Bencana Dahsyat Bagi Kebinasaan Kaum Nuh

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Qamar ayat 9-14

0
19

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Qamar, ayat 9-14, Kebinasaan kaum Nuh yang mendustakan Rasul. Allah bukakan pintu-pintu langit dengan menurunkan air yang tercurah. Kemudian bumi menyemburkan mata-mata air sehingga meluap menimbulkan bencana yang telah ditetapkan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ (٩) فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ (١٠) فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ (١١) وَفَجَّرْنَا الأرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ (١٢) وَحَمَلْنَاهُ عَلَى ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ (١٣) تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا جَزَاءً لِمَنْ كَانَ كُفِرَ (١٤)

Sebelum mereka, kaum Nuh juga telah mendustakan (Rasul), maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, “Dia orang gila! Lalu diusirnya dengan ancaman. Maka dia (Nuh) mengadu kepada Tuhannya, “Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah (aku).” Lalu Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi menyemburkan mata-mata air, maka bertemulah (air-air) itu sehingga (meluap menimbulkan) keadaan (bencana) yang telah ditetapkan. Dan Kami angkut dia (Nuh) ke atas (kapal) yang terbuat dari papan dan pasak, Yang berlayar dengan pemeliharaan (pengawasan) Kami  sebagai balasan bagi orang yang telah diingkari kaumnya. (Q.S. Al-Qamar : 9-14)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Kadz-dzabat qablahum (telah mendustakan pula sebelum mereka), yakni sebelum kaummu, hai Muhamamd ﷺ!

Qaumu nūhin (kaum Nuh), yakni kaum Nuh telah mendustakan Nuh a.s..

Fa kadz-dzabū ‘abdanā (maka mereka mendustakan hamba Kami), yakni Nabi Nuh a.s..

Wa qālū majnūnun (dan mengatakan, “Dia itu seorang gila) yang kerasukan.

Waz dujir (dan dia sudah diberi ancaman”), yakni mereka telah mengancamnya berkaitan dengan apa yang dia ucapkan serta meneriakinya. Mereka berkata, “Engkau adalah orang yang berhati sulit dan tak berakal.”

Fa da‘ā rabbahū annī maghlūbun (kemudian dia berdoa kepada Rabb-nya, “Sesunguhnya aku adalah orang yang dikalahkan), yakni orang yang dipaksa.

Faη tashir (karena itu tolonglah), yakni karena itu bantulah aku dengan azab.

Fa fatahnā abwābas samā-i (maka Kami membukakan pintu-pintu langit), yakni jalan-jalan langit selama empat puluh hari.

Bi mā-im munhamir (dengan [menurunkan] air yang tercurah), yakni hujan dari langit yang mengguyur bumi.

Wa fajjarnal ardla ‘uyūnan (dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air), yakni Kami rekahkan bumi seraya memancarkan air selama empat puluh hari.

Faltaqal mā-u (lalu bertemulah air itu), yakni air langit dan air bumi.

‘Alā amring qad qudir (untuk suatu urusan yang benar-benar telah ditetapkan), yakni dengan suatu ukuran yang telah Kami tetapkan. Ada yang berpendapat, untuk suatu ketentuan yang telah ditetapkan, yaitu kebinasaan kaum Nuh.

Wa hamalnāhu (dan Kami Mengangkutnya), yakni mengangkut Nuh a.s. dan orang-orang yang beriman kepadanya.

‘Alā dzāti alwāhin (ke atas [bahtera] yang terbuat dari papan-papan), yakni kayu-kayu palang.

Wa dusur (dan paku-paku), yakni paku-paku dan tali-tali. Segala sesuatu yang digunakan untuk memperkokoh perahu disebut dusur (paku).

Tajrī (yang berlayar), yakni bahtera itu berlayar.

Bi a‘yuninā (dengan pandangan Kami), yakni dengan pengawasan Kami.

Jazā-al li mang kāna kufir (sebagai balasan bagi orang yang telah diingkari), yakni sebagai imbalan bagi Nuh a.s. yang telah diingkari oleh kaumnya.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [19]Sebelum mereka, kaum Nuh juga telah mendustakan (Rasul), maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, “Dia orang gila![20] Lalu diusirnya dengan ancaman[21].

[19] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan keadaan orang-orang yang mendustakan Rasul-Nya, dan bahwa semua ayat tidaklah bermanfaat bagi mereka, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala memperingatkan mereka dengan azab yang menimpa umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul, bagaimana Allah Subhaanahu wa Ta’aala membinasakan mereka. Allah Subhaanahu wa Ta’aala sebutkan kaum Nuh, dimana Dia mengutus kepada mereka Nuh seorang rasul pertama yang diutus kepada orang-orang yang menyembah patung, dia mengajak mereka mentauhidkan Allah dan beribadah kepada-Nya saja, namun mereka engggan meninggalkan syirk dan berkata kepada sesama mereka, “Janganlah kamu meninggalkan sembahan kamu dan jangan pula meninggalkan Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uuq dan Nasr.” Semua itu adalah nama patung yang mereka sembah. Nabi Nuh ‘alaihis salam tetap berdakwah mengajak mereka kepada Allah di malam dan siang, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, namun dakwah Beliau tidak menambah mereka selain tetap sikap membangkang, melampaui batas dan mencela Nabi mereka.

[20] Mereka menganggap bahwa apa yang dipegang oleh mereka dan nenek moyang mereka selama ini berupa syirk dan kesesatan adalah sesuatu yang didukung oleh akal, dan bahwa apa yang dibawa Nabi Nuh ‘alaihis salam adalah kejahilan dan kesesatan; yang tidak muncul kecuali dari orang-orang gila. Mereka telah berdusta dalam hal itu dan memutarbalikkan hakikat yang telah tetap berdasarkan syara’ maupun akal, yaitu bahwa apa yang dibawa Nabi Nuh ‘alaihis salam adalah kebenaran yang membimbing akal kepada petunjuk, cahaya dan jalan yang lurus, sedangkan yang mereka pegang selama ini adalah kebodohan dan kesesatan yang nyata.

[21] Kaumnya menyanggahnya dan bersikap keras terhadapnya saat Beliau mengajak mereka kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Mereka tidak hanya menolak beriman dan mendustakannya, bahkan sampai menimpakan kepada Beliau gangguan yang mereka sanggup lakukan. Demikianlah keadaan musuh-musuh para rasul. Saat itulah Nabi Nuh ‘aaihis salam berdoa, “Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah (aku).”

  1. Maka dia (Nuh) mengadu kepada Tuhannya, “Sesungguhnya aku telah dikalahkan[22], maka tolonglah (aku)[23].

[22] Yakni tidak ada kemampuan pada Beliau untuk membela diri, karena tidak ada yang mengikuti Beliau kecuali sedikit sekali.

[23] Dalam ayat lain Nabi Nuh ‘alaihis salam berdoa, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.” (Terj. Nuh: 26) Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengabulkan doanya dan menolongnya terhadap kaumnya.

  1. Lalu Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah.
  2. Dan Kami jadikan bumi menyemburkan mata-mata air[24], maka bertemulah (air-air) itu[25] sehingga (meluap menimbulkan) keadaan (bencana) yang telah ditetapkan.

[24] Langit menurunkan air yang di luar kebiasaan dan bumi pun menyemburkan air sampai bagian dapur yang biasanya tidak ada air karena menjadi tempat api malah memancarkan air.

[25] Baik air dari langit maupun air dari bumi.

  1. Dan Kami angkut dia (Nuh) ke atas (kapal) yang terbuat dari papan dan pasak,
  2. Yang berlayar dengan pemeliharaan (pengawasan) Kami[26] sebagai balasan bagi orang yang telah diingkari kaumnya[27].

[26] Yakni berlayar membawa Nabi Nuh ‘alaihis salam dan orang-orang yang beriman bersamanya serta membawa hewan yang berpasang-pasangan dengan pengawasan dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan penjagaan-Nya, dan Dia sebaik-baik Pemelihara dan Penjaga.

[27] Yaitu Nuh ‘alaihis salam. Yakni Allah Subhaanahu wa Ta’aala melakukan hal itu; menyelamatkan dia (Nabi Nuh) dari banjir yang merata adalah sebagai balasan untuknya karena dia telah didustakan kaumnya, namun ia tetap bersabar dengannya dan tetap berada di atas perintah Alah Subhaanahu wa Ta’aala meskipun orang-orang menghalangi dan mencegahnya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sebelum mereka telah mendustakan pula) yakni sebelum orang-orang Quraisy (kaum Nuh) dita`nits kannya lafal Kadzdzabat karena memandang segi makna yang terkandung dalam lafal Qaumun (maka mereka mendustakan hamba Kami) yakni Nabi Nuh (dan mereka mengatakan, “Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman”) pernah diperingatkan oleh mereka dengan caci-maki dan lain sebagainya.
  2. (Maka dia mengadu kepada Rabbnya, “Bahwasanya aku ini) dibaca Annii artinya, bahwa aku ini (adalah orang yang dikalahkan, oleh karena itu menangkanlah aku”)
  3. (Maka Kami bukakan) dapat dibaca Fafatahnaa atau Fafattahnaa (pintu-pintu langit dengan menurunkan air yang tercurah) air yang ditumpahkan dari langit dengan sangat derasnya.
  4. (Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air) yang menyumber dengan derasnya (maka bertemulah air-air itu) yaitu air yang ditumpahkan dari langit dan air yang disemburkan dari bumi (untuk suatu urusan) berkedudukan menjadi Hal (yang sungguh telah ditetapkan) yang telah dipastikan di zaman Azali, yaitu bahwa mereka dibinasakan dengan ditenggelamkan.
  5. (Dan Kami angkut dia) yakni Nabi Nuh (ke atas) bahtera (yang terbuat dari papan dan paku) lafal Dusur artinya benda-benda yang dipakai untuk menyambung kayu-kayu, baik berupa paku atau benda-benda lainnya, bentuk tunggalnya adalah Disaarun yang wazannya sama dengan lafal Kitaabun
  6. (Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami) atau dalam pengawasan Kami (sebagai balasan) dinashabkan oleh Fi’il yang diperkirakan keberadaannya, yakni mereka ditenggelamkan sebagai pertanda kemenangan (bagi orang yang diingkari) yaitu bagi Nabi Nuh a.s. Dan menurut suatu qiraat lafal Kufira dibaca Kafar, artinya, mereka ditenggelamkan sebagai hukuman bagi mereka yang kafir.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

telah mendustakan. (Al-Qamar: 9)

sebelum kaummu, hai Muhammad.

kaum Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh). (Al-Qamar: 9)

Yakni mereka dengan terang-terangan mendustakan Nuh dan menuduhnya sebagai orang yang gila.

dan mengatakan, “Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman.” (Al-Qamar: 9)

Mujahid mengatakan bahwa makna uzdujir ialah hilang akal sehatnya karena gila. Menurut pendapat yang lain, mereka menghardiknya, mencegahnya, serta mengancamnya, bahwa sekiranya engkau hai Nuh tidak menghentikan seruanmu itu, niscaya engkau benar-benar akan termasuk orang-orang yang dirajam oleh kami.

Demikianlah menurut Ibnu Zaid, dan pendapatnya ini cukup beralasan dan cukup baik.

Maka dia mengadu kepada Tuhannya, ‘Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan. Oleh sebab itu, tolonglah (aku).” (Al-Qamar: 10)

Yakni sesungguhnya aku adalah orang yang lemah, tidak mampu menghadapi dan melawan mereka, maka tolonglah oleh-Mu agama-Mu ini. Maka Allah Swt. berfirman:

Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. (Al-Qamar: 11)

As-Saddi mengatakan bahwa makna munhamir ialah air yang banyak sekali.

Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air. (Al-Qamar: 12)

Artinya, Kami memancarkan air dari seluruh muka bumi; hingga tempat-tempat pembakaran roti pun Kami pancarkan air darinya, padahal sumber api dari situ. Maka dengan kekuasaan Kami, Kami pancarkan mata.air-mata air darinya pula.

maka bertemulah air-air itu. (Al-Qamar: 12)

Yakni air dari langit dan air dari bumi itu bertemu.

untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. (Al-Qamar: 12)

Yaitu suatu urusan yang telah ditetapkan oleh takdir.

Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. (Al-Qamar: 11) Yakni yang banyak sekali, yang sebelum itu langit tidak pernah menurunkan airnya dan tidak pula sesudahnya melainkan hanya dari awan. Semua pintu langit dibuka dengan menurunkan air tanpa melalui awan yang ada di hari itu. Maka bertemulah kedua air tersebut untuk suatu urusan yang telah ditetapkan.

Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa Ibnul Kawa pernah bertanya kepada Ali tentang al-majrah, yakni gugusan bintang-bintang di langit. Maka Ali menjawab bahwa itu adalah talang-talang langit yang darinya semua pintu langit dibuka untuk menurunkan air yang tercurah.

Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku. (Al-Qamar: 13)

Ibnu Abbas, Sa’id ibnu Jubair, Al-Qurazi, Qatadah, dan Ibnu Zaid mengatakan bahwa makna dusur adalah paku-paku. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir, bahwa bentuk tunggalnya ialah disar dan juga dasir, sama seperti lafaz habikun dan hibakun bentuk jamaknya ialah hubukin.

Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dusur ialah lambung-lambung kapal.

Ikrimah dan Al-Hasan mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah bagian depan (haluan) kapal yang membelah ombak.

Ad-Dahhak mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah kedua sisinya dan bagian pokoknya.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah bagian depan kapal.

Firman Allah Swt.:

Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami. (Al-Qamar: 14)

Yakni dengan perintah Kami dan penglihatan Kami, serta berada dalam pemeliharaan dan penjagaan Kami.

sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh). (Al-Qamar: 14)

Yaitu sebagai balasan bagi mereka karena mereka telah kafir kepada Allah, dan sebagai pertolongan kepada Nuh a.s. yang didustai mereka.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 26 «««   ««« juz 27 «««   ««« juz 28 «««««