Peringatan Bahwa Mereka Tidak Lebih Kuat

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Qamar ayat 43-50

0
206

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Qamar ayat 43-50, Peringatan kepada kaum musyrikin bahwa mereka tidak lebih kuat dari umat-umat yang telah dihancurkan Allah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  أَكُفَّارُكُمْ خَيْرٌ مِنْ أُولَئِكُمْ أَمْ لَكُمْ بَرَاءَةٌ فِي الزُّبُرِ (٤٣) أَمْ يَقُولُونَ نَحْنُ جَمِيعٌ مُنْتَصِرٌ (٤٤) سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ (٤٥) بَلِ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ (٤٦) إِنَّ الْمُجْرِمِينَ فِي ضَلالٍ وَسُعُرٍ (٤٧) يَوْمَ يُسْحَبُونَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ ذُوقُوا مَسَّ سَقَرَ (٤٨)

Apakah orang-orang kafir di lingkunganmu (kaum musyrikin) lebih baik dari mereka, ataukah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam kitab-kitab terdahulu? Atau mereka mengatakan, “Kami ini golongan yang bersatu yang pasti menang.” Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. Bahkan hari Kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan hari Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit. Sungguh, orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan akan berada dalam neraka (di akhirat). Pada hari mereka diseret ke neraka pada wajahnya. (Dikatakan kepada mereka), “Rasakanlah sentuhan api neraka.” (Q.S. Al-Qamar : 43-48)

.

Tafsir Ibnu Abbas

A kuffārukum (apakah orang-orang kafir kalian), hai Muhammad! Menurut yang lain, hai penduduk Mekah!

Khairum min ulā-ikum (lebih baik daripada mereka), yakni daripada orang-orang yang telah Kami kisahkan kepada kalian.

Am lakum barā-atuη fiz zubur (ataukah kalian telah mempunyai jaminan kebebasan dalam kitab-kitab terdahulu), yakni keselamatan dari azab dalam kitab-kitab.

Am yaqūlūna (ataukah mereka mengatakan), yakni orang-orang kafir Mekah.

Nahnu jamī‘um muηtashir (“Kami adalah golongan yang bersatu yang pasti menang”), yakni dapat menghindarkan diri dari azab. Golongan itu pasti akan dikalahkan, dan mereka akan mundur ke belakang.

Sa yuhzamul jam‘u (golongan itu pasti akan dikalahkan), yakni golongan kaum kafir pada Perang Badr.

Wa yuwallūnad dubur (dan mereka akan mundur ke belakang), yakni akan kalah dan lari kocar kacir. Mereka adalah Abu Jahl dan kawan-kawannya. Alhasil, di antara mereka ada yang terbunuh dalam Perang Badr dan yang lainnya berhasil dikalahkan.

Balis sā‘atu (sebenarnya hari kiamat itu), yakni terjadinya kiamat itu.

Mau‘iduhum (adalah hari yang dijanjikan kepada mereka) dengan adanya azab.

Was sā‘atu (dan kiamat itu), yakni kiamat dengan azab itu.

Ad-hā (lebih hebat), yakni lebih besar.

Wa amarr (dan lebih pahit), yakni lebih dahsyat ketimbang azab dalam Perang Badr.

Innal mujrimīna (sesungguhnya orang-orang yang berdosa), yakni orang-orang musyrik: Abu Jahl dan kawan-kawannya.

Fī dlalālin (berada dalam kesesatan), yakni jelas-jelas berada dalam kekeliruan di dunia.

Wa su‘ur (dan dalam neraka), yakni dalam kepayahan dan kesukaran di dalam neraka.

Yauma (pada hari), yakni pada hari kiamat.

Yushabūna (mereka akan diseret), yakni akan ditarik dengan paksa.

Fin nāri (ke dalam neraka), yakni mereka akan ditarik oleh Malaikat Zabaniyah.

‘Alā wujūhihim (atas wajah-wajah mereka) ke neraka. Lalu Malaikat Zabaniyah akan berkata kepada mereka ….

Dzūqū massa saqar (“Rasakanlah oleh kalian sentuhan neraka”), yakni azab neraka.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Apakah orang-orang kafir di lingkunganmu (kaum musyrikin) lebih baik dari mereka[1], ataukah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam kitab-kitab terdahulu[2]?

[1] Kaum Nuh dan kaum-kaum setelahnya yang mendustakan. Jika mereka (kaum musyrikin) lebih baik dari mereka, maka mereka bisa selamat dari azab dan tidak tertimpa azab seperti yang menimpa generasi sebelum mereka, tetapi kenyataannya mereka sama atau bahkan lebih buruk dari mereka.

[2] Ataukah Allah memberikan kepadamu perjanjian-Nya dan jaminan-Nya untuk selamat dari azab yang tertera dalam kitab-kitab yang Allah turunkan, sehingga ketika itu kamu bisa meyakini bahwa kamu akan selamat karena berita Allah dan janji-Nya? Ternyata tidak ada, bahkan tidak mungkin secara akal maupun syara’ tertulis jaminan bebas dari azab untuk mereka dalam kitab-kitab samawi yang mengandung keadilan dan hikmah, karena tidak termasuk hikmah orang-orang seperti mereka yang mendustakan lagi membangkang rasul yang paling mulia (Nabi Muhammad ﷺ) akan mendapat jaminan selamat dari azab. Tinggallah yang mereka miliki, yaitu kekuatan pada diri mereka untuk membela diri dari azab. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan, bahwa mereka mengatakan, “Kami ini golongan yang bersatu yang pasti menang.”

Pertanyaan di ayat ini adalah untuk menafikan, yakni bahkan tidak demikian.

  1. Atau mereka mengatakan, “Kami ini golongan yang bersatu yang pasti menang.”
  2. [3]Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang[4].

[3] Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman menerangkan kelemahan mereka dan bahwa mereka akan kalah.

[4] Ternyata demikian. Mereka kalah dalam perang Badar, tokoh-tokoh mereka mati dalam perang itu, sedangkan Rasulullah ﷺ dan para sahabatanya memperoleh kemenangan. Di samping itu, mereka mempunyai waktu yang telah dijanjikan, yaitu hari Kiamat sebagaimana firman Allah Ta’ala di ayat 46, “Bahkan hari Kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan hari Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.”

  1. Bahkan hari Kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan hari Kiamat itu lebih dahsyat[5] dan lebih pahit[6].

[5] Dari apa yang dibayangkan di pikiran atau yang terlintas di hati.

[6] Dari azab di dunia.

  1. Sungguh, orang-orang yang berdosa[7] berada dalam kesesatan (di dunia)[8] dan akan berada dalam neraka (di akhirat).

[7] Yakni banyak melakukan dosa-dosa besar seperti syirk dan maksiat lainnya.

[8] Yakni dalam kebingungan dan kesengsaraan. Mereka tidak memiliki ilmu untuk mengetahui perbuatan apa yang dapat menyampaikan mereka ke surga apalagi sampai mengamalkannya.

  1. [9]Pada hari mereka diseret ke neraka pada wajahnya[10]. (Dikatakan kepada mereka), “Rasakanlah sentuhan api neraka.”

[9] Muslim meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Abu Hurairah ia berkata, “Kaum musyrikin Quraisy pernah datang berbantah-bantahan dengan Rasulullah ﷺ tentang masalah qadar, maka turunlah ayat, “Pada hari mereka diseret ke neraka pada wajahnya. (Dikatakan kepada mereka), “Rasakanlah sentuhan api neraka.” Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Terj. Al Qamar: 48-19)

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Tirmidzi juz 3 hal. 204, juz 4 hal. 191 dan ia berkata dalam kedua tempat itu, “Hasan shahih,” Ibnu Majah juga meriwayatkan di no. 83, Ahmad juz 2 hal. 444 dan 476, Ibnu Jarir juz 27 hal. 110, Baihaqi dalam Syu’abul Iman juz 1 hal. 136, dan Bukhari dalam Khalqu Af’aalil ‘Ibaad hal. 19, dan ia menyebutkan syahidnya di sana. Semuanya meriwayatkan dari jalan Ziyad bin Isma’il Al Makhzumi, Ibnu Ma’in berkata, “Ia adalah dha’if,” ‘Ali bin Al Madiniy berkata, “Ia seorang yang dikenal, berasal dari penduduk Mekah,” Abu Hatim berkata, “Haditsnya dicatat.” Nasa’i berkata, “Tidak apa-apa,” (diambil dari Tahdzibut Tahdzib). Dari keseluruhan perkataan para imam itu dapat disimpulkan bahwa haditsnya turun dari derajat hasan, akan tetapi menjadi kuat karena syahid-syahid yang telah disebutkan, wallahu a’lam.

Syahid yang disebutkan oleh Bukhari dalam Khalqu Af’aalil ‘Ibaad adalah sbb. ia (Bukhari) berkata, “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf, telah menceritakan kepada kami Yunus bin Al Harits, telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, ia berkata, “Ayat ini, “Sungguh, orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan akan berada dalam neraka (di akhirat).” (terj. Al Qamar: 47) turun tentang orang-orang yang memperdebatkan qadar.” Selanjutnya Imam Bukhari rahimahullah berkata, “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mu’adz bin Anas radhiyallahu ‘anhum.” Thabrani juga meriwayatkan dalam Al Kabir juz 5 hal. 319 dari hadits Zurarah tanpa dinasabkan, dan dalam sanadnya terdapat Ibnu Zurarah seorang yang mubham (tidak jelas).”

[10] Wajah adalah anggota badan yang paling mulia dan jika dilukai tentu lebih menyakitkan daripada anggota badan yang lain. Mereka dihinakan di sana dan direndahkan, wal ‘iyaadz billah.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Apakah orang-orang kafir kalian) hai orang-orang Quraisy (lebih baik daripada mereka itu) yang telah disebutkan yaitu, mulai dari kaum Nabi Nuh hingga sampai kepada Firaun dan kaumnya yang tidak mendapatkan ampunan (atau apakah kalian telah mempunyai) hai orang-orang kafir Quraisy (jaminan kebebasan) dari azab (dalam kitab-kitab) yang terdahulu. Istifham yang terdapat pada dua tempat ini mengandung makna Nafi artinya, kenyataannya tidaklah demikian.
  2. (Atau apakah mereka mengatakan) yakni orang-orang kafir Quraisy, (“Kami adalah suatu golongan yang bersatu) orang-orang yang bersatu dalam satu golongan (yang pasti menang”) atas Muhammad. Sewaktu Abu Jahal mengatakan dalam perang Badar, bahwa sesungguhnya kami adalah golongan yang bersatu yang pasti menang. Maka turunlah firman-Nya,
  3. (“Golongan Itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang”) akhirnya mereka dikalahkan oleh Nabi Muhammad saw. dalam perang Badar, dan Nabi Muhammad ﷺ mendapat kemenangan yang gemilang atas mereka.
  4. (Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka) yaitu azab akan ditimpakan kepada mereka (dan kiamat itu) azab hari kiamat itu (lebih dahsyat) lebih besar bencananya (lagi lebih pahit) jauh lebih pahit daripada azab di dunia.
  5. (Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan) dalam kebinasaan, mereka akan terbunuh di dunia (dan dalam neraka) neraka yang besar nyalanya. Maksudnya, kelak di akhirat mereka akan dimasukkan ke dalam neraka yang apinya menyala-nyala.
  6. (Pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka) di akhirat kelak, lalu dikatakan kepada mereka (“Rasakanlah sentuhan api neraka”) rasakanlah panasnya api neraka Jahanam ini oleh kalian.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Ta’aala:

Apakah orang-orang kafirmu. (Al-Qamar: 43)

hai orang-orang musyrik dari kalangan orang-orang kafir Quraisy,

lebih baik daripada mereka itu. (Al-Qamar: 43)

Yakni daripada orang-orang yang telah disebutkan di atas di antara orang-orang yang telah dibinasakan karena mereka telah mendustakan rasul-rasul dan kafir kepada kitab-kitab Allah. Apakah kalian lebih baik daripada mereka itu?

atau apakah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam kitab-kitab yang dahulu? (Al-Qamar: 43)

Maksudnya, apakah kamu mempunyai jaminan kebebasan dari Allah yang menyatakan bahwa kamu tidak mendapat balasan dan tidak pula azab? Kemudian Allah Swt. menceritakan perihal mereka melalui firman selanjutnya:

Atau apakah mereka mengatakan, “Kami adalah satu golongan yang bersatu yang pasti menang.” (Al-Qamar: 44)

Mereka mempunyai keyakinan bahwa sebagian dari mereka dapat membantu sebagian yang lainnya, dan bahwa persatuan mereka dapat menangkal orang lain yang hendak berbuat jahat terhadap mereka. Maka Allah Swt. berfirman:

Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. (Al-Qamar: 45)

Yakni persatuan mereka akan bercerai-berai dan mereka dapat dikalahkan.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah menceritakan kepada kami Khalid, dari Khalid; dari Imam Bukhari mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Affan, dari Wuhaib, dari Khalid, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi ﷺ pernah berdoa di dalam kemah kecilnya pada hari Perang Badar:

أَنْشُدُكَ عَهْدَكَ وَوَعْدَكَ، اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ لَمْ تُعبد بَعْدَ الْيَوْمِ أَبَدًا. فَأَخَذَ أَبُو بَكْرٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، بِيَدِهِ وَقَالَ: حَسْبُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ! أَلْحَحْتَ عَلَى رَبِّكَ. فَخَرَجَ وَهُوَ يَثِبُ فِي الدِّرْعِ وَهُوَ يَقُولُ: {سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ. بَلِ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ

Aku memohon kepada Engkau jaminan dan janji-Mu, ya Allah, jika Engkau kehendaki, niscaya Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi sesudah hari ini untuk selama-lamanya. Maka sahabat Abu Bakar r.a. memegang tangan Rasulullah seraya berkata, “Wahai Rasulullah, cukuplah, engkau telah memohon dengan mendesak kepada Tuhanmu.” Lalu Rasulullah segera keluar dari kemah seraya melompat dan mengenakan baju besinya (tamengnya), lalu membaca firman Allah Swt.: Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit. (Al-Qamar:.45-46)

Hal yang sama telah diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari dan Imam Nasai dalam berbagai tempat melalui hadis Khalid ibnu Mahran Al-Hazza dengan sanad yang sama.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abur Rabi’ Az-Zahrani, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Ayyub, dari Ikrimah yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya: Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. (Al-Qamar: 45) Maka Umar bertanya, “Golongan manakah yang akan dikalahkan, dan golongan manakah yang akan beroleh kemenangan?” Umar mengatakan bahwa ketika Perang Badar meletus, ia melihat Rasulullah ﷺ melompat dengan menyandang tamengnya seraya berkata: Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. (Al-Qamar: 45) Maka sejak saat itu ia mengetahui takwil ayat tersebut.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Yusuf, bahwa Ibnu Juraij pernah menceritakan kepada mereka, bahwa ia mendapat berita dari Yusuf ibnu Mahik yang telah menceritakan bahwa ketika ia berada di hadapan Aisyah r.a. Ummul Mu’minin, maka Aisyah r.a. berkata bahwa ayat berikut diturunkan di Mekah kepada Muhammad ﷺ yang saat itu ia masih anak-anak sedang bermain-main, yaitu firman-Nya: Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. (Al-Qamar: 45)

Demikianlah bunyi riwayat ini yang diriwayatkan Bukhari dalam bab ini dengan singkat, tetapi di dalam bab, “Keutamaan Al-Qur’an” ia meriwayatkannya dengan panjang lebar; sedangkan Imam Muslim tidak mengetengahkannya.

Allah Swt. menceritakan tentang perihal orang-orang yang berdosa, bahwa mereka berada dalam kesesatan dari kebenaran dan tenggelam di dalam keragu-raguan dan kebimbangan serta kekacauan dalam pikirannya. Hal ini dialami pula oleh tiap-tiap orang yang mempunyai sifat yang sama dari kalangan orang-orang kafir, ahli bid’ah, dan semua golongan yang sesat. Kemudian Allah Swt. berfirman:

(Ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka pada wajahnya. (Al-Qamar: 48)

Yakni sebagaimana mereka berada dalam kegelapan, keragu-raguan, dan kebimbangan, maka mereka mendapat balasan neraka; dan sebagaimana mereka sesat, maka mereka diseret masuk ke dalam neraka dengan muka di bawah. Mereka tidak mengetahui ke manakah mereka dibawa, dan dikatakan kepada mereka dengan nada kecaman dan cemoohan:

Rasakanlah sentuhan api neraka! (Al-Qamar: 48)

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 26 «««   ««« juz 27 «««   ««« juz 28 «««««