Setan Menghalangi dari Jalan yang Benar

Tafsir Al-Qur’an: Surah Az-Zukhruf ayat 36-39

0
173

Tafsir Al-Qur’an: Surah Az-Zukhruf ayat 36-39. Permusuhan yang terjadi antara setan dan bala tentaranya dengan hamba-hamba Allah; setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ (٣٦) وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ (٣٧) حَتَّى إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ (٣٨) وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ (٣٩)

Barang siapa berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya. Dan sungguh, mereka (setan-setan itu) benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (pada hari Kiamat) dia berkata, “Wahai! Sekiranya (jarak) antara aku dan kamu seperti jarak antara timur dan barat! Memang setan itu teman yang paling jahat (bagi manusia). Dan (harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu pada hari itu karena kamu telah menzalimi (dirimu sendiri). Sesungguhnya kamu pantas bersama-sama dalam azab itu. (Q.S. Az-Zukhruf : 36-39)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa may ya‘syu (dan barangsiapa berpaling). Ada yang berpendapat, jika lafazh ya‘syu dibaca ya‘syi maka artinya barangsiapa menyimpang. Dan ada pula yang berpendapat, barangsiapa buta hatinya, jika lafazh ya‘syu . dibaca ya‘sya.

‘Aη dzikrir rahmāni (dari pengajaran [Allah] Yang Maha Pengasih), yakni dari mengesakan (Allah) Yang Maha Pengasih dan dari Kitab-Nya.

Nuqayyidl lahū syaithānan (niscaya Kami Tentukan setan untuknya), yakni Kami tetapkan teman dari kalangan setan untuknya.

Fa huwa lahū qarīn (maka setan itulah yang menjadi teman untuknya) di dunia dan di dalam neraka.

Wa innahum (dan sesungguhnya mereka), yakni setan-setan itu.

La yashuddūnahum (benar-benar akan menghalang-halangi mereka), yakni benar-benar akan memalingkan mereka.

‘Anis sabīli (dari jalan), yakni dari jalan yang benar dan petunjuk.

Wa yahsabūna (sedang mereka menyangka), yakni mereka mengira.

Annahum muhtadūn (bahwa mereka mendapat petunjuk) kepada kebenaran dan hidayah.

Hattā idzā jā-anā (hingga ketika orang tersebut datang kepada Kami), yakni Bani Adam dan teman setannya datang dalam satu belenggu.

Qāla (dia berkata) kepada temannya, setan.

Yā laita bainī wa bainaka bu‘dal masyriqaini (“Duhai, alangkah baiknya antara aku dan kamu seperti jarak antara dua timur), yakni timur saat musim dingin dan musim panas.

Fa bi’sal qarīn (maka setan itulah seburuk-buruk teman”), yakni seburuk-buruk sahabat dan kawan.

Wa lay yaηfa‘akumu (hal itu sama sekali tidak akan bermanfaat bagi kalian), yakni Allah Ta‘ala Berkata, “Hal itu sama sekali tidak akan bermanfaat bagi kalian.”

Al-yauma (pada hari itu). Maksudnya perkataan tersebut.

Idz zhalamtum (karena kalian telah berlaku zalim), yakni kalian telah kafir di dunia.

Annakum fil ‘adzābi musytarikūn (sesungguhnya kalian bersekutu dalam azab itu), yakni setan-setan dan Bani Adam.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [25]Barang siapa berpaling dari pengajaran Allah[26] Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya.

[25] Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan tentang hukuman-Nya yang besar bagi orang yang berpaling dari peringatan-Nya.

[26] Yaitu Al-Qur’anul Karim yang merupakan rahmat terbesar yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya.

Barang siapa yang menerimanya, maka ia telah menerima pemberian terbaik, berhasil memperoleh harapan yang paling besar, dan barang siapa yang berpaling darinya dan menolaknya, maka ia telah rugi dengan kerugian yang tidak ada lagi kebahagiaan setelahnya, dan Allah Yang Maha Pengasih akan menyerahkan untuknya setan yang durhaka sebagai kawannya yang menemani, yang menjanjikan dan membuatnya berangan-angan serta mendorongnya berbuat maksiat.

  1. Dan sungguh, mereka (setan-setan itu) benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk[27].

[27] Hal ini disebabkan penghiasan dari setan kepada kebatilan dan berpalingnya mereka dari yang hak.

Jika seorang berkata, “Apakah ia bisa diterima uzurnya, yaitu karena ia mengira bahwa hal itu sebagai petunjuk?” Maka dijawab, bahwa orang itu dan yang sepertinya tidak bisa diterima uzurnya karena sumber kebodohan mereka adalah berpaling dari peringatan Allah padahal mampu mengambilnya sebagai petunjuk; mereka tidak suka petunjuk padahal mampu memperolehnya, dan mereka juga senang kepada yang batil.

Inilah keadaan orang yang berpaling dari mengingat Allah di dunia bersama kawannya yaitu setan, ia berada dalam kesesatan, kebodohan dan terbaliknya hakikat yang sebenarnya. Adapun keadaannya ketika datang menghadap Tuhannya, maka lebih buruk lagi, ia akan menampakkan penyesalan dan kesedihan yang tidak dapat ditutupi, dan berlepas diri dari kawannya itu (lihat ayat 38 surah ini).

  1. Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (pada hari Kiamat) dia berkata, “Wahai! Sekiranya (jarak) antara aku dan kamu seperti jarak antara timur dan barat! Memang setan itu teman yang paling jahat (bagi manusia).”
  2. Dan (harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu pada hari itu karena kamu telah menzalimi (dirimu sendiri)[28]. Sesungguhnya kamu pantas bersama-sama dalam azab itu[29].

[28] Dengan kekafiran dan kemaksiatan.

[29] Kebersamaan mereka dalam azab tidaklah memberikan manfaat apa-apa bagi mereka, demikian pula mereka tidak mendapatkan ruh hiburan saat tertimpa musibah, karena biasanya ketika di dunia saat seseorang tertimpa musibah, lalu ada orang lain pula yang mendapatkan musibah, maka musibah itu terasa ringan dan sebagiannya menghibur yang lain. Adapun musibah di akhirat, maka musibah itu menghimpun semua siksa, di dalamnya tidak ada istirahat meskipun sebentar. Ya Allah, masukkanlah kami ke surga dan jauhkanlah kami dari neraka.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Barang siapa yang berpaling) yaitu memalingkan diri (dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah) dari Al-Qur’an (Kami adakan) Kami jadikan (baginya setan, maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya) yakni tidak pernah berpisah darinya.
  2. (Dan sesungguhnya mereka) setan-setan itu (benar-benar menghalangi mereka) menghalangi orang-orang yang berpaling itu (dari jalan yang benar) atau jalan petunjuk (dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk) disebutkannya Dhamir dengan memakai kata jamak karena memandang segi makna yang dikandung lafal Man.
  3. (Sehingga apabila orang yang berpaling itu datang kepada Kami) bersama dengan temannya atau setannya di hari kiamat kelak (dia berkata,) orang yang berpaling itu kepada temannya atau setannya (“Aduhai) huruf Ya di sini menunjukkan makna Tanbih (seandainya jarak antara aku dan kamu seperti jarak antara masyriq dan Magrib) yakni sejauh jarak antara timur dan barat (maka sejelek-jelek teman) bagiku adalah kamu.” Lalu Allah berfirman:
  4. (Sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepada kalian) angan-angan dan penyesalan kalian itu, hai orang-orang yang berpaling (di hari ini karena kalian telah berbuat aniaya) maksudnya telah jelaslah kelaliman kalian dengan sebab menyekutukan Allah sewaktu di dunia. Lafal Idz merupakan Badal dari lafal Al Yaumu. (Bahwasanya kalian) bersama dengan teman-teman kalian (bersekutu dalam azab ini) adanya illat dalam ayat ini diperkirakan keberadaannya, tidak disebutkan karena kurang penting.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Barang siapa yang berpaling. (Az-Zukhruf: 36)

Yakni melalaikan dan berpaling serta pura-pura tidak tahu.

dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah. (Az-Zukhruf: 36)

Kata al-asya, bila dikaitkan dengan mata artinya lemah pandangannya alias rabun, sedangkan makna yang dimaksud dalam ayat ini ialah lemah pandangan mata hati.

Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (Az-Zukhruf: 36)

Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barang siapa yang menentang rasul sesudah jelas kebenaran baginya. (An-Nisa: 115), hingga akhir ayat.

Dan semakna dengan firman-Nya:

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran) Allah memalingkan hati mereka. (Ash-Shaff: 5)

وَقَيَّضْنَا لَهُمْ قُرَنَاءَ فَزَيَّنُوا لَهُمْ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَحَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ

Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka. (Fushshilat: 25), hingga akhir ayat.

Karena itulah disebutkan dalam surat ini oleh firman-Nya:

Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (di hari kiamat). (Az-Zukhruf: 37-38)

Yakni orang ini yang berpaling dari kebenaran, Kami adakan baginya setan-setan yang menyesatkan dirinya dan menunjukkan kepadanya jalan ke neraka Jahim. Dan apabila dia datang menghadap kepada Allah Swt. kelak di hari kiamat, maka bencilah ia kepada setan-setan yang tadinya menemaninya.

dia bekata, ‘Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak masyriq dan magrib (timur dan barat), maka setan-setan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia). (Az-Zukhruf: 38)

Sebagian ulama tafsir membacanya seperti berikut: “حَتَّى إِذَا جَاءَانَا”, dengan memakai damir gaib tatsniyah untuk dua orang, yang artinya ‘sehingga apabila keduanya datang kepada Kami (di hari kiamat)’.  Makna yang dimaksud ialah setan dan manusia yang ditemaninya.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Sa’id Al-Jariri yang mengatakan bahwa telah sampai kepada kami (suatu atsar) yang menyebutkan bahwa apabila orang kafir dibangkitkan dari kuburnya di hari kiamat nanti, maka tangannya digancetkan dengan setan (yang selalu menjadi temannya di dunia), maka setan itu tidak pernah berpisah lagi darinya hingga keduanya dijerumuskan oleh Allah Swt. ke dalam neraka. Yang demikian itu terjadi saat orang kafir itu mengatakan penyesalannya, sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya: dia bekata, “Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara masyriq dan magrib (timur dan barat), maka setan-setan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia). (Az-Zukhruf: 3 8)

Yang dimaksud dengan masyriqain ialah antara timur dan barat, dan disebutkan dengan istilah demikian hanyalah secara taglib (prioritas) sebagaimana disebutkan qamarani, ‘Umarani, dan abawani (dua bulan, dua Umar, dan dua bapak, makna yang dimaksud ialah matahari dan bulan, Abu Bakar dan Umar, ibu dan bapak). Demikianlah menurut pendapat Ibnu Jarir dan lain-lainnya.

Kemudian dalam firman berikutnya disebutkan:

(Harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari itu karena kamu telah menganiaya (dirimu sendiri). Sesungguhnya kamu bersekutu dalam azab itu. (Az-Zukhruf: 39)

Yakni tiada gunanya lagi penyesalan kalian, kalian semua telah berada di dalam neraka dan kalian semua bersekutu dalam menerima azab yang sangat pedih.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 24 ««««      «««« juz 25 ««««      «««« juz 26 «««««