Tamu Ibrahim ‘Alaihis Salam yang Dimuliakan

Tafsir Al-Qur’an: Surah Adz-Dzaariyat ayat 24-30

0
330

Tafsir Al-Qur’an: Surah Adz-Dzaariyat ayat 24-30, Cerita tamu Ibrahim ‘alaihis salam yang dimuliakan, kabar gembira untuknya dari para malaikat dengan kelahiran Ishaq ‘alaihis salam. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ (٢٤) إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلامًا قَالَ سَلامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ (٢٥) فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ (٢٦) فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلا تَأْكُلُونَ (٢٧) فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لا تَخَفْ وَبَشَّرُوهُ بِغُلامٍ عَلِيمٍ (٢٨) فَأَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فِي صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ (٢٩) قَالُوا كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكِ إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ (٣٠)

Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, “Salaaman (salam)” Ibrahim menjawab, “Salaamun (salam).” (Kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka diam-diam dia (Ibrahim) pergi menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka (tetapi mereka tidak mau makan). Ibrahim berkata, “Mengapa tidak kamu makan?” Maka dia (Ibrahim) merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata, “Janganlah kamu takut,” dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak), kemudian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk wajahnya sendiri seraya berkata, “(Aku ini) seorang perempuan tua yang mandul.” Mereka berkata, “Demikianlah Tuhanmu berfirman. Sungguh, Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Adz-Dzaariyat : 24-30)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Hal atāka (apakah sudah sampai kepadamu), hai Muhammad!

Hadītsu dlaifi ibrāhīma (cerita tentang tamu Ibrahim), yakni informasi tentang para tamu Ibrahim a.s..

Al-mukramīn (yang dimuliakan), yakni dia memuliakan mereka dengan suguhan sapi panggang.

Idz dakhalū ‘alaihi ([ingatlah] ketika mereka mengunjunginya), yakni Jibril a.s. dan dua malaikat yang menyertainya mengunjungi Ibrahim a.s.. Ada yang berpendapat, Jibril dan dua belas malaikat yang menyertainya.

Fa qālū salāman (lalu mereka mengucapkan, “Salāman“), yakni mereka mengucapkan salam kepada Ibrahim a.s..

Qāla salāmun (dia menjawab, “Salāmun“), yakni Ibrahim a.s. menjawab salam tersebut.  Qaumum mungkarūn (kalian adalah orang-orang yang tidak dikenal), yakni dia tidak mengenal mereka dan tidak pula mengenal salam mereka di negeri itu pada zaman tersebut.

Fa rāgha ilā ahlihī (kemudian dia pergi dengan diam-diam menemui istrinya), yakni kemudian Ibrahim a.s. kembali kepada isrinya.

Fa jā-a (lalu dia datang) menemui tamu-tamunya.

Bi ‘ijliη samīn (dengan membawa daging anak sapi gemuk) yang dipanggang.

Fa qarrabahū (kemudian dia menghidangkannya), yakni menghidangkan daging sapi panggang itu.

Ilaihim (kepada mereka), yakni kepada tamu-tamunya. Tetapi, mereka tidak mau menjamah makan itu.

Qāla (dia berkata), yakni Ibrahim a.s..

A lā ta’kulūn (“tidakkah kalian makan”) makanan itu?

Fa aujasa minhum khīfatan (maka Ibrahim merasa takut kepada mereka), yakni Ibrahim a.s. menyembunyikan rasa takut di dalam hatinya, sebab mereka tidak mau mancicipi makanan. Ibrahim a.s. menyangka bahwa mereka adalah para pencuri. Pada masa itu, apabila seseorang mau memakan makanan pemilik rumah, berarti ia telah membuat pemilik rumah itu merasa tenang. Setelah mereka mengetahui ketakutan Ibrahim a.s. ….

Qālū lā takhaf (mereka pun berkata, “Janganlah kamu takut”) kepada kami, hai Ibrahim! Sesungguhnya kami adalah para Utasan Rabb-mu.

Wa basy-syarūhu (dan mereka menyampaikan berita gembira kepadanya) dari Allah Ta‘ala.

Bi ghulāmin ‘alīm (dengan [kelahiran] seorang anak yang alim) pada masa kanak-kanak serta penyantun dan terhormat setelah dewasa. Dialah Is-haq a.s..

Fa aqbalatimra-atuhū (kemudian istrinya datang), yakni Sarah.

Fī sharratin (dengan memekik), yakni sambil berteriak dan menjerit.

Fa shakkat wajhahā (seraya menepuk wajahnya sendiri), yakni lalu dia mengepalkan ujung-ujung jarinya seraya memukul wajah dan dahinya.

Wa qālat ‘ajūzun ‘aqīm (dan berkata, “[Aku adalah] seorang wanita tua yang mandul”), yakni bagaimana mungkin seorang wanita tua yang mandul dapat melahirkan?

Qālū (mereka berkata), yakni Jibril a.s. dan malaikat-malaikat yang menyertainya.

Kadzāliki (“Demikianlah), yakni seperti yang telah kami katakan kepadamu, hai Sarah!

Qāla rabbuk, innahū huwal hakīmu (Rabb-mu Berfirman.” Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Bijaksana), yakni Dia menetapkan kelahiran anak dari wanita yang mandul dan wanita yang tidak mandul.

Al-‘alīm (lagi Maha Mengetahui), yakni Dia Mengetahui apa yang akan terjadi pada kalian.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? [20]

[20] Serta berita mereka yang asing dan menakjubkan. Mereka adalah para malaikat yang diutus Allah untuk membinasakan kaum Luth, Allah memerintahkan mereka melewati Nabi Ibrahim lebih dahulu dan mereka datang kepada Beliau sebagai para tamu.

  1. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, “Salaaman (salam)” Ibrahim menjawab, “Salaamun (salam).” [21](Kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal.

[21] Menurut penyusun tafsir Al Jalaalain, kata-kata ini diucapkan dalam hati Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

  1. Maka diam-diam dia (Ibrahim) pergi menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar),
  2. lalu dihidangkannya kepada mereka (tetapi mereka tidak mau makan). Ibrahim berkata, “Mengapa tidak kamu makan?”
  3. Maka dia (Ibrahim) merasa takut terhadap mereka[22]. Mereka berkata, “Janganlah kamu takut[23],” dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak),

[22] Ketika Beliau melihat tangan mereka tidak menjamah makanan itu.

[23] Yakni kami adalah para utusan Tuhanmu.

  1. kemudian istrinya[24] datang memekik (tercengang) lalu menepuk wajahnya sendiri[25] seraya berkata, “(Aku ini) seorang perempuan tua yang mandul[26].

[24] Yaitu Sarah.

[25] Inilah perkataan atau perbuatan yang biasa terjadi pada wanita ketika senang.

[26] Yakni bagaimana aku punya anak, sedangkan aku seorang wanita yang mandul dan sudah lanjut usia, dimana pada usia tersebut biasanya wanita tidak melahirkan. Di samping itu, suaminya (Nabi Ibrahim ‘alaihis salam) adalah seorang yang sudah tua.

  1. Mereka berkata, “Demikianlah Tuhanmu berfirman[27]. Sungguh, Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui[28].

[27] Yakni Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang menentukan hal itu dan memberlakukannya, sehingga tidak perlu heran terhadap kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

[28] Dia meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dan segala sesuatu telah diketahui-Nya. Oleh karena itu, terimalah keputusan-Nya dan bersyukurlah kepada Allah atas nikmat-Nya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sudahkah sampai kepadamu) khithab ini ditujukan kepada Nabi ﷺ. (cerita tamu Ibrahim yang dimuliakan) mereka adalah malaikat-malaikat yang jumlahnya ada dua belas atau sepuluh atau tiga malaikat; di antara mereka terdapat malaikat Jibril.
  2. (Ketika) lafal Idz di sini berkedudukan menjadi Zharaf bagi lafal Hadiitsu Dhaifi Ibraahiima (mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, “Salaaman”) tamu-tamu itu mengucapkan perkataan tersebut. (Ibrahim menjawab, “Salaamun”) menjawab dengan ucapan yang sama (mereka adalah orang-orang yang tidak dikenal) maksudnya, kami tidak mengenal mereka, Nabi Ibrahim mengatakan ucapan ini di dalam hatinya. Kalimat ini berkedudukan menjadi Khabar dari Mubtada yang keberadaannya diperkirakan, yaitu lafal Haa`ulaa`i yang artinya mereka.
  3. (Maka dia pergi) yakni ia beranjak dari situ (menemui keluarganya) dengan diam-diam (kemudian dibawanya daging anak sapi yang gemuk). Di dalam surah Hud telah disebutkan pula melalui firman-Nya, “…dengan membawa daging anak sapi yang dipanggang.” (Q.S. Hud, 69) yakni daging anak sapi gemuk itu sudah dipanggang.
  4. (Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim berkata, “Silakan kalian makan”) Nabi Ibrahim mempersilakan mereka untuk makan, tetapi mereka tidak mau memakannya.
  5. (Maka Ibrahim memendam) di dalam hatinya (rasa takut terhadap mereka. Mereka berkata, “Janganlah kamu takut”) sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu (dan mereka memberi kabar gembira dengan kelahiran seorang anak yang alim) yakni anak yang mempunyai ilmu banyak yaitu, Nabi Ishak sebagaimana yang telah disebutkan di dalam surah Hud.
  6. (Kemudian istrinya datang) yakni Siti Sarah (seraya memekik) karena tercengang, berkedudukan menjadi Hal; yakni Siti Sarah datang seraya memekik karena kaget (lalu menepuk mukanya sendiri) menampar mukanya sendiri (seraya berkata, “Aku adalah seorang perempuan tua yang mandul”) yang tidak dapat melahirkan anak sama sekali, pada saat itu umur Sarah mencapai sembilan puluh sembilan tahun, sedangkan Nabi Ibrahim seratus tahun; atau umur Nabi Ibrahim pada saat itu seratus dua puluh tahun, sedangkan umur Siti Sarah sembilan puluh tahun.
  7. (Mereka berkata, “Demikianlah) sebagaimana perkataan kami tentang berita gembira ini (Rabbmu memfirmankan”. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Bijaksana) di dalam perbuatan-Nya (lagi Maha Mengetahui) tentang makhluk-Nya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Kisah ini telah disebutkan di dalam surat Hud dan juga surat Al-Hijr. Maka firman Allah Swt.:

Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Adz-Dzariyat: 24)

Yakni tamu-tamu yang kedatangannya harus dihormati.

Imam Ahmad dan sejumlah ulama mengatakan bahwa wajib menjamu tamu. Sunnah pun menganjurkan hal yang sama, semakna dengan makna lahiriah ayat Firman Allah Swt.:

lalu mereka mengucapkan, “Salaman.” Ibrahim menjawab, “Saldmun.” (Adz-Dzariyat: 25)

Rafa’ lebih kuat dan lebih kukuh daripada nasab, maka menjawab dengan memakai rafa’ lebih utama daripada memulainya. Karena itulah maka disebutkan dalam firman-Nya:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). (An-Nisa: 86)

Ternyata Al-Khalil (Nabi Ibrahim) memilih yang terbaik.

Firman Allah Swt. menyitir kata-kata Nabi Ibrahim a.s.:

(kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. (Adz-Dzariyat: 25)

Demikian itu karena Malaikat Jibril, Malaikat Mikail, dan Malaikat Israfil datang menemui Nabi Ibrahim dalam rupa para pemuda yang tampan-tampan disertai dengan wibawa yang sangat kuat. Karena itulah maka Ibrahim berkata: (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. (Adz-Dzariyat: 25)

Firman Allah Swt.:

Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya. (Adz-Dzariyat: 26)

Yakni surut mundur dengan diam-diam secara cepat.

kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar). (Adz-Dzariyat: 26)

Yaitu dari ternak pilihannya yang merupakan hartanya (di masa itu). Sedangkan di dalam ayat lain disebutkan melalui firman-Nya dengan ungkapan berikut:

فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ

maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. (Hud: 69)

Yakni yang dibakar di atas bara api, alias sapi muda guling.

lalu dihidangkannya kepada mereka. (Adz-Dzariyat: 27)

Maksudnya, disuguhkan kepada mereka untuk disantap.

Ibrahim berkata.”Silakan kamu makan.” (Adz-Dzariyat: 27)

Ungkapan mempersilakan dan menawarkan dengan cara yang baik. Ayat ini mengandung etika menjamu tamu. Ibrahim menyuguhkan makanan tanpa sepengetahuan tamu-tamunya itu dengan cepat dan tidak menawarkannya lebih dahulu kepada mereka, misalnya, “Mau makan apa?” Melainkan Ibrahim a.s. datang dengan cepat dan tersembunyi menyuguhkan makanannya yang paling enak dari hartanya yang paling berharga, yaitu sapi muda yang gemuk empuk dagingnya dalam keadaan telah dipanggang, lalu Ibrahim tidak meletakkannya terlebih dahulu, lalu baru mengatakan, “Kemarilah menyantap suguhan ini,” melainkan ia meletakkannya langsung ke hadapan tamu-tamunya, dan tidak memberatkan tamu-tamunya itu, melainkan mengatakan kepada mereka: Silakan kamu makan. (Adz-Dzariyat: 27) Yakni dengan ungkapan tawaran dan memohon dengan lemah lembut, semisal dengan perkataan orang-orang di masa kini, “Sudilah kiranya engkau berbuat baik dan bersedekah.”

Firman Allah Swt.:

(Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. (Adz-Dzariyat: 28)

Karena hal tersebut tidak mungkin dengan adanya makanan yang terenak dan paling lezat, para tetamunya itu tidak mau menyantapnya, bahkan memegangnya pun tidak. Seperti kisah yang disebutkan dalam surat lain melalui firman Allah Swt.:

فَلَمَّا رَأَى أَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمِ لُوطٍ وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ

Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut terhadap mereka. Malaikat itu berkata, “Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Lut.” Dan istrinya berdiri (di balik tirai), lalu dia tersenyum. (Hud: 70-71)

Yaitu merasa gembira dengan akan dibinasakannya mereka (kaum Lut) karena mereka membangkang dan bersikap ingkar terhadap Allah Swt. Maka pada saat itu juga para malaikat tersebut menyampaikan berita gembira kepada istri Ibrahim akan kelahiran Ishaq dan di belakang Ishaq akan lahir Ya’qub (sebagai cucunya).

قَالَتْ يَا وَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Istrinya berkata, “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak, padahal aku adalah perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.” Para malaikat itu berkata, “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlul bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah. (Hud: 72-73)

Karena itulah maka disebutkan dalam surat ini oleh firman-Nya:

dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishaq). (Adz-Dzariyat: 28)

Kabar gembira buat Ibrahim berarti sama juga kabar gembira bagi istrinya, karena anak tersebut adalah milik keduanya dan lahir akibat hubungan keduanya. Maka keduanya mendapat berita gembira ini.

Firman Allah Swt.:

Kemudian istrinya datang memekik (tercengang). (Adz-Dzariyat: 29)

Yaitu memekik tercengang bercampur gembira.

Ibnu Abbas r.a.. Mujahid, Ikrimah, Abu Saleh, Ad-Dahhak, Zaid ibnu Aslam, As-Sauri, dan As-Saddi mengatakan bahwa pekikan tersebut adalah ucapannya: Sungguh mengherankan. (Hud: 72)

Firman Allah Swt.:

lalu menepuk mukanya sendiri. (Adz-Dzariyat: 29)

Yakni memukulkan telapak tangannya ke keningnya, menurut Mujahid dan Ibnu Sabit. Menurut Ibnu Abbas r.a., istri Ibrahim setelah mendengar berita gembira itu menamparkan tangannya ke mukanya karena merasa heran sebagaimana wanita merasa heran terhadap suatu peristiwa yang aneh.

seraya berkata, “(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.” (Adz-Dzariyat: 29)

Maksudnya, mana mungkin aku dapat melahirkan anak, sedangkan aku adalah seorang perempuan tua; terlebih lagi di waktu muda aku pun mandul, tidak punya anak?

Mereka berkata, “Demikianlah Tuhanmu menfirmankan.” Sesungguhnya Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. (Adz-Dzariyat: 30)

Yakni Dia Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapat kemuliaan dari-Nya lagi Maha Bijaksana dalam semua firman dan perbuatan-Nya.

Demikianlah akhir Juz 26. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

 ««««« juz 25 ««««      «««« juz 26 «««««      ««««« juz 27 «««««