Kemakmuran dan Kekuatan

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Ahqaf ayat 26-28

0
183

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Ahqaf ayat 26-28. Peringatan kepada kaum musyrik untuk mengambil pelajaran dari hal yang menimpa umat-umat terdahulu dan agar tidak tertipu dengan kemakmuran dan kekuatan, dan bahwa kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala tidak dapat dikalahkan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِنْ مَكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلا أَبْصَارُهُمْ وَلا أَفْئِدَتُهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ   (٢٦) وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا مَا حَوْلَكُمْ مِنَ الْقُرَى وَصَرَّفْنَا الآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (٢٧) فَلَوْلا نَصَرَهُمُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ قُرْبَانًا آلِهَةً بَلْ ضَلُّوا عَنْهُمْ وَذَلِكَ إِفْكُهُمْ وَمَا كَانُوا يَفْتَرُونَ (٢٨)

Dan sungguh, Kami telah meneguhkan kedudukan mereka (dengan kemakmuran dan kekuatan) yang belum pernah Kami berikan kepada kamu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati mereka itu tidak berguna sedikit pun bagi mereka, karena mereka (selalu) mengingkari ayat-ayat Allah, dan (ancaman) azab yang dahulu mereka perolok-olokkan telah mengepung mereka. Dan sungguh, telah Kami binasakan negeri-negeri di sekitarmu, dan juga telah Kami jelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran) Kami agar mereka kembali (bertobat). Maka mengapa (berhala-berhala dan tuhan-tuhan) yang mereka sembah selain Allah untuk mendekatkan diri (kepada-Nya) tidak dapat menolong mereka? Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka; dan itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan. (Q.S. Al-Ahqaf : 26-28)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa laqad makkannāhum (dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka), yakni mengaruniai mereka kekayaan, kekuatan, dan amal-amal.

Fīmā im makkannākum fīhi (dalam hal-hal yang belum pernah Kami teguhkan kedudukan kalian), yakni dalam hal-hal yang belum pernah Kami teguhkan kedudukan kalian, dan juga belum pernah Kami berikan kepada kalian, wahai penduduk Mekah.

Wa ja‘alnā lahum sam‘an (dan Kami telah menjadikan untuk mereka pendengaran) yang bisa mereka pergunakan untuk mendengar.

Wa abshāran (penglihatan) yang bisa mereka pergunakan untuk melihat.

Wa af-idatan (dan hati), yakni dan qalbu yang bisa mereka pergunakan untuk berpikir.

Famā aghnā ‘anhum sam‘uhum wa lā abshāruhum wa lā af-idatuhum, (akan tetapi tiadalah berguna untuk mereka pendengaran, penglihatan, dan hati mereka itu), yakni qalbu yang bisa mereka pergunakan untuk berpikir itu.

Miη syai-in (sedikit pun), yakni secuil pun dari Azab Allah Ta‘ala.

Idz kānū yajhadūna bi āyātillāhi (karena mereka senantiasa mengingkari ayat-ayat Allah), yakni kafir kepada Hud a.s. dan Kitab Allah Ta‘ala.

Wa hāqa bihim (dan mereka pun diliputi), yakni ditimpa.

Mā kānū bihī yastahzi-ūn (oleh apa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya), yakni azab (yang selalu) mereka cemoohkan.

Wa la qad ahlaknā mā haulakum minal qurā (dan sungguh Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitar kalian), hai penduduk Mekah!

Wa sharrafnal āyāti (dan Kami juga telah menerangkan ayat-ayat Kami), yakni Kami telah menjelaskan ayat-ayat yang berisi perintah, larangan, dan kebinasaan orang-orang yang telah Kami Binasakan.

La‘allahum yarji‘ūn (supaya mereka kembali) dari kekafiran mereka seraya bertobat.

Fa lau lā nasharahumul ladzīnattakhadzū (maka mengapa tidak menolong mereka yang mereka ambil), yakni yang mereka sembah.

Miη dūnillāhi qurbānan ālihatan (selain Allah sebagai tuhan-tuhan untuk mendekatkan diri itu), yakniuntuk mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ala.

Bal dlallū ‘anhum (bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka), yakni sia-sialah tuhan-tuhan yang dahulu mereka sembah itu.

Wa dzālika ifkuhum (dan itulah kebohongan mereka), yakni kedustaaan mereka.

Wa mā kānū yaftarūn (dan apa yang dahulu mereka ada-adakan), yakni yang dahulu mereka bohongkan terhadap Allah Ta‘ala.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan sungguh, Kami telah meneguhkan kedudukan mereka (dengan kemakmuran dan kekuatan) yang belum pernah Kami berikan kepada kamu[1] dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati[2]; tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati mereka itu tidak berguna sedikit pun bagi mereka, karena mereka (selalu) mengingkari ayat-ayat Allah[3], dan (ancaman) azab yang dahulu mereka perolok-olokkan telah mengepung mereka.

[1] Yakni oleh karena itu, jangan kamu mengira bahwa peneguhan Kami kepada kamu hanya diberikan kepadamu saja, dan bahwa hal itu akan menghindarkan kamu dari azab Allah, bahkan selain kamu juga diberikan peneguhan, namun harta, anak-anak dan tentara mereka tidak berguna bagi mereka sedikit pun dari azab Allah.

[2] Pendengaran, penglihatan dan hati mereka normal, sehingga tidak dapat dikatakan bahwa mereka meninggalkan kebenaran karena kebodohannya dan tidak dapat mengetahui atau karena kurangnya akal mereka, akan tetapi taufiq di Tangan Allah.

[3] Yang menunjukkan keesaan-Nya dan keberhakan-Nya untuk diibadahi saja.

  1. [4]Dan sungguh, telah Kami binasakan negeri-negeri di sekitarmu[5], dan juga telah Kami jelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran) Kami agar mereka kembali (bertobat).

[4] Allah Subhaanahu wa Ta’aala memperingatkan kaum musyrik bangsa Arab dan selain mereka dengan pembinasaan-Nya terhadap umat-umat yang mendustakan yang tinggal di sekitar mereka, bahkan kebanyakan mereka tinggal di jazirah Arab seperti kaum ‘Aad, Tsamud, dsb. dan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah mengulang-ulang ayat-ayat-Nya dan menampilkan secara bermacam-macam kepada mereka agar mereka kembali kepada Allah, meninggalkan kekafiran dan mendustakan. Namun mereka tetap tidak beriman, sehingga Allah menghukum mereka dengan hukuman dari Tuhan yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa, dan sesembahan yang mereka sembah selain Allah itu tidak bermanfaat apa-apa bagi mereka.

[5] Yang dimaksud dengan negeri-negeri di sekitarmu ialah negeri-negeri yang berada di sekitar kota Mekah, seperti negeri Al Hijr, Sadum, Ma’rib dan lain-lain.

  1. Maka mengapa (berhala-berhala dan tuhan-tuhan) yang mereka sembah selain Allah untuk mendekatkan diri (kepada-Nya) tidak dapat menolong mereka? Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka[6]; dan itulah akibat kebohongan mereka[7] dan apa yang dahulu mereka ada-adakan.

[6] Ketika azab turun.

[7] Bisa juga diartikan, bahwa itulah kebohongan mereka, yaitu mengambil berhala dan patung sebagai sesembahan selain Allah dengan anggapan bahwa hal itu dapat mendekatkan diri mereka kepada-Nya serta dapat memberi manfaat bagi mereka.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal) (yang belum pernah) lafal In di sini dapat dikatakan sebagai In Nafiyah atau In Zaidah (Kami meneguhkan kedudukan kalian) hai penduduk Mekah (dalam hal itu) dalam hal kekuatan dan banyaknya harta benda (dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran) lafal Sam’an bermakna Asmaa’an bermakna jamak (dan penglihatan serta hati) atau kalbu (tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit jua pun bagi mereka) maksudnya, hal-hal tersebut sama sekali tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun buat diri mereka; lafal Min di sini adalah Zaidah (karena) lafal Idz adalah yang dima’mulkan oleh lafal Aghnaa kemudian diberlakukan sebagai makna Ta’lil (mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah) yaitu hujah-hujah-Nya yang nyata (dan turunlah) yaitu menimpalah (kepada mereka apa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya) yaitu azab yang dahulu mereka suka memperolok-olokkannya.
  2. (Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitar kalian) yakni penduduk-penduduknya, seperti kaum Tsamud, kaum Ad dan kaum Luth (dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang) maksudnya Kami telah mengulang-ulang hujah-hujah Kami yang nyata (supaya mereka kembali.)
  3. (Maka mengapa tidak) atau kenapa tidak (menolong mereka) dengan cara menolak azab dari diri mereka (sesembahan-sesembahan selain Allah yang mereka jadikan) selain dari Allah (sebagai taqarrub) untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah (dan sebagai tuhan-tuhan) di samping Allah, yaitu berupa berhala-berhala. Maf’ul pertama dari lafal Ittakhadza adalah Dhamir yang tidak disebutkan yang kembali kepada Isim Maushul, yaitu lafal Hum, sedangkan Maf’ul keduanya adalah lafal Qurbaanan, dan lafal Aalihatan sebagai Badal dari lafal Qurbaanan. (Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap) yakni pergi (dari mereka) sewaktu azab itu datang menimpa mereka. (Itulah) yakni pengambilan mereka terhadap berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan untuk mendekatkan diri kepada Allah (akibat kebohongan mereka) kedustaan mereka (dan apa yang dahulu mereka ada-adakan) yang dahulu mereka buat-buat. Maa adalah Mashdariyah atau Maushulah, sedangkan Dhamir yang kembali kepadanya tidak disebutkan yaitu lafal Fiihi; lengkapnya: Wa Maa Kaanuu Fiihi Yaftaruuna.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. berfirman, bahwa Kami telah meneguhkan umat-umat terdahulu dalam kehidupan di dunia dalam hal harta benda dan anak-anak, dan Kami telah memberikan kepada mereka sebagian dari hal itu dalam jumlah yang belum pernah Kami berikan kepadamu hal yang semisal dengannya dan tidak pula mendekatinya.

dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati mereka itu tidak berguna bagi mereka sedikit jua pun, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokannya. (Al-Ahqaf: 26)

Yakni mereka telah diliputi oleh azab dan pembalasan yang dahulunya mereka dustakan dan mereka anggap mustahil kejadiannya. Dengan kata lain, maksud ayat ini ialah memperingatkan kepada orang-orang yang diajak bicara olehnya untuk bersikap hati-hati dan waspada, jangan meniru mereka, karena berakibat akan tertimpa azab dan pembalasan seperti apa yang telah Allah timpakan kepada mereka, yaitu azab di dunia dan akhirat.

Firman Allah Swt.:

Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu. (Al-Ahqaf: 27)

Yakni penduduk kota Mekah. Allah telah membinasakan umat-umat yang telah mendustakan rasul-rasul Allah yang berada di sekitar Mekah, seperti kaum Ad. Kaum Ad tinggal di Al-Ahqaf di Hadramaut, yaitu negeri Yaman. Dan kaum Samud yang tempat tinggal mereka terletak antara Mekah dan negeri Syam. Demikian pula penduduk Saba yang terletak di negeri Yaman. Juga penduduk kota Madyan yang tempat tinggal mereka berada di tengah jalan yang biasa dilalui oleh penduduk Mekah menuju ke Gazzah (Palestina). Juga kaum Lut yang tempat tinggal mereka telah diubah menjadi danau, mereka (penduduk Mekah) biasa melewatinya pula.

Firman Allah Swt.:

dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang. (Al-Ahqaf: 27)

Yakni Kami telah menerangkan dan menjelaskannya kepada mereka.

supaya mereka kembali (bertobat). Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai tuhan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) tidak dapat menolong mereka. (Al-Ahqaf: 27-28)

Yaitu mengapa sembahan-sembahan mereka itu tidak dapat menolong mereka di saat mereka memerlukan pertolongannya?”

Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka? (Al-Ahqaf: 28)

Maksudnya, pergi dari mereka di saat mereka memerlukan pertolongannya.

Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan. (Al-Ahqaf: 28)

Yakni apa yang mereka ada-adakan dari diri mereka sendiri, yaitu menyembah tuhan-tuhan selain Allah. Sesungguhnya mereka telah merugi dan teramat kecewa karena menyembah banyak tuhan dan berpegang kepada sembahan-sembahan itu. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

 ««««« juz 25 ««««      «««« juz 26 «««««      ««««« juz 27 «««««