Isyarat Agar Hati Sadar dan Tidak Lalai

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Jaatsiyah

0
101

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Jaatsiyah (Yang Berlutut). Surah ke-45. 37 ayat. Makkiyyah kecuali ayat 13 Madaniyyah. Ayat 1-5. Keutamaan Al-Qur’anul Karim, isyarat agar hati sadar dan tidak lalai, dan dalil-dalil terhadap keesaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  حم (١) تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ (٢) إِنَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لآيَاتٍ لِلْمُؤْمِنِينَ (٣) وَفِي خَلْقِكُمْ وَمَا يَبُثُّ مِنْ دَابَّةٍ آيَاتٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (٤) وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ رِزْقٍ فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ آيَاتٌ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (٥)

Haa Miim. Kitab (ini) diturunkan dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sungguh, pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan dan keesaan Allah) bagi orang-orang mukmin. Dan pada penciptakan dirimu dan pada makhluk bergerak yang bernyawa yang bertebaran (di bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini, dan pada pergantian malam dan siang, dan hujan yang diturunkan Allah dari langit, lalu dengan (air hujan) itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering); dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengerti. (Q.S. Al-Jaatsiyah : 1-5)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Hā Mīm. Dia telah Menetapkan apa yang akan terjadi. Menurut satu pendapat, Hā Mīm adalah lafazh sumpah yang dipergunakan Allah Ta‘ala untuk bersumpah.

Taηzīlul kitābi (Kitab [ini] diturunkan), yakni sesungguhnya Kitab ini difirmankan.

Minallāhil ‘azīzi (dari Allah Yang Maha Perkasa) menimpakan hukuman kepada siapa pun yang tidak beriman kepada-Nya.

Al-hakīm (lagi Maha Bijaksana). Dia telah memerintahkan agar tidak beribadah kepada selain-Nya. Menurut satu pendapat, al-‘azīzi (Yang Maha Perkasa) di dalam kerajaan dan kekuasaan-Nya; al-hakīm (lagi Maha Bijaksana) dalam perintah dan ketentuan-Nya.

Inna fis samāwāti (sesungguhnya di langit), yakni segala sesuatu yang ada di langit, seperti matahari, bulan, bintang, awan, dan lain sebagainya.

Wal ardli (dan bumi), yakni segala sesuatu yang ada di bumi, seperti pepohonan, gunung-gunung, lautan, dan lain sebagainya.

La āyātin (benar-benar terdapat ayat-ayat), yakni benar-benar terdapat berbagai bukti dan pelajaran.

Lil mu’minīn (bagi orang-orang yang beriman), yakni bagi orang-orang yang membenarkan dalam keimanannya.

Wa fī khalqikum (dan pada penciptaan kalian), yakni pada perubahan keadaan kalian, keadaan demi keadaan, terdapat ayat dan pelajaran bagi kalian.

Wa mā yabutstsu miη dābbatin (dan binatang-binatang yang bertebaran), yakni dan pada penciptaan semua yang bernyawa.

Āyātun (terdapat ayat-ayat), yakni terdapat berbagai bukti dan pelajaran.

Li qaumiy yūqinūn (bagi kaum yang meyakini), yakni bagi kaum yang membenarkan.

Wakh tilāfil laili wan nahāri (dan pada pergantian malam dan siang), yakni pada pergantian malam dan siang, perpanjangan malam dan siang, pengurangan malam dan siang, kedatangan malam dan siang, serta kepergian malam dan siang terdapat ayat dan pelajaran bagi kalian.

Wa mā aηzalallāhu (dan apa yang diturunkan Allah), yakni dan pada apa yang diturunkan Allah Ta‘ala.

Minas samā-i mir rizqin (dari langit berupa rezeki), yakni hujan.

Fa ahyā bihī (kemudian Dia menghidupkan dengannya), yakni dengan air hujan itu.

Al-ardla ba‘da mautihā (bumi yang sudah mati), yakni sesudah kemarau dan kering, terdapat berbagai bukti dan pelajaran bagi kalian.

Wa tashrīfir riyāhi (dan pada perkisaran angin), yakni pada perubahan arah angin ke kanan dan ke kiri, depan dan belakang, serta azab dan rahmat.

Āyātun (terdapat pula ayat-ayat), yakni terdapat pula berbagai bukti dan pelajaran.

Li qaumiy ya‘qilūn (bagi kaum yang berakal), yakni yang membenarkan bahwa semua itu dari Allah Ta‘ala.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Haa Miim.
  2. [1]Kitab (ini) diturunkan dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

[1] Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan suatu berita yang di dalamnya mengandung perintah mengagungkan Al-Qur’an dan memuliakannya. Hal itu, karena Al-Qur’an turun dari Allah Tuhan yang berhak disembah karena sifat sempurna pada-Nya dan karena Dia yang sendiri melimpahkan nikmat-nikmat-Nya. Dia memiliki keperkasaan dan kebijaksanaan yang sempurna. Selanjutnya, Dia menguatkan hal itu dengan menyebutkan ayat-ayat-Nya yang ada di ufuk (cakrawala) dan pada diri manusia, berupa penciptaan langit dan bumi serta makhluk yang disebarkan-Nya pada keduanya, serta apa yang Dia simpan pada keduanya berupa berbagai manfaat, demikian pula apa yang Allah turunkan dari langit berupa air hujan yang dengannya Allah Subhaanahu wa Ta’aala menghidupkan negeri dan penduduknya. Ini semua merupakan ayat yang jelas dan dalil yang terang yang menunjukkan kebenaran Al-Qur’an dan kebenaran isinya yang terdiri dari hikmah dan hukum-hukum. Demikian pula menunjukkan kesempurnaan yang dimiliki Allah Subhaanahu wa Ta’aala, serta menunjukkan benarnya kebangkitan manusia setelah mati.

  1. Sungguh, pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan dan keesaan Allah) bagi orang-orang mukmin.
  2. Dan pada penciptakan dirimu[2] dan pada makhluk bergerak yang bernyawa yang bertebaran (di bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini[3],

[2] Dari mani, lalu berubah menjadi segumpal darah dan berubah menjadi segumpal daging sehingga kemudian menjadi manusia.

[3] Adanya kebangkitan. Mereka ini adalah orang-orang mukmin.

  1. dan pada pergantian malam dan siang, dan hujan yang diturunkan Allah dari langit, lalu dengan (air hujan) itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering); dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengerti.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Ha Mim) hanya Allah sajalah yang mengetahui arti dan maksudnya.
  2. (Diturunkannya Kitab ini) yakni Al-Qur’an; lafal ayat ini berkedudukan menjadi Mubtada (dari Allah) menjadi Khabar dari Mubtada (Yang Maha Perkasa) di dalam kerajaan-Nya (lagi Maha Bijaksana) di dalam perbuatan-Nya.
  3. (Sesungguhnya pada langit dan bumi) pada penciptaan keduanya (benar-benar terdapat tanda-tanda) yang menunjukkan kepada kekuasaan dan keesaan Allah swt. (bagi orang-orang yang beriman.)
  4. (Dan pada penciptaan kalian) penciptaan masing-masing di antara kalian, yaitu mulai dari air mani, lalu berupa darah kental, kemudian segumpal daging, lalu menjadi manusia (dan) penciptaan (apa yang bertebaran) di muka bumi (berupa makhluk-makhluk yang melata) arti kata Ad-Daabbah adalah makhluk hidup yang melata di permukaan bumi, yaitu berupa manusia dan lain-lainnya (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah dan keesaan-Nya bagi kaum yang meyakini) adanya hari berbangkit.
  5. (Dan) pada (pergantian malam dan siang) yaitu datang dan perginya kedua waktu itu (dan rezeki yang diturunkan Allah dari langit) berupa hujan, dikatakan rezeki karena hujan itu merupakan penyebab rezeki (lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya, dan pada pertukaran angin) atau pergantiannya, terkadang bertiup ke arah selatan, terkadang bertiup ke arah utara, terkadang datang membawa udara dingin, dan terkadang datang membawa udara panas (terdapat tanda-tanda pula bagi kaum yang berakal) yaitu tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan dan keesaan Allah, karenanya mereka beriman.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. memberi petunjuk kepada mahluk-Nya memikirkan tanda-tanda kekuasaan-Nya, nikmat-nikmat-Nya, dan kekusaan-Nya yang besar yang dengan kekuasaan-Nya dia menciptakan langit dan bumi serta semua makhluk yang ada pada keduanya yang beraneka ragam macam dan jenisnya. Yaitu para malaikat, jin, manusia, binatang-binatang melata, burung-burung, hewan-hewan pemangsa, hewan-hewan liar, berbagai jenis serangga, dan berbagai macam makhluk di dalam laut. Juga silih bergantinya siang dan malam hari yang terus bergantian tanpa hentinya; yang satu datang dengan membawa kegelapannya, dan yang lainnya datang dengan membawa sinarnya. Demikian pula apa yang diturunkan oleh Allah Swt. dari langit melalui awan berupa hujan ketika diperlukan, yang hal ini dinamakan rezeki mengingat dengan adanya hujan rezeki dapat dihasilkan.

lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya. (Al-Jatsiyah: 5)

Yakni pada sebelumnya bumi kering dan tandus, tiada tumbuh-tumbuhan padanya.

Firman Allah Swt.:

dan pada perkisaran angin. (Al-Jatsiyah: 5.)

Yaitu angin dari selatan, utara, angin dabur dan saba, angin laut dan darat, angin malam hari dan siang hari; yang antara lain ada yang membawa air hujan, dan ada yang menyemaikan benih, dan ada yang menjadi penyegar bagi arwah (jiwa), ada pula yang mandul tidak produktif, pada mulanya Allah menyebutkan dalam firman-Nya:

benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman. (Al-Jatsiyah: 2)

Selanjutnya Allah menyebutkan, “Terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini,” kemudian disebutkan pula, “Terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal” Hal ini merupakan ungkapan yang bertingkat-tingkat dari suatu keadaan yang mulia meningkat kepada keadaan lain yang lebih mulia dan lebih tinggi daripada sebelumnya, makna ayat ini mirip dengan apa yang disebutkan di dalam surat Al-Baqarah melalui firman-Nya:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Al-Baqarah: 164)

Ibnu Abu Hatim sehubungan dengan makna ayat ini telah mengetengahkan atsar yang cukup panjang lagi gharib dari Wahb ibnu Munabbih, yaitu menyangkut penciptaan manusia, bahwa manusia itu diciptakan dari empat unsur yang dicampur menjadi satu.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 24 ««««      «««« juz 25 ««««      «««« juz 26 «««««