Kapal Itu Telah Allah Jadikan Sebagai Pelajaran

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Qamar ayat 15-16

0
18

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Qamar  ayat 15-16, Kebinasaan kaum Nuh yang mendustakan Rasul. Dan sungguh, kapal itu telah Allah jadikan sebagai pelajaran. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَلَقَدْ تَرَكْنَاهَا آيَةً فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ (١٥) فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ (١٦)

Dan sungguh, kapal itu telah Kami jadikan sebagai tanda (pelajaran). Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? Maka betapa dahsyatnya azab-Ku dan peringatan-Ku! (Q.S. Al-Qamar : 15-16)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa laqad taraknāhā āyatan (dan sungguh telah Kami Biarkan bahtera itu sebagai ayat), yakni sebagai bukti bagi manusia, yaitu bahtera Nuh a.s. sepeninggalnya. Menurut yang lain, gambaran tentang bahtera Nabi Nuh a.s..

Fa hal mim muddakir (maka adakah orang yang mau ingat), yakni adakah orang yang mau mengambil pelajaran dengan tindakan yang Dia Timpakan terhadap kaum Nuh, sehingga mau meninggalkan kemaksiatan.

Fa kaifa kāna ‘adzābī wa nudzur (maka bagaimana [dahsyatnya] Azab-ku dan Ancaman-ancaman-Ku), yakni maka perhatikanlah, hai Muhammad, bagaimana dahsyatnya Azab-Ku terhadap mereka, dan bagaimana Ancaman-Ku terhadap mereka yang telah diberi peringatan oleh Nuh tapi tetap tidak mau beriman.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Dan sungguh, kapal itu telah Kami jadikan sebagai tanda (pelajaran)[28]. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?

[28] Yakni Kami tinggalkan pada kisah Nuh bersama kaumnya ayat bagi orang-orang yang mengambil pelajaran, bahwa orang-orang yang mendurhakai Rasul dan membangkang terhadapnya, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala akan membinasakan mereka dengan azab yang merata lagi keras. Atau dhamir (kata ganti nama) dari kata “Haa” kembalinya kepada kapal yang dibuat Nabi Nuh ‘alaihis salam, dan bahwa asal pembuatannya adalah pengajaran dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala kepada hamba-Nya Nuh ‘alaihis salam untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya dan perhatian-Nya, sempurnanya kekuasaan-Nya dan indah-Nya ciptaan-Nya.

  1. Maka betapa dahsyatnya azab-Ku dan peringatan-Ku![29]

[29] Yakni betapa kamu lihat azab Allah begitu dahsyat dan bagaimana peringatan-Nya tidak menyisakan sedikit pun hujjah/alasan bagi seorang pun.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan sesungguhnya telah Kami tinggalkan) telah Kami biarkan perbuatan Kami itu (sebagai tanda) bagi orang yang mau mengambilnya sebagai pelajaran buat dirinya. Makna yang dimaksud ialah, berita mengenai banjir besar ini telah tersiar dan tetap lestari ketenarannya (maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?) untuk menasihati dirinya. Asal lafal Muddakir adalah Mudztakir, lalu huruf Ta diganti menjadi Dal, demikian pula huruf Dzal diganti menjadi Dal, lalu keduanya diidgamkan menjadi satu sehingga jadilah Muddakir.
  2. (Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku) peringatan-Ku, Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna Taqrir. Lafal Kaifa adalah Khabar dari lafal Kaana, menunjukkan makna pertanyaan tentang keadaan. Pengertiannya ialah menganggap orang-orang yang diajak berbicara telah mengakui terjadinya. azab Allah swt. yang telah menimpa orang-orang yang mendustakan Nabi Nuh.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran. (Al-Qamar: 15)

Qatadah mengatakan bahwa Allah Swt. membiarkan utuh perahu Nabi Nuh a.s. hingga dapat dijumpai oleh generasi pertama dari umat ini. Tetapi makna lahiriahnya menunjukkan pengertian jenis perahu, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:

وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ. وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ

Dan suatu tanda (kekuasaan Allah) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera. (Yasin: 41-42)

Dan firman Allah Swt.:

إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ. لِنَجْعَلَهَا لَكُمْ تَذْكِرَةً وَتَعِيَهَا أُذُنٌ وَاعِيَةٌ

Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang kamu) ke dalam bahtera, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (Al-Haqqah: 11-12)

Karena itulah dalam surat ini disebutkan:

maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al-Qamar: 15)

Yakni adakah orang yang mau mengambilnya sebagai pelajaran dan peringatan baginya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abu Ishaq, dari Al-Aswad, dari Ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah membacakan kepadanya firman Allah Swt.: maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al-Qamar: 15)

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari, disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Israil, dari Abu Ishaq, dari Al-Aswad ibnu Yazid, dari Abdullah yang mengatakan bahwa ia pernah membacakan kepada Rasulullah ﷺ firman berikut: maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al-Qamar: 15) Dan Nabi ﷺ membacanya dengan bacaan berikut: maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al-Qamar: 15)

Imam Bukhari telah meriwayatkan pula melalui hadis Syu’bah, dari Abu Ishaq, dari Al-Aswad, dari Abdullah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ membaca firman-Nya: maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al-Qamar: 15)

Telah menceritakan pula kepada kami Abu Na’im, telah menceritakan kepada kami Zuhair, dari Abu Ishaq, bahwa ia pernah mendengar seorang lelaki bertanya kepada Al-Aswad, “Apakah Muzzakkir ataukah muddakkir? Maka Al-Aswad menjawab bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Mas’ud membacanya dengan bacaan berikut: maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al-Qamar: 15)

Lalu Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ membacanya dengan bacaan berikut (yakni memakai huruf dal): maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al-Qamar: 15)

Imam Muslim telah mengetengahkan hadis ini juga ahlus sunan kecuali Ibnu Majah melalui hadis Abu Ishaq.

Firman Allah Swt.:

Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. (Al-Qamar: 16)

Yakni betapa hebatnya azab-Ku terhadap orang-orang yang ingkar kepada-Ku dan mendustakan rasul-rasul-Ku, dan tidak mau mengambil pelajaran dari apa yang disampaikan oleh juru peringatan-Ku. Dan bagaimana Aku membela para juru peringatan-Ku dan menimpakan pembalasan terhadap orang-orang yang mendustakan mereka.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 26 «««   ««« juz 27 «««   ««« juz 28 «««««