Tidak Saling Menghina dan Mengolok-olok

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Hujuraat ayat 11

0
73

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Hujuraat ayat 11, Asas-asas untuk tegaknya masyarakat Islam, yaitu mendamaikan kedua golongan kaum muslimin yang bertengkar, saling cinta satu sama lain dan tidak saling menghina dan mengolok-olok. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (١١)

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olokkan perempuan lain, (karena) boleh jadi yang diperolok-olokkan lebih baik (dari perempuan yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dirimu dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Q.S. Al-Hujuraat : 11)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Yā ayyuhal ladzīna āmanū lā yaskhar qaumum ming qaumin (wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain). Ayat ini diturunkan berhubungan dengan Tsabit bin Qais bin Syammas yang mengungkapkan perihal seorang pria yang menceritakan keburukan ibunya pada masa jahiliah. Kemudian dia berhasil merubahnya menjadi lebih baik. Allah Ta‘ala melarang perilaku semacam itu dan berfirman, “yā ayyuhal ladzīna āmanū “(wahai orang-orang yang beriman) kepada Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an. Yang dimaksud adalah Tsabit; “lā yaskhar qaumum ming qaumin“(janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain).

‘Asā ay yakūnū khairam minhum (boleh jadi mereka [yang diolok-olok] lebih baik daripada mereka [yang mengolok-olok]) dalam pandangan Allah Ta‘ala dan lebih baik nasibnya.

Wa lā nisā-um min nisā-in (dan jangan pula wanita-wanita [mengolok-olok] wanita-wanita lain). Ayat ini turun sekaitan dengan dua orang istri Nabi ﷺ yang mengolok-olok Ummu Salamah, istri Nabi ﷺ lainnya. Allah Ta‘ala melarang hal itu dan Berfirman, wa lā nisā-um min nisā-in (dan jangan pula wanita-wanita [mengolok-olok] wanita-wanita lain).

‘Asā ay yakunnā khairam minhunna (boleh jadi wanita-wanita [yang diolok-olok] lebih baik daripada wanita-wanita [yang mengolok-olok]) dalam pandangan Allah Ta‘ala dan lebih baik nasibnya.

Wa lā talmizū aηfusakum (dan janganlah kalian mencela diri kalian sendiri), yakni janganlah kalian menghina diri kalian sendiri, maksudnya menghina saudara-saudara kalian dari kalangan kaum mukminin. Dan janganlah kalian saling mencemooh dengan jalan gibah.

Wa lā tanābazū bil alqābi (dan janganlah kalian panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk), yakni janganlah kalian saling menghina dengan gelar dan nama jahiliah. Bi’salismul fusūqu (seburuk-buruk panggilan adalah [panggilan] yang buruk), yakni seburuk-buruk panggilan kepada saudaramu adalah: hai Yahudi, hai Nasrani, atau hai majusi.

Ba‘dal īmāni (sesudah iman), yakni setelah beriman dan meninggalkan hal semua agama itu.

Wa mal lam yatub (dan barangsiapa tidak bertobat) dari memanggil saudaranya, hai Yahudi, hai Nasrani, dan hai majusi, serta saling memanggil dengan gelar yang buruk sesudah iman.

Fa ulā-ika humuzh zhālimūn (maka mereka adalah orang-orang yang zalim), yakni orang-orang yang mencelakai diri sendiri dengan siksaan. Ayat ini diturunkan berhubungan dengan Abu Burdah bin Malik al-Anshari dan ‘Abdullah bin Hudud al-Aslami ketika mereka bertengkar tentang masalah itu. Kemudian Allah Ta‘ala Melarang perilaku tersebut.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [28]Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olokkan perempuan lain, (karena) boleh jadi yang diperolok-olokkan lebih baik (dari perempuan yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dirimu[29] dan [30]janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk[31]. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman[32]. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim[33].

[28] Ayat ini juga menerangkan hak-hak kaum mukmin satu sama lain, yaitu hendaknya sebagian mereka tidak mengolok-olok, baik dengan ucapan maupun perbuatan yang menunjukkan penghinaan terhadap seorang muslim, karena yang demikian haram, dan menunjukkan bahwa orang yang mengolok-olok merasa ujub (bangga diri) dengan dirinya, padahal bisa saja yang diolok-olok itu lebih baik daripada yang mengolok-olok sebagaimana seperti itu pada umumnya dan kenyataannya. Hal itu, karena mengolok-olok tidaklah terjadi kecuali dari hati yang penuh dengan akhlak yang buruk dan tercela. Oleh karena itulah Nabi ﷺ bersabda, “Cukuplah seseorang telah melakukan kejahatan kalau menghina saudaranya yang muslim.”

[29] Jangan mencela dirimu sendiri maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh. Mencela itu bisa dengan ucapan dan bisa dengan perbuatan. Kedua-duanya adalah haram dan diancam dengan neraka sebagaimana firman Allah, “Wailul likulli humazatil lumazah.”

[30] Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Abu Jabirah bin Adh Dhahhak ia berkata, “Ada salah seorang di antara kami yang memiliki dua nama atau tiga, lalu dipanggil dengan sebagiannya maka sepertinya ia tidak suka, sehingga turunlah ayat ini, “Dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.”

[31] Yakni janganlah salah seorang di antara kamu mencela saudaranya dan menggelarinya dengan gelar yang buruk, dimana orang yang digelari itu tidak suka jika disebut dengannya. Adapun gelar yang tidak tercela, maka tidak termasuk dalam ayat ini.

[32] Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan, “Hai fasik, hai kafir” dan sebagainya.

[33] Inilah yang wajib dilakukan seorang hamba, yaitu bertobat kepada Allah Ta’ala dan keluar dari hak saudaranya, yaitu dengan meminta dihalalkan atau meminta dimaafkan, memujinya setelah mencelanya. Ayat ini menerangkan bahwa manusia ada dua golongan; yaitu orang yang berbuat zalim kepada dirinya dan orang yang bertobat, dan tidak ada yang ketiganya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Hai orang-orang yang beriman, janganlah berolok-olokan) dan seterusnya, ayat ini diturunkan berkenaan dengan delegasi dari Bani Tamim sewaktu mereka mengejek orang-orang muslim yang miskin, seperti Ammar bin Yasir dan Shuhaib Ar-Rumi. As-Sukhriyah artinya merendahkan dan menghina (suatu kaum) yakni sebagian di antara kalian (kepada kaum yang lain karena boleh jadi mereka yang diolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olokkan) di sisi Allah (dan jangan pula wanita-wanita) di antara kalian mengolok-olokkan (wanita-wanita lain karena boleh jadi wanita-wanita yang diperolok-olokkan lebih baik dari wanita-wanita yang mengolok-olokkan dan janganlah kalian mencela diri kalian sendiri) artinya, janganlah kalian mencela, maka karenanya kalian akan dicela; makna yang dimaksud ialah, janganlah sebagian dari kalian mencela sebagian yang lain (dan janganlah kalian panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk) yaitu janganlah sebagian di antara kalian memanggil sebagian yang lain dengan nama julukan yang tidak disukainya, antara lain seperti, hai orang fasik, atau hai orang kafir. (Seburuk-buruk nama) panggilan yang telah disebutkan di atas, yaitu memperolok-olokkan orang lain mencela dan memanggil dengan nama julukan yang buruk (ialah nama yang buruk sesudah iman) lafal Al-Fusuuq merupakan Badal dari lafal Al-Ismu, karena nama panggilan yang dimaksud memberikan pengertian fasik dan juga karena nama panggilan itu biasanya diulang-ulang (dan barang siapa yang tidak bertobat) dari perbuatan tersebut (maka mereka itulah orang-orang yang lalim.)

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. melarang menghina orang lain, yakni meremehkan dan mengolok-olok mereka. Seperti yang disebutkan juga dalam hadis sahih dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda:

الكِبْر بَطَرُ الْحَقِّ وغَمْص النَّاسِ وَيُرْوَى: وَغَمْطُ النَّاسِ

Takabur itu ialah menentang perkara hak dan meremehkan orang lain; menurut riwayat yang lain, dan menghina orang lain.

Makna yang dimaksud ialah menghina dan meremehkan mereka. Hal ini diharamkan karena barangkali orang yang diremehkan lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah dan lebih disukai oleh-Nya daripada orang yang meremehkannya. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik daripada wanita (yang mengolok-olokkan). (Al-Hujurat: 11)

Secara nas larangan ditujukan kepada kaum laki-laki, lalu diiringi dengan larangan yang ditujukan kepada kaum wanita.

Firman Allah Swt.:

dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri. (Al-Hujurat: 11)

Makna yang dimaksud ialah janganlah kamu mencela orang lain. Pengumpat dan pencela dari kalangan kaum lelaki adalah orang-orang yang tercela lagi dilaknat, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. (Al-Humazah: 1)

Al-hamz adalah ungkapan celaan melalui perbuatan, sedangkan al-lamz adalah ungkapan celaan dengan lisan. Seperti pengertian yang terdapat di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah (Al-Qalam: 11)

Yakni meremehkan orang lain dan mencela mereka berbuat melampaui batas terhadap mereka, dan berjalan ke sana kemari menghambur fitnah mengadu domba, yaitu mencela dengan lisan. Karena itulah dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya: dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri. (Al-Hujurat: 11)

Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ

Dan janganlah kamu membunuh dirimu. (An-Nisa: 29)

Yakni janganlah sebagian dari kamu membunuh sebagian yang lain.

Ibnu Abbas, Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Qatadah, dan Muqatil ibnu Hayyan telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri. (Al-Hujurat: 11) Artinya, janganlah sebagian dari kamu mencela sebagian yang lainnya.

Firman Allah Swt.:

dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. (Al-Hujurat: 11)

Yakni janganlah kamu memanggil orang lain dengan gelar yang buruk yang tidak enak didengar oleh yang bersangkutan.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Abu Hindun, dari Asy-Sya’bi yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Abu Jubairah ibnu Ad-Dahhak yang mengatakan bahwa berkenaan dengan kami Bani Salamah ayat berikut diturunkan, yaitu firman-Nya: dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. (Al-Hujurat: 11) Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, tiada seorang pun dari kami melainkan mempunyai dua nama atau tiga nama. Tersebutlah pula apabila beliau memanggil seseorang dari mereka dengan salah satu namanya, mereka mengatakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia tidak menyukai nama panggilan itu.” Maka turunlah firman-Nya:

dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. (Al-Hujurat: 11)

Imam Abu Daud meriwayatkan hadis ini dari Musa ibnu Ismail, dari Wahb, dari Daud dengan sanad yang sama.

Firman Allah Swt.:

Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman. (Al-Hujurat: 11)

Seburuk-buruk sifat dan nama ialah yang mengandung kefasikan yaitu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk, seperti vang biasa dilakukan di zaman Jahiliah bila saling memanggil di antara sesamanya Kemudian sesudah kalian masuk Islam dan berakal, lalu kalian kembali kepada tradisi Jahiliah itu.

dan barang siapa yang tidak bertobat. (Al-Hujurat: 11)

Yakni dari kebiasaan tersebut.

maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Al-Hujurat: 11)

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

 ««««« juz 25 ««««      «««« juz 26 «««««      ««««« juz 27 «««««