Mereka yang Dibiarkan Sesat

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Jaatsiyah ayat 23

0
224

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Jaatsiyah ayat 23. Mereka yang dibiarkan sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutupan atas penglihatannya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ (٢٣)

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Q.S. Al-Jaatsiyah : 23)

.

Tafsir Ibnu Abbas

A fa ra-aita (maka pernahkah kamu melihat), hai Muhammad!

Manittakhadzā ilāhahū hawāhu (orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya), yakni orang yang menyembah tuhan-tuhan sesuai dengan keinginan hawa nafsunya. Setiap kali nafsunya menyenangi sesuatu, maka dia pun menyembahnya. Dia adalah an-Nadlar. Ada yang berpendapat, dia adalah Abu Jahl. Dan ada pula yang berpendapat, dia adalah al-Harits bin Qais.

Wa adlallahullāhu (dan Allah telah membiarkannya sesat) dari iman.

‘Alā ‘ilmin (berdasarkan Ilmu[-Nya]), yakni sebagaimana yang telah Dia ketahui bahwa ia termasuk golongan yang sesat.

Wa khatama ‘alā sam‘ihī (dan Dia telah mengunci pendengarannya) agar ia tidak bisa mendengar kebenaran.

Wa qalbihī (dan hatinya) agar ia tidak dapat memahami kebenaran.

Wa ja‘ala ‘alā basharihī ghisyāwah (serta meletakkan penutup pada penglihatannya) agar ia tidak dapat melihat kebenaran.

Fa may yahdīhī (maka siapakah yang akan memberinya petunjuk), yakni maka siapakah yang akan membimbingnya kepada agama Allah Ta‘ala.

Mim ba‘dillāh (sesudah Allah), yakni sesudah Allah Ta‘ala menyesatkannya.

A fa lā tadzakkarūn (maka tidakkah kalian ingat), yakni tidakkah kalian mengambil pelajaran dari Al-Qur’an bahwasanya Allah itu Maha Esa dan tak ada sekutu bagi-Nya.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya[24] dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya[25], dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya[26] serta meletakkan tutupan atas penglihatannya[27]? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)[28]? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?[29]

[24] Yakni apa yang diinginkan hawa nafsunya dia kerjakan, baik mendatangkan keridhaan Allah atau kemurkaan-Nya.

[25] Maksudnya Allah membiarkan orang itu sesat, karena Allah telah mengetahui bahwa orang itu tidak mau menerima petunjuk yang diberikan kepadanya sebelum ia diciptakan.

[26] Sehingga dia tidak dapat mendengar petunjuk dan tidak dapat memahami.

[27] Sehingga ia tidak dapat melihat petunjuk.

[28] Tidak ada seorang pun yang dapat memberinya hidayah ketika Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah menutup pintu-pintu hidayah dan membuka pintu-pintu kesesatan. Allah tidaklah menzaliminya, akan tetapi dialah yang menzalimi dirinya dan yang mengadakan sebab untuk terhalang dari rahmat Allah.

[29] Bisa juga diartikan, “Tidakkah kamu ingat?” Yakni ingat sesuatu yang bermanfaat bagimu lalu kamu mengerjakannya dan ingat sesuatu yang bermadharrat sehingga kamu dapat menjauhinya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Apakah kamu pernah melihat) maksudnya ceritakanlah kepadaku (orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya) maksudnya, yang disukai oleh hawa nafsunya, yaitu batu demi batu ia ganti dengan yang lebih baik sebagai sesembahannya (dan Allah membiarkan-Nya sesat berdasarkan ilmu-Nya) berdasarkan pengetahuan Allah swt. Dengan kata lain Dia telah mengetahui, bahwa orang itu termasuk orang yang disesatkan sebelum ia diciptakan (dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya) maka, karena itu ia tidak dapat mendengar petunjuk dan tidak mau memikirkannya (dan meletakkan tutupan atas penglihatannya) mengambil kegelapan hingga ia tidak dapat melihat petunjuk. Pada ayat ini diperkirakan adanya Maf’ul kedua bagi lafal Ra-ayta, yaitu lafal ayat tadi, yang artinya; apakah ia mendapat petunjuk? (Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah) membiarkannya sesat? Maksudnya, tentu saja ia tidak dapat petunjuk. (Maka mengapa kalian tidak mengambil pelajaran?) atau mengapa kalian tidak mau mengambilnya sebagai pelajaran buat kalian. Lafal Tadzakkaruuna asalnya salah satu dari huruf Ta-nya diidgamkan kepada huruf Dzal.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. telah berfirman:

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. (Al-Jatsiyah: 23)

Yakni sesungguhnya dia hanya diperintahkan oleh hawa nafsunya. Maka apa saja yang dipandang baik oleh hawa nafsunya, dia kerjakan; dan apa saja yang dipandang buruk oleh hawa nafsunya, dia tinggalkan. Ayat ini dapat juga dijadikan sebagai dalil untuk membantah golongan Mu’tazilah yang menjadikan nilai buruk dan baik berdasarkan kriteria rasio mereka. Menurut apa yang diriwayatkan dari Malik sehubungan dengan tafsir ayat ini, orang tersebut tidak sekali-kali menyukai sesuatu melainkan dia mengabdinya.

Firman Allah Swt.:

dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya. (Al-Jatsiyah: 23)

Makna ayat ini mengandung dua takwil. Pertama ialah Allah menyesatkan orang tersebut karena Allah mengetahui bahwa dia berhak untuk memperoleh kesesatan. Kedua ialah Allah menjadikannya sesat sesudah sampai kepadanya pengetahuan dan sesudah hujah ditegakkan terhadapnya. Pendapat yang kedua mengharuskan adanya pendapat yang pertama, tetapi tidak kebalikannya.

dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan pada penglihatannya? (Al-Jatsiyah: 23)

karenanya dia tidak dapat mendengar apa yang bermanfaat bagi dirinya dan tidak memahami sesuatu yang dapat dijadikannya sebagai petunjuk, dan tidak dapat melihat bukti yang jelas yang dapat dijadikan sebagai penerang hatinya. Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:

Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Al-Jatsiyah: 23)

Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلا هَادِيَ لَهُ وَيَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

Barang siapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan. (Al-A’raf: 186)

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 24 ««««      «««« juz 25 ««««      «««« juz 26 «««««