Pendustaan Terhadap Mukjizat Terbelahnya Bulan

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Qamar ayat 2-3

0
20

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Qamar ayat 2-3, Mukjizat terbelahnya bulan, pendustaan terhadap mukjizat tersebut. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ (٢) وَكَذَّبُوا وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ وَكُلُّ أَمْرٍ مُسْتَقِرٌّ (٣)

Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, “(Ini adalah) sihir yang terus menerus. ” Dan mereka mendutakan (Nabi Muhammad ) dan mengikuti keinginannya, padahal setiap urusan telah ada ketetapannya. (Q.S. Al-Qamar : 2-3)

 .

Tafsir Ibnu Abbas

Wa iy yarau āyatan (dan jika mereka melihat suatu mukjizat), seperti terbelahnya bulan.

Yu‘ridlū (mereka berpaling), yakni mereka mendustakan mukjizat tersebut.

Wa yaqūlū (dan berkata), “Mukjizat tersebut adalah … .

Sihrum mustamirr (sihir yang berkesinambungan”), yakni yang kuat, hebat, dan dibuat-buat, tetapi akan sirna.

Wa kadz-dzabū (dan mereka telah mendustakan) mukjizat dan terjadinya kiamat.

Wattaba‘ū ahwā-ahum (dan memperturutkan hawa nafsu mereka) dengan mendustakan mukjizat dan terjadinya kiamat, serta dengan menyembah berhala.

Wa kullu amrim mustaqir (sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya), yakni setiap perkataan Allah Ta‘ala dan Rasul-Nya, baik berkenaan dengan janji dan ancaman, kabar gembira tentang surga dan neraka, maupun tentang rahmat dan azab, akan terbukti dan menjadi kenyataan. Di antaranya ada yang terjadi di dunia dan akan terlihat, serta ada pula yang terjadi di akhirat dan menjadi semakin jelas. Menurut satu pendapat, bagi tiap-tiap gerakan dan perkataan dalam ibadah memiliki hakikat, dan hakikat tersebut ada di dalam qalbu.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, “(Ini adalah) sihir yang terus menerus[4].

[4] Ucapan dusta mereka ini hanyalah laris di tengah-tengah orang yang kurang akal dan tersesat dari petunjuk, dan sesungguhnya hal ini bukanlah pengingkaran terhadap ayat (mukjizat) itu saja, bahkan setiap ayat yang datang kepada mereka, mereka telah mempersiapkan diri untuk menghadapinya dengan kebatilan dan penolakan terhadapnya. Oleh karena itulah Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman di ayat selanjutnya, “Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, “(Ini adalah) sihir yang terus menerus.”Allah Subhaanahu wa Ta’aala tidak menyebutkan, “Wa iy yarauhaa” tetapi menyebutkan, “Wa iy yarau aayat…dst.” Yang menunjukkan bahwa setiap ayat yang datang kepada mereka, maka mereka berpaling darinya, dan hal ini menunjukkan bahwa tidak ada maksud mereka untuk mencari yang hak dan mencari petunjuk, akan tetapi maksud mereka adalah mengikuti hawa nafsunya sebagaimana firman-Nya di ayat selanjutnya, “Dan mereka mendutakan (Nabi Muhammad ﷺ) dan mengikuti keinginannya,”

  1. Dan mereka mendutakan (Nabi Muhammad ) dan mengikuti keinginannya[5], padahal setiap urusan telah ada ketetapannya[6].

[5] Hal ini seperti dalam firman Allah Ta’ala di surah Al Qashas ayat 50, “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Terj. Al Qashash: 50)

Kalau seandainya maksud mereka adalah mengikuti petunjuk, tentu mereka akan beriman dan mengikuti Nabi Muhammad ﷺ, karena Allah telah memperlihatkan kepada mereka melalui tangan Beliau petunjuk, bukti dan keterangan yang nyata yang menunjukkan kepada semua tuntutan ilahi dan maksud syariat.

[6] Maksudnya bahwa segala urusan itu pasti berjalan sampai waktu yang telah ditetapkan terjadinya, seperti urusan Rasulullah ﷺ dalam meninggikan kalimat Allah pasti sampai pada akhirnya, yaitu kemenangan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, sedangkan urusan orang yang mendustakannya pasti sampai pula pada akhirnya, yaitu kekalahan di dunia dan siksaan di akhirat.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan jika mereka melihat) yaitu orang-orang kafir Quraisy (sesuatu tanda) suatu mukjizat yang timbul dari Nabi ﷺ (mereka berpaling dan berkata,) “Ini adalah (sihir yang kuat) sihir yang paling kuat”, berasal dari kata Al Mirrah; artinya kuat atau terus menerus.
  2. (Dan mereka mendustakan) Nabi ﷺ (dan mengikuti hawa nafsu mereka) dalam perkara yang batil (sedangkan tiap-tiap urusan) atau perkara yang baik dan perkara yang buruk (telah ada ketetapannya) bagi pemiliknya masing-masing, yaitu adakalanya masuk ke surga atau ke neraka.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Dan jika mereka (orang-orang musyrik) melihat suatu tanda. (Al-Qamar: 2)

Yakni dalil, keterangan, dan bukti.

mereka berpaling. (Al-Qamar: 2)

Yaitu tidak mau tunduk kepadanya, bahkan berpaling darinya dan membuangnya jauh-jauh ke belakang mereka.

dan berkata.”(Ini adalah) sihir yang terus-menerus.” (Al-Qamar: 2)

Mereka mengatakan, “Bukti-bukti yang kita lihat ini adalah sihir yang dia lancarkan terhadap kami.” Makna mustamir artinya yang segera akan lenyap. Demikianlah menurut Mujahid dan Qatadah serta selain keduanya. Makna yang dimaksud ialah batil lagi akan menyurut, tidak kekal.

Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka. (Al-Qamar: 3)

Mereka mendustakan kebenaran bila kebenaran itu datang kepada mereka, dan mereka hanya mengikuti pendapat dan hawa nafsu mereka sendiri sebagai akibat dari kebodohan dan piciknya akal mereka.

Firman Allah Swt.:

sedangkan tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya. (Al-Qamar: 3)

Qatadah mengatakan, makna yang dimaksud ialah bahwa kebaikan itu hanya dilakukan oleh ahli kebaikan, dan keburukan itu hanya dilakukan oleh ahli keburukan. Ibnu Juraij mengatakan bahwa tiap-tiap urusan itu telah ditetapkan atas ahlinya masing-masing.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: sedangkan tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya. (Al-Qamar: 3) Yakni kelak di hari kiamat.

As-Saddi mengatakan bahwa makna yang dimaksud dengan mustaqar ialah pasti terjadi.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 26 «««   ««« juz 27 «««   ««« juz 28 «««««