Suara Keras Mengguntur Bagi Kaum Tsamud

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Qamar ayat 23-32

0
15

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Qamar ayat 23-32, Kehancuran kaum Tsamud yang mendustakan peringatan. Allah kirimkan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti batang-batang kering yang lapuk. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِالنُّذُرِ (٢٣) فَقَالُوا أَبَشَرًا مِنَّا وَاحِدًا نَتَّبِعُهُ إِنَّا إِذًا لَفِي ضَلالٍ وَسُعُرٍ (٢٤) أَؤُلْقِيَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِنْ بَيْنِنَا بَلْ هُوَ كَذَّابٌ أَشِرٌ (٢٥) سَيَعْلَمُونَ غَدًا مَنِ الْكَذَّابُ الأشِرُ (٢٦) إِنَّا مُرْسِلُو النَّاقَةِ فِتْنَةً لَهُمْ فَارْتَقِبْهُمْ وَاصْطَبِرْ (٢٧) وَنَبِّئْهُمْ أَنَّ الْمَاءَ قِسْمَةٌ بَيْنَهُمْ كُلُّ شِرْبٍ مُحْتَضَرٌ (٢٨) فَنَادَوْا صَاحِبَهُمْ فَتَعَاطَى فَعَقَرَ (٢٩) فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ (٣٠) إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ صَيْحَةً وَاحِدَةً فَكَانُوا كَهَشِيمِ الْمُحْتَظِرِ (٣١) وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ (٣٢)

Kaum Tsamud pun telah mendustakan peringatan itu. Maka mereka berkata, “Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita?” Sungguh, kalau kita begitu kita benar-benar telah sesat dan gila.” Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Pastilah dia (Saleh) seorang yang sangat pendusta dan sombong.” Kelak mereka akan mengetahui siapa yang sebenarnya sangat pendusta dan sombong itu. Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka, maka tunggulah mereka dan bersabarlah (Saleh). Dan beritahukanlah kepada mereka bahwa air itu dibagi di antara mereka (dengan unta betina itu); setiap orang berhak mendapat giliran minum. Maka mereka memanggil kawannya, lalu dia menangkap (unta itu) dan membunuhnya. Maka betapa dahsyatnya azab-Ku dan peringatan-Ku! Kami kirimkan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti batang-batang kering yang lapuk. Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Q.S. Al-Qamar : 23-32)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Kadz-dzabat tsamūdu (kaum Tsamud telah mendustakan pula), yakni kaum Nabi Shalih telah mendustakan pula.

Bin nudzur (ancaman-ancaman itu), yakni ancaman-ancaman Nabi Shalih a.s. dan sejumlah rasul. Maka mereka berkata, “Apakah kita akan mengikuti saja seorang manusia di antara kita? Sesungguhnya kita, kalau demikian, benar-benar berada dalam kesesatan dan kegilaan.”

Fa qālū a basyaram minnā wāhidan nattabi‘uhu (maka mereka berkata, “Apakah kita akan mengikuti seorang manusia saja di antara kita), yakni apakah kita akan mengikuti agama dan perintah seorang manusia keturunan Adam seperti kita juga?

Innā idzan (sesungguhnya kita, kalau demikian), yakni kalau kita melakukan hal itu.

La fī dlalālin (benar-benar berada dalam kesesatan), yakni dalam kekeliruan yang nyata.

Wa su‘ur (dan kegilaan”), yakni kelelahan dan kepayahan.

A ulqiyadz dzikra (apakah peringatan itu diturunkan), yakni apakah kenabian itu dikhususkan.

‘Alaihi mim baininā (kepadanya di antara kita), padahal kita lebih terhormat daripada dia.

Bal huwa kadz-dzābun (sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta), yang membuat kebohongan terhadap Allah Ta‘ala.

Asyir (lagi sombong), yakni pongah dan congkak. Yang mereka maksud adalah Nabi Shalih a.s.. Kemudian Nabi Shalih a.s. berkata kepada mereka:

Sa ya‘lamūna ghadan (kelak mereka akan mengetahui), yakni pada hari kiamat.

Manil kadz-dzābul (siapakah sebenarnya yang amat pendusta) terhadap Allah Ta‘ala.

Asyir (lagi sombong), yakni lagi pongah dan congkak. Allah Ta‘ala berfirman kepada Nabi Shalih a.s.:

Innā mursilun nāqati (sesungguhnya Kami akan mengirim unta betina), yakni akan mengeluarkan unta betina dari sebuah batu besar.

Fitnatal lahum (sebagai cobaan bagi mereka), yakni sebagai ujian bagi kaummu.

Far taqibhum (karena itu tunggulah mereka), yakni maka nantikanlah keluarnya unta betina itu.

Wash-thabir (dan bersabarlah), yakni dan bersabarlah dalam menghadapi gangguan dan tindakan mereka yang membunuh unta betina itu.

Wa nabbi’hum (dan beritakanlah kepada mereka), yakni kabarkanlah kepada mereka.

Annal mā-a (bahwa air itu), yakni air sumur itu.

Qismatum bainahum (terbagi di antara mereka) dan unta betina itu: sehari untuk unta betina dan sehari untuk mereka.

Kullu syirbim mukhtadlar (tiap-tiap giliran minum dihadiri), yakni tiap-tiap giliran minum mesti benar-benar dihadiri oleh yang mendapat giliran. Shalih memberitahukan hal itu kepada mereka, dan mereka setuju dengan ketentuan itu. Mereka menjalankan ketentuan itu beberapa waktu, sampai akhirnya (setelah melakukan pelanggaran) mereka pun dilingkupi oleh kemalangan.

Fa nādau shāhibahum (kemudian mereka memanggil kawannya), yakni setelah Mashda‘ bin Dahr melempar unta betina itu dengan anak panah, Mashda‘ dan Qadar bin Salif memanggil (kawannya).

Fa ta‘āthā (lalu kawannya mengambil), yakni lalu Qadar mengambil anak panah yang lain.

Fa ‘aqara (serta membunuhnya), yakni membunuh unta betina itu dan membagi-bagikan dagingnya.

Fa kaifa kāna ‘adzābī wa nudzur (maka bagaimana [dahsyatnya] Azab-Ku dan Ancaman-ancaman-Ku), yakni maka perhatikanlah, hai Muhammad, bagaimana dahsyatnya Azab-Ku terhadap mereka, dan bagaimana bukti ancaman-Ku terhadap orang-orang yang telah diberi peringatan oleh Shalih tetapi tetap tidak mau beriman.

Innā arsalnā ‘alaihim shaihataw wāhidatan (sesungguhnya Kami telah mengirimkan kepada mereka satu pekikan yang mengguntur), yakni pekikan Jibril a.s. yang merupakan azab, selang tiga hari setelah pembunuhan unta betina itu.

Fa kānū ka hasyīmil muhtazhir (maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering [yang dikumpulkan oleh] si pemilik kandang hewan), yakni seperti sesuatu yang diinjak-injak kambing di dalam kandang.

Wa laqad yassarnal qur-āna (dan sesungguhnya telah Kami Mudahkan Al-Qur’an), yakni menjadikan Al-Qur’an mudah.

Lidz dzikri (untuk pelajaran), yakni untuk dijadikan nasihat, hapalan, dan bacaan.

Fa hal mim muddakir (maka adakah yang mau mengambil pelajaran), yakni adakah yang mau mengambil pelajaran atas tindakan yang Dia Timpakan terhadap kaum Shalih, sehingga ia mau meninggalkan kemaksiatan. Menurut yang lain, maka adakah yang mau menuntut ilmu? Lalu ia pun diberi bantuan.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Kaum Tsamud pun telah mendustakan peringatan itu[1].

[1] Kaum Tsamud adalah sebuah kabilah yang terkenal di daerah Hijr. Nabi yang Allah utus kepada mereka adalah Shalih ‘alaihis salam, dia mengajak mereka beribadah kepada Allah saja serta memperingatkan mereka dengan azab Allah jika mereka mendurhakai-Nya, namun mereka malah mendustakannya dan bersikap sombong terhadapnya sambil berkata, “”Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita?”

  1. Maka mereka berkata, “Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita?” [2] Sungguh, kalau kita begitu kita benar-benar telah sesat dan gila[3].

[2] Yakni bagaimana kita akan mengikuti manusia yang bukan raja kita, bukan selain kita yang dianggap besar oleh kita, dan lagi dia hanya seorang diri?

[3] Maksudnya, jika kita mengikutinya sedangkan dia seperti itu keadaannya, maka kita benar-benar telah sesat dan gila. Ucapan mereka ini tidak lain karena kebodohan mereka, mereka enggan dengan sombong untuk mengikuti Rasul mereka dari kalangan manusia, tetapi mereka tidak enggan menjadi penyembah makhluk yang lebih lemah dari mereka, yaitu pohon, batu dan rupaka.

  1. Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita?[4] Pastilah dia (Saleh) seorang yang sangat pendusta dan sombong.”

[4] Yakni apa kelebihan dia dari kita sehingga Allah menurunkan wahyu-Nya kepadanya? Ini merupakan sanggahan dan syubhat yang biasa digunakan oleh orang-orang yang mendustakan para rasul, dan Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah menjawabnya dengan ucapan para rasul terhadap kaum mereka: Rasul-rasul mereka berkata kepada kaum mereka, “Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” (lihat surah Ibrahim: 11)

Para rasul, Allah berikan sifat, akhlak dan kesempurnaan agar mereka dapat mengemban risalah Tuhan mereka dan diistimewakan-Nya dengan wahyu-Nya. Termasuk rahmat Allah dan kebijaksanaan-Nya adalah Dia mengangkat rasul dari kalangan manusia. Kalau sekiranya mereka dari kalangan malaikat, tentu manusia tidak dapat mengambil ilmu dari mereka, dan kalau sekiranya para rasul dari kalangan malaikat tentu Allah Subhaanahu wa Ta’aala akan menyegerakan azab bagi orang-orang yang mendustakan.

  1. [5]Kelak mereka akan mengetahui siapa yang sebenarnya sangat pendusta dan sombong itu[6].

[5] Allah Subhaanahu wa Ta’aala menjawab tuduhan mereka terhadap Nabi-Nya.

[6] Yakni Beliau ataukah mereka?

  1. Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka[7], maka tunggulah mereka[8] dan bersabarlah (Saleh)[9].

[7] Di samping sebagai mukjizat Nabi Shalih dan nikmat untuk mereka, dimana mereka dapat memerah susunya yang mencukupi mereka semua.

[8] Yakni tunggulah apa yang mereka lakukan, atau tunggulah apa yang menimpa mereka, atau tunggulah apakah mereka beriman atau kafir.

[9] Terhadap gangguan mereka dan tetap teruslah berdakwah.

  1. Dan beritahukanlah kepada mereka bahwa air itu dibagi di antara mereka (dengan unta betina itu)[10]; setiap orang berhak mendapat giliran minum.

[10] Sehari untuk mereka dan sehari lagi untuk unta betina. Lama-kelamaan mereka bosan dengannya lalu berniat membunuh unta betina itu.

  1. Maka mereka memanggil kawannya[11], lalu dia menangkap (unta itu) dan membunuhnya.

[11] Dia adalah orang yang paling celaka di antara mereka.

  1. Maka betapa dahsyatnya azab-Ku dan peringatan-Ku!
  2. Kami kirimkan atas mereka satu suara yang keras mengguntur[12], maka jadilah mereka seperti batang-batang kering yang lapuk.

[12] Dan gempa, sehingga membinasakan mereka sampai yang terakhir, dan Allah menyelamatkan Nabi Shalih ‘alaihis salam dan orang-orang yang beriman bersamanya.

  1. Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?

.

Tafsir Jalalain

  1. (Kaum Tsamud pun telah mendustakan ancaman-ancaman itu) lafal An Nudzur adalah bentuk jamak dari lafal Nadziirun yang bermakna Mundzirun, yaitu perkara-perkara yang dijadikan peringatan oleh nabi mereka (Nabi Saleh) jika mereka tidak mau beriman dan tidak mau mengikutinya.
  2. (Maka mereka berkata, “Apakah kepada manusia) lafal Basyaran dinashabkan karena Isytighal (yakni seseorang di antara kami) kedua lafal ini menjadi sifat bagi lafal Basyaran (kami harus mengikutinya) merupakan penafsir dari Fi’il yang menashabkan lafal Basyaran. Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna Nafi atau negatif. Maksudnya, bagaimana kami harus mengikutinya sedangkan kami adalah golongan mayoritas dan dia adalah seseorang di antara kami, lagi dia bukanlah seorang raja. Maksud mereka ialah bahwa mereka tidak mau mengikutinya. (Sesungguhnya kami kalau demikian) jika kami mengikutinya (benar-benar berada dalam kesesatan) atau menyimpang dari kebenaran (dan gila) atau tidak berakal waras.
  3. (Apakah diturunkan) boleh dibaca Tahqiq dan boleh pula dibaca Tas-hil (wahyu itu) peringatan itu (kepadanya di antara kita) maksudnya, tidak pantas wahyu diturunkan kepadanya. (Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta) di dalam pengakuannya itu yang menyatakan bahwa hal tersebut telah diwahyukan kepadanya (lagi sombong”) congkak dan takabur. Lalu Allah berfirman,
  4. (“Kelak mereka akan mengetahui) di akhirat nanti (siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong”) dia ataukah mereka? Kelak Allah pasti akan mengazab mereka yang telah mendustakan nabinya yakni, Nabi Saleh.
  5. (Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina) yaitu mengeluarkan unta dari batu besar yang terdapat di lembah tempat mereka sebagaimana yang mereka minta (sebagai cobaan) ujian (bagi mereka) Kami lakukan hal itu guna mencoba mereka (maka tunggulah mereka) hai Saleh apa yang akan mereka kerjakan dan apa yang akan ditimpakan kepada mereka (dan bersabarlah) atas perlakuan mereka yang menyakitkan itu terhadap dirimu. Lafal Ishthabir pada asalnya adalah Ishtabir, kemudian huruf Ta diganti menjadi huruf Tha sehingga jadilah Ishthabir, maknanya bersabarlah kamu.
  6. (Dan beritakanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi) dibagi-bagi (antara mereka) dengan unta betina itu; yakni sehari buat mereka dan hari yang lainnya buat unta betina, demikianlah seterusnya (tiap-tiap minum) bagian air (dihadiri) oleh yang punya giliran, yakni kaum Nabi Saleh dan unta betina. Akhirnya lama kelamaan mereka merasa bosan dengan adanya pembagian ini, lalu mereka bersepakat untuk membunuh unta betina itu.
  7. (Maka mereka memanggil kawannya) yaitu seorang yang gagah perkasa untuk membunuh unta betina itu (lalu kawannya itu menangkap) unta itu seraya menghunus pedangnya (dan menyembelihnya) menyembelih unta betina itu dengan pedangnya dan membunuhnya sesuai dengan apa yang diinginkan oleh mereka.
  8. (Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku) yakni peringatan-Ku terhadap mereka sebelum azab diturunkan kepada mereka. Lalu Allah menjelaskan hal ini melalui firman selanjutnya,
  9. (“Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti kayu-kayu kering yang dijadikan sebagai kandang kambing”) Al Muhtazhar artinya pohon dan duri-duri yang kering kemudian dijadikan sebagai kandang kambing untuk menjaga kambing-kambing dari sergapan binatang buas seperti serigala dan binatang pemangsa lainnya. Dan kayu-kayu atau duri-duri kering yang terjatuh dari kandang tersebut lalu diinjak-injak oleh kambing dinamakan Al Hasyiim.
  10. (Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?)

.

Tafsir Ibnu Katsir

Bagian ini menceritakan tentang kaum Tsamud, bahwa mereka mendustakan rasul-Nya, yaitu Nabi Saleh.

Maka mereka berkata, “Bagaimana kita akan mengikuti saja seorang manusia (biasa) di antara kita? Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila.” (Al-Qamar: 24)

Mereka mengatakan bahwa kita benar-benar akan kecewa dan merugi jika kita serahkan kepemimpinan kita kepada seseorang dari kita dalam hal ini. Kemudian mereka merasa heran terhadap wahyu yang hanya diturunkan kepada Saleh saja, sedangkan mereka tidak. Selanjutnya mereka menuduhnya sebagai seorang pendusta, seperti yang disitir oleh firman-Nya:

Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong. (Al-Qamar: 25)

Yakni orang yang telah melampaui batas dalam kedustaannya. Maka Allah Swt. menjawab mereka melalui firman-Nya:

Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong. (Al-Qamar: 26)

Ini mengandung ancaman yang keras dan pasti ditujukan kepada mereka. Kemudian Allah Swt. berfirman:

Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka. (Al-Qamar: 27)

Yaitu sebagai ujian bagi mereka. Allah Swt. telah mengeluarkan bagi mereka seekor unta betina yang besar berikut anak-anaknya dari sebuah batu yang amat besar, sesuai dengan apa yang diminta oleh mereka, agar hal itu dijadikan sebagai tanda yang membenarkan kerasulan Nabi Saleh a.s. dalam menyampaikan risalah-Nya kepada mereka. Kemudian Allah Swt. berfirman, memerintahkan kepada hamba-Nya Saleh:

maka tunggulah (tindakan) mereka dan bersabarlah. (Al-Qamar: 27)

Artinya, tunggulah apa yang akan dilakukan oleh mereka dan akibat dari apa yang dilakukan oleh mereka, karena sesungguhnya pada akhirnya kesudahan yang baik hanyalah bagimu dan juga pertolongan Allah bagimu di dunia dan akhirat.

Dan beritahukanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka. (Al-Qamar: 28)

Yakni sehari untuk minum mereka dan di hari yang lainnya untuk unta betina itu. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

قَالَ هَذِهِ نَاقَةٌ لَهَا شِرْبٌ وَلَكُمْ شِرْبُ يَوْمٍ مَعْلُومٍ

Saleh menjawab, ‘Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu.” (Asy-Syu’ara: 155)

Adapun firman Allah Swt.:

tiap-tiap giliran minum dihadiri (oleh yang punya giliran). (Al-Qamar: 28)

Menurut Qatadah, makna yang dimaksud ialah apabila unta itu pergi barulah mereka mendatangi sumber air itu; dan apabila unta itu datang (tiba gilirannya), maka mereka dapat memerah air susunya.

Dalam firman selanjutnya disebutkan:

Maka mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya. (Al-Qamar: 29)

Ulama tafsir mengatakan bahwa dia adalah si penyembelih unta betina itu, namanya Qaddar ibnu Salif, dan dia adalah orang yang paling jahat di antara mereka. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَاهَا

ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka. (Asy-Syams: 12)

Adapun firman Allah Swt.:

lalu kawannya itu menangkap (unta itu). (Al-Qamar: 29)

Yakni melumpuhkannya.

dan menyembelihnya. Alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. (Al-Qamar: 29-30)

Maka Kami menghukum mereka, dan betapa dahsyatnya azab-Ku atas mereka sebagai pembalasan atas kekufuran mereka kepada-Ku dan kedustaan mereka kepada rasul-Ku.

Sesungguhnya Kami, menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang. (Al-Qamar: 31)

Mereka dibinasakan sampai keakar-akarnya, tiada seorang pun dari mereka yang tersisa; mereka mati dan kaku seperti rerumputan dan daun-daunan yang kering. Demikianlah menurut ahli tafsir yang bukan hanya seorang. Al-muhtazar menurut As-Saddi artinya padang rumput bila telah mengering dan terbakar, lalu terembus oleh angin.

Ibnu Zaid mengatakan bahwa dahulu orang-orang Arab membuat kandang-kandang untuk ternak unta dan kambing mereka, serta memberinya makan dari semak-semak berduri yang telah kering. Itulah yang dimaksud oleh firman-Nya: seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang ternak. (Al-Qamar: 31)

Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa makna ayat ialah debu yang berjatuhan dari tembok; tetapi pendapat ini garib, dan yang paling dekat kepada kebenaran adalah pendapat yang pertama;

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 26 «««   ««« juz 27 «««   ««« juz 28 «««««