Bahaya Kaum Munafik Bagi Umat Islam

Tafsir Al-Qur’an: Surah Muhammad ayat 16-18

0
195

Tafsir Al-Qur’an: Surah Muhammad ayat 16-18. Bahaya kaum munafik bagi umat Islam karena mereka menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ حَتَّى إِذَا خَرَجُوا مِنْ عِنْدِكَ قَالُوا لِلَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مَاذَا قَالَ آنِفًا أُولَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ (١٦) وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ (١٧) فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا فَأَنَّى لَهُمْ إِذَا جَاءَتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ (١٨)

Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu (Muhammad), tetapi apabila mereka telah keluar dari sisimu, mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu (sahabat-sahabat Nabi), “Apakah yang dikatakannya tadi?” Mereka itulah orang-orang yang dikunci hatinya oleh Allah, dan mengikuti hawa nafsunya. Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahi ketakwaan mereka. Maka apalagi yang mereka tunggu-tunggu selain hari Kiamat, yang akan datang kepada mereka secara tiba-tiba, karena tanda-tandanya sungguh telah datang. Maka apa gunanya kesadaran mereka itu. Apabila hari kiamat itu sudah datang? (Q.S. Muhammad : 16-18)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa minhum (dan di antara mereka), yakni di antara orang-orang munafik.

May yastami‘u ilaika (ada orang yang mendengarkanmu), yakni mendengarkan khotbahmu pada hari Jum‘at.

Hattā idzā kharajū min ‘iηdika (hingga bila telah keluar dari dekat kamu), yakni telah terpisah dari Nabi ﷺ.

Qālū (berkatalah mereka), yakni orang-orang munafik.

Lil ladzīna ūtul ‘ilma (kepada orang yang telah diberi ilmu), yakni yang telah dikaruniai ilmu, yaitu ‘Abdullah bin Mas‘ud.

Mādzā qāla (“Apa yang dikatakannya), yakni yang dikatakan Nabi Muhammad ﷺ.

Ānifan (tadi”), yakni di atas mimbar barusan. Hal itu dimaksudkan sebagai olok-olok terhadap perkataan Nabi Muhammad ﷺ.

Ulā-ika (mereka itu), yakni orang-orang munafik itu.

Alladzīna thaba‘allāhu (adalah orang-orang yang telah ditutup rapat oleh Allah), yakni telah disegel Allah Ta‘ala.

‘Alā qulūbihim (hati mereka), sehingga tidak bisa memahami kebenaran dan petunjuk.

Wattaba‘ū ahwā-ahum (dan mereka telah memperturutkan hawa nafsu mereka) lantaran kufur secara sembunyi-sembunyi, munafik, berkhianat, dan memusuhi Rasulullah ﷺ.

Wal ladzīnahtadau (dan orang-orang yang telah mendapat petunjuk) dengan iman.

Zādahum (Dia menambahi mereka) dengan khotbahmu itu.

Hudan (petunjuk), yakni pandangan/wawasan dalam persoalan agama dan kebenaran niatnya.

Wa ātāhum taqwāhum (dan memberikan kepada mereka ketakwaan mereka), yakni mengilhamkan kepada mereka ketakwaannya. Dia telah memuliakan mereka dengan meninggalkan berbagai kemaksiatan dan menjauhi berbagai keharaman. Menurut satu pendapat, wal ladzīnahtadau (dan orang-orang yang telah mendapat petunjuk)dengan yang nasikh; zādahum hudan (Dia menambahi mereka petunjuk) dengan yang mansukh; wa ātāhum (dan memberikan kepada mereka), yakni Allah Ta‘ala memberikan kepada mereka; taqwāhum (ketakwaan mereka), yakni Allah Ta‘ala memuliakan mereka dengan menggunakan nasikh dan meninggalkan mansukh.

Fa hal yaηzhurūna (maka adakah yang mereka tunggu-tunggu) manakala orang-orang kafir mendustakanmu.

Illas sā‘ata (selain saat kiamat), yakni terjadinya kiamat.

Aη ta’tiyahum baghtatan (yang akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba), yakni secara mendadak.

Fa qad jā-a asyrāthuhā (karena sungguh tanda-tandanya telah datang), yakni ciri-cirinya. Bulan terbelah dan kedatangan Nabi Muhammad ﷺ yang membawa Al-Qur’an merupakan ciri-ciri akan datangnya kiamat.

Fa annā lahum (lalu bagaimanakah mereka memperoleh), yakni dari manakah mereka memperoleh.

Idzā jā-at-hum (bila hal itu telah datang kepada mereka), yakni terjadinya kiamat.

Dzikrāhum (kesadaran mereka), yakni tobat.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu (Muhammad)[16], tetapi apabila mereka telah keluar dari sisimu, mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu (sahabat-sahabat Nabi)[17], “Apakah yang dikatakannya tadi?”[18] Mereka itulah orang-orang yang dikunci hatinya oleh Allah[19], dan mengikuti hawa nafsunya.

[16] Yaitu pada saat Rasulullah ﷺ berceramah. Mereka ini adalah orang-orang munafik. Mereka hanya sekedar mendengar, bukan untuk menerima dan mengikuti, bahkan hati mereka berpaling darinya.

[17] Meminta pemahaman terhadap apa yang mereka dengar dari Rasulullah ﷺ, padahal mereka tidak suka kepada ucapan Beliau.

[18] Sekiranya mereka menginginkan kebaikan, tentu mereka pasang telinganya dan ucapan Beliau yang begitu jelas masuk ke dalam hati mereka, dan anggota badan mereka tunduk kepadanya, akan tetapi mereka tidak demikian.

[19] Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah mengunci hatinya dan menutup pintu-pintu kebaikan disebabkan mereka mengikuti hawa nafsunya dan tidak mereka inginkan selain kebatilan.

  1. [20]Dan orang-orang yang mendapat petunjuk[21], Allah akan menambah petunjuk kepada mereka[22] dan menganugerahi ketakwaan mereka[23].

[20] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerangkan keadaan orang-orang yang mendapat petunjuk.

[21] Dengan beriman, tunduk dan mengikuti keridhaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

[22] Sebagai syukur-Nya kepada mereka atas hal itu.

[23] Allah Subhaanahu wa Ta’aala akan memberi mereka taufiq kepada kebaikan dan menjaga mereka dari keburukan. Dia menyebutkan dalam ayat ini bahwa orang-orang yang mendapatkan petunjuk memperoleh dua balasan; ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.

  1. Maka apalagi yang mereka[24] tunggu-tunggu selain hari Kiamat, yang akan datang kepada mereka secara tiba-tiba, karena tanda-tandanya sungguh telah datang[25]. Maka apa gunanya kesadaran mereka itu. Apabila hari kiamat itu sudah datang[26]?

[24] Yaitu orang-orang yang mendustakan.

[25] Yang menunjukkan kedekatannya, seperti telah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, terbelahnya bulan, adanya dukhan (asap), dsb.

[26] Kesadaran ketika itu tidaklah berguna karena waktunya telah berlalu, mereka telah melalui waktu yang biasanya orang yang sadar jika melaluinya akan sadar, yaitu di dunia. Di samping itu, pemberi peringatan telah datang kepada mereka. Dalam ayat ini terdapat dorongan untuk mempersiapkan diri sebelum maut datang seara tiba-tiba, karena dengan tibanya kematian, maka tibalah kiamat untuk dirinya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan di antara mereka) orang-orang kafir itu (ada orang yang mendengarkan perkataanmu) sewaktu kamu berkhutbah Jumat, mereka adalah orang-orang munafik (sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang-orang yang telah diberi ilmu pengetahuan) dari kalangan sahabat Nabi ﷺ antara lain adalah Ibnu Masud dan Ibnu Abbas r.a.; mereka mengatakan kepadanya dengan nada sinis dan mengejek, (“Apakah yang dikatakannya tadi?”) dapat dibaca Aanifan atau Anifan, maksudnya kami kurang jelas. (Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah) dengan kekafiran (dan mengikuti hawa nafsu mereka) dalam kemunafikan.
  2. (Dan orang-orang yang mendapat petunjuk) mereka adalah orang-orang mukmin (Dia menambah kepada mereka) yakni Allah swt. (petunjuk dan memberikan kepada mereka -balasan- ketakwaannya) maksudnya, Allah memberikan ilham kepada mereka untuk mengamalkan hal-hal yang dapat memelihara diri mereka dari neraka.
  3. (Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu) maksudnya tiadalah yang ditunggu-tunggu, oleh orang-orang kafir Mekah (melainkan hari kiamat yaitu kedatangannya kepada mereka) lafal An Ta’tiyahum menjadi Badal Isytimal dari lafal As-Saa’ah; yakni, perkaranya tiada lain hanyalah menunggu kedatangan kiamat kepada mereka (dengan tiba-tiba) atau secara sekonyong-konyong (karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya) alamat-alamatnya, antara lain diutusnya Nabi ﷺ terbelahnya bulan dan munculnya Ad-Dukhaan. (Maka apabila ia datang kepada mereka apakah faedahnya) yang dimaksud adalah kedatangan hari kiamat (kesadaran mereka) keinsafan mereka, tidak ada manfaatnya lagi buat mereka.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. berfirman, menceritakan perihal orang-orang munafik dalam kebodohan dan keminiman pemahaman mereka, mengingat mereka sering duduk bersama Rasulullah ﷺ dan mendengarkan ucapannya, tetapi mereka tidak dapat menangkap sesuatu pun darinya. Dan apabila mereka keluar dari sisinya.

mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat nabi). (Muhammad: 16)

Makna yang dimaksud dengan orang-orang yang telah diberi ilmu pengetahuan ialah para sahabat.

Apakah yang dikatakannya tadi? (Muhammad: 16)

Anifan artinya barusan. Mereka tidak dapat memahami apa yang dikatakan oleh Nabi ﷺ karena mereka tidak memperhatikannya. Maka disebutkan dalam firman selanjutnya:

Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. (Muhammad: 16)

Yakni mereka tidak mempunyai pemahaman yang benar dan tidak pula tujuan yang benar. Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan:

Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka. (Muhammad: 17)

Yaitu orang-orang yang mencari hidayah. Allah memberi taufik kepada mereka dan memberinya petunjuk kepadanya, serta meneguhkan pendirian mereka pada jalan hidayah itu dan menambah kepada mereka hidayah.

dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya. (Muhammad: 17)

Maksudnya, memberikan kepada mereka ilham yang membimbing mereka kepada ketakwaan.

Firman Allah Swt.:

Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba. (Muhammad: 18)

Yakni sedangkan mereka dalam keadaan lalai darinya.

karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. (Muhammad: 18)

Yaitu tanda-tanda yang menunjukkan dekatnya saat kiamat. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain:

هَذَا نَذِيرٌ مِنَ النُّذُرِ الأولَى أَزِفَتِ الآزِفَةُ

Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya hari kiamat. (An-Najm: 56-57)

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ

Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. (Al-Qamar: 1)

أَتَى أَمْرُ اللَّهِ فَلا تَسْتَعْجِلُوهُ

Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang)nya (An-Nahl: 1)

Dan firman Allah Swt.:

اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedangkan mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya). (Al-Anbiya: 1)

Dengan diutusnya Rasulullah ﷺ merupakan salah satu pertanda dekatnya hari kiamat, karena beliau adalah penutup para rasul yang melaluinya Allah Swt. menyempurnakan agama dan menegakkan hujah-Nya kepada semua umat manusia. Dan sesungguhnya Rasulullah ﷺ sendiri telah memberitakan tentang tanda-tanda dan syarat-syarat dekatnya hari kiamat, bahkan beliau menjelaskannya dengan keterangan yang belum pernah disampaikan oleh seorang nabi pun sebelumnya, seperti yang telah diterangkan di dalam babnya.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa diutusnya Nabi Muhammad merupakan salah satu pertanda dekatnya hari kiamat, dan kenyataannya memang seperti yang dikemukakannya. Karena itulah disebutkan bahwa di antara nama Nabi Muhammad ﷺ (yakni julukannya) ialah bahwa beliau adalah nabi taubat, nabi malhamah(heroik) lagi penghimpun, yang semua umat manusia dihimpunkan di bawah kedua telapak kakinya; dan nabi yang terakhir, yakni tiada nabi lagi sesudahnya.

قَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْمِقْدَامِ، حَدَّثَنَا فُضَيْلُ بْنُ سُلَيْمَانَ، حَدَّثَنَا أَبُو حَازِمٍ، حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ سَعْدٍ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بِأُصْبُعَيْهِ هَكَذَا، بِالْوُسْطَى وَالَّتِي تَلِيهَا: “بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Miqdam, telah menceritakan kepada kami Fudail ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Abu Raja, telah menceritakan kepada kami Sahl ibnu Sa’d r.a. yang mengatakan bahwa ia pernah menyaksikan Rasulullah ﷺ berisyarat dengan kedua jarinya, yaitu jari tengah dan jari yang mengiringinya seraya bersabda: Aku diutus sedang (jarak antara) aku dan hari kiamat sama seperti kedua jari ini.

Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya:

Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang? (Muhammad: 18)

Yakni bagaimanakah dengan kesadaran orang-orang kafir itu apabila hari kiamat telah terjadi, di saat tiada gunanya lagi bagi mereka hal tersebut. Semakna dengan firman-Nya:

يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الإنْسَانُ وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى

dan pada hari itu ingatlah manusia, tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. (Al-Fajr: 23)

Dan firman Allah Swt.:

وَقَالُوا آمَنَّا بِهِ وَأَنَّى لَهُمُ التَّنَاوُشُ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ

dan (di waktu itu) mereka berkata, “Kami beriman kepada Allah, ” bagaimanakah mereka dapat mencapai (keimanan) dari tempat yang jauh itu? (Saba: 52)

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

 ««««« juz 25 ««««      «««« juz 26 «««««      ««««« juz 27 «««««