Tentu Dia Tampakkan Pribadi-pribadi Mereka

Tafsir Al-Qur’an: Surah Muhammad ayat 30-32

0
287

Tafsir Al-Qur’an: Surah Muhammad ayat 30-32. Peringatan terhadap yang memerangi dakwah dan bagaimana mereka menggunakan segala sarana dalam memeranginya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman bahwa seandainya Dia menghendaki, tentu Dia tampakkan pribadi-pribadi mereka sehingga dapat mengenal mereka dengan terang. Akan tetapi, Allah tidak melakukan hal tersebut terhadap semua orang munafik, sebagai kebijaksanaan dari-Nya dan agar semua urusan pada lahiriahnya tampak berjalan dengan lancar, sedangkan mengenai rahasianya dikembalikan kepada Tuhan yang Maha mengetahuinya. Allah  berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَلَوْ نَشَاءُ لأرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ (٣٠) وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ (٣١) إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَشَاقُّوا الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا وَسَيُحْبِطُ أَعْمَالَهُمْ (٣٢)

Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami perlihatkan mereka kepadamu (Muhammad) sehingga engkau benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan engkau benar-benar akan mengenal mereka dari nada bicaranya, dan Allah mengetahui segala perbuatan kamu. Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu; dan akan Kami uji perihal kamu. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah ada petunjuk yang jelas bagi mereka, mereka tidak akan dapat memberi mudharat (bahaya) kepada Allah sedikit pun. Dan kelak Allah menghapus segala amal mereka. (Q.S. Muhammad : 30-32)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa lau nasyā-u la arainākahum (dan kalaulah Kami menghendaki, niscaya Kami memperlihatkan mereka kepadamu), hai Muhammad, dengan tanda yang buruk.

Fa la ‘araftahum bi sīmāhum (sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tanda mereka itu), yakni melalui tanda mereka yang buruk.

Wa la ta‘rifannahum (dan kamu benar-benar akan mengenal mereka), yakni tetapi kamu benar-benar akan mengenal mereka, hai Muhammad.

Fī lahnil qauli (dari maksud perkataan mereka), yakni dari isi pembicaraan, yaitu alasan (yang diungkapkan) orang-orang munafik.

Wallāhu ya‘lamu a‘mālahum (dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kalian), yakni rahasia-rahasia, permusuhan, dan kebencian kalian terhadap Allah Ta‘ala dan Rasul-Nya.

Wa la nabluwannakum (dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian), yakni demi Allah, sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian dengan berperang.

Hattā na‘lama (hingga Kami mengetahui), yakni hingga Kami dapat membedakan.

Al-mujāhidīna (orang-orang yang berjihad) di Jalan Allah Ta‘ala.

Mingkum (di antara kalian), hai segenap kaum munafikin!

Wash shābirīna (dan orang-orang yang bersabar), yakni Kami dapat membedakan orang-orang yang bersabar dalam peperangan di antara kalian.

Wa nabluwa akhbārakum (dan hingga Kami menyatakan hal ihwal kalian), yakni menampakkan rahasia-rahasia, kebencian, permusuhan, dan penentangan kalian terhadap Allah Ta‘ala dan Rasul-Nya.

Innal ladzīna kafarū (sesungguhnya orang-orang yang kafir) kepada Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an.

Wa shaddū ‘aη sabīlillāhi (dan menghalang-halangi dari Jalan Allah), yakni memalingkan orang-orang dari Agama Allah Ta‘ala dan ketaatan kepada-Nya.

Wa syāqqur rasūla (serta memusuhi rasul), yakni menentang rasul dalam masalah agama.

Mim ba‘di mā tabayyana lahumul hudā (sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka), yakni tauhid.

Lay yadlurrullāha syai-ā (mereka sama sekali tidak akan dapat memudaratkan Allah sedikit pun), yakni penentangan, permusuhan, kekafiran, dan upaya mereka menghalang-halangi (orang-orang) dari Jalan Allah Ta‘ala, sama sekali tidak akan mengurangi Allah Ta‘ala sedikit pun.

Wa sa yuhbithu a‘mālahum (dan nanti Dia akan menghapuskan amal-amal mereka),Dia akan menjadikan segala kebajikan dan nafkah mereka pada Perang Badr itu sia-sia belaka. Mereka adalah para penghasut dalam Perang Badr.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami perlihatkan mereka kepadamu (Muhammad) sehingga engkau benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya[12]. Dan engkau benar-benar akan mengenal mereka dari nada bicaranya[13], dan Allah mengetahui segala perbuatan kamu[14].

[12] Yang tampak di wajah-wajah mereka.

[13] Hal itu karena nada bicara menunjukkan apa yang ada dalam lubuk hati, baik atau buruk.

[14] Lalu Dia akan memberikan balasan terhadapnya.

  1. [15]Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu[16] sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu; dan akan Kami uji perihal kamu[17].

[15] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan ujian paling besar yang Allah uji dengannya hamba-hamba-Nya, yaitu jihad fii sabilillah.

[16] Yakni iman dan kesabaranmu dengan adanya jihad dan lainnya.

[17] Bisa juga diartikan, “dan akan Kami tampakkan perihal kamu.” Yakni taat atau maksiat dalam jihad dan lainnya.

Barang siapa yang mengikuti perintah Allah dan berjihad di jalan-Nya untuk menolong agama-Nya dan meninggikan kalimat-Nya, maka dia adalah mukmin hakiki, sebaliknya barang siapa yang malas terhadapnya, maka ada kekurangan dalam imannya.

  1. [18]Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah ada petunjuk yang jelas bagi mereka[19], mereka tidak akan dapat memberi mudharat (bahaya) kepada Allah sedikit pun[20]. Dan kelak Allah menghapus segala amal mereka[21].

[18] Ancaman ini merupakan ancaman keras kepada orang yang dalam dirinya terkumpul berbagai keburukan, seperti kafir kepada Allah dan menghalangi manusia dari jalan Allah.

[19] Yakni menentang Rasul dan menyelisihinya dengan sengaja, bukan karena jahil (tidak tahu).

[20] Oleh karena itu, kerajaan-Nya tidaklah berkurang karenanya.

[21] Seperti sedekah dan lainnya; mereka tidak akan melihat pahalanya di akhirat. Atau segala usaha mereka untuk membela kebatilan tidaklah membuahkan apa-apa selain kerugian dan kekecewaan, dan amal yang mereka harapkan pahalanya tidaklah membuahkan pahala karena tidak ada syarat untuk diterima.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu) atau Kami kenalkan mereka kepadamu, kemudian huruf Lam Taukid diulangi pada firman berikutnya (sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tanda) berikut ciri-ciri khas mereka. (Dan sungguh kamu benar-benar akan mengenal mereka) huruf Wawu menunjukkan makna bagi Qasam atau sumpah yang tidak disebutkan, sedangkan lafal sesudahnya merupakan Jawabnya (dari kiasan-kiasan perkataan mereka) atau makna perkataan mereka, bilamana mereka berkata di hadapanmu mereka pasti menyindir dengan kata-kata yang mengandung hinaan terhadap perkara kaum muslimin (dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kalian.)
  2. (Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian) mencoba kalian dengan berjihad dan lainnya (agar Kami mengetahui) dengan pengetahuan yang tampak (orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kalian) dalam berjihad dan lainnya (dan agar Kami menyatakan) menampakkan (hal ikhwal kalian) tentang ketaatan kalian dan kedurhakaan kalian di dalam masalah jihad dan masalah-masalah lainnya. Ketiga Fi’il yang ada dalam ayat ini, ketiga-tiganya dapat dibaca dengan memakai huruf Mudhara’ah Ya atau Nun.
  3. (Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalang-halangi jalan Allah) jalan yang hak (dan memusuhi rasul) atau menentangnya (setelah petunjuk itu jelas bagi mereka) yang dimaksud petunjuk adalah jalan Allah tadi (mereka tidak dapat memberi mudarat kepada Allah sedikit pun. Dan Allah akan menghapuskan amal mereka) seperti sedekah dan lain-lainnya, yaitu pahalanya. Di akhirat kelak mereka tidak akan dapat melihat pahalanya. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang kafir yang terlibat dalam perang Badar, atau orang-orang kafir Bani Quraizhah dan Bani Nadhir.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. (Muhammad: 30)

Allah Swt. berfirman bahwa seandainya Kami menghendaki, hai Muhammad, tentulah Kami tampakkan kepadamu pribadi-pribadi mereka sehingga kamu mengenal mereka dengan terang. Akan tetapi, Allah Swt. tidak melakukan hal tersebut terhadap semua orang munafik, sebagai kebijaksanaan dari-Nya dan agar semua urusan pada lahiriahnya tampak berjalan dengan lancar, sedangkan mengenai rahasianya dikembalikan kepada Tuhan yang mengetahuinya.

Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka. (Muhammad: 30)

Yakni melalui pembicaraan mereka yang menunjukkan tujuan mereka dan dapat dimengerti oleh lawan bicaranya, dari golongan manakah ia termasuk. Yaitu ke arah manakah maksud dari perkataannya, hal inilah yang dimaksud dengan istilah lahnul qaul dalam ayat ini. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Amirul Mu’minin Usman ibnu Affan r.a., “Tidaklah seseorang merahasiakan sesuatu dalam hatinya, melainkan Allah akan menampakkannya melalui roman mukanya dan lisannya yang terpeleset.” Di dalam sebuah hadis disebutkan:

مَا أسر أحد سريرة إلا كساه الله جِلْبَابَهَا، إِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ، وَإِنْ شَرًّا فَشَرٌّ

Tidaklah seseorang menyembunyikan suatu rahasia, melainkan Allah akan memakaikan kepadanya kain jilbab (yang menunjukkan ke arah) nya. Jika hal itu baik, maka baik pula pakaiannya; dan jika hal itu buruk, maka buruk pula pakaiannya.

Kami telah menyebutkan keterangan yang menunjukkan kemunafikan seseorang, juga telah membicarakan perihal kemunafikan dalam perbuatan dan akidah. Semuanya itu dapat dijumpai dalam Syarah Imam Bukhari, sehingga tidak perlu dikemukakan di sini.

Di dalam hadis telah disebutkan segolongan orang munafik dengan sebutan yang jelas dan tertentu.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ سَلَمَةَ، عَنْ عِيَاضِ بْنِ عِيَاضٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُطْبَةً فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ: إِنَّ مِنْكُمْ مُنَافِقِينَ، فَمَنْ سَمَّيْتُ فَلْيَقُمْ. ثُمَّ قَالَ: قُمْ يَا فُلَانُ، قُمْ يَا فُلَانُ، قُمْ يَا فُلَانُ”. حَتَّى سَمَّى سِتَّةً وَثَلَاثِينَ رَجُلًا ثُمَّ قَالَ: إِنَّ فِيكُمْ -أَوْ: مِنْكُمْ -فَاتَّقُوا اللَّهَ. قَالَ: فَمَرَّ عُمَرُ بِرَجُلٍ مِمَّنْ سَمَّى مُقَنَّعٌ قَدْ كَانَ يَعْرِفُهُ، فَقَالَ: مَا لَكَ؟ فَحَدَّثَهُ بِمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: بُعْدًا لَكَ سَائِرَ الْيَوْمِ

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah meiiceritakan kepada kami Sufyan, dari Salamah ibnu Iyad, dari ayahnya, dari Abu Mas’ud alias Uqbah ibnu Amr r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ berkhotbah kepada kami. Beliau memulainya dengan membaca hamdalah dan pujian kepada Allah Swt., kemudian bersabda: Sesungguhnya di antara kalian terdapat orang-orang munafik. Maka barang siapa yang aku sebutkan namanya, hendaklah ia berdiri. Kemudian beliau ﷺ berkata, ‘ Hai Fulan, berdirilah!, Hai Fulan, berdirilah!, Hai Fulan, berdirilah!” hingga beliau menyebutkan sebanyak tiga puluh enam orang laki-laki. Kemudian beliau ﷺ bersabda, “Sesungguhnya di antara kalian atau sebagian dari kalian- terdapat orang-orang munafik, maka bertakwalah kalian kepada Allah.” Maka Umar r.a. bersua dengan seseorang yang telah disebutkan namanya itu dalam keadaan mengenakan penutup pada wajahnya, yang sebelumnya Umar telah mengenalnya. Malik melanjutkan, bahwa lalu diceritakan kepada Umar apa yang pernah dikatakan oleh Rasulullah ﷺ. Maka Umar berkata, “Semoga engkau dijauhkan dari rahmat Allah selama sisa usiamu.”

Firman Allah Swt.:

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu. (Muhammad: 31)

Yakni sesungguhnya Kami akan menguji kamu dengan perintah-perintah dan larangan-larangan.

agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ikhwalmu. (Muhammad: 31)

Hal ini bukan berarti ada keraguan pada pengetahuan Allah terhadap apa yang akan terjadi. Makna yang dimaksud ialah agar Kami menyatakan kejadiannya. Karena itulah Ibnu Abbas r.a. mengatakan sehubungan dengan hal yang seperti ini, bahwa makna na’lamu ialah nara, yakni agar Kami melihat dengan kenyataan tentang kejadiannya, walaupun pada hakikatnya Allah telah mengetahui apa yang akan terjadi, tetapi masih belum terlahirkan atau ternyatakan.

Allah Swt. menceritakan perihal orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah, menentang rasul dan memusuhinya, serta murtad dari iman sesudah jelas baginyajalan petunjuk, bahkan sikap mereka itu sama sekali tidak merugikan Allah barang sedikit pun. Dan bahwa sesungguhnya kerugian yang diakibatkannya adalah menimpa pelakunya sendiri dan dia akan merasa sangat kecewa kelak di hari kemudian. Dan Allah akan menghapuskan pahala amal-amalnya, karena itu Allah tidak memberinya pahala barang sedikit pun dari amal yang telah dilakukannya karena sesudahnya ia murtad. Tiada suatu amal kebaikannya pun yang dibalasi-Nya, bahkan Dia menggugurkan dan menghapuskannya sama sekali. Kebalikannya ialah sama dengan amal-amal kebaikan, ia dapat menghapuskan amal-amal keburukan.

Imam Ahmad ibnu Nasr Al-Marwazi di dalam Kitabus Salah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Qudamah, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Ar-Razi, dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah yang menceritakan bahwa dahulu sahabat Rasulullah ﷺ beranggapan bahwa tiada suatu dosa pun yang membahayakan selama pelakunya meyakini bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Sebagaimana tiada amal kebaikan pun yang bermanfaat bila pelakunya mempersekutukan Allah. Hingga turun ayat berikut, yaitu firman Allah Swt.: taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu. (Muhammad: 33) Akhirnya mereka merasa takut bila perbuatan dosa menghapuskan amal kebaikan mereka (yakni mereka tidak beranggapan seperti semula lagi).

Kemudian diriwayatkan melalui jalur Abdullah ibnul Mubarak, bahwa telah menceritakan kepadaku Bakr ibnu Ma’ruf, dari Muqatil ibnu Hayyan, dari Nafi’, dari Ibnu Umar r.a. yang telah mengatakan, “Kami sahabat Rasulullah ﷺ beranggapan bahwa tiada suatu pun dari amal kebaikan melainkan diterima,” hingga turunlah firman-Nya: taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu. (Muhammad: 33) Maka kami (para sahabat) bertanya, “Apa sajakah yang dapat menghapuskan amal kebaikan kami?” Dan kami beranggapan bahwa yang menghapuskan amal kebaikan itu adalah dosa-dosa besar yang menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka dan perbuatan-perbuatan fahisyah (yang keji), hingga turunlah firman Allah Swt.: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (An-Nisa: 48), hingga akhir ayat. Setelah ayat ini diturunkan, maka kami tidak mempunyai dugaan seperti itu lagi dan kami merasa khawatir terhadap orang yang mengerjakan dosa-dosa besar dan mengerjakan perbuatan fahisyah; dan kami berharap semoga yang lainnya tidak terjerumus ke dalamnya.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

 ««««« juz 25 ««««      «««« juz 26 «««««      ««««« juz 27 «««««