Ciri-ciri Orang Mukmin yang Sebenarnya

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Hujuraat Ayat 15-16

0
33

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Hujuraat Ayat 15-16. Ciri-ciri orang mukmin yang sebenarnya, bersyukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala atas nikmat iman dan hidayah, dan bahwa yang memberikan taufik kepadanya adalah Allah ‘Azza wa Jalla, dan bahwa Dia mengetahui yang tersembunyi. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ (١٥) قُلْ أَتُعَلِّمُونَ اللَّهَ بِدِينِكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم (١٦)

Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. Katakanlah (kepada mereka), “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Al-Hujuraat : 15-16)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Innamal mu’minūna (sesungguhnya orang-orang mukmin) yang sungguh-sungguh dalam keimanannya.

Alladzīna āmanū billāhi (adalah orang-orang yang beriman kepada Allah), yakni sungguh-sungguh keimanannya kepada Allah Ta‘ala.

Wa rasūlihī tsumma lam yartābū (dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu), yakni tidak bimbang dalam keimanannya.

Wa jāhadū bi amwālihim wa aηfusihim fī sabīlillāhi (serta mereka berjihad dengan harta kekayaan dan jiwa mereka di Jalan Allah), yakni dalam rangka taat kepada Allah Ta‘ala.

Ulā-ika humush shādiqūn (mereka itulah orang-orang yang benar), yakni orang-orang yang sungguh-sungguh dalam keimanan dan jihadnya.

Qul (katakanlah), hai Muhammad, kepada Bani Asad.

A tu‘allimūnallāha (apakah kalian akan mengajari Allah), yakni akan memberitahu Allah Ta‘ala.

Bi dīnikum (tentang agama kalian) yang kalian anut: apakah membenarkan atau mendustakan.

Wallāhu ya‘lamu mā fis samāwāti wa mā fil ardl (padahal Allah mengetahui segala apa yang ada di langit dan segala apa yang ada di bumi), yakni apa pun yang ada di dalam hati penghuni langit dan apa pun yang ada di dalam hati penghuni bumi.

Wallāhu bi kulli syai-in ‘alīm (dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu), termasuk rahasia penghuni langit dan bumi.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya[18] adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah[19]. Mereka itulah orang-orang yang benar[20].

[18] Yani mukmin hakiki.

[19] Hal itu karena jihad membuktikan benar dan kuatnya iman mereka. Sebalikanya, orang yang tidak kuat berjihad, maka yang demikian menunjukkan imannya lemah. Dalam ayat tersebut Allah Subhaanahu wa Ta’aala mensyaratkan iman mereka dengan tidak ragu-ragu, karena iman yang bermanfaat adalah keyakinan yang pasti kepada apa saja yang diperintahkan Allah untuk diimani, dimana hal itu tidak dicampuri oleh keraguan sedikit pun.

[20] Yang membenarkan iman mereka dengan amal mereka yang baik. Kejujuran adalah dakwaan yang besar dalam segala sesuatu, dimana pelakunya butuh kepada hujjah dan bukti, dan yang paling besar dalam hal ini adalah dakwaan beriman yang merupakan pusat kebahagiaan dan keberuntungan. Oleh karena itu, barang siapa yang mengaku beriman, mengerjakan kewajiban dan lawazim (yang menjadi bagiannya), maka dialah yang benar imannya atau mukmin hakiki. Jika tidak demikian, maka dapat diketahui, bahwa dia tidak benar dalam dakwaannya dan tidak ada faedah pada dakwaannya, karena iman dalam hati tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Ta’ala. Dengan demikian, menetapkan dan menafikannya termasuk memberitahukan kepada Allah apa yang ada dalam hati, dan ini merupakan adab dan sangkaan yang buruk kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Oleh karena itulah pada ayat selanjutnya Dia berfirman, “Katakanlah (kepada mereka), “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

  1. Katakanlah (kepada mereka), “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu[21].”

[21] Termasuk di dalamnya apa yang ada dalam hati manusia berupa keimanan dan kekafiran, kebaikan dan keburukan, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengetahui semua itu dan akan membalasnya. Jika baik, maka Dia balas dengan kebaikan dan jika buruk, maka Dia balas dengan keburukan.

Inilah salah satu keadaan di antara keadaan orang yang mengaku mukmin padahal tidak demikian, dimana hal ini berkemungkinan, dia memberitahukan Allah, padahal Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengetahui segala sesuatu, dan bisa juga maksud ucapan mereka itu adalah menunjukkan jasanya kepada Rasulullah ﷺ, yakni mereka telah mengorbankan sesuatu untuk Beliau ﷺ padahal yang demikian untuk keberuntungan dirinya sendiri. Ini merupakan berhias dengan sesuatu yang tidak menghiasinya dan berbangga dengan sesuatu yang tidak pantas dibanggakan kepada Rasul-Nya ﷺ, karena sesungguhnya yang demikian itu adalah nikmat dari Allah atas mereka, yakni sebagaimana Dia telah memberi nikmat kepada mereka dengan menciptakan dan memberi mereka rezeki serta nikmat-nikmat yang tampak maupun tersembunyi, Dia juga memberi nikmat kepada mereka dengan menunjukkan mereka kepada Islam dan iman, dimana nikmat ini merupakan nikmat paling besar. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman di ayat selanjutnya, “Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar.”

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sesungguhnya orang-orang yang beriman) yakni orang-orang yang benar-benar beriman, sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya (hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu) dalam keimanannya (dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah) mereka benar-benar berjihad berkat kesungguhan iman mereka (mereka itulah orang-orang yang benar) dalam keimanan mereka, bukan seperti orang-orang yang mengatakan, “Kami telah beriman”, sedangkan dalam diri mereka yang dijumpai hanya ketundukan belaka.
  2. (Katakanlah) kepada mereka (“Apakah kalian akan memberitahukan kepada Allah tentang agama kalian) lafal Tu’allimuuna berasal dari ‘Allama yang artinya Sya’ara atau memberitahukan. Maksudnya, apakah kalian melalui perkataan kalian, ‘Kami telah beriman’, hendak memberitahukan kepada Allah tentang keyakinan kalian (padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Mengetahui segala sesuatu.”)

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman. (Al-Hujurat: 15)

Yaitu yang sempurna iman mereka.

hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu. (Al-Hujurat: 15)

Maksudnya, tidak ragu dan tidak bimbang dalam keimanannya. Bahkan teguh dalam suatu pendirian, yaitu membenarkan dengan setulus-tulusnya.

dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. (Al-Hujurat: 15)

Mereka korbankan diri dan harta benda mereka yang disayang untuk ketaatan kepada Allah dan rida-Nya.

mereka itulah orang-orang yang benar. (Al-Hujurat: 15)

Yakni dalam ucapannya yang mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman, tidak sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang-orang Arab Badui yang iman mereka masih belum meresap kecuali hanya sebatas lahiriah saja.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Gailan, telah menceritakan kepada kami Rasyidin, telah menceritakan kepada kami Amr ibnul Haris, dari Abus Samah, dari Abul Hais’am, dari Abu Sa’id r.a. yang mengatakan bahwa sesungguhnya Nabi ﷺ telah bersabda:

الْمُؤْمِنُونَ فِي الدُّنْيَا عَلَى ثَلَاثَةِ أَجْزَاءٍ: [الَّذِينَ] آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. وَالَّذِي يَأْمَنُهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ. ثُمَّ الَّذِي إِذَا أَشْرَفَ عَلَى طَمَعٍ تَرَكَهُ لِلَّهِ، عَزَّ وَجَلَّ

Orang-orang mukmin di dunia ini ada tiga macam, yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah; dan orang (mukmin) yang dipercayai oleh orang lain terhadap harta dan jiwa mereka; dan orang (mukmin) yang apabila mempunyai rasa tamak (terhadap sesuatu), maka ia meninggalkannya karena Allah Swt.

Firman Allah Swt.:

Katakanlah (kepada mereka), “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu)?” (Al-Hujurat: 16)

Maksudnya, apakah kalian akan memberitahukan kepada-Nya apa yang tersimpan di dalam hati kalian.

padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. (Al-Hujurat: 16)

Yakni tiada sesuatu pun yang sebesar zarrah di bumi atau di langit, tiada pula yang lebih kecil dari itu, dan tiada pula yang lebih besar tersembunyi dari pengetahuan Allah.

dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Hujurat: 16)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

 ««««« juz 25 ««««      «««« juz 26 «««««      ««««« juz 27 «««««