Kitab yang Mengandung Petunjuk dan Cahaya

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Jaatsiyah ayat 20-22

0
283

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Jaatsiyah ayat 20-22. Al-Qur’anul Karim adalah kitab yang mengandung petunjuk dan cahaya, dan perbedaan antara orang yang beramal saleh dengan orang yang beramal buruk. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (٢٠) أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (٢١) وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ (٢٢)

Al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar, dan agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan. (Q.S. Al-Jaatsiyah : 20-22)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Hādzā (ini), yakni Al-Qur’an ini.

Bashā-iru (adalah pedoman), yakni penjelasan.

Lin nāsi wa hudan (bagi manusia serta petunjuk) dari kesesatan.

Wa rahmatun (dan rahmat) dari azab.

Li qaumiy yūqinūn (bagi kaum yang meyakini), yakni yang membenarkan Nabi Muhammad  ﷺ dan Al-Qur’an.

Am hasiba (apakah menyangka), yakni apakah mengira.

Alladzīnajtarahus sayyi-āti (orang-orang yang berbuat keburukan), yakni orang-orang yang menyekutukan Allah Ta‘ala. Mereka adalah ‘Utbah, Syaibah, dan al-Walid bin ‘Utbah yang berhadapan dengan ‘Ali, Hamzah, dan ‘Ubaidah bin al-Harits dalam Perang Badr. Mereka berkata, “Jika memang mereka mempunyai hak dan pahala di akhirat seperti yang dikatakan Muhammad, pastilah kami akan mengungguli mereka di akhirat sebagaimana kami pun bisa mengungguli mereka di dunia ini.” Maka Allah Ta‘ala Berfirman, “Apakah mereka mengira,”

An naj‘alahum (bahwa Kami akan menjadikan mereka), yakni Kami akan menetapkan pahala untuk orang-orang kafir di akhirat.

Kal ladzīna āmanū (seperti orang-orang yang beriman), yaitu ‘Ali dan kedua orang temannya.

Wa ‘amilush shālihāti (dan mengerjakan amal-amal saleh), yakni berbagai ketaatan yang berhubungan dengan Rabb-nya.

Sawā-an (yaitu sama), yakni samakah.

Mahyāhum ([antara] kehidupan mereka), yakni kehidupan kaum Mukminin yang dilandasi iman.

Wa mamātuhum (dan kematian mereka) atas dasar iman, dengan kehidupan dan kematian orang-orang kafir yang dilandasi kekafiran. Menurut satu pendapat, (samakah) antara kehidupan dan kematian kaum Mukminin yang dilandasi keimanan, ketaatan, dan Keridaan Allah Ta‘ala dengan kehidupan dan kematian orang-orang kafir yang jelas-jelas dilandasi kekafiran, kemaksiatan, dan Kemurkaan Allah Ta‘ala.

Sā-a mā yahkumūn (amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu), yakni alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan untuk diri mereka.

Wa khalaqallāhus samāwāti wal ardla bil haqqi (dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak), yakni untuk tujuan yang hak.

Wa li tujzā kullu nafsin (dan supaya setiap orang diberi balasan), baik yang saleh ataupun yang durhaka.

Bimā kasabat (atas apa yang telah dikerjakannya), yakni atas kebaikan dan kebutukan yang telah dikerjakannya.

Wa hum lā yuzhlamūn (dan mereka tidak akan dizalimi), yakni kebaikan-kebaikan mereka tidak akan dikurangi, dan keburukan-keburukan mereka tidak akan ditambahi.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia[16], petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini[17].

[16] Dengan Al-Qur’an diperoleh pandangan yang jelas dalam menyikapi semua masalah, sehingga orang-orang mukmin akan mendapatkan manfaat, petunjuk dan rahmat.

[17] Dengan Al-Qur’an mereka memperoleh petunjuk ke jalan yang lurus baik dalam masalah ushul (dasar) maupun furu’ (cabang), demikian pula tercapai kebaikan, kesenangan, kebahagiaan di dunia dan akhirat, dan inilah rahmat. Dengannya jiwa mereka menjadi bersih, kecerdasan mereka bertambah, demikian pula keimanan dan keyakinan mereka dan dengannya hujjah pun menjadi tegak kepada orang yang tetap membangkang.

  1. Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu[18] mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan[19], yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka?[20] Alangkah buruknya penilaian mereka itu[21].

[18] Yaitu mereka yang banyak dosa dan meremehkan hak Tuhan mereka.

[19] Yaitu mereka yang memenuhi hak-hak Tuhan mereka, menjauhi kemurkaan-Nya, dan senantiasa mengutamakan keridhaan Tuhan mereka daripada hawa nafsu mereka.

[20] Maksudnya, apakah orang-orang kafir mengira bahwa mereka akan disamakan dengan kaum mukmin di akhirat, yakni berada dalam kebaikan dan kenikmatan seperti halnya orang-orang mukmin. Bahkan tidak demikian, mereka (orang-orang kafir) di akhirat berada dalam azab, kehinaan, dan kesengsaraan tidak seperti keadaan mereka ketika di dunia, sedangkan kaum mukmin di akhirat mendapatkan pahala, kemenangan, keberuntungan, kebahagiaan karena amal mereka ketika di dunia, seperti shalat, zakat, puasa, dsb.

[21] Hal itu karena keputusan tersebut menyelisihi kebijaksanaan hakim yang paling baik dan paling adil, yaitu Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Keputusan tersebut juga bertentangan dengan akal yang sehat dan fitrah yang lurus, bertentangan dengan kitab-kitab yang diturunkan dan bertentangan dengan apa yang dibawa para rasul.

  1. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar[22], dan agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya[23], dan mereka tidak akan dirugikan.

[22] Untuk menunjukkan kekuasaan dan keesaan-Nya. Atau maksud “bil haq” adalah dengan hikmah (kebijaksanaan) dan agar Dia diibadahi saja, selanjutnya Dia akan menghisab mereka setelah itu, yakni setelah mereka diperintahkan beribadah dan dikaruniakan berbagai nikmat, apakah mereka bersyukur dan mengerjakan perintah-Nya atau tidak? Atau bahkan mereka malah kufur dan meninggalkan perintah-Nya?

[23] Baik berupa ketaatan atau kemaksiatan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Inilah) Al-Qur’an ini (adalah pedoman bagi manusia) artinya, sebagai pedoman yang dijadikan sumber bagi mereka dalam masalah hukum-hukum dan hudud (petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini) adanya hari berbangkit.
  2. (Apakah) lafal Am di sini maknanya sama dengan Hamzah yang menunjukkan makna ingkar (berprasangka orang-orang yang mengerjakan) orang-orang yang melakukan (kejahatan) kekafiran dan kemaksiatan (bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama) lafal Sawaa-an ini menjadi Khabar (antara kehidupan dan kematian mereka?) menjadi Mubtada dan Ma’thuf, sedangkan Jumlah kalimat ini menjadi Badal dari huruf Kaf yang ada pada lafal Kalladziina, dan kedua Dhamirnya kembali kepada orang-orang kafir. Makna ayat, apakah mereka berprasangka bahwasanya Kami menjadikan mereka di akhirat sama dengan orang-orang mukmin, yaitu mereka hidup dalam kesejahteraan yang sama dengan kehidupan mereka sewaktu di dunia. Karena mereka telah mengatakan kepada orang-orang mukmin: “Sungguh jika kami dibangkitkan hidup kembali, niscaya kami akan diberi kebaikan seperti apa yang diberikan kepada kalian.” Lalu Allah berfirman menyangkal dugaan mereka sesuai dengan pengertian ingkar yang terkandung di dalam permulaan ayat. (Amat buruklah apa yang mereka sangka itu) maksudnya, perkara yang sebenarnya tidaklah demikian, karena sesungguhnya mereka di akhirat berada di dalam azab, berbeda dengan keadaan kehidupan mereka sewaktu di dunia.

Sedangkan orang-orang mukmin di akhirat, mereka mendapatkan pahala yang berlimpah disebabkan amal perbuatan mereka sewaktu di dunia, yaitu berupa amal shalat, amal zakat, amal puasa dan amal-amal lainnya. Huruf Maa pada ayat ini adalah Mashdariyah, yakni, seburuk-buruknya keputusan adalah keputusan mereka itu.

  1. (Dan Allah menciptakan langit dan) menciptakan (bumi dengan tujuan yang benar) lafal Bil haqqi ber-ta’alluq kepada lafal Khalaqa; penciptaan langit dan bumi itu dimaksud untuk menunjukkan kekuasaan dan keesaan-Nya (dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya) yaitu kemaksiatan dan ketaatan yang dilakukannya, maka tidaklah sama balasan yang diterima orang kafir dan orang mukmin (dan mereka tidak akan dirugikan.)

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Ta’aala:

Al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. (Al-Jatsiyah: 20)

Allah Swt. berfirman, bahwa tidak sama antara orang-orang mukmin dan orang-orang kafir itu. Seperti yang diungkapkan oleh firman-Nya:

لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ

Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orangyang beruntung.   (Al-Hasyr: 20)

Adapun firman Allah Swt.:

Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? (Al-Jatsiyah: 21)

Yakni Kami samakan di antara sesama mereka dalam kehidupan di dunia dan akhirat?

Amat buruklah apa yang mereka sangka itu. (Al-Jatsiyah: 21)

Betapa buruknya dugaan mereka terhadap Kami, padahal mustahil Kami menyamakan di antara orang-orang yang bertakwa dengan orang-orang yang pendurhaka dalam kehidupan di negeri akhirat nanti dan juga dalam kehidupan di dunia ini.

Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mu’ammal ibnu Ihab, telah menceritakan kepada kami Bukair ibnu Usman At-Tanukhi, telah menceritakan kepada kami Al-Wadin ibnu Ata, dari Yazid ibnu Marsad Al-Baji, dari Abu Zar r.a. yang mengatakan bahwa Allah membangun agama-Nya di atas empat pilar. Maka barang siapa yang berpaling darinya dan tidak mengamalkannya, ia akan menghadap kepada Allah dalam keadaan sebagai orang yang fasik (durhaka). Ketika ditanyakan, “Apa saja yang keempat pilar itu, hai Abu Zar?” Abu Zar r.a. menjawab, “Hendaklah seseorang menerima apa yang dihalalkan oleh Allah karena Allah, dan menolak apa yang diharamkan oleh Allah karena Allah, dan menerima perintah Allah karena Allah, dan menjauhi larangan Allah karena Allah; tiada yang dipercayai olehnya terhadap keempat perkara itu selain dari Allah Swt.

Abul Qasim yakni Nabi Saw. telah bersabda,

كَمَا أَنَّهُ لَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ، كَذَلِكَ لَا يَنَالُ الْفُجَّارُ مَنَازِلَ الْأَبْرَارِ

‘Sebagaimana tidak dapat dipetik dari pohon yang berduri buah anggur, demikian pula halnya orang-orang durhaka, mereka tidak akan memperoleh kedudukan orang-orang yang bertakwa’.”

Hadis ini gharib bila ditinjau dari segi jalurnya.

Muhammad ibnu lshaq menyebutkan di dalam kitab Sirah-nya bahwa mereka telah menemukan sebuah prasasti yang ada di Mekah, tepatnya di pondasi Ka’bah. Disebutkan padanya, “Kamu berbuat keburukan dan kamu harapkan kebaikan, perihalnya sama dengan orang yang memetik buah anggur dari pohon yang berduri,” yakni mustahil mendapatkannya karena pohon yang berduri tidak dapat membuahkan anggur.

Imam Tabrani telah meriwayatkan melalui hadis Syu’bah, dari Amr ibnu Murrah, dari Abud Duha, dari Masruq, bahwa Tamim Ad-Dari shalat di suatu malam hingga pagi hari seraya mengulang-ngulang bacaan ayat berikut yaitu firman-Nya: Apakah orang-orangyang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. (Al-Jatsiyah: 21) Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya: Amat buruklah apa yang mereka sangka itu. (Al-Jatsiyah: 21)

Adapun firman Allah Swt.:

Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar. (Al-Jatsiyah: 22)

Yakni dengan adil.

dan agar dibatasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan. (Al-Jatsiyah: 22)

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 24 ««««      «««« juz 25 ««««      «««« juz 26 «««««