Mukjizat Terbelahnya Bulan Menjadi Dua Bagian

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Qamar

0
25

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Qamar (Bulan). Surah ke-54. 55 ayat. Turun sesudah Surah Ath-Thariq. Ayat 1-8. Mukjizat Terbelahnya Bulan Menjadi Dua Bagian. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ (١)

Saat (hari Kiamat) semakin dekat, bulan pun terbelah. (Q.S. Al-Qamar : 1)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Iqtarabatis sā‘atu (telah dekat saat [kiamat] itu), yakni telah dekat saat kiamat dengan datangnya Nabi Muhammad ﷺ dan keluarnya asap.

Waη syaqqal qamaru (dan telah terbelah bulan) menjadi dua bagian. Dan hal itu termasuk di antara tanda-tanda kiamat.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [1] [2]Saat[3] (hari Kiamat) semakin dekat, bulan pun terbelah.

[1] Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ma’mar dari Qatadah dari Anas ia berkata, “Penduduk Mekah pernah meminta bukti kepada Nabi ﷺ, maka bulan pun terbelah di Mekah dua kali, ketika itu turunlah ayat, “Iqtarabatis saa’atu wan syaqqal qamar.” Sampai ayat, “sihrum mustamir.”yakni sihir yang akan hilang. (Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.”)

Syaikh Muqbil berkata, “Hadits ini asalnya ada dalam dua kitab shahih; Bukhari juz 6 hal. 631 dan Muslim juz 4 hal. 2159, namun pada keduanya tidak disebutkan secara tegas turunnya ayat tersebut. Demikian pula diriwayatkan oleh Ahmad juz 3 hal. 165, Thabari juz 27 hal. 85, Hakim dalam Mustadraknya juz 2 hal. 471, ia berkata, “Sesuai syarat Bukhari-Muslim,” dan didiamkan oleh Adz Dzahabi, ia berkata, “Asalnya ada dalam dua kitab dari hadits Ibnu Mas’ud yang sama seperti itu.”

Kesimpulannya, penyebutan sebab turunnya ayat adalah syadz, berikut penjelasannya:

Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dengan disebutkan turunnya ayat, ‘Abd bin Humaid juga meriwayatkan dalam Al Muntakhab juz 3 hal. 93 dari jalan Ma’mar dari Qatadah dari Anas. Zhahir hadits ini adalah shahih, tetapi disebutkan kata “turunnya ayat” dianggap syadz, dimana Ma’mar menyendiri dalam hal ini dengan menyelisihi.

Syu’bah bin Hajjaj dalam Bukhari juz 8 hal. 617, Muslim juz 4 hal. 2159, Ahmad dalam Musnadnya juz 3 hal. 275 dan 278, Abu Dawud, Thayalisi dalam Musnadnya hal. 365, Abu Ya’la dalam Musnadnya juz 5 hal. 306-307, dan pada juz 6 hal. 22, Ibnu Jarir dalam tafsirnya juz 27 hal. 84, Thahawi dalam Musykilul Aatsar juz 2 hal. 182, Al Laalikaa’iy dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah juz 4 hal. 794, dan Baihaqi dalam Dalaa’ilun Nubuwwah juz 2 hal. 42.

Sa’id bin Abi ‘Arubah dalam Bukhari juz 7 hal. 182, juz 8 hal. 617, Ahmad dalam Musnadnya juz 3 hal. 220, Ibnu Jarir dalam Jaami’ul Bayan juz 27 hal. 85, Al Laalikaa’iy dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah juz 4 hal. 795, dan Baihaqi dalam Dalaa’ilun Nubuwwah juz 2 hal. 42.

Syaiban bin Abdurrahman An Nahwiy dalam Shahih Bukhari juz 8 hal. 617, Muslim juz 4 hal. 2159, Ahmad dalam Musnadnya juz 3 hal. 207, Abu Ya’la dalam Musnadnya juz 5 hal. 424, dan Baihaqi juz 2 hal. 41.

Semuanya meriwayatkan dari Qatadah dari Anas tanpa menyebutkan turunnya ayat.

Ditambah juga, bahwa Ma’mar meriwayatkan dari Qatadah tanpa menyebutkan turunnya ayat, dan hal itu terdapat dalam Muslim juz 4 hal. 2159, Ahmad dalam Musnadnya juz 3 hal. 165, Hakim dalam Mustadraknya juz 2 hal. 472, dan Baihaqi dalam Dalaa’ilun Nubuwwah juz 2 hal. 42.

Dengan demikian, disebutkan kata ‘turunnya ayat’ adalah syadz, wallahu a’lam.

Yang dijadikan pegangan tentang sebab turunnya ayat adalah hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Thabrani dalam Al Kabir juz 11 hal. 250 no. 11642 ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Amr Al Bazzar, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya Al Qath’iy, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari Amr bin Dinar dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata, “Telah terjadi gerhana bulan pada zaman Rasulullah ﷺ, maka mereka (kaum musyrikin) berkata, “Bulan telah tersihir.” Ketika itu turunlah ayat, “Iqtarabatis saa’atu wan syaqqal qamar” sampai, “Sihrum mustamir.” (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Mardawaih sebagaimana dalam Ad Durrul Mantsur juz 6 hal. 133, Ibnu Katsir berkata, “Sanadnya jayyid,” sebagaimana dalam Al Bidayah, dan telah datang pula dari jalan ‘Araak bin Maalik dari Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Uqbah dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya juz 7 hal. 183, juz 8 hal. 617, Muslim juz 4 hal. 2159, Ibnu Jarir dalam tafsirnya juz 27 hal. 86, Al Laalikaa’iy dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah juz 4 hal. 796, Hakim juz 2 hal. 472, Abu Nu’aim dalam Dalaa’ilun Nubuwwah juz 1 hal. 368 dan 369, dan Baihaqi dalam Dalaa’ilun Nubuwwah juz 2 hal. 44.)

Telah datang pula sebab turunnya ayat ini dari hadits Ibnu Mas’ud. Hakim rahimahullah berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Zakariya Al ‘Anbariy, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdussalam, telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah memberitakan kepada kami ‘Abdurrazzaq bin ‘Uyaynah dan Muhammad bin Muslim dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid dari Abu Ma’mar dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Aku melihat bulan dua kali terbelah menjadi dua bagian di Mekah sebelum Nabi ﷺ keluar, dimana bagian yang satu berada di (gunung) Abu Qubais, sedangkan bagian yang lain di As Suwaida’, lalu mereka berkata, “Bulan telah tersihir.” Maka turunlah ayat, “Iqtarabatis saa’atu wan syaqqal qamar.” Beliau bersabda, “Sebagaimana kamu melihat bulan terbelah, maka yang aku beritahukan kepada kamu tentang dekatnya hari Kiamat adalah benar.” (Hakim berkata, “Hadits ini adalah shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkan.”) Adz Dzahabiy mendiamkannya. Syaikh Muqbil berkata, “Hadits tersebut sebagaimana yang dikatakn Al Hakim, hadits itu diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Ad Dalaa’il dari Hakim.”

Hadits tersebut tanpa disebutkan kata ‘turunnya ayat’ diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya juz 8 hal. 617, Nasa’i dalam Al Kubra juz 6 hal. 476, Tirmidzi juz 5 hal. 398, Sufyan bin ‘Uyaynah dalam tafsirnya hal. 328, Nasa’i dalam Musnadnya 2/189, Abu Ya’la dalam Musnadnya juz 8 hal. 378, Al Laalikaa’iy dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah juz 4 hal. 793, Thahaawiy dalam Musykilul Aatsaar juz 2 hal. 178, semuanya dari jalan Ibnu Abi Najih dari Mujahid dari Abu Ma’mar dari Abdullah bin Mas’ud.

Telah datang pula dari jalan Simak dari Ibrahim dari Al Aswad dari Abdullah yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya juz 1 hal. 413, Ibnu Jarir juz 25 hal. 85, dan Thayaalisi hal. 37.

Telah disebutkan secara tegas kata ‘turunnya ayat’ dalam Ath Thabari, ia rahimahullah berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Uwanah dari Mughirah dari Abudh Dhuha dari Masruq dari Abdullah ia berkata, “Telah terbelah bulan pada zaman Rasulullah ﷺ, maka orang-orang Quraisy berkata, “Ini adalah sihir Ibnu Abi Kabsyah, dia telah menyihir kamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang bersafar, lalu mereka bertanya dan mereka menjawab, “Ya, kami telah melihatnya (terbelah).” Maka Allah Tabaaraka wa Ta’aala menurunkan ayat, “Iqtarabatis saa’atu wan syaqqal qamar.” Syaikh Muqbil berkata, “Saya tidak menemukan biografi Al Hasan bin Yahya. Hadits ini dari jalan Abudh Dhuha dari Masruq dari Abdullah tanpa menyebutkan kata ‘turunnya ayat’, dan Bukhari telah meriwayatkannya secara mu’allaq juz 7 hal. 183, Thayaalisiy hal. 38, Al Laalikaa’iy juz 4 hal. 794, Thahaawiy dalam Musykilul Aatsar juz 2 hal. 177, dan Baihaqi dalam Ad Dalaa’il juz 2 hal. 43, walahu a’lam.” (Lihat Ash Shahihul Musnad Min Asbaabin Nuzuul oleh Syaikh Muqbil, hal. 229-232).

[2] Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan bahwa Kiamat telah dekat dan hampir tiba, namun mereka yang mendustakan itu tetap saja mendustakannya tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi kedatangannya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah memperlihatkan kepada mereka ayat (mukjizat) yang biasanya diimani oleh manusia. Di antara ayat (mukjizat) yang besar yang menunjukkan kebenaran apa yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ adalah ketika orang-orang yang mendustakan Beliau meminta diperlihatkan sesuatu yang menyelisihi kebiasaan yang menunjukkan kebenaran apa yang Beliau bawa, maka Beliau ﷺ menunjuk ke bulan dengan izin Allah Ta’ala, maka terbelahlah bulan menjadu dua bagian; bagian yang satu berada di gunung Abu Qubais, sedangkan bagian yang satu lagi berada di gunung Qu’aiqi’aan. Orang-orang musyrik dan selain mereka ketika itu menyaksikan mukjizat yang besar ini, mereka tercengang terhadapnya, namun iman tetap tidak masuk ke dalam hati mereka, bahkan mereka malah berkata, “Muhammad telah menyihir kita. Untuk mengetahuinya adalah kamu bertanya kepada orang yang datang kepada kamu, dia (Muhammad) tidak mampu menyihir orang yang tidak menyaksikannya seperti kamu.” Maka mereka bertanya kepada setiap orang yang datang, lalu mereka memberitahukan bahwa hal itu memang terjadi, dan mereka tetap saja berkata, “ (Ini adalah) sihir yang terus menerus.”

[3] Yang dimaksud dengan ‘saat’ di sini ialah terjadinya hari kiamat atau saat kehancuran kaum musyrikin. Adapun “terbelahnya bulan” ialah suatu mukjizat Nabi Muhammad ﷺ.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Telah dekat datangnya saat itu) dimaksud hari kiamat (dan telah terbelah bulan) menjadi dua bagian; yang satu di atas bukit Abu Qubais dan yang lainnya tampak di atas bukit Qaiqa’an; hal itu merupakan mukjizat bagi Nabi ﷺ yaitu sewaktu orang-orang Quraisy memintanya, lalu Nabi ﷺ bersabda, “Saksikanlah oleh kalian.” Demikianlah menurut keterangan hadis yang diketengahkan oleh Asy Syaikhain.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Dalam hadis Abu Waqid yang lalu telah disebutkan bahwa Rasulullah Saw. sering membaca surat Qaf dan Al-Qamar dalam Hari Raya Kurban dan Hari Raya Fitri. Beliau ﷺ acapkali membaca kedua surat ini dalam hari raya-hari raya besar karena keduanya mengandung janji, ancaman, permulaan kejadian, hari kebangkitan, tauhid, pengukuhan kenabian, dan lain sebagainya yang merupakan tujuan-tujuan yang besar, lagi sangat penting.

Allah Swt. menceritakan tentang dekatnya hari kiamat dan habisnya usia dunia serta keruntuhannya, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

أَتَى أَمْرُ اللَّهِ

Telah pasti datangnya ketetapan Allah. (An-Nahl: l)

Dan firman Allah Swt.:

اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedangkan mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya). (Al-Anbiya: 1)

Banyak hadis yang menerangkan hal ini.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Mus’anna dan Amr ibnul Ala. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnu Musa, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Qatadah, dari Anas, bahwa Rasulullah ﷺ di suatu hari berkhotbah kepada para sahabatnya di saat mentari hampir saja tenggelam, dan tiada yang masih kelihatan darinya kecuali hanya sebagian kecil saja. Maka beliau bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا بَقِيَ مِنَ الدُّنْيَا فِيمَا مَضَى مِنْهَا إِلَّا كَمَا بَقِيَ مِنْ يَوْمِكُمْ هَذَا فِيمَا مَضَى مِنْهُ، وَمَا نَرَى مِنَ الشَّمْسِ إِلَّا يَسِيرًا

Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, tiada yang tersisa dari usia dunia ini terhadap masa-masa yang telah dilaluinya, melainkan seperti tersisanya waktu dari hari kalian sekarang terhadap waktu-waktu yang telah dilaluinya, dan tiada yang dapat kita lihat dari mentari ini kecuali hanya sebagian kecilnya.

Menurut hemat kami, hadis ini bersumber dari Khalaf ibnu Musa ibnu Khalaf yang tuna netra, dari ayahnya.

Ibnu Hibban telah menyebutkannya di antara perawi-perawi yang berpredikat siqah, dan mengatakan bahwa barangkali dia keliru (ada hadis lain yang menguatkan dan menafsirkan pengertiannya).

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Fadl ibnu Dakin, telah menceritakan kepada kami Syarik, telah menceritakan kepada kami Salamah ibnu Kahil, dari Mujahid, dari Ibnu Umar yang mengatakan, “Ketika kami sedang duduk-duduk di sisi Nabi ﷺ di saat mentari berada di atas Qu’aiqa’an selepas waktu asar, maka bersabdalah beliau ﷺ:

مَا أَعْمَارُكُمْ فِي أَعْمَارِ مَنْ مَضَى إِلَّا كَمَا بقي من النهار فيما مضى

Tiadalah usia kalian bila dibandingkan dengan usia orang-orang yang sebelum kalian melainkan seperti waktu yang tersisa dari siang hari ini dibandingkan dengan waktu-waktu yang telah dilaluinya (sejak pagi hari).

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Husain, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mitraf, dari Abu Hazim, dari Sahl ibnu Sa’d yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

بُعِثتُ وَالسَّاعَةُ  هَكَذَا. وَأَشَارَ بِإِصْبَعَيْهِ: السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

Aku diutus sedangkan (antara) aku dan hari kiamat seperti ini. seraya mengisyaratkan dengan kedua jarinya, yaitu jari telunjuk dan jari tengahnya.

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadis ini melalui Abu Hazim alias Salamah ibnu Dinar.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ubaid, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Abu Khalid, dari Wahb As-Siwa’i yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَذِهِ مِنْ هَذِهِ إِنْ كَادَتْ لَتَسْبِقُهَا وَجَمَعَ الْأَعْمَشُ بَيْنَ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

Aku diutus sedangkan jarak antara aku dan hari kiamat sama dengan jarak antara jari ini dan jari ini, yang hampir saja mendahuluiku.

Yakni sangat dekat. Al-A’masy (perawi) mengatakan hadis ini seraya menggabungkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Al-Auza’i, telah menceritakan kepadaku Ismail ibnu Ubaidillah yang mengatakan bahwa Anas ibnu Malik datang kepada Al-Walid ibnu Abdul Malik, lalu bertanya kepadanya tentang apa yang pernah ia dengar dari Rasulullah ﷺ tentang hari kiamat. Maka Al-Walid ibnu Abdul Malik menjawab, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

أَنْتُمْ وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ

Kalian dan hari kiamat sama dengan (jarak) kedua (jari) ini.

Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini secara tunggal, dan hadis ini mempunyai syahid (bukti) yang membenarkannya di dalam kitab sahih tentang nama-nama Nabi Muhammad ﷺ, bahwa beliau ﷺ adalah Al-Hasyir, artinya seorang manusia yang digiring di bawah kedua telapak kakinya (kelak di hari kiamat).

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bahz ibnu Asad, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Humaid ibnu Hilal, dari Khalid ibnu Umair yang mengatakan bahwa Atabah ibnu Gazwan berkhotbah. Bahz mengatakan bahwa Atabah mengatakan bahwa sebelumnya

خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ الدُّنْيَا قَدْ آذَنَتْ بصَرْمٍ وَوَلَّتْ حَذَّاءَ، وَلَمْ يَبْقَ مِنْهَا إِلَّا صُبَابة كَصُبَابَةِ الْإِنَاءِ يَتَصَابُّهَا صَاحِبُهَا، وَإِنَّكُمْ مُنْتَقِلُونَ مِنْهَا إِلَى دَارٍ لَا زَوَالَ لَهَا، فَانْتَقِلُوا بِخَيْرِ مَا بِحَضْرَتِكُمْ، فَإِنَّهُ قَدْ ذُكِرَ لَنَا أَنَّ الْحَجَرَ يُلقَى مِنْ شَفِيرِ جَهَنَّمَ فَيَهْوِي فِيهَا سَبْعِينَ عَامًا مَا يُدْرِكُ لَهَا قَعْرًا، وَاللَّهِ لَتَمْلَؤُنَّهُ، أَفَعَجِبْتُمْ! وَاللَّهِ لَقَدْ ذُكِرَ لَنَا أَنَّ مَا بَيْنَ مِصْرَاعَي الْجَنَّةِ مَسِيرَةُ أَرْبَعِينَ عَامًا، وَلَيَأْتِيَنَّ عَلَيْهِ يَوْمٌ وَهُوَ كَظِيظُ الزِّحَامِ

Rasulullah berkhotbah kepada kami, beliau memulainya dengan membaca hamdalah dan pujian kepada Allah Swt., lalu bersabda, “Amma Ba’du, sesungguhnya dunia ini sudah dekat akan berakhirnya dan habis usianya serta tiada yang tersisa melainkan hanya tinggal seperti satu tegukan lagi yang diteguk oleh pemiliknya dari wadahnya, dan sesungguhnya kalian bakal pindah darinya ke negeri yang tidak akan fana selamanya. Maka berpindahlah kalian kepadanya, kami hanya berharap semoga kalian dalam keadaan baik-baik. Karena sesungguhnya telah diceritakan kepada kami bahwa batu yang dilemparkan dari tepi Jahanam, lalu batu itu terjatuh ke dalamnya selama tujuh puluh tahun, masih juga belum sampai ke dasarnya. Demi Allah, kalian benar-benar akan memenuhinya, tentu kalian merasa heran mengapa. Dan demi Allah, telah diriwayatkan kepada kami bahwa jarak di antara kedua sisi pintu surga itu sama dengan jarak perjalanan empat puluh tahun. Dan sesungguhnya akan datang kepadanya suatu hari yang di hari itu pintu surga penuh sesak (dengan orang-orang yang memasukinya),” hingga akhir hadis.

Imam Muslim meriwayatkan hadis ini secara munfarid.

Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’qub, telah menceritakan kepadaku Ibnu Aliyyah, telah menceritakan kepada kami Ata ibnus Sa’ib, dari Abu Abdur Rahman As-Sulami yang mengatakan, “Kami turun istirahat di dekat Mada-in sejauh satu farsakh darinya. Maka datanglah hari Jumat, lalu ayahku dan juga aku menghadiri salat Jumat, sedangkan berkhotbah adalah Huzaifah. Ia mengatakan dalam khotbahnya, ‘Ingatlah, sesungguhnya Allah Swt. telah berfirman: Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. (Al-Qamar: 1) Ingatlah, sesungguhnya hari kiamat itu telah dekat. Dan ingatlah, sesungguhnya telah terbelah bulan. Ingatlah, sesungguhnya dunia ini akan berakhir. Dan ingatlah bahwa sesungguhnya hari ini adalah hari tersembunyi dan besok adalah hari perlombaan.’ Maka aku bertanya kepada ayahku, “Apakah benar besok manusia berlomba-lomba?” Ayahku menjawab, ‘Hai anakku; betapa bodohnya kamu, sesungguhnya yang dimaksud dengan perlombaan adalah perlombaan dengan amal perbuatan masing-masing.’ Kemudian datanglah Jumat berikutnya, dan kami pun menghadirinya. Lalu Huzaifah kembali berkhotbah, yang antara lain mengatakan, ‘Ingatlah, sesungguhnya Allah Swt. telah berfirman: Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. (Al-Qamar: 1) Ingatlah, sesungguhnya dunia ini telah dekat masa akhirnya. Ingatlah, sesungguhnya hari ini adalah hari tersembunyi dan besok hari berlomba. Ingatlah, sesungguhnya tujuan itu adalah neraka dan orang yang selamat adalah orang yang lebih dahulu ke surga’.”

Firman Allah Swt.:

dan telah terbelah bulan. (Al-Qamar: 1)

Hal ini terjadi di masa Rasulullah ﷺ seperti yang disebutkan di dalam hadis-hadis mutawatir dengan sanad-sanad yang sahih. Di dalam kitab sahih telah disebutkan dari Ibnu Mas’ud r.a. yang mengatakan, “Ada lima perkara yang telah berlalu (terjadi), yaitu (kemenangan) Romawi (atas Persia), Ad-Dukhan (awan putih), Al-Lizam, Al-Batsyah, dan Al-Qamar (terbelahnya rembulan).”

Dan sudah menjadi kesepakatan para ulama bahwa terbelahnya rembulan telah terjadi di masa Nabi ﷺ dan peristiwa tersebut merupakan salah satu dari mukjizat yang cemerlang.

Riwayat Anas ibnu Malik.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa penduduk Mekah (kaum musyrik) pernah meminta kepada Nabi Saw. untuk memperlihatkan suatu tanda (mukjizat), maka terbelahlah rembulan di Mekah sebanyak dua kali, dan Allah Swt. berfirman: Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. (Al-Oamar: 1)

Imam Muslim meriwayatkan hadis ini dari Muhammad ibnu Rafi’, dari Abdur Razzaq.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnul Mufaddal, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Abu Arubah, dari Qatadah, dari Anas ibnu Malik, bahwa penduduk Mekah pernah meminta kepada Rasulullah ﷺ untuk memperlihatkan kepada mereka suatu mukjizat yang membenarkan kenabiannya, maka Nabi ﷺ memperlihatkan kepada mereka rembulan terbelah menjadi dua bagian sehingga mereka melihat kekosongan di antara keduanya.

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkannya pula melalui hadis Yunus ibnu Muhammad Al-Mu’addib, dari Syaiban, dari Qatadah. Imam Muslim telah meriwayatkannya pula melalui hadis Abu Daud At-Tayalisi dan Yahya Al-Qattan serta selain keduanya, dari Syu’bah, dari Qatadah dengan sanad yang sama.

Riwayat Jabir ibnu Mut’im r.a.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Kasir, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Kasir, dari Husain ibnu Abdur Rahman ibnu Muhammad ibnu Jubair ibnu Mut’im, dari ayahnya yang mengatakan bahwa di masa Rasulullah ﷺ rembulan pernah terbelah menjadi dua bagian; satu bagian di atas suatu bukit, dan bagian yang lain berada di atas bukit yang lain. Lalu mereka (orang-orang musyrik) mengatakan, “Muhammad telah menyihir kami.” Sebagian dari mereka menjawab, “Jika apa yang dilakukan Muhammad itu adalah sihir, tidak mungkin ia dapat menyihir kita semuanya.”

Imam Ahmad meriwayatkannya dari jalur ini secara tunggal; dan Imam Baihaqi meng-isnad-kannyadi dalam kitab Dala-il-nya melalui jalur Muhammad ibnu Kasir, dari saudaranya Sulaiman ibnu Kasir, dari Husain ibnu Abdur Rahman.

Hal yang semisal telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui hadis Muhammad ibnu Fudail dan lain-lainnya, dari Husain dengan sanad yang sama. Imam Baihaqi telah meriwayatkannya pula melalui jalur Ibrahim ibnuTahman dan Hasyim, keduanya dari Husain, dari Jubair ibnu Muhammad ibnu Jubair ibnu Mut’im, dari ayahnya, dari kakeknya, lalu disebutkan hal yang semisal.

Riwayat Abdullah ibnu Abbas r.a.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Kasir, telah menceritakan kepada kami Bakr, dari Ja’far, dari Irak ibnu Malik, dari Ubaidillah ibnu Abdullah ibnu Atabah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa rembulan terbelah di masa Nabi ﷺ.

Imam Bukhari serta Imam Muslim telah meriwayatkan pula hadis ini melalui Bakr ibnu Mudar, dari Ja’far ibnu Rabi’ah, dari Irak dengan sanad dan lafaz yang semisal.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Mus’anna, telah menceritakan kepada kami Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Abu Hindun, dari Ali ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrik) melihat suatu tanda (Mukjizat), mereka berpaling dan berkata, “(Ini adalah) sihir yang terus-menerus.”(Al-Qamar: 1-2) Bahwa hal itu telah berlalu, kejadiannya sebelum masa Hijrah, rembulan terbelah hingga mereka melihat kedua belahannya.

Al-Aufi telah meriwayatkan hal yang semisal dari Ibnu Abbas.

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Amr Al-Bazzar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yahya Al-Qat’i, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Syakar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Amr ibnu Dinar, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa pernah terjadi gerhana rembulan di masa Rasulullah ﷺ, maka mereka mengatakan bahwa rembulan telah disihir, lalu turunlah firman-Nya: Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. (Al-Qamar: 1) Sampai dengan firman-Nya: yang terus-menerus. (Al-Qamar: 2)

Riwayat Abdullah ibnu Umar.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz dan Abu Bakar alias Ahmad ibnul Hasan Al-Qadi. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Abbas Al-Asam, telah menceritakan kepada kami Al-Abbas ibnu Muhammad Ad-Dauri, telah menceritakan kepada kami Wahb ibnu Jarir, dari Syu’bah, dari Al-A’masy, dari Mujahid, dari Abdullah ibnu Umar sehubungan dengan makna firman-Nya: Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. (Al-Qamar: 1) Bahwa hal ini terjadi di masa Rasulullah Saw., rembulan terbelah menjadi dua; yang sebelah seakan-akan berada di depan bukit, dan yang sebelahnya lagi seakan-akan berada di belakang bukit. Maka Nabi ﷺ bersabda: Ya Allah, saksikanlah.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Turmuzi melalui berbagai jalur dari Syu’bah, dari Al-A’masy, dari Mujahid dengan sanad yang sama. Imam Muslim mengatakan seperti riwayat Mujahid, dari Abu Ma’mar, dari Ibnu Mas’ud, dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

Riwayat Ibnu Mas’ud.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ibnu AbuNajih, dari Mujahid, dari Abu Ma’mar, dari Ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa rembulan pernah terbelah menjadi dua di masa Rasulullah ﷺ hingga mereka menyaksikannya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Saksikanlah oleh kalian!

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim melalui hadis Sufyan ibnu Uyaynah dengan sanad yang sama. Keduanya telah mengetengahkan pula melalui hadis Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Abu Ma’mar alias Abdullah ibnu Sakhbarah, dari Ibnu Mas’ud dengan sanad yang sama.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ais ibnu Usman ibnu Ais Ar-Ramli, telah menceritakan kepada kami pamanku Yahya ibnu Ais, dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari seorang lelaki, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa dahulu kami bersama dengan Rasulullah ﷺ di Mina, lalu rembulan terbelah, yang salah satunya berada di balik bukit. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Saksikanlah, saksikanlah!

Imam Bukhari mengatakan bahwa Abud Duha telah meriwayatkan dari Masruq, dari Abdullah di Mekah; Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Al-Mugirah, dari Abud Duha, dari Masruq, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa rembulan pernah terbelah di masa Rasulullah ﷺ, maka orang-orang Quraisy berkata, “Ini adalah perbuatan sihir Ibnu Abu Kabsyah (yakni Nabi ﷺ).” Maka orang-orang mengatakan, “Sekarang tunggulah apa yang akan disampaikan oleh kaum musafir itu, karena sesungguhnya Muhammad tidak akan dapat menyihir semua orang.” Ketika kaum musafir itu datang kepada mereka, ternyata mereka menyaksikan hal yang sama.

Imam Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepada kami Abul Abbas alias Muhammad ibnu Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Al-Abbas ibnu Muhammad Ad-Dauri, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Hisyam, telah menceritakan kepada kami Mugirah, dari Abud Duha, dari Masruq, dari Abdullah yang mengatakan bahwa rembulan terbelah di Mekah hingga menjadi dua belahan. Lalu orang-orang kafir Quraisy penduduk Mekah berkata, “Ini adalah perbuatan sihir yang dilancarkan terhadap kalian oleh Ibnu Abu Kabsyah. Sekarang tunggulah para musafir itu; jika ternyata mereka menyaksikan hal yang sama dengan kalian, berarti dia (Nabi ﷺ) benar. Dan jika mereka tidak menyaksikan seperti apa yang kalian saksikan, berarti itu adalah sihir yang dilancarkan olehnya terhadap kalian.” Kemudian ketika kaum musafir itu tiba dari berbagai arah, mereka ditanya, dan ternyata mereka pun telah melihat hal yang sama.

Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui hadis Al-Mugirah dengan sanad yang sama, tetapi ditambahkan bahwa lalu Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. (Al-Qamar: 1)

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyyah, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Muhammad ibnu Sirin; ia pernah mendapat berita bahwa Ibnu Mas’ud r.a. telah mengatakan bahwa sesungguhnya rembulan pernah terbelah.

Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Imarah, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Hammad, telah menceritakan kepada kami Asbat, dari Sammak, dari Ibrahim, dari Al-Aswad, dari Abdullah yang telah menceritakan bahwa sesungguhnya ia menyaksikan bukit pada saat rembulan terbelah dari celah belahannya.

Imam Ahmad meriwayatkannya dari Mu’ammal, dari Israil, dari Sammak, dari Ibrahim, dari Al-Aswad, dari Abdullah yang mengatakan bahwa rembulan pernah terbelah di masa Rasulullah ﷺ hingga ia melihat bukit di antara belahan rembulan itu. Lais telah meriwayatkan dari Mujahid, bahwa rembulan pernah terbelah menjadi dua bagian di masa Rasulullah ﷺ. Maka Nabi ﷺ bersabda kepada Abu Bakar: Saksikanlah, hai Abu Bakar! Maka orang-orang musyrik berkata, “Rembulan telah disihir sehingga terbelah.”

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 26 «««   ««« juz 27 «««   ««« juz 28 «««««