحَيّ بْنِ قَمَعَة يَجُر قُصْبَه فِي النَّارِ

Aku melihat Amr ibnu Luhay ibnu Qam’ah menyeret ususnya di dalam neraka.

Dikatakan demikian karena dia adalah orang yang pertama mengadakan peraturan hewan saibah. Dia adalah salah seorang raja di kalangan Bani Khuza’ah, dialah orang yang mula-mula menetapkan hal-hal tersebut. Dia pulalah yang mendorong orang-orang Quraisy menyembah berhala. Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:

Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah), tentulah mereka telah dibinasakan. (Asy-Syura: 21)

Yaitu niscaya hukuman di segerakan kepada mereka sekiranya tidak ada ketetapan yang terdahulu yang memberikan masa tangguh bagi mereka sampai hari kiamat.

Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih. (Asy-Syura: 21)

Yakni siksaan yang sangat menyakitkan di dalam neraka Jahanam, dan seburuk-buruk tempat kembali adalah neraka Jahanam. Dalam firman berikutnya disebutkan:

Kamu lihat orang-orang yang zalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan. (Asy-Syura: 22)

Yakni saat mereka berada di Padang Mahsyar hari kiamat.

sedangkan siksaan menimpa mereka. (Asy-Syura: 22)

Yaitu yang mereka takutkan terjadi pada diri mereka sebagai suatu kepastian. Demikianlah keadaan mereka kelak di hari kiamat; mereka dicekam oleh rasa takut dan malu yang teramat sangat.

Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. (Asy-Syura: 22)

Maka alangkah jauh bedanya antara golongan ini dan golongan yang sebelumnya. Yakni betapa jauhnya perbedaan antara orang-orang yang berada di Padang Mahsyar dengan diliputi oleh kehinaan, kerendahan, dan dicekam oleh ketakutan yang pasti karena perbuatan aniayanya; dan keadaan orang-orang yang berada di taman-taman surga yang men¬dapatkan segala sesuatu yang dikehendakinya berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, pemandangan, istri-istri, dan kenikmatan lainnya yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terdetik di hati seorang manusia pun.

Al-Hasan ibnu Arafah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Abdur Rahman Al-Abar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sa’d Al-Ansari, dari Abu Taibah yang mengatakan bahwa sesungguhnya serombongan ahli surga benar-benar dinaungi oleh awan, lalu awan itu berkata, “Apakah yang harus kuturunkan kepadamu?” Maka tidak sekali-kali seseorang dari mereka meminta sesuatu kecuali awan itu menurunkannya kepada mereka. Sehingga ada seseorang dari mereka yang benar-benar mengatakan, “Hujanilah kami dengan perawan-perawan yang montok-montok lagi berusia sebaya.”

Hal yang serupa telah pula diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Al-Hasan ibnu Arafah. Karena itu, disebutkan oleh firman-Nya:

Yang demikian itu adalah karunia yang besar (Asy-Syura: 22)

Yakni keberuntungan yang besar dan nikmat yang lengkap, sempurna, lagi menyeluruh.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 24 ««««      «««« juz 25 ««««      «««« juz 26 «««««