Iman Masih Belum Meresap ke Dalam Hati

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Hujuraat Ayat 14

0
77

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Hujuraat Ayat 14. Ciri-ciri orang mukmin yang sebenarnya, bersyukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala atas nikmat iman dan hidayah, dan bahwa yang memberikan taufik kepadanya adalah Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Swt. mengingkari orang-orang Arab Badui yang baru saja masuk Islam, lalu mereka mengiklankan dirinya beriman, padahal iman masih belum meresap ke dalam hati mereka. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قَالَتِ الأعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الإيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (١٤)

Orang-orang Arab Badui itu berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Hujuraat : 14)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Qālatil a‘rābu āmannā (orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman”). Ayat ini diturunkan berhubungan dengan Bani Asad yang tengah di timpa kesulitan. Kemudian mereka memeluk Islam bersama keluarga dan anak cucu mereka. Mereka menemui Nabi ﷺ di Madinah agar bisa mendapatkan kebaikan dari beliau. Kala itu harga-harga di Madinah mengalami kenaikan. Mereka merusak jalan-jalan di Madinah dengan tinja dan mereka adalah orang-orang munafik. Mereka berkata, “Ya Rasulullah, berilah kami makanan dan muliakanlah kami, sebab kami ini orang-orang yang ikhlas dan sungguh-sungguh dalam keimanan kami.” Padahal sebenarnya mereka adalah orang-orang munafik dalam beragama dan pendusta dalam berucap. Maka Allah Ta‘ala mengungkapkan perkataan mereka, qālatil a‘rābu āmannā (orang-orang Arab Badui berkata), yakni Bani Asad; āmannā (kami telah beriman), yakni sungguh-sungguh telah beriman kepada Allah Ta‘ala dan Rasul-Nya.

Qul (katakanlah) kepada mereka, hai Muhammad!

Lam tu’minū (“Kalian belumlah beriman), yakni keimanan kalian kepada Allah Ta‘ala dan Rasul-Nya, belum benar.

Wa lāking qūlū aslamnā (tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk’), yakni kami telah patuh karena pedang dan tawanan.

Wa lammā yadkhulil īmānu (sebab keimanan itu belum masuk), yakni kecintaan iman dan pembenaran iman belum masuk.

Fī qulūbikum wa iη tuthī‘ullāha wa rasūlahū (ke dalam hati kalian. Dan jika kalian taat kepada Allah dan Rasul-Nya) secara diam-diam sebagaimana kalian taat kepada keduanya secara terang-terangan serta bertobat dari kekafiran, kemusrikan, dan kemunafikan.

Lā yalitkum min a‘mālikum (Dia tidak akan mengurangi amal-amal kalian), yakni Dia tidak akan mengurangi pahala kebaikan-kebaikan kalian.

Syai-ā, innallāha ghafūrun (sedikit pun. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun) kepada siapa pun yang bertobat di antara kalian.

Rahīm (lagi Maha Penyayang) kepada orang-orang yang wafat dalam keadaan bertobat. Kemudian Allah Ta‘ala Menerangkan gambaran kaum Mukminin yang bersungguh-sungguh dalam imannya.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [11]Orang-orang Arab Badui itu berkata, “Kami telah beriman[12].” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman[13], tetapi katakanlah ‘kami telah tunduk (Islam)[14],’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu[15]. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya[16], Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[17].”

[11] Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan perkataan orang-orang Arab badui yang masuk ke dalam Islam di zaman Rasulullah ﷺ, dimana masuknya mereka tidak di atas kesadaran dan pengetahuan akan kebenaran Islam.

[12] Yakni ‘kami telah membenarkan dengan hati kami.’ Atau ‘kami telah beriman secara sempurna yang mencakup semua perkara keimanan,’ maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan Rasul-Nya menjawab, bahwa mereka belum beriman.

[13] Yakni janganlah kamu mendakwakan diri beriman secara zhahir maupun batin dan beriman secara sempurna.

[14] Yakni kami telah tunduk zhahir(lahiriah)nya. Atau ‘kami telah masuk ke dalam agama Islam.’

[15] Yakni karena kamu beriman hanyalah karena takut atau berharap sesuatu.

Hal ini ketika di awal mereka masuk Islam, namun setelahnya banyak di antara mereka yang menjadi mukmin hakiki dan berjihad di jalan Allah.

[16] Dengan mengerjakan perbuatan baik dan meninggalkan keburukan.

[17] Dia Maha Pengampun bagi orang yang bertobat dan kembali kepada-Nya, dan Dia Maha Penyayang, dimana Dia menerima tobatnya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Orang-orang Arab Badui itu berkata,) yang dimaksud adalah segolongan dari kalangan Bani Asad (“Kami telah beriman”) yakni hati kami telah beriman. (Katakanlah) kepada mereka, (“Kalian belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami telah berserah diri,'”) artinya, kami telah tunduk secara lahiriah (karena masih belumlah) yakni masih belum lagi (iman masuk ke dalam hati kalian) sampai sekarang hanya saja hal itu baru merupakan dugaan bagi kalian (dan jika kalian taat kepada Allah dan Rasul-Nya) yakni dengan cara beriman yang sesungguhnya dan taat dalam segala hal (Dia tidak akan mengurangi) Dia tidak akan mengurangkan (amal-amal kalian) yakni pahala amal-amal kalian (barang sedikit pun; sesungguhnya Allah Maha Pengampun) kepada orang-orang mukmin (lagi Maha Penyayang”) kepada mereka.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. berfirman, mengingkari orang-orang Arab Badui yang baru saja masuk Islam, lalu mereka mengiklankan dirinya beriman, padahal iman masih belum meresap ke dalam hati mereka.

Orang-orang Arab Badui itu berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk,’ karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.” (Al-Hujurat: 14)

Dari makna ayat ini dapat disimpulkan bahwa iman itu pengertiannya lebih khusus daripada Islam, seperti yang dikatakan oleh mazhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Pengertian ini diperkuat dengan adanya hadis Jibril a.s. ketika ia bertanya (kepada Nabi ﷺ) tentang Islam, kemudian iman, dan terakhir tentang ihsan. Dalam pertanyaannya itu ia memulai dari yang umum, kemudian kepada yang khusus, lalu kepada yang lebih khusus lagi.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَر، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عَامِرُ بْنُ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: أَعْطَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رِجَالًا وَلَمْ يُعْطِ رَجُلًا مِنْهُمْ شَيْئًا، فَقَالَ سَعْدٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَعْطَيْتَ فُلَانًا وَفُلَانًا وَلَمْ تُعط فُلَانًا شَيْئًا، وَهُوَ مُؤْمِنٌ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْ مُسْلِمٌ حَتَّى أَعَادَهَا سَعْدٌ ثَلَاثًا، وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “أَوْ مُسْلِمٌ” ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي لَأُعْطِي رِجَالًا وَأَدَعُ من هو أحب إليّ منهم فلم أعطيه شَيْئًا؛ مَخَافَةَ أَنْ يُكَبُّوا فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Amir ibnu Sa’d ibnu Waqqas, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah memberi bagian kepada banyak laki-laki, tetapi tidak memberi seseorang dari mereka barang sedikit pun. Maka Sa’d ibnu Abu Waqqas r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, engkau telah memberi Fulan dan Fulan, tetapi engkau tidak memberi si Fulan barang sedikit pun, padahal dia seorang mukmin?” Maka Rasulullah balik bertanya, “Bukankah dia seorang muslim?” Sa’d mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali, dan selalu dijawab oleh Nabi dengan pertanyaan, “Bukankah dia seorang muslim?” Kemudian Nabi bersabda: Sesungguhnya aku benar-benar memberi bagian kepada banyak laki-laki dan aku tinggalkan seseorang yang lebih aku sukai daripada mereka (yang kuberi bagian) tanpa memberinya sesuatu pun, karena aku merasa khawatir bila kelak Allah akan menyeret mereka ke dalam neraka dengan muka di bawah.

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadis ini melalui Az-Zuhri dengan sanad yang sama.

Dalam hadis ini Nabi ﷺ membedakan antara orang mukmin dan orang muslim; hal ini menunjukkan bahwa pengertian iman itu lebih khusus daripada Islam. Kami telah menerangkan hal ini berikut dalil-dalilnya dalam syarah Imam Bukhari Kitabul Iman.

Hadis di atas menunjukkan pula bahwa lelaki yang tidak diberi bagian itu adalah seorang muslim, bukan seorang munafik, dan Nabi ﷺ tidak memberinya sesuatu bagian pun karena beliau percaya dengan keislaman dan keimanannya yang telah meresap ke dalam hatinya. Hal ini menunjukkan pula bahwa orang-orang Arab Badui yang disebutkan dalam ayat ini bukan pula orang-orang munafik; mereka adalah orang-orang muslim, tetapi iman masih belum meresap ke dalam hati mereka. Ketika mereka mengakui bahwa dirinya telah mencapai suatu tingkatan yang pada hakikatnya mereka masih belum mencapainya, maka diberi-Nyalah mereka pelajaran etika. Pengertian inilah yang dimaksudkan oleh Ibnu Abbas r.a., Ibrahim An-Nakha’i, dan Qatadah, lalu dipilih oleh Ibnu Jarir.

Sesungguhnya kami kemukakan pendapat ini untuk menyanggah apa yang telah dikatakan oleh Imam Bukhari rahimahullah yang berpendapat bahwa orang-orang Arab Badui itu adalah orang-orang munafik yang mengaku-aku dirinya beriman, padahal kenyataannya tidaklah demikian.

Telah diriwayatkan dari Sa’id ibnu Jubair, Mujahid, dan Ibnu Zaid, bahwa mereka telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk.’ (Al-Hujurat: 14) Yakni kami tunduk dan patuh karena takut dibunuh atau ditawan.

Mujahid mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang Bani Asad ibnu Khuzaimah.

Qatadah mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan suatu kaum yang mengakui dirinya berjasa kepada Rasulullah ﷺ karena mereka mau beriman.

Tetapi pendapat yang sahih adalah pendapat yang pertama yang mengatakan bahwa mereka adalah suatu kaum yang mendakwakan dirinya menduduki tingkatan iman, padahal iman masih belum meresap ke dalam hati mereka. Maka mereka diberi pelajaran etika dan diberi tahu bahwa sesungguhnya tingkatan iman yang sebenarnya masih belum mereka capai.

Sekiranya mereka itu orang-orang munafik, tentulah mereka dikatakan dengan nada yang keras dan dipermalukan, seperti penuturan perihal orang-orang munafik dalam surat At-Taubah. Dan sesungguhnya hal ini dikatakan kepada mereka hanyalah semata-mata untuk mendidik mereka, yaitu firman-Nya:

Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk, ‘ karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.” (Al-Hujurat: 14)

Yaitu kalian masih belum mencapai hakikat iman, kemudian Allah Swt. berfirman:

jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dia tiada mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu. (Al-Hujurat: 14)

Dia tidak akan mengurangi pahala amalanmu barang sedikit pun, semakna dengan apa yang disebutkan dalam firman-Nya:

وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ

dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. (Ath-Thur: 21)

Adapun firman Allah Swt.:

sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Hujurat: 14)

Yakni kepada orang yang bertobat dan kembali kepada (jalan)-Nya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

 ««««« juz 25 ««««      «««« juz 26 «««««      ««««« juz 27 «««««