Agar Hati Para Ayah Merasa Sejuk

Tafsir Al-Qur’an: Surah Ath-Thuur ayat 21-22

0
218

Tafsir Al-Qur’an: Surah Ath-Thuur ayat 21-22, Kenikmatan yang akan diperoleh orang-orang yang beriman. Orang-orang mukmin itu apabila anak cucu mereka mengikuti mereka dalam hal keimanan, maka anak cucu mereka itu akan diikutkan kepada mereka dalam kedudukan yang sama, sekalipun anak cucu mereka masih belum mencapai tingkatan amal mereka. Demikian itu agar hati dan pandangan para ayah merasa sejuk dengan berkumpulnya mereka bersama anak-anak mereka. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ (٢١) وَأَمْدَدْنَاهُمْ بِفَاكِهَةٍ وَلَحْمٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ (٢٢)

Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya. Dan Kami berikan kepada mereka tambahan berupa buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini. (Q.S Ath-Thuur : 21-22)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wal ladzīna āmanū (dan orang-orang yang beriman) kepada Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an, serta bersunguh-sungguh dalam keimanannya.

Wattaba‘at-hum dzurriyyatuhum bi īmānin (dan mereka diikuti oleh anak-cucu mereka dengan keimanan), yakni oleh keimanan anak-cucu mereka di dunia.

Alhaqnā bihim (Kami hubungkan dengan mereka), yakni dengan para orang tua.

Dzurriyyatahum (anak-cucu mereka) di akhirat dalam kedudukan yang sama dengan bapak-bapak mereka. Menurut satu pendapat,

wal ladzīna āmanū (dan orang-orang yang beriman) kepada Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an akan Dia masukan ke dalam surga;

wattaba‘at-hum dzurriyyatuhum (dan mereka diikuti oleh anak-cucu mereka) yang masih kecil dalam kedudukan yang sama dengan mereka;

bi īmānin (dengan keimanan) anak-cucu mereka pada hari perjanjian;

alhaqnā bihim (Kami Hubungkan dengan mereka), yakni dengan bapak-bapak mereka. Kami hubungkan anak-cucu mereka yang mengikuti (keimanan bapak mereka) dalam kedudukan bapak-bapak mereka, jika kedudukan bapak-bapak mereka lebih tinggi.

Wa mā alatnāhum min ‘amalihim miη syai’ (dan Kami tidak mengurangi sedikit pun amal-amal mereka), yakni Kami tidak akan mengurangi kedudukan dan pahala bapak-bapak mereka dengan diikutkannya anak-cucu mereka kepada mereka.

Kullumri-im bimā kasaba rahīn (setiap orang tergadai dengan apa yang telah dikerjakannya), yakni tergadai oleh dosa-dosa yang telah mereka kerjakan, karena itu Allah Ta‘ala akan Menindak mereka sesuai dengan Kehendak-Nya.

Wa amdadnāhum (dan Kami memberi mereka), yakni Kami karuniai para penghuni surga di dalam surga.

Bi fākihatin (buah-buahan), yakni aneka macam buah-buahan.

Wa lahmin (dan daging), yakni daging burung.

Mimmā yasytahūn (dari segala jenis yang mereka sukai), yakni yang mereka inginkan.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga)[9], dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. [10]Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya[11].

[9] Maksudnya, anak cucu mereka yang beriman itu ditinggikan Allah derajatnya sebagaimana derajat bapak-bapak mereka, dan dikumpulkan dengan bapak-bapak mereka di dalam surga meskipun mereka tidak mengerjakan amal mereka (bapak-bapak mereka) sebagai penghormatan dan balasan kepada bapak-bapak mereka, serta sebagai tambahan terhadap pahala mereka. Ini termasuk di antara sempurnanya kenikmatan penghuni surga. Meskipun begitu Allah tidak mengurangi amal saleh bapak-bapak mereka. Allahumma innaa nas’alukal jannah wa na’uudzu bika minan naar (Ya Allah, kami meminta surga kepada-Mu dan berlindung kepada-Mu dari neraka). Allahumma innaa nas’alukal jannah wa na’uudzu bika minan naar. Allahumma innaa nas’alukal jannah wa na’uudzu bika minan naar. Rabbanagh firlanaa wa li waalidainaa kamaa rabbayaanaa shighaaraa.

[10] Terkadang timbul anggapan, bahwa penghuni neraka juga sama, yakni Allah pertemukan mereka dan keturunannya di neraka, maka Allah memberitahukan bahwa hukum di antara kedua tempat itu (surga dan neraka) tidak sama, karena neraka adalah tempat keadilan, dan di antara keadilan Allah ‘Azza wa Jalla adalah Dia tidak akan mengazab seorang pun kecuali karena dosanya. Oleh karena itu, Dia berfirman, “Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

[11] Jika baik maka dibalas dengan kebaikan, dan jika buruk maka dibalas dengan keburukan, dan seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain.

  1. Dan Kami berikan kepada mereka tambahan berupa buah-buahan[12] dan daging dari segala jenis yang mereka ingini[13].

[12] Seperti anggur, delima, apel dan berbagai buah-buahan lainnya yang enak.

[13] Meskipun mereka tidak menyebutkan secara tegas permintaannya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan orang-orang yang beriman) berkedudukan menjadi Mubtada (dan mereka diikuti) menurut suatu qiraat dibaca Waatba’naahum yakni, Kami ikutkan kepada mereka, Di’athafkan kepada lafal Amanuu (oleh anak cucu mereka) menurut suatu qiraat dibaca Dzurriyyatahum, dalam bentuk Mufrad; artinya oleh keturunan mereka, baik yang masih kecil maupun yang sudah dewasa (dalam keimanan) maksudnya, diikuti oleh anak cucu mereka keimanannya. Dan yang menjadi Khabarnya ialah (Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka) ke dalam surga, dengan demikian maka anak cucu mereka memiliki kedudukan yang sama dengan mereka, sekalipun anak cucu mereka tidak mempunyai amalan sebagaimana mereka. Hal ini dimaksudkan sebagai kehormatan buat bapak-bapak mereka, yang karenanya lalu anak cucu mereka dikumpulkan dengan mereka (dan Kami tidak mengurangi) dapat dibaca Alatnaahum atau Alitnaahum, artinya Kami tidak mengurangi (dari pahala amal mereka) huruf Min di sini adalah Zaidah (barang sedikit pun) yang ditambahkan kepada amal perbuatan anak-cucu mereka. (Tiap-tiap orang dengan apa yang dikerjakannya) yakni amal baik atau amal buruknya (terikat) yakni, ia dalam keadaan terikat, bila ia mengerjakan kejahatan diazab dan bila ia mengerjakan kebaikan diberi pahala.
  2. (Dan Kami beri mereka) Kami tambahkan kepada mereka dari waktu ke waktu yang lain (dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka inginkan) sekalipun mereka tidak menjelaskan permintaannya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. menceritakan tentang karunia dan pemberian-Nya kepada makhluk-Nya, juga kebaikan-Nya, bahwa orang-orang mukmin itu apabila anak cucu mereka mengikuti mereka dalam hal keimanan, maka anak cucu mereka itu akan diikutkan kepada mereka dalam kedudukan yang sama, sekalipun anak cucu mereka masih belum mencapai tingkatan amal mereka. Demikian itu agar hati dan pandangan para ayah merasa sejuk dengan berkumpulnya mereka bersama anak-anak mereka, sehingga mereka dapat bergabung bersama-sama dalam keadaan yang sebaik-baiknya dari segala segi. Yaitu Allah telah melenyapkan kekurangan dari amal dan menggantinya dengan amal yang sempurna, tanpa mengurangi amal dan kedudukan yang sempurna, mengingat adanya kesamaan di antara mereka. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. (At-Thur: 21)

As-Sauri telah meriwayatkan dari Amr ibnu Murrah, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah benar-benar mengangkat anak cucu orang mukmin menjadi sederajat dengannya, sekalipun amal mereka berada di bawahnya agar dengan keberadaan mereka bersama hatinya menjadi senang. Kemudian Ibnu Abbas membaca firman-Nya: Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. (Ath-Thur: 21)

Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui hadis Sufyan As-Sauri dengan sanad yang sama. Hal yang semisal telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui hadis Syu’bah, dari Amr ibnu Murrah dengan sanad yang sama.

Al-Bazzar meriwayatkannya dari Sahl ibnu Bahr, dari Al-Hasan ibnu Hammad Al-Warraq, dari Qais ibnur Rabi’, dari Amr ibnu Murrah, dari Sa’id, dari Ibnu Abbas secara marfu’. Lalu ia mengetengahkannya, kemudian ia mengatakan bahwa As-Sauri meriwayatkan hadis ini dari Amr ibnu Murrah, dari Sa’id, dari Ibnu Abbas secara mauquf.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Abbas ibnul Walid ibnu Yazid Al-Bairuni, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Sa’id, telah menceritakan kepadaku Syaiban, telah menceritakan kepadaku Lais, dari Habib ibnu Abu Sabit Al-Asadi, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman Allah Swt: Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka. (Ath-Thur: 21) Bahwa mereka adalah keturunan orang mukmin yang mati dalam keadaan beriman. Sekalipun kedudukan ayah dan bapak mereka lebih tinggi daripada mereka, mereka tetap dihubungkan dengan ayah-ayah mereka, tanpa mengurangi pahala amal ayah-ayah mereka barang sedikit pun.

Al-Hafiz Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Husain ibnu Ishaq At-Tusturi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdur Rahman ibnu Gazwan, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Salim Al-Aftas, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menurutnya Ibnu Abbas pasti dari Nabi ﷺ disebutkan:

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ الْجَنَّةَ سَأَلَ عَنْ أَبَوَيْهِ وَزَوْجَتِهِ وَوَلَدِهِ، فَيُقَالُ: إِنَّهُمْ لَمْ يَبْلُغُوا دَرَجَتَكَ. فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، قَدْ عَمِلْتُ لِي وَلَهُمْ. فَيُؤْمَرُ بِإِلْحَاقِهِمْ بِهِ، وَقَرَأَ ابْنُ عَبَّاسٍ {وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ} الْآيَةَ

Apabila seseorang masuk surga, maka ia ditanyai tentang kedua orang tuanya, istrinya, dan anak-anaknya. Maka dikatakan, “Sesungguhnya mereka masih belum dapat mencapai derajatmu.” Maka ia berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah beramal untuk diriku dan juga untuk mereka, ” maka diperintahkan agar mereka dihubungkan (digabungkan) bersamanya. Setelah itu Ibnu Abbas r.a. membaca firman-Nya: Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan. (Ath-Thur: 21), hingga akhir ayat.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan ayat ini, bahwa orang-orang yang anak cucunya beriman, lalu mengerjakan amal ketaatan kepada-Ku, maka Aku akan menghubungkan keturunan mereka dengan mereka di dalam surga, begitu pula anak-anak kecil mereka.

Pendapat ini merujuk kepada tafsir yang pertama, karena pada tafsir yang pertama dijelaskan hal yang lebih gamblang daripada ini. Hal yang sama telah dikatakan oleh Asy-Sya’bi, Sa’id ibnu Jubair, Ibrahim, Qatadah, Abu Saleh, Ar-Rabi’ ibnu Anas, Ad-Dahhak, dan Ibnu Zaid; pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Abdullah ibnu Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Us’man ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fudail, dari Muhammad ibnu Us’man, dari Zazan, dari Ali yang mengatakan bahwa Khadijah pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang dua orang anaknya yang telah mati di masa Jahiliyah. Maka Rasulullah ﷺ bersabda,

هُمَا فِي النَّارِ. فَلَمَّا رَأَى الْكَرَاهَةَ فِي وَجْهِهَا قَالَ: لَوْ رَأَيْتِ مَكَانَهُمَا لَأَبْغَضْتِهِمَا. قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَوَلَدِي مِنْكَ. قَالَ: فِي الْجَنَّةِ. قَالَ: ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الْمُؤْمِنِينَ وَأَوْلَادَهُمْ فِي الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمُشْرِكِينَ وَأَوْلَادَهُمْ فِي النَّارِ. ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ

“Keduanya berada di dalam neraka.” Tetapi ketika beliau melihat roman muka yang tidak enak pada wajah Khadijah r.a., maka beliau bersabda, “Seandainya engkau melihat kedudukan keduanya, niscaya engkau akan marah terhadap keduanya.” Khadijah r.a. bertanya, “Lalu bagaimanakah dengan anak-anakku yang darimu?” Rasulullah bersabda: (Mereka) berada di dalam surga. Kemudian Rasulullah bersabda: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu dan anak-anak mereka berada di dalam surga. Dan sesungguhnya orang-orang musyrik itu dan anak-anak mereka berada di dalam neraka. Lalu beliau membacakan firman Allah Swt.: Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan. (Ath-Thur: 21), hingga akhir ayat.

Ini merupakan karunia dari Allah Swt. kepada para anak berkat amal bapak-bapak mereka. Adapun mengenai karunia Allah kepada para bapak berkat doa anak-anak yang saleh, maka dalilnya telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Asim ibnu Abun Nujud, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟ فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

Sesungguhnya Allah benar-benar meninggikan derajat hamba yang saleh di dalam surga, lalu si hamba bertanya, “Ya Tuhanku, dari manakah semuanya ini buatku?” Maka Allah Swt. menjawab, “Berkat permohonan ampun anakmu untukmu.”

Sanad hadis ini sahih, mereka tidak mengetengahkannya dari jalur ini, tetapi mempunyai syahid di dalam kitab Sahih Muslim dari Abu Hurairah, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amal perbuatannya, kecuali tiga hal, yaitu sedekah yang mengalir (pahalanya), atau ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.

Firman Allah Swt.:

Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (Ath-Thur: 21)

Setelah menerangkan tentang karunia yang telah diberikannya, yaitu derajat keturunan ditinggikan sampai mencapai derajat para bapak, tanpa amal kebaikan yang mengharuskannya. Maka Allah menceritakan perihal keadilan-Nya, yaitu bahwa Dia tidak menghukum seseorang karena dosa orang lain. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (Ath-Thur: 21)

Yakni tergantung kepada amal perbuatannya sendiri, tidak menanggung dosa orang lain, baik bapaknya sendiri ataupun anaknya sendiri. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ إِلا أَصْحَابَ الْيَمِينِ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ عَنِ الْمُجْرِمِينَ

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya-menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa. (Al-Muddatstsir: 38-41)

Adapun firman Allah Swt.:

Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini. (Ath-Thur: 22)

Maksudnya, Kami beri mereka tambahan nikmat berupa buah-buahan dan daging dari segala jenis yang enak-enak dan disukai.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 26 «««   ««« juz 27 «««   ««« juz 28 «««««