Kesenangan Dunia

Tafsir Al-Qur’an: Surah Asy-Syuura ayat 36-37

0
211

Tafsir Al-Qur’an: Surah Asy-Syuura ayat 36-37. Kesenangan dunia hanya sebentar, kenikmatan akhirat itulah yang kekal. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  فَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (٣٦) وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الإثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ (٣٧)

Apa pun (kenikmatan) yang diberikan kepadamu, maka itu adalah kesenangan hidup di dunia. Sedangkan apa (kenikmatan) yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal, dan juga (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah segera memberi maaf. (Q.S. Asy-Syuura : 36-37)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fa mā ūtītum miη syai-in (maka apa pun yang diberikan kepada kalian), yakni kekayaan dan keindahan apa pun yang dikaruniakan kepada kalian.

Fa matā‘ul hayātid dun-yā (maka itu merupakan kesenangan hidup di dunia) yang tidak akan abadi.

Wa mā ‘iηdallāhi (dan apa yang ada pada Allah), yakni pahala yang ada di sisi Allah.

Khairun (lebih baik) dari apa pun yang kalian miliki di dunia.

Wa abqā (dan lebih kekal), yakni lebih langgeng daripada kesenangan dunia yang fana.

Lil ladzīna āmanū (bagi orang-orang yang beriman) kepada Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an, yaitu Abu Bakr dan teman-temannya.

Wa ‘alā rabbihim yatawakkalūn (serta mereka bertawakal hanya kepada Rabb mereka), bukan kepada kekayaan.

Wal ladzīna yajtanibūna kabā-iral itsmi (dan orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar), yakni syirik.

Wal fawāhisya (dan perbuatan-perbuatan keji), yaitu zina dan berbagai kemaksiatan.

Wa idzā mā ghadlibūhum (dan apabila mereka marah) dengan perbuatan yang sia-sia.

Yaghfirūn (mereka memaafkan), yakni mereka memberi maaf dan tidak membalasnya.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [1]Apa pun (kenikmatan) yang diberikan kepadamu[2], maka itu adalah kesenangan hidup di dunia[3]. Sedangkan apa (kenikmatan) yang ada di sisi Allah[4] lebih baik[5] dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal[6],

[1] Ayat ini membuat seseorang zuhud kepada dunia dan cinta kepada akhirat serta menyebutkan amal yang dapat menyampaikan kepadanya.

[2] Seperti kekuasaan, kedudukan, harta dan anak, serta badan yang sehat.

[3] Yang kemudian akan hilang.

[4] Yaitu pahala yang besar dan kenikmatan yang kekal.

[5] Daripada kesenangan dunia.

[6] Mereka menggabung antara iman yang benar yang menghendaki amal dengan tawakkal, dimana ia (tawakkal) merupakan alat untuk setiap amal. Oleh karena itu, setiap amal yang tidak dibarengi tawakkal, maka tidak akan sempurna. Tawakkal adalah bersandarnya hati kepada Allah dalam mendatangkan apa yang dicintai hamba dan dalam menghindarkan apa yang tidak disukainya dengan disertai rasa percaya kepada-Nya.

  1. dan juga (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji[7], dan apabila mereka marah segera memberi maaf[8].

[7] Menurut Syaikh As Sa’diy, perbedaan antara dosa-dosa besar dengan perbuatan keji; dimana kedua-duanya sama-sama dosa besar adalah, bahwa perbuatan keji adalah dosa besar dimana dalam hati manusia ada kecenderungan kepadanya, seperti zina dan sebagainya. Sedangkan dosa besar (selain perbuatan keji) tidak seperti itu. Hal ini ketika dipadukan antara keduanya, akan tetapi ketika dipisahkan, maka masing-masingnya masuk ke dalam yang lain.

[8] Yakni mereka memiliki akhlak yang mulia dan kebiasaan yang baik, dimana sifat santun menjadi tabiat mereka, akhlak yang mulia juga sehingga ketika ada yang membuat mereka marah, baik dengan kata-kata maupun perbuatannya, maka mereka menahan marahnya dan tidak memberlakukannya, bahkan mereka memaafkan dan tidak membalas orang yang jahat kecuali dengan ihsan, memaafkan dan mengampuni; sehingga dari sikap itu muncullah berbagai maslahat dan terhindar berbagai mafsadat baik bagi mereka maupun orang lain; bahkan yang sebelumnya terdapat permusuhan menjadi persahabatan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Maka apa yang diberikan kepada kalian) khithab ayat ini ditujukan kepada orang-orang mukmin dan lain-lainnya (berupa sesuatu) dari perhiasan duniawi (itu adalah kenikmatan hidup di dunia) untuk dinikmati kemudian lenyap sesudah itu (dan yang ada pada sisi Allah) berupa pahala (lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakal) kemudian di’athafkan kepadanya ayat berikut ini, yaitu:
  2. (Dan bagi orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji) yang mengharuskan pelakunya menjalani hukuman Hadd; lafal ayat ini merupakan ‘Athful Ba’dh ‘Alal Kull (dan apabila mereka marah mereka memberi maaf) maksudnya, mereka selalu bersikap maaf.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. berfirman, menggambarkan kecilnya urusan duniawi dan perhiasannya serta segala sesuatu yang ada pada dunia berupa kegemerlapan perhiasannya dan semua kesenangannya yang fana itu. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

Maka sesuatu apa pun yang diberikan kepadamu, itu adalah kesenangan hidup di dunia. (Asy-Syura: 36)

Maksudnya, apa pun yang kamu hasilkan dan kamu kumpulkan, janganlah kamu teperdaya olehnya, karena sesungguhnya itu adalah kesenangan hidup di dunia, sedangkan dunia adalah negeri yang fana dan pasti akan lenyap lagi tiada artinya dibandingkan dengan kesenangan di akhirat.

dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal. (Asy-Syura: 36)

Yakni pahala Allah Swt. lebih baik daripada dunia, karena pahala Allah kekal dan selama-lamanya. Maka janganlah kamu mendahulukan yang fana dengan melalaikan yang kekal. Dalam firman berikutnya disebutkan:

bagi orang-orang yang beriman. (Asy-Syura: 36)

Yaitu bagi orang-orang yang bersabar dalam meninggalkan kesenangan duniawi.

dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal. (Asy-Syura: 36)

Yakni ketawakalan mereka benar-benar dapat membantu mereka bersabar dalam menunaikan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan. Dan dalam firman berikutnya disebutkan:

dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji. (Asy-Syura: 37)

Penjelasan mengenai dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji telah diterangkan di dalam tafsir’surat Al-A’raf.

dan apabila mereka marah, mereka memberi maaf. (Asy-Syura: 37)

Watak mereka adalah pemaaf dan penyantun terhadap orang lain, dan bukan termasuk watak mereka sifat pendendam.

Di dalam hadis sahih telah disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ belum pernah sama sekali marah karena pribadinya, melainkan bilamana hal-hal yang diharamkan oleh Allah dilanggar.

Di dalam hadis lain disebutkan, bahwa beliau ﷺ :

كَانَ يَقُولُ لِأَحَدِنَا عِنْدَ الْمَعْتَبَةِ: مَا لَهُ؟ تَرِبَتْ جَبِينُهُ

apabila menegur seseorang dari kami (para sahabat) mengatakan: Mengapa dia, semoga dia mendapat keberuntungan.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Zar, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Zaidah, dari Mansur, dari Ibrahim, bahwa dahulu orang-orang mukmin tidak senang bila dihina dan mereka selalu memaaf apabila dikhianati.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 24 ««««      «««« juz 25 ««««      «««« juz 26 «««««