Mereka Dibinasakan Manakala Mendustakan

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Qamar ayat 4-8

0
21

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Qamar ayat 4-8, informasi tentang umat-umat yang telah silam, bagaimana mereka dibinasakan manakala mendustakan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنَ الأنْبَاءِ مَا فِيهِ مُزْدَجَرٌ (٤) حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ (٥) فَتَوَلَّ عَنْهُمْ يَوْمَ يَدْعُو الدَّاعِ إِلَى شَيْءٍ نُكُرٍ (٦) خُشَّعًا أَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ الأجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ (٧) مُهْطِعِينَ إِلَى الدَّاعِ يَقُولُ الْكَافِرُونَ هَذَا يَوْمٌ عَسِرٌ (٨)

Dan sungguh, telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat ancaman (terhadap kekafiran). (itulah) suatu hikmah yang sempurna, tetapi peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka). maka berpalinglah engkau (Muhammad) dari mereka. (Ingatlah) hari (ketika) seorang penyeru (malaikat) mengajak (mereka) kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan), pandangan mereka tertunduk, ketika mereka keluar dari kuburan, seakan-akan mereka belalang yang beterbangan. dengan patuh mereka segera datang kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata, “Ini adalah hari yang sulit.” (Q.S. Al-Qamar : 4-8)

 .

Tafsir Ibnu Abbas

Wa laqad jā-ahum (dan sesungguhnya telah datang kepada mereka), yakni kepada penduduk Mekah di dalam Al-Qur’an.

Minal ambā-i (beberapa berita), yakni beberapa informasi tentang umat-umat yang telah silam, bagaimana mereka dibinasakan manakala mendustakan.

Mā fīhi muzdajar (yang di dalamnya terdapat cegahan), yakni larangan dan cegahan.

Hikmatun (suatu hikmat), yakni Al-Qur’an adalah suatu hikmah.

Bālighatun (yang sempurna), yakni hikmah dari Allah Ta‘ala yang aku sampaikan dari Allah Ta‘ala.

Fa mā tughnin nudzur (tetapi peringatan-peringatan itu tidak akan berguna), yakni para rasul tidak akan berguna bagi orang-orang yang menurut Ilmu Allah, tidak akan beriman kepada Allah Ta‘ala. Karena itu, berpalinglah kamu dari mereka. Pada hari ketika seorang penyeru (malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak dikenal.

Fa tawalla ‘anhum (karena itu, berpalinglah kamu dari mereka), yakni berpalinglah kamu, hai Muhammad, dari mereka. Kemudian Allah Ta‘ala memerintahkan beliau untuk berperang.

Yauma yad‘ud dā‘i (pada hari ketika seorang penyeru [malaikat] berseru), yakni pada hari kiamat.

Ilā syai-in nukur (kepada sesuatu yang tidak dikenal), yakni sesuatu yang tidak dikenal, hebat, dan dahsyat; penghuni surga ke dalam surga dan penghuni neraka ke dalam neraka.

Khusya‘an (menundukkan), yakni terhina.

Abshāruhum yakhrujūna minal ajdātsi (pandangan-pandangan, mereka keluar dari kubur), yakni pada tiupan yang lain.

Ka-annahum jarādum muηtasyir (seakan-akan belalang yang bertebaran), yakni sebagian mereka mengelilingi sebagian yang lain bagaikan belalang.

Muhthi‘īna (mereka tergopoh-gopoh), yakni mereka bergegas-gegas, menuju, dan melihat. Ilad dā‘i (datang kepada penyeru itu), apa gerangan yang dia perintahkan kepada mereka.

Yaqūlul kāfirūna (berkatalah orang-orang kafir) pada hari kiamat.

Hādzā yaumun ‘asir (“Ini adalah hari yang sulit”), yakni hari yang berat. Betapa beratnya hari itu bagi mereka.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [7]Dan sungguh, telah datang kepada mereka beberapa kisah[8] yang di dalamnya terdapat ancaman (terhadap kekafiran)[9],

[7] Allah Subhaanahu wa Ta’aala juga berfirman menerangkan bahwa mereka tidak memiliki maksud yang baik dan keinginan mengikuti petunjuk.

[8] Yaitu kisah dibinasakannya umat-umat yang mendustakan rasul mereka.

[9] Sehingga mereka tidak berbuat kafir lagi.

  1. (itulah) suatu hikmah yang sempurna[10], tetapi peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka)[11],

[10] Agar hujjah menjadi tegak terhadap orang-orang yang meyelisihi, dan tidak ada seorang pun yang dapat beralasan lagi di hadapan Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

[11] Ayat ini seperti firman Allah Ta’ala di surah Yunus: 97: “Meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.”

  1. [12]maka berpalinglah engkau (Muhammad) dari mereka[13]. (Ingatlah) hari (ketika) seorang penyeru (malaikat)[14] mengajak (mereka) kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan),

[12] Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman kepada Rasul-Nya ﷺ bahwa orang-orang yang mendustakan itu sudah tidak bisa lagi diharapkan keimanannya, maka tinggallah sikap yang terakhir, yaitu berpaling dari mereka.

[13] Dan tunggulah untuk mereka hari yang besar, yaitu hari dimana malaikat Israfil mengajak kepada sesuatu yang tidak menyenangkan, dimana tidak ada suatu pemandangan yang lebih buruk dan menyakitkan daripadanya. Ketika itu, malaikat Israfil meniup sangkakala yang kedua kalinya, maka manusia yang telah mati keluar dari kuburnya untuk menghadapi persidangan pada hari Kiamat.

[14] Yaitu malaikat Israfil.

  1. pandangan mereka tertunduk[15], ketika mereka keluar dari kuburan, seakan-akan mereka[16] belalang yang beterbangan[17],

[15] Karena peristiwa yang dahsyat dan mengerikan yang masuk sampai ke hati, sehingga diri mereka menjadi tunduk, demikian pula pandangan mata mereka.

[16] Karena banyaknya jumlah mereka dan ramainya.

[17] Mereka tidak mengetahui ke mana mereka pergi karena takut dan bingung.

  1. dengan patuh mereka segera datang kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata, “Ini adalah hari yang sulit[18].

[18] Bagi orang-orang kafir. Mafhum ayat ini adalah, bahwa hari itu ringan dan mudah bagi orang-orang mukmin.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah) berita-berita tentang dibinasakan-Nya umat-umat yang telah mendustakan rasul-rasul mereka (yang di dalamnya terdapat cegahan) bagi mereka untuk melakukan hal yang serupa.

Lafal Muzdajar adalah Mashdar atau Isim yang menunjukkan arti tempat, sedangkan huruf Dal-nya merupakan pergantian dari Ta Wazan Ifta’ala. Bila dikatakan Izdajartuhu atau Zajartuhu maka artinya, aku mencegahnya dengan keras. Huruf Maa adalah Maushulah atau Maa Maushufah.

  1. (Itulah suatu hikmah) merupakan Khabar dari Mubtada yang tidak disebutkan, atau menjadi Badal dari lafal Maa, atau dari lafal Muzdajir (yang sempurna) maksudnya, hikmah yang lengkap (tetapi tiada berguna) tidak ada gunanya bagi mereka (peringatan-peringatan itu) lafal An Nudzur adalah bentuk jamak dari lafal Nadziirun yang bermakna Mundzirun, yakni hal-hal yang dijadikan peringatan buat mereka. Lafal Maa boleh dikatakan sebagai huruf Nafi atau Istifham Inkari; jika dianggap sebagai Istifham Inkari berarti kedudukannya sebagai Maf’ul Muqaddam.
  2. (Maka berpalinglah kamu dari mereka) menjadi pelengkap atau kesimpulan dari pembahasan sebelumnya (pada hari ketika penyeru memanggil) yaitu malaikat Israfil. Yang menashabkan lafal Yauma adalah lafal Yakhrujuuna yang disebutkan dalam ayat berikutnya, artinya, sesudah mereka keluar dari kuburnya masing-masing yaitu, ketika sang penyeru memanggil mereka (kepada sesuatu yang tidak menyenangkan) dapat dibaca Nukur atau Nukr, artinya, hal yang paling tidak disukai oleh jiwa manusia yaitu, hari penghisaban amal perbuatan.
  3. (Sambil menundukkan) keadaan mereka pada saat itu hina Menurut suatu qiraat dibaca Khaasyi’an (pandangan-pandangan mereka) lafal Khusysya’an menjadi Hal atau kata keterangan keadaan dari Fa’il (mereka keluar) yakni manusia semuanya (dari kuburan) dari tempat-tempat mereka dikuburkan (seakan-akan mereka belalang yang beterbangan) mereka tidak mengetahui hendak ke manakah tujuan mereka, karena tercekam oleh rasa takut dan bimbang yang amat sangat. Jumlah kalimat Ka annahum dan seterusnya menjadi Hal dari Fa’il yang terkandung di dalam lafal Yakhrujuna, demikian pula firman selanjutnya, yaitu,
  4. (Mereka datang dengan cepat) seraya menjulurkan leher-leher mereka (kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata) orang-orang kafir di antara mereka mengatakan, (“Ini adalah hari yang berat”) atau sulit bagi orang-orang kafir, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam surah Al Muddatstsir melalui firman-Nya, “Hari yang sulit bagi orang-orang kafir.” (Q.S. Al-Muddatstsir 9-10)

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah. (Al-Qamar: 4)

Yaitu berita-berita dan kisah-kisah tentang umat-umat yang mendustakan rasul-rasul-Nya dan pembalasan, siksa dan azab yang menimpa mereka, yang semuanya itu telah terdapat di dalam Al-Qur’an yang dibacakan kepada mereka.

yang di dalamnya terdapat cegahan (dari kekafiran). (Al-Qamar: 4)

Maksudnya, pelajaran yang mencegah mereka dari kemusyrikan dan terus-menerus mendustakan rasul-rasul-Nya.

Firman Allah Swt.:

itulah suatu hikmah yang sempurna. (Al-Qamar: 5)

Yakni untuk menyatakan mengapa Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia beri petunjuk, dan mengapa Dia menyesatkan orang yang Dia sesatkan.

maka peringatan-peringatan itu tiada berguna (bagi mereka). (Al-Qamar: 5)

Artinya, tiada gunanya lagi peringatan-peringatan itu bagi orang yang telah ditakdirkan celaka oleh Allah dan hatinya telah dikunci mati, lalu siapakah lagi yang dapat memberinya petunjuk selain dari Allah? Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

قُلْ فَلِلَّهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ فَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ

Katakanlah, “Allah mempunyai hujah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya.”(Al-An’am: 149)

Juga seperti firman Allah Swt.:

وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ

Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman. (Yunus: 101)

Allah Swt. memerintahkan kepada Nabi-Nya agar berpaling dari orang-orang yang apabila melihat suatu bukti, mereka berpaling dan mengatakan bahwa bukti kerasulannya itu adalah sihir yang terus-menerus. Yakni berpalinglah kamu dari mereka dan tunggulah saat kebinasaan mereka.

(Ingatlah) hari (ketika) seorang penyeru (malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan. (Al-Qamar: 6)

Sesuatu yang tidak menyenangkan, yaitu hari mereka diberhentikan di tempat penghisaban dan semua cobaan yang ada padanya, bahkan keguncangan dan kengerian yang ada padanya.

sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka. (Al-Qamar: 7)

Yakni pandangan mereka tertunduk hina.

mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan. (Al-Qamar: 7)

Yang dimaksud dengan al-ajdas ialah kuburan. Yakni seakan-akan keadaan mereka yang menyebar dan berjalan dengan cepat menuju ke tempat pemberhentian hisab karena memenuhi seruan yang menyeru kepada mereka adalah seperti belalang yang menyebar beterbangan di udara. Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:

mereka datang dengan cepat kepada penyeru itu. (Al-Qamar: 8)

Yaitu dengan cepat, tanpa ada yang menentang dan tidak pula terlambat.

Orang-orang kafir berkata, “Ini adalah hari yang berat.” (Al-Qamar: 8)

Maksudnya, hari yang sangat mengerikan, menegangkan, lagi sangat berat.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 26 «««   ««« juz 27 «««   ««« juz 28 «««««