Nikmat dengan Adanya Tanaman dan Air

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Waaqi’ah Ayat 63-74

0
153

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Waaqi’ah Ayat 63-74. Dalil terhadap kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang menunjukkan bahwa Dia berkuasa membangkitkan dan menghisab, serta menyebutkan nikmat Allah Subhaanahu wa Ta’aala dengan adanya tanaman dan air.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَحْرُثُونَ (٦٣) أَأَنْتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ (٦٤) لَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَاهُ حُطَامًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُونَ  (٦٥) إِنَّا لَمُغْرَمُونَ (٦٦) بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ (٦٧) أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ (٦٨) أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ (٦٩) لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلا تَشْكُرُونَ (٧٠)

Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah kami yang menumbuhkan? Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan sampai lumat; maka kamu akan heran tercengang. (sambil berkata), “Sungguh, kami benar-benar menderita kerugian, bahkan kami tidak mendapat hasil apa pun.” Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur? (Q.S. Al-Waaqi’ah : 63-70)

.

Tafsir Ibnu Abbas

A fa ra-aitum mā tahrutsūn (maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kalian tanam), yakni benih-benih yang kalian tabur.

A aηtum (apakah kalian), hai penduduk Mekah!

Tazra‘ūnahā (yang menumbuhkannya), yakni yang menjadikannya tumbuh.

Am nahnuz zāri‘ūn (ataukah Kami yang menumbuhkannya), yakni yang menjadikannya tumbuh.

Lau nasyā-u la ja‘alnāhu (kalaulah Kami menghendaki, nicaya Kami menjadikannya), yakni menjadikan tanaman itu.

Huthāman (kering kerontang), yakni kering kerontang setelah sebelumnya hijau.

Fa zhaltum tafakkahūn (maka kalian pun menjadi tercengang), yakni maka kalian pun menjadi terheran-heran dengan kering dan hancurnya tanaman itu. Dan kalian berkata:

Innā la mughramūn (“Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian), yakni benar-benar mendapat azab dengan hancurnya tanam-tanaman kami.

Bal nahnu mahrūmūn (bahkan kami menjadi orang-orang yang tidak mendapatkan hasil apa-apa”), yakni kami tidak mendapatkan keuntungan apa pun dari tanam-tanaman kami. Menurut satu pendapat, bahkan kami merasa diperangi.

A fa ra-aitumul mā-a (maka terangkanlah kepadaku tentang air) tawar.

Alladzī tasyrabūn (yang kalian minum) serta kalian memberi minum ternak-ternak kalian dan menyirami kebun-kebun kalian.

A aηtum (apakah kalian), hai penduduk Mekah!

Aηzaltumūhu (yang menurunkannya), yakni yang menurunkan air tawar itu.

Minal muzni (dari awan), yakni dari awan kepada kalian.

Am nahnul muηzilūn (ataukah Kami yang menurunkan), yakni sebenarnya Kami-lah yang menurunkannya kepada kalian dan bukan kalian.

Lau nasyā-u ja‘alnāhu (kalaulah Kami mengehendaki, niscaya Kami menjadikannya), yakni menjadikan air tawar itu.

Ujājan (asin), yakni pahit dan asin.

Fa lau lā tasykurūn (maka mengapa kalian tidak bersyukur), yakni mengapa kalian tidak mensyukuri air tawar itu, lalu kalian beriman kepada-Nya?

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [6]Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam?

[6] Apa yang disebutkan merupakan nikmat Allah Subhaanahu wa Ta’aala kepada hamba-hamba-Nya, Dia mengajak mereka dengan menyebutkan nikmat itu untuk mentauhidkan-Nya, beribadah dan kembali kepada-Nya karena Dia telah melimpahkan nikmat kepada mereka dengan memudahkan mereka menanam tanaman dan tumbuhan, dimana dari sana keluar makanan dan buah-buahan yang menjadi kebutuhan pokok mereka maupun kebutuhan pelengkap (sekunder) mereka, dan mendapatkan kenikmatan lainnya yang tidak bisa mereka jumlahkan, terlebih untuk mensyukurinya dan memenuhi haknya, maka Dia membuat mereka mengakuinya, Dia berfirman, “Kamukah yang menumbuhkannya ataukah kami yang menumbuhkan?”

  1. Kamukah yang menumbuhkannya ataukah kami yang menumbuhkan?[7]

[7] Yakni apakah kamu yang megeluarkannya dari dalam bumi atau menumbuhkannya atau mengeluarkan tangkai dan buahnya sehingga menjadi biji yang dapat dipanena dan buah yang masak? Ataukah Allah yang sendiri melakukannya dan memberimu nikmat dengannya. Perbuatan kamu hanyalah menggarap tanah, menabur benih dan menyiraminya selanjutnya kamu tidak mengetahui apa yang terjadi dan kamu tidak berkuasa lagi setelahnya.

Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengingatkan kita bahwa tanaman yang kita tanam sesungguhnya siap menerima bahaya jika Allah tidak menjaganya dan memeliharanya, agar menjadi bahan makanan bagi kita sampai waktu tertentu.

  1. Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan[8] sampai lumat[9]; maka kamu akan heran tercengang[10].

[8] Tanaman yang ditanam itu beserta buahnya.

[9] Sehingga tidak bermanfaat dan tidak menjadi rezeki.

[10] Yakni karena dijadikan-Nya hancur setelah kamu bersusah payah menanamnya dan mengeluarkan belanja untuknya, kamu pun menjadi menyesal dan kegembiraanmu menjadi hilang.

  1. (sambil berkata), “Sungguh, kami benar-benar menderita kerugian,
  2. bahkan kami tidak mendapat hasil apa pun[11].”

[11] Oleh karena itu, pujilah Allah Subhaanahu wa Ta’aala karena Dia telah menumbuhkannya untuk kamu, menjaganya dan memeliharanya hingga sempurna dan tidak mengirimkan musibah yang membuat kamu tidak dapat mengambil manfaat dan kebaikannya.

  1. [12]Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum?

[12] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya berupa makanan, maka Dia menyebutkan nikmat-Nya kepada mereka yang berupa minuman yang segar, dan bahwa jika Allah tidak memudahkannya untuk mereka tentu mereka tidak akan bisa memperolehnya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang menurunkan air itu dari awan, dimana dari sana mengalirlah air di permukaan bumi dan di bawahnya.

  1. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan?
  2. Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur?[13]

[13] Termasuk nikmat-Nya adalah Dia menjadikan air itu segar yang menyegarkan peminumnya, kalau Dia menghendaki, bisa saja Dia jadikan air itu terasa asin sehingga tidak enak diminum. Oleh karena itu, mengapa kamu tidak bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya yang dilimpahkan kepadamu?

.

Tafsir Jalalain

  1. (Maka terangkanlah kepada-Ku tentang yang kalian tanam?) yaitu tentang tanah yang kalian bajak lalu kalian semaikan benih-benih di atasnya.
  2. (Kaliankah yang menumbuhkannya) suatu pertanyaan, apakah kalian yang telah menumbuhkannya (ataukah Kami yang menumbuhkannya?)
  3. (Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia kering lagi keropos) maksudnya, tumbuhan yang kalian tanam itu menjadi kering tak ada biji dan isinya (maka jadilah kalian) pada asalnya lafal Zhaltum adalah Zhaliltum, lalu huruf Lam yang berharakat dibuang demi untuk meringankan bunyi sehingga jadilah Zhaltum, yakni jadilah kalian pada keesokan harinya (heran tercengang) keheranan karena melihat hal tersebut. Lafal Tafakkahuuna asalnya Tatafakkahuuna, lalu salah satu dari kedua huruf Ta dibuang sehingga menjadi Tafakkahuuna.
  4. (Seraya mengatakan, “Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian,) biaya yang telah kami tanamkan buat tanaman kami.
  5. (Bahkan kami menjadi orang-orang yang tidak mendapat hasil apa-apa”) kami tidak mendapatkan rezeki apa-apa.
  6. (Maka terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kalian minum.)
  7. (Kaliankah yang menurunkannya dari awan) lafal Muzni adalah bentuk jamak dari lafal Muznatun, artinya awan yang membawa air hujan (ataukah Kami yang menurunkannya).
  8. (Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin) berasa asin hingga tidak dapat diminum (maka mengapa tidak) kenapa tidak (kalian bersyukur?

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? (Al-Waqi’ah: 63)

Yaitu mencangkul tanah, membajaknya, dan menaburkan benih padanya. Singkatnya, bertani atau bercocok tanam.

Kamukah yang menumbuhkannya? (Al-Waqi’ah: 64)

Yakni kaliankah yang menumbuhkannya dari tanah?

ataukah Kami yang menumbuhkannya? (Al-Waqi’ah: 64)

Tidak, bahkan Kamilah yang menetapkannya di tempatnya dan Kamilah yang menumbuhkannya di dalam tanah.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ahmad ibnul Walid Al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Abu Muslim Al-Jurmi, telah menceritakan kepada kami Makhlad ibnul Husain, dari Hisyam, dari Muhammad, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

لَا تَقُولَنَّ: زرعتُ، وَلَكِنْ قُلْ: حرثتُ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: أَلَمْ تَسْمَعْ إِلَى قَوْلِهِ: أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَحْرُثُونَ. أَأَنْتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ

Jangan sekali-kali kamu katakan, ‘aku telah menanam, ‘ tetapi katakanlah, ‘aku telah bertani. Abu Hurairah memberikan komentarnya, bahwa tidakkah engkau mendengar firman Allah Swt. yang menyebutkan: Maka terangkanlah kepada-Ku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya? (Al-Waqi’ah: 63-64)

Al-Bazzar telah meriwayatkan hadis ini dari Muhammad ibnu Abdur Rahim, dari Muslim Al-Jurmi dengan sanad yang sama.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Ata, dari Abu Abdur Rahman yang mengatakan, ”Jangan kamu katakan, ‘Kami telah bertanam.’ Tetapi katakanlah, ‘Kami telah bertani’.”

Telah diriwayatkan pula dari Hajar Al-Madari, bahwa ia membaca firman-Nya:Maka terangkanlah kepada-Ku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya. (Al-Waqi’ah: 63-64) dan ayat-ayat lainnya yang semakna. Lalu ia mengatakan, “Tidak, Engkaulah yang melakukan semuanya, ya Tuhanku.”

Firman Allah Swt.:

Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia kering dan hancur. (Al-Waqi’ah: 65)

Yakni Kamilah yang menumbuhkannya dengan belas kasihan dan rahmat Kami, dan Kami membiarkannya tumbuh untuk kalian sebagai rahmat dari Kami buat kalian; dan sekiranya Kami menghendaki, bisa saja Kami jadikan ia kering sebelum masa kemasakan dan musim panennya.

maka jadilah kamu heran tercengang. (Al-Waqi’ah: 65)

Kemudian dijelaskan oleh firman selanjutnya:

(sambil berkata), “Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian, bahkan kami menjadi orang yang tidak mendapat hasil apa-apa.” (Al-Waqi’ah: 66-67)

Yaitu sekiranya Kami jadikan apa yang kamu tanam itu kering, tentulah kamu merasa heran dan tercengang serta berkata macam-macam. Adakalanya kamu mengatakan, “Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian.” Menurut Mujahid dan Ikrimah disebutkan, “Sesungguhnya kami benar-benar terlalu optimis dengan harapan kami.” Qatadah mengatakan, “Sesungguhnya kami benar-benar tersiksa.” Dan adakalanya kalian mengatakan, “Bahkan kami menjadi orang yang tidak menghasilkan apa-apa.” Mujahid mengatakan pula, “Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian lagi terhempas ke dalam keburukan,” yakni nasib kita sedang mengalami kesialan. Demikian pula yang dikatakan oleh Qatadah, yakni harta kita telah lenyap dan kita tidak mendapat hasil apa pun. Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah bahkan kami menjadi orang yang tidak mendapat hasil apa-apa, yakni tidak beruntung.

Ibnu Abbas dan Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: maka jadilah kamu heran tercengang. (Al-Waqi’ah: 65) Yakni merasa heran terhadap kenyataan yang ada.

Mujahid mengatakan pula sehubungan dengan makna firman-Nya: maka jadilah kamu heran tercengang. (Al-Waqi’ah: 65) Yaitu merasa terkejut dan sedih terhadap musibah yang menimpa tanam-tanaman kalian. Pengertian ini senada dengan pendapat yang pertama yaitu merasa heran dengan penyebab yang menimbulkan musibah pada harta mereka. Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Ikrimah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: maka jadilah kamu heran tercengang. (Al-Waqi’ah: 65) Maksudnya, saling mencela.

Al-Hasan, Qatadah, dan As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: maka jadilah kamu heran tercengang. (Al-Waqi’ah: 65) Yakni kalian merasa menyesal, yang adakalanya menyesali biaya yang telah kalian keluarkan, atau menyesali dosa-dosa yang pernah kalian kerjakan.

Imam Kisa’i mengatakan bahwa tafakkaha termasuk lafaz yang mempunyai dua arti yang satu sama lainnya bertentangan. Orang-orang Arab mengatakan, “Tafakkahtu” artinya aku senang, dan tafakkahtu bisa juga diartikan aku sedih.

Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan:

Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan. (Al-Waqi’ah: 68-69)

Yang dimaksud dengan al-muzn ialah awan, menurut Ibnu Abbas, Mujahid, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

ataukah Kami yang menurunkannya? (Al-Waqi’ah: 69)

Yakni bahkan Kamilah yang menurunkannya.

Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin. (Al-Waqi’ah: 70)

Maksudnya, menjadi asin lagi pahit, tidak layak untuk diminum dan tidak layak untuk pengairan tanaman.

maka mengapakah kamu tidak bersyukur? (Al-Waqi’ah: 70)

Yakni mengapa kalian tidak mensyukuri nikmat Allah kepada kalian karena Dia telah menurunkannya kepada kalian tawar dan enak diminum?

لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ. يُنْبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالأعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. (An-Nahl: 10-11)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Sa’id ibnu Murrah, telah menceritakan kepada kami Fudail ibnu Marzuq, dari Jabir, dari Abu Ja’far, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau apabila usai dari minumnya membaca doa berikut:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي سَقَانَا عَذْبًا فُرَاتًا بِرَحْمَتِهِ، وَلَمْ يَجْعَلْهُ مِلْحًا أُجَاجًا بِذُنُوبِنَا

Segala puji bagi Allah Yang telah memberi kami minum air yang tawar lagi menyegarkan berkat rahmat-Nya, dan tidak menjadikannya asin lagi pahit karena dosa-dosa kami.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

««««« juz 26 «««   ««« juz 27 «««   ««« juz 28 «««««