Setan Itu Musuh yang Nyata

Tafsir Al-Qur’an: Surah Az-Zukhruf ayat 59-62

0
165

Tafsir Al-Qur’an: Surah Az-Zukhruf ayat 59-62. Ancaman azab pada hari Kiamat. Janganlah sekali-kali dipalingkan oleh setan; sungguh, setan itu musuh yang nyata. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنْ هُوَ إِلا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ (٥٩) وَلَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَا مِنْكُمْ مَلائِكَةً فِي الأرْضِ يَخْلُفُونَ (٦٠) وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (٦١) وَلا يَصُدَّنَّكُمُ الشَّيْطَانُ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (٦٢)

Dia (Isa) tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat (kenabian) kepadanya, dan Kami jadikan dia sebagai tanda contoh bagi Bani lsrail. Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun. Dan sungguh, dia (Isa) benar-benar menjadi pertanda akan datangnya hari Kiamat. Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu tentang (Kiamat) itu dan ikutilah aku. Inilah jalan yang lurus. Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan; sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu. (Q.S. Az-Zukhruf : 59-62)

.

Tafsir Ibnu Abbas

In huwa (dia tidak lain), yakni ‘Isa putra Maryam itu tidak lain.

‘Abdun an‘amnā ‘alaihi (hanyalah seorang hamba yang telah Kami anugerahi kenikmatan) dengan mengemban risalah, dan dia bukan tuhan kalian.

Wa ja‘alnāhu matsalan (dan Kami ةenjadikan dia sebagai contoh), yakni sebagai pelajaran.

Li banī isrā-īl (bagi Bani Israil), yaitu seorang anak tanpa ayah.

Wa lau nasyā-u la ja‘alnā mingkum (dan kalaulah Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikan di antara kalian), yakni sebagai pengganti kalian. Menurut yang lain, niscaya Kami menciptakan di antara kalian.

Malā-ikataη fil ardli yakhlufūn (malaikat-malaikat yang turun-temurun di muka bumi) yang menggantikan kalian.

Wa innahū (dan sesungguhnya ia), yakni turunnya ‘Isa putra Maryam a.s..

La ‘ilmul lis sā‘ati (benar-benar merupakan pengetahuan tentang saat kiamat), yakni benar-benar menjelaskan perihal terjadinya kiamat. Ada yang berpendapat, merupakan tanda terjadinya kiamat, jika lafazh ‘ilmun dibaca ‘alamun.

Fa lā tamtarūna bihā (karena itu, janganlah kalian ragu tentang hal itu), yakni janganlah kalian sangsi tentang kejadian kiamat.

Wattabi‘ūn (dan ikutilah Aku) dengan jalan bertauhid.

Hādzā (inilah), yakni tauhid inilah.

Shirāthum mustaqīm (jalan yang lurus), yakni agama yang lurus dan diridai-Nya, yaitu Islam.

Wa lā yashuddannakum (dan janganlah sekali-kali kalian dihalang-halangi), yakni janganlah sekali-kali kalian dipalingkan.

Asy-syaithānu (setan) dari agama Islam dan pengakuan ihwal terjadinya kiamat.

Innahū lakum ‘aduwwum mubīn (sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kalian) yang jelas-jelas permusuhannya.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dia (Isa) tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat (kenabian) kepadanya, dan Kami jadikan dia[3] sebagai tanda contoh bagi Bani lsrail[4].

[3] Lahir dari Maryam tanpa bapak. Hal itu sebagai dalil Mahakuasanya Allah Subhaanahu wa Ta’aala atas apa yang Dia kehendaki.

[4] Ayat ini menegaskan pandangan Islam terhadap kedudukan lsa ‘alaihis salam, yaitu sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya.

  1. Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun[5].

[5] Yakni lalu mereka tinggal di bumi, kemudian Allah mengutus utusan yang terdiri dari para malaikat. Adapun kamu wahai manusia! Maka tidak bisa yang diutus kepadamu adalah para malaikat (tidak sejalan). Oleh karena itu, termasuk rahmat Allah kepadamu adalah Dia mengutus para rasul dari jenismu agar kami dapat menimba ilmu dari mereka.

  1. Dan sungguh, dia (Isa) benar-benar menjadi pertanda akan datangnya hari Kiamat[6]. Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu tentang (Kiamat) itu[7] dan ikutilah aku[8]. Inilah jalan yang lurus[9].

[6] Yakni ketika Isa turun ke dunia di akhir zaman saat Dajjal telah keluar, merupakan tanda dekatnya hari Kiamat, demikian pula menunjukkan bahwa yang berkuasa menciptakannya tanpa bapak, berkuasa pula membangkitkan orang-orang yang telah mati dari kubur mereka.

[7] Karena meragukannya adalah sebuah kekufuran.

[8] Yaitu dengan mengerjakan apa yang aku perintahkan dan menjauhi apa yang aku larang. Di antara yang aku perintahkan adalah mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla.

[9] Yang menghubungkan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

  1. Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan[10]; sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu[11].

[10] Dari menjalankan perintah Allah.

[11] Ia berusaha sekuat tenaga untuk menyesatkan kamu.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Bukankah) tidak lain (dia) yakni Nabi Isa itu (hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat) kenabian (dan Kami jadikan dia) yaitu kelahirannya dengan tanpa ayah (sebagai perumpamaan untuk Bani Israel) maksudnya, sebagai bukti yang menunjukkan akan kekuasaan Allah swt. yang mampu menciptakan apa yang dikehendaki-Nya.
  2. (Dan kalau Kami kehendaki benar-benar Kami jadikan sebagai ganti kalian) untuk mengganti kalian (di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun) misalnya, kalian Kami binasakan terlebih dahulu, lalu Kami jadikan malaikat sebagai ganti kalian.
  3. (Dan sesungguhnya dia) Nabi Isa itu (benar-benar merupakan pengetahuan tentang hari kiamat) artinya, dengan diturunkannya dia maka diketahuilah dekatnya hari kiamat. (Karena itu janganlah kalian ragu-ragu tentang kiamat itu) atau janganlah kalian meragukannya. Lafal Tamtarunna asalnya Tamtarunanna, kemudian dibuang daripadanya Nun alamat rafa’ karena dijazmkan, dan dibuang pula daripadanya Wawu Dhamir jamak tetapi bukan karena Illat bertemunya dua huruf yang disukunkan, sehingga jadilah Tamtarunna. (Dan) katakanlah kepada mereka, (“Ikutilah aku) yakni ajaran tauhid ini. (Inilah) apa yang kuperintahkan kalian menjalankannya (jalan) atau tuntunan (yang lurus.)
  4. (Dan janganlah kalian sekali-kali dipalingkan) dapat dipalingkan dari agama Allah (oleh setan; sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian”) nyata permusuhannya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepada nya nikmat. (Az-Zukhruf: 59)

Yakni tiada lain Isa adalah seorang hamba Allah Swt. yang telah diberi karunia kenabian dan kerasulan dari-Nya.

dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil. (Az-Zukhruf: 59)

Yaitu sebagai bukti, alasan, dan keterangan yang menunjukkan kekuasaan Kami terhadap apa yang Kami kehendaki.

Firman Allah Swt.:

Dan kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun. (Az-Zukhruf: 60)

As-Saddi mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah menjadi pengganti kalian di muka bumi.

Ibnu Abbas r.a. mengatakan juga Qatadah bahwa makna yang dimaksud ialah sebagian dari mereka mengganti sebagian yang lain, sebagaimana sebagian dari kalian mengganti sebagian yang lain.

Pendapat ini pada garis besarnya sama dengan pendapat yang pertama.

Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah menjadi pengganti dari kalian dalam meramaikan bumi.

Firman Allah Swt.:

Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. (Az-Zukhruf: 61)

Pada tafsir yang dikemukakan oleh Ibnu Ishaq sebelum ini telah disebutkan sebagian darinya, bahwa yang dimaksud ialah mukjizat yang diberikan oleh Allah Swt. kepada Isa, yaitu dapat menghidupkan orang mati, dapat menyembuhkan orang yang buta dan orang yang berpenyakit supak serta penyakit-penyakit lainnya. Tetapi pendapat ini masih perlu diteliti lagi.

Tafsir yang terjauh ialah apa yang dikatakan oleh Qatadah dari Al-Hasan Al-Basri dan Sa’id ibnu Jubair, bahwa damir yang ada pada lafaz innahu kembali merujuk kepada Al-Qur’an, bahkan yang benar damir itu kembali kepada Isa a.s. karena konteks kalimat sedang membicarakan tentang dia. Kemudian yang dimaksud dengan maknanya ialah bahwa turunnya Isa adalah kelak sebelum hari kiamat, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ

Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. (An-Nisa: 159)

Yakni sebelum Isa mati dengan sebenarnya.

وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا

Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (An-Nisa: 159)

Pengertian ini diperkuat dengan adanya bacaan lain yang menyebutkan:

Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. (Az-Zukhruf: 61)

Yaitu sebagai tanda dan dalil yang menunjukkan akan terjadinya hari kiamat.

Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. (Az-Zukhruf: 61) Artinya, pertanda akan terjadinya hari kiamat itu ialah munculnya Isa dekat sebelum kiamat.

Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Abu Malik, Ikrimah, Al-Hasan, Qatadah, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya.

Telah disebutkan pula dalam sebuah hadis yang berpredikat mutawatir yang menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah memberitakan turunnya Isa a.s. sebelum hari kiamat sebagai seorang pemimpin yang adil lagi hakim yang adil.

Firman Allah Swt.:

Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu tentang hari kiamat itu. (Az-Zukhruf: 61)

Janganlah kalian meragukan hari kiamat, sesungguhnya hari kiamat itu pasti akan terjadi dan tidak terelakkan lagi.

dan ikutilah aku. (Az-Zukhruf: 61)

dalam semua apa yang kusampaikan kepada kalian.

Inilah jalan yang lurus. Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan. (Az-Zukhruf: 61-62)

dari mengikuti jalan yang hak.

Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. Dan tatkala Isa datang membawa keterangan, dia berkata, “Sesungguhnya aku. datang dengan membawa hikmah.” (Az-Zukhruf: 62-63)

Yakni kenabian.

dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya. (Az-Zukhruf: 63)

Ibnu Jarir mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah urusan agama, bukan urusan duniawi. Apa yang dikatakan oleh Ibnu Jarir ini baik lagi cocok. Kemudian Ibnu Jarir menjawab terhadap pendapat orang yang menduga bahwa lafaz ba’du sini bermakna kullun, lalu mengemukakan ucapan Labid seorang penya’ir sebagai dasar pegangan pendapatnya, yaitu:

تَرّاك أمْكنَة إذَا لَمْ أرْضَها  أَوْ يَعْتَلق بَعْضَ النُّفُوسِ حمَامُها

Aku musnahkan beberapa tempat bila aku tidak menyukainya, atau kematian akan menimpa jiwa ini.

Mereka menakwilkan lafaz ba’di sini dengan pengertian ‘semua jiwa’.

Ibnu Jarir membantah bahwa sesungguhnya yang dimaksud oleh penyair hanyalah jiwanya sendiri saja, lalu diungkapkan dengan kata ba’di. Pendapat Ibnu Jarir ini dapat diterima.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 24 ««««      «««« juz 25 ««««      «««« juz 26 «««««