Akibat Sikapnya yang Melampaui Batas

Tafsir Al-Qur’an: Surah Ad-Dukhaan ayat 17-33

0
142

Tafsir Al-Qur’an: Surah Ad-Dukhaan ayat 17-33. Pelajaran yang dapat diambil dari azab yang menimpa Fir’aun dan kaumnya, serta akibat sikapnya yang melampaui batas. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  فَدَعَا رَبَّهُ أَنَّ هَؤُلاءِ قَوْمٌ مُجْرِمُونَ (٢٢) فَأَسْرِ بِعِبَادِي لَيْلا إِنَّكُمْ مُتَّبَعُونَ (٢٣) وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًا إِنَّهُمْ جُنْدٌ مُغْرَقُونَ (٢٤) كَمْ تَرَكُوا مِنْ جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (٢٥) وَزُرُوعٍ وَمَقَامٍ كَرِيمٍ (٢٦) وَنَعْمَةٍ كَانُوا فِيهَا فَاكِهِينَ (٢٧) كَذَلِكَ وَأَوْرَثْنَاهَا قَوْمًا آخَرِينَ (٢٨)

Kemudian dia (Musa) berdoa kepada Tuhannya, “Sungguh, mereka ini adalah kaum yang berdosa (segerakanlah azab kepada mereka).” Allah berfirman), “Karena itu berjalanlah dengan hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar, Dan biarkanlah laut itu terbelah. Sesungguhnya mereka bala tentara yang akan ditenggelamkan.” Betapa banyak taman-taman dan mata air-mata air yang mereka tinggalkan, juga kebun-kebun serta tempat-tempat kediaman yang indah, dan kesenangan-kesenangan yang dapat mereka nikmati di sana, demikianlah, dan Kami wariskan (semua) itu kepada kaum yang lain (Bani Israil). (Q.S. Ad-Dukhaan : 22-28)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fa da‘ā rabbahū anna hā-ulā-i qaumum mujrimūn (lalu Musa berdoa kepada Rabb-nya, “Sesungguhnya mereka ini adalah kaum yang berdosa”), yakni kaum musyrikin yang berbuat kebinasaan terhadap diri mereka sendiri.

Fa asri bi ‘ibādī (maka berangkatlah kamu dengan membawa hamba-hamba-Ku), yakni Allah Ta‘ala berfirman kepada Musa, “Berangakatlah kamu dengan membawa hamba-hamba-Ku, Bani Israil.”

Lailan (pada malam hari), yakni pada awal malam.

Innakum muttaba‘ūn (sesungguhnya kalian akan tersusul) di laut.

Wat rukil bahra rahwā (dan biarkanlah laut itu terbelah), yakni jalan yang luas seluas Musa a.s. dan kaumnya bisa menyebrang.

Innahum (sesungguhnya mereka), yakni Fir‘aun dan kaumnya.

Juηdum mughraqūn (adalah tentara yang akan ditenggelamkan) di laut.

Kam tarakū miη jannātiw wa ‘uyūn (berapa banyak taman-taman dan mata air-mata air yang mereka tinggalkan), yakni air yang mengalir di taman-taman.

Wa zurū‘in (dan kebun-kebun), yakni ladang-ladang.

Wa maqāming karīm (serta tempat yang baik), yakni rumah-rumah yang bagus.

Wa na‘mating kānū fīhā fākihīn (dan kesenangan yang mereka nikmati), yakni yang mereka banggakan.

Kadzālika (demikianlah) yang telah Kami lakukan terhadap mereka.

Wa auratsnāhā qauman ākharīn (dan Kami mewariskan semua itu kepada kaum yang lain), yakni semua itu dijadikan warisan untuk Bani Israil yang ada sesudah mereka.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Kemudian dia (Musa) berdoa kepada Tuhannya, “Sungguh, mereka ini adalah kaum yang berdosa[10] (segerakanlah azab kepada mereka).”

[10] Yakni mereka telah mengerjakan dosa yang mengharuskan untuk disegerakan hukuman. Nabi Musa ‘alaihis salam berdoa dengan menyebutkan keadaan mereka, dan ini adalah doa bil haal (dengan menyebutkan keadaan), dimana doa ini lebih dalam daripada doa dengan perkataan sebagaimana doa Nabi Musa ‘alaihisa salam ketika lapar, “Ya Rabbi, sesungguhnya aku butuh kepada kebaikan yang Engkau turunkan.” Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan Beliau membawa pergi Bani Israil pada malam hari dan memberitahukan, bahwa Fir’aun dan kaumnya akan mengejar mereka.

  1. (Allah berfirman), “Karena itu berjalanlah dengan hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar,
  2. Dan biarkanlah laut itu terbelah[11]. Sesungguhnya mereka bala tentara yang akan ditenggelamkan.”

[11] Ketika Nabi Musa ‘alaihis salam membawa pergi Bani Israil pada malam hari sebagaimana yang Allah perintahkan, lalu Fir’aun mengejar mereka, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan Musa memukul laut. Lalu Musa memukulnya sehingga terbelahlah dua belas jalan, dan ketika itu air laut seperti gunung yang besar, lalu Musa dan kaumnya melintasinya. Setelah mereka melintasinya, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan Musa agar membiarkan laut seperti itu agar Fir’aun dan tentaranya melintasinya karena mereka akan ditenggelamkan. Ketika kaum Fir’aun telah masuk ke dalamnya, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan laut agar menyatu sehingga mereka (Fir’aun dan kaumnya) tenggelam semuanya, mereka mati dalam keadaan meninggalkan kesenangan yang banyak dari kehidupan dunia (lihat ayat 26-28 surah ini) dan Allah mewariskannya kepada Bani Israil yang sebelumnya diperbudak oleh mereka.

  1. Betapa banyak taman-taman dan mata air-mata air yang mereka tinggalkan,
  2. juga kebun-kebun serta tempat-tempat kediaman yang indah,
  3. dan kesenangan-kesenangan yang dapat mereka nikmati di sana,
  4. demikianlah, dan Kami wariskan (semua) itu kepada kaum yang lain (Bani Israil).

.

Tafsir Jalalain

  1. (Kemudian Musa berdoa kepada Rabbnya, “Bahwasanya) (mereka ini adalah kaum yang berdosa”) orang-orang yang musyrik.
  2. Maka Allah swt. berfirman, (“Maka berjalanlah kamu) lafaz ini dapat dibaca Fa-asri atau Fasri (dengan membawa hamba-hamba-Ku) yaitu Bani Israel (pada malam hari, sesungguhnya kalian akan dikejar) oleh Firaun dan kaumnya.
  3. (Dan biarkanlah laut itu) apabila kamu dan pengikut-pengikutmu telah menempuhnya (terbelah) tenang dalam keadaan terbelah hingga orang-orang Koptik atau kaum Firaun memasukinya (sesungguhnya mereka adalah tentara yang akan ditenggelamkan”) maka tenanglah kamu jangan khawatir. Akhirnya mereka ditenggelamkan.
  4. (Alangkah banyaknya taman yang mereka tinggalkan) yaitu kebun-kebun (dan mata air) yang mengalir.
  5. (Dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah) atau tempat yang bagus.
  6. (Dan nikmat) kesenangan (yang dahulu mereka bergelimang di dalamnya) bersenang-senang di dalamnya.
  7. (Demikianlah) lafal Kadzaalika ini menjadi Khabar dari Mubtada; maksudnya, perkaranya demikianlah. (Dan Kami wariskan semua itu) yakni harta benda mereka (kepada kaum yang lain) yakni, kaum Bani Israel.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Frman Allah Swt.:

Kemudian Musa berdoa kepada Tuhannya, “Sesungguhnya mereka ini adalah kaum yang berdosa (segerakanlah azab kepada mereka).” (Ad-Dukhan: 22)

Maka pada saat itu Allah Swt. memerintahkan kepada Musa agar keluar membawa kaum Bani Israil meninggalkan negeri Mesir tanpa pamit dahulu kepada Fir’aun, melainkan pergi dengan diam-diam. Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:

(Allah berfirman), “Maka berjalanlah kamu dengan membawa hamba-hamba-Ku pada malam hari, ‘sesungguhnya kamu akan dikejar.” (Ad-Dukhan: 23)

sama seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَا تَخَافُ دَرَكًا وَلا تَخْشَى

dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa, “Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam).” (Thaha: 77)

Adapun firman Allah Swt.:

dan biarkanlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentara yang akan ditenggelamkan. (Ad-Dukhan: 24)

demikian itu karena ketika Musa telah membawa Bani Israil menyeberangi laut itu, maka ia bermaksud memukulkan tongkatnya lagi ke laut itu, agar laut kembali tertutup oleh airnya seperti semula, sehingga menjadi penghalang antara mereka dan Fir’aun beserta pasukannya, karenanya Fir’aun tidak dapat mengejar mereka. Maka Allah memerintahkan kepada Musa a.s. agar membiarkan laut itu tetap kering, dan menyampaikan berita gembira kepada Musa bahwa mereka adalah pasukan yang akan ditenggelamkan di dalam laut itu (bila telah masuk semuanya). Dan sesungguhnya Musa tidak usah takut tersusul dan tidak usah takut tenggelam.

Ibnu Abbas r.a. mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan biarkanlah laut itu tetap terbelah. (Ad-Dukhan: 24) yakni seperti itu dan berjalanlah terus kamu.

Mujahid mengatakan bahwa rahwan artinya jalan yang kering seperti keadaan saat dipukul oleh Musa dengan tongkatnya. Allah Swt. berfirman, “Janganlah kamu perintahkan laut supaya menutup sebelum orang yang terakhir dari pasukan Fir’aun masuk ke dalamnya.”

Hal yang sama telah dikatakan oleh Ikrimah, Ar-Rabi’ ibnu Anas Ad-Dahhak, Qatadah, Ibnu Zaid, Ka’bul Ahbar, Sammak ibnu Harb, serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya:

Alangkah banyaknya taman-taman dan mata air yang mereka tinggalkan, dan kebun-kebun. (Ad-Dukhan: 25-26)

Yang dimaksud dengan jannat ialah kebun-kebun, dan yang dimaksud dengan mata air ialah sungai-sungai dan sumur-sumur.

Serta tempat-tempat yang indah-indah. (Ad-Dukhan: 26)

Yaitu tempat-tempat tinggal yang antik-antik dan tempat-tempat yang indah-indah.

Mujahid dan Sa’id ibnu Jubair mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Serta tempat-tempat yang indah-indah. (Ad-Dukhan: 26) Maksudnya, mimbar-mimbar.

Ibnu Lahi’ah telah meriwayatkan dari Wahb ibnu Abdullah Al-Mu’afiri, dari Abdullah ibnu Amr r.a. yang mengatakan bahwa Sungai Nil Mesir adalah rajanya semua sungai. Allah Swt. telah menundukkan baginya semua sungai, baik yang ada dibelahan timur maupun yang ada di belahan barat, dan semuanya itu dijinakkan oleh Allah untuk Sungai Nil. Apabila Allah hendak menjadikan Sungai Nil pasang, maka Dia memerintahkan kepada semua sungai agar membantu Sungai Nil, lalu semua sungai membantunya, dan Allah memancarkan baginya mata air-mata air dari bumi. Dan apabila pasangnya telah habis menurut apa yang dikehendaki oleh Allah Swt, maka Allah memerintahkan kepada setiap air untuk kembali kepada sumbernya masing-masing.

Abdullah ibnu Amr r.a. telah mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan, dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah, dan kesenangan-kesenangan yang mereka menikmatinya. (Ad-Dukhan: 25-27) Bahwa taman-taman itu berada di kedua sisi tepi Sungai Nil mulai dari hulu sampai hilirnya, yaitu mulai dari Aswan sampai ke Rasyid.  Sungai Nil di negeri Mesir mempunyai sembilan danau (aliran sungai yang melebar membentuk danau), yaitu di Iskandaria, Dimyat, Firdaus, Manaf, Fayyum, Muntaha, dan semua daerah yang dapat dicapai oleh airnya ditanami dan dijadikan lahan pertanian, mulai dari hulu sampai ke hilirnya temasuk bukit-bukit yang ada di kedua sisinya. Dahulu pengairan negeri Mesir diambil dari Sungai Nil yang dari permukaan tanah kedalaman permukaan airnya mencapai enam belas hasta, tetapi hal itu dapat dilakukan berkat keahlian penduduknya yang mengatur pengairan dari bendungan-bendungan dan danau-danaunya.

Dan kesenangan-kesenangan yang mereka menikmatinya. (Ad-Dukhan: 27)

Yakni kehidupan yang nikmat yang mereka bergelimangan di dalamnya. Mereka dapat memakan apa yang mereka kehendaki dan berpakaian menurut apa yang mereka senangi. Selain itu mereka memiliki harta yang berlimpah, kedudukan dan kekuasaan di negeri Mesir. Maka semuanya itu dicabut dari mereka dalam satu saat saja. Mereka meninggal dunia, lalu tempat kembali mereka adalah neraka Jahanam, dan seburuk-buruk tempat kembali adalah Jahanam. Sedangkan negeri Mesir dan semua kekayaannya beralih ke tangan bangsa Bani Israil, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

كَذَلِكَ وَأَوْرَثْنَاهَا بَنِي إِسْرَائِيلَ

demikianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (itu) kepada Bani Israil. (Asy-Syu’ara: 59)

Dalam ayat yang lain disebutkan oleh firman-Nya:

وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الأرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ

Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka. (Al-A’raf: 137)

Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:

demikianlah, dan Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain. (Ad-Dukhan: 28)

Mereka adalah kaum Bani Israil, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 24 ««««      «««« juz 25 ««««      «««« juz 26 «««««