Badai yang Membawa Batu-batu Bagi Kaum Luth

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Qamar ayat 33-40

0
14

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Qamar ayat 33-40, Kehancuran kaum Luth yang telah mendustakan peringatan.  Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengirimkan kepada mereka badai yang membawa batu-batu. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ بِالنُّذُرِ (٣٣) إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِبًا إِلا آلَ لُوطٍ نَجَّيْنَاهُمْ بِسَحَرٍ (٣٤) نِعْمَةً مِنْ عِنْدِنَا كَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ شَكَرَ (٣٥) وَلَقَدْ أَنْذَرَهُمْ بَطْشَتَنَا فَتَمَارَوْا بِالنُّذُرِ (٣٦) وَلَقَدْ رَاوَدُوهُ عَنْ ضَيْفِهِ فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ (٣٧) وَلَقَدْ صَبَّحَهُمْ بُكْرَةً عَذَابٌ مُسْتَقِرٌّ (٣٨) فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ (٣٩) وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ (٤٠)

Kaum Luth pun telah mendustakan peringatan itu. Sesungguhnya Kami kirimkan kepada mereka badai yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Kami selamatkan mereka sebelum fajar menyingsing, sebagai nikmat dari kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Dan sungguh, dia (Luth) telah memperingatkan mereka akan hukuman Kami, tetapi mereka mendustakan peringatan-Ku. Dan sungguh, mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamuya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan peringatan-Ku. Dan sungguh, pada esok harinya mereka benar-benar ditimpa azab yang tetap. Maka rasakanlah azab-Ku dan peringatan-Ku! Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Q.S. Al-Qamar : 33-40)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Kadz-dzabat qaumu lūthim bin nudzur (kaum Luth telah mendustakan pula ancaman-ancaman itu), yakni telah mendustakan Luth dan sejumlah rasul.

Innā arsalnā ‘alaihim (sesungguhnya Kami telah mengirimkan kepada mereka), yakni telah menimpakan kepada mereka.

Hāshiban illā āla lūth (angin kencang yang menerbangkan batu-batu, kecuali keluarga Luth), yakni kecuali kepada Luth a.s. dan kedua orang putrinya: Za‘ura dan Raitsa.

Najjaināhum bi sahar (Kami Menyelamatkan mereka saat sebelum fajar menyingsing), yakni ketika sahur.

Ni‘matan (sebagai nikmat), yakni sebagai rahmat.

Min ‘iηdinā kadzālika (dari sisi Kami. Begitulah), yakni seperti itulah.

Najzī maη syakar (Kami Memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur), yakni orang-orang yang bertauhid dan mensyukuri nikmat Allah Ta‘ala dengan balasan keselamatan.

Wa laqad aηdzarahum (dan sesungguhnya dia telah memperingatkan mereka), yakni Luth telah menyampaikan ancaman kepada mereka.

Bath-syatanā (akan Siksaan Kami), yakni Azab Kami.

Fa tamārau bin nudzur (tetapi mereka menyangsikan ancaman-ancaman itu), yakni tetapi mereka mengingkari rasul-rasul itu. Maksudnya, mereka mendustakan perkataan Luth a.s. yang disampaikan kepada mereka.

Wa laqad rāwadūhu ‘aη dlaifihī (dan sungguh mereka telah membujuknya [agar menyerahkan] tamunya), yakni mereka menginginkan tamu-tamu Luth, yaitu Jibril a.s. dan malaikat-malaikat yang menyertainya, untuk melampiaskan perbuatan keji mereka.

Fa thamasnā (kemudian Kami Membutakan), yakni kemudian Kami mencungkil.

A‘yunahum (mata mereka), yakni Jibril a.s. menjadikan mata mereka buta.

Fa dzūqū ‘adzābī wa nudzur (maka rasakanlah oleh kalian Azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku), yakni maka Aku Katakan kepada mereka, “Rasakanlah oleh kalian Azab-Ku dan ancaman-ancaman dari pemberi ancaman-Ku.”

Wa laqad shabbahahum bukratan (dan sungguh mereka ditimpa pada keesokan harinya), yakni saat terbit fajar.

‘Adzābum mustaqir (oleh azab yang kekal), yakni azab yang langgeng yang diteruskan dengan azab di akhirat.

Fa dzūqū ‘adzābī wa nudzur (maka rasakanlah oleh kalian azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku), yakni maka Aku katakan kepada mereka, “Rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman yang telah disampaikan Luth kepada mereka, tetapi mereka tidak mau beriman.”

Wa la qad yassarnal qur-āna (dan sungguh Kami telah mudahkan Al-Qur’an), yakni Kami telah membuat Al-Qur’an mudah.

Lidz dzikri (untuk pelajaran), yakni untuk hapalan, bacaan, dan penulisan.

Fa hal mim muddakir (maka adakah yang mau mengambil pelajaran), yakni maka adakah yang mau mengambil pelajaran atas tindakan yang diambil-Nya terhadap kaum Luth, sehingga ia mau meninggalkan kemaksiatan.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Kaum Luth pun telah mendustakan peringatan itu[13].

[13] Yaitu ketika Nabi Luth ‘alaihis salam mengajak mereka beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan melarang mereka berbuat syirk serta perbuatan keji yang belum pernah dilakukan sebelumnya oleh seorang pun di alam semesta. Tetapi mereka malah mendustakannya dan tetap di atas syirk dan perbuatan kejinya, sampai tiba saat dimana mereka akan dibinasakan, yaitu dengan datangnya para malaikat kepada mereka dalam rupa manusia yang menjadi tamu-tamu Nabi Luth. Ketika kaum Luth mendengar kedatangan mereka, maka mereka (kaum Luth) segera datang untuk melakukan perbuatan keji dengan para tamu itu dan membujuk Luth agar menyerahkan para tamu itu, maka Allah memerintahkan malaikat JIbril ‘alaihis salam menghapus penglihatan (membuat buta) mereka dengan sayapnya, dan Nabi Luth memperingatkan mereka dengan azab Allah dan hukuman-Nya.

  1. Sesungguhnya Kami kirimkan kepada mereka badai yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Kami selamatkan mereka sebelum fajar menyingsing,
  2. sebagai nikmat dari kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur[14].

[14] Yaitu orang-orang yang beriman.

  1. Dan sungguh, dia (Luth) telah memperingatkan mereka akan hukuman Kami, tetapi mereka mendustakan peringatan-Ku.
  2. Dan sungguh, mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamuya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan peringatan-Ku.
  3. Dan sungguh, pada esok harinya mereka benar-benar ditimpa azab yang tetap[15].

[15] Yang berlanjut dengan azab akhirat. Allah Subhaanahu wa Ta’aala membalikkan negeri mereka, menjadikan bagian bawahnya menjadi bagian atas, lalu penghuninya dilempari dengan batu dari tanah yang keras secara bertubi-tubi, dimana nama-nama orang yang akan dilempari batu tertera di batu tersebut, dan Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyelamatkan Luth dan keluarganya dari bencana yang besar sebagai balasan terhadap sikap syukur mereka kepada Allah dan ibadah mereka kepada-Nya.

Lihat kembali kisah kaum Luth ini pada surat Hud (11) ayat 77-83.

  1. Maka rasakanlah azab-Ku dan peringatan-Ku!
  2. Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?

.

Tafsir Jalalain

  1. (Kaum Luth pun telah mendustakan ancaman-ancaman itu) mendustakan hal-hal yang diancamkan kepada mereka melalui lisan Nabi Luth.
  2. (Sesungguhnya Kami telah mengembuskan kepada mereka angin yang membawa terbang batu-batu) yakni angin yang melempari mereka dengan batu-batu yang diterbangkannya. Al Hashbaa adalah batu-batu kecil yang besarnya lebih kecil dari genggaman tangan; akhirnya binasalah mereka karenanya (kecuali keluarga Luth) mereka adalah Nabi Luth dan kedua orang putrinya. (Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing) berasal dari lafal As-haar artinya, waktu menjelang subuh dari hari yang tidak ditentukan. Dan seandainya hari yang dimaksud adalah hari yang ditentukan, niscaya ungkapannya tidak memakai harakat Tanwin karena termasuk Isim yang Ma’rifat dan dima’dul dari lafal As Sahar. Karena, bila dimaksud sebagai hari yang ditentukan pasti memakai Alif dan Lam. Apakah batu kerikil itu dihembuskan kepada keluarga Nabi Luth atau tidak? Sehubungan dengan hal ini ada dua pendapat. Menurut pendapat pertama yakni dihembuskan juga, berarti Istisna di sini bersifat Muttashil. Menurut pendapat kedua yakni, tidak dihembuskan berarti Istitsnanya bersifat Munqathi’. Akan tetapi pada akhirnya keluarga Nabi Luth diselamatkan dari azab itu.
  3. (sebagai nikmat) menjadi mashdar, artinya sebagai pemberian nikmat. (dari sisi Kami. Demikianlah) sebagaimana pembalasan tersebut (Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur) terhadap nikmat-nikmat Kami; dia adalah orang mukmin atau orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta menaati keduanya.
  4. (Dan sesungguhnya dia telah memperingatkan kepada mereka) yaitu Nabi Luth telah memberi peringatan kepada mereka (akan azab Kami) akan pembalasan Kami kepada mereka melalui azab-Nya (maka mereka mendustakan) mereka membantah dan mendustakan (ancaman-ancaman itu) ancaman-ancaman Nabi Luth.
  5. (Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya agar menyerahkan tamunya) mereka membujuknya supaya dia membiarkan mereka dengan orang-orang yang datang kepadanya sebagai tamu. Mereka bermaksud akan berbuat homosex dengan para tamunya itu, padahal para tamunya itu adalah malaikat-malaikat yang menjelma menjadi manusia (lalu Kami butakan mata mereka) Kami jadikan buta mata mereka dan Kami jadikan mata mereka tertutup rapat atau rata, sama rata dengan bagian muka yang lainnya. Yaitu, setelah malaikat Jibril menampar mereka dengan sayapnya (maka rasakanlah) maksudnya, Kami berkata kepada mereka, “Rasakanlah oleh kalian (azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku) ini”. Yakni, ancaman dan peringatan-Ku ini; makna yang dimaksud adalah buah dan akibat daripada ancaman-Ku.
  6. (Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa) yaitu, di waktu subuh dari hari yang tidak ditentukan itu (azab yang kekal) azab yang terus-menerus hingga sampai kepada saatnya azab akhirat.
  7. (Maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku)
  8. (Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka sudah adakah orang yang mengambil pelajaran?).

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. berfirman, menceritakan tentang kaum Lut, bahwa mereka telah mendustakan rasuI-Nya yang dikirim kepada mereka, menentangnya dan mengerjakan hal yang dibenci, yaitu mendatangi sesama jenis. Itu merupakan suatu perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh seorang penduduk alam pun selain mereka. Karena itulah maka Allah membinasakan mereka sehancur-hancurnya, belum pernah Allah Swt. menghancurkan suatu umat dengan kehancuran seperti yang Dia timpakan kepada mereka. Sesungguhnya Allah Swt. memerintahkan kepada Malaikat Jibril a.s. untuk mengangkat kota tempat tinggal mereka tinggi-tinggi ke langit, lalu dibalikkan dan dijatuhkan ke bawah, selanjutnya dihujani dengan batu-batu dari tanah yang dibakar. Karena itulah maka disebutkan dalam surat ini oleh firman-Nya:

Sesungguhnya Kami telah mengembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Lut. Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing. (Al-Qamar: 34)

Yakni mereka keluar dari kota tersebut di penghujung malam hari, karenanya mereka selamat dari apa yang menimpa kaumnya. Tiada seorang lelaki pun dari kalangan kaum Lut yang beriman kepadanya, hingga istrinya sendiri ikut tertimpa azab yang menimpa kaumnya. Nabi Lut keluar bersama anak-anak perempuannya dari kalangan mereka dengan selamat tanpa kekurangan suatu apa pun. Untuk itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:

Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Dan sesungguhnya dia (Lut) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami. (Al-Qamar: 35-36)

Yakni sesungguhnya sebelum azab menimpa mereka, mereka telah diberi peringatan akan pembalasan dan azab Allah jika mereka tetap dalam perbuatan kejinya. Akan tetapi, mereka tidak mempedulikan peringatan itu dan tidak mau mendengarnya, bahkan mereka meragukan dan mendustakan ancaman dan peringatan itu.

Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka). (Al-Qamar: 37)

Demikian itu terjadi di malam kedatangan Malaikat Jibril, Mikail, dan Israfil kepada Lut a.s. dalam rupa laki-laki yang tampan sebagai ujian buat kaum Lut. Maka Nabi Lut menerima mereka sebagai tamu-tamunya dan mempersilakannya masuk ke rumahnya. Akan tetapi, istri Lut yang sudah tua lagi berwatak buruk mengirim berita kepada kaumnya tentang tamu-tamu yang menginap di rumahnya, bahwa mereka tampan-tampan. Akhirnya kaum Lut dari segala penjuru bergegas datang ke rumah Lut dan menyerbu rumahnya. Maka Nabi Lut mengunci pintu rumahnya sehingga terjadilah dorong-mendorong pintu. Akhirnya mereka berupaya untuk mendobrak pintu rumah Lut; hal ini terjadi pada petang harinya, sedangkan Lut a.s. menolak pintu dan menghalang-halangi mereka agar jangan sampai melihat tamu-tamunya, dan Lut berkata kepada mereka sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya:

هَؤُلاءِ بَنَاتِي

Inilah putri-putri (negeri)ku. (Al-Hijr: 71)

Maksudnya, kaum wanita mereka.

إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ

(kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal). (Al-Hijr: 71)

Dalam ayat lainnya disebutkan pula:

قَالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ

Mereka menjawab, “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu. (Hud: 79)

Yakni kami tidak berselera terhadap mereka dan tidak mempunyai keinginan mengawini mereka.

وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ

dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki. (Hud: 79)

Ketika keadaan sangat genting dan mereka tidak dapat ditahan lagi melainkan pasti masuk dan dapat mendobrak pintu itu, maka keluarlah Malaikat Jibril dan memukul mata mereka dengan ujung sayapnya, hingga mata mereka semuanya buta. Menurut suatu pendapat, maka mereka semuanya masuk melesak ke dalam wajah mereka. Dan menurut pendapat lain, mata mereka hilang sama sekali, lalu mereka pulang ke rumah masing-masing seraya meraba-raba tembok-tembok rumah-rumah mereka seraya mengancam Lut a.s. di pagi harinya nanti.

Firman Allah Swt.:

Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal. (Al-Qamar: 38)

Yakni tiada jalan selamat bagi mereka dari azab itu dan tiada tempat untuk melarikan diri bagi mereka dari azab tersebut.

Maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al-Qamar: 39-40)

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 26 «««   ««« juz 27 «««   ««« juz 28 «««««