Tempat Kembali Bagi Ketiga Golongan

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Waaqi’ah Ayat 88-96

0
161

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Waaqi’ah Ayat 88-96. Penjelasan tentang tempat kembali tiga golongan di atas, dan bahwa Kiamat adalah hak dan yakin.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ (٨٨) فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ (٨٩) وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ (٩٠) فَسَلامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ (٩١) وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ (٩٢) فَنُزُلٌ مِنْ حَمِيمٍ (٩٣) وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ (٩٤) إِنَّ هَذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ (٩٥) فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ (٩٦)

Jika dia (orang yang mati) itu termasuk yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga (yang penuh) kenikmatan.  Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan, maka, “Salam bagimu (wahai) dari golongan kanan!”(sambut malaikat). Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan dan sesat, maka dia disambut siraman air yang mendidih, dan dibakar di dalam neraka. Sungguh, inilah keyakinan yang benar. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar. (Q.S. Al-Waaqi’ah : 88-96)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fa ammā ing kāna minal muqarrabīn (adapun jika ia [orang yang mati itu] termasuk orang yang didekatkan) ke surga ‘Adn.

Fa rauhun (maka ia memperoleh ketenteraman), yakni maka ia dapat beristirahat di dalam kubur.

Wa raihānun (serta rezeki) manakala keluar dari kubur.

Wa jannātun na‘īm (dan surga kenikmatan) pada hari kiamat, yang kenikmatannya tidak akan lenyap.

Wa ammā ing kāna min ash-hābil yamīn (dan adapun jika ia termasuk golongan kanan), yakni penghuni surga. Semua penghuni surga adalah golongan kanan.

Fa salāmul laka min ash-hābil yamīn (maka keselamatanlah bagi kamu karena termasuk golongan kanan), yakni maka keselamatan dan keamananlah bagi kamu yang termasuk penghuni surga.

Sesungguhnya Allah Ta‘ala menyampaikan selamat atas urusan dan keberhasilan mereka. Ada yang berpendapat, para penghuni surga mengucapkan salam kepadamu.

Wa ammā ing kāna minal mukadz-dzibīn (dan adapun jika dia termasuk orang yang mendustakan) Allah Ta‘ala, rasul, dan kitab.

Adl-dlāllīn (lagi sesat) dari iman.

Fa nuzulun (maka ia mendapat hidangan), yakni maka makanan mereka adalah zaqqum, sedang minuman mereka adalah ….

Min hamīm (air yang mendidih), yakni air yang teramat panas.

Wa tashliyatu jahīm (dan dibakar di dalam api neraka), yakni mereka masuk ke dalam neraka.

Inna hādzā (sesungguhnya hal ini), yakni yang telah Kami paparkan kepada mereka.

La huwa haqqul yaqīn (benar-benar merupakan sesuatu yang haqqul yakin), yakni sesuatu yang sungguh dan yakin pasti terjadi.

Fa sabbih bismi rabbikal ‘azhīm (oleh karena itu, bertasbihlah dengan [menyebut] nama Rabb-mu Yang Maha Agung), yakni oleh karena itu, hendaklah kamu shalat dengan Nama Rabb-mu Yang Maha Agung. Menurut yang lain, hendaklah kalian ingat akan Keesaan Rabb-mu yang lebih agung dari segala sesuatu

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [13]Jika dia (orang yang mati) itu termasuk yang didekatkan (kepada Allah)[14],

[13] Allah Subhaanahu wa Ta’aala di awal surah telah menyebutkan tiga golongan; golongan orang-orang yang didekatkan, golongan kanan dan golongan kiri (golongan yang mendustakan lagi sesat) dan keadaan mereka di akhirat. Selanjutnya di akhir surah ini, Allah menyebutkan keadaan mereka menjelang wafat.

[14] Menurut Syaikh As Sa’diy, yaitu mereka yang mengerjakan perkara wajib dan sunat, meninggalkan yang haram dan yang makruh dan perkara mubah yang berlebihan.

  1. maka dia memperoleh ketenteraman[15] dan rezeki[16] serta surga (yang penuh) kenikmatan[17].

[15] Yakni ketenangan, kegembiraan dan kenikmatan lahir-batin.

[16] Raihaan pada ayat tersebut adalah nama yang mencakup segala kenikmatan yang diterima badan, berupa makanan, minuman, dan lain-lain.

[17] Yakni yang menggabung rauh (ketenteraman) dan raihaan, dimana di dalamnya terdapat sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan terlintas di hati manusia.

Orang yang didekatkan dengan Allah, maka akan diberi kabar gembira dengan kabar gembira itu yang membuat ruhnya melayang dari jasad karena gembira dan senang. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Terj. Fushshilat: 30-32) Dalam ayat lain Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. (Terj. Yuunus: 64).

  1. Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan[18],

[18] Menurut Syaikh As Sa’diy, yaitu mereka yang mengerjakan kewajiban dan meninggalkan hal yang haram, meskipun terjadi pengurangan pada sebagian hak yang tidak merusak tauhid dan iman mereka.

  1. maka, “Salam[19] bagimu (wahai) dari golongan kanan!”[20] (sambut malaikat).

[19] Yakni selamat dari azab.

[20] Bisa maksudnya, “Salam bagimu dari saudara-saudaramu yang berada di golongan kanan,” yakni mereka (golongan kanan) akan mengucapkan salam dan menyambutnya ketika ia sampai dan bertemu dengan mereka. Atau maksudnya, “Salam bagimu dari musibah, cobaan dan azab karena engkau termasuk golongan kanan yang selamat dari dosa-dosa yang membinasakan.”

  1. Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan dan sesat[21],

[21] Yaitu mereka yang mendustakan kebenaran dan tersesat dari petunjuk.

  1. maka dia disambut siraman air yang mendidih,
  2. dan dibakar di dalam neraka[22].

[22] Yang mengepung mereka, dimana apinya membakar sampai ke hati, dan apabila mereka meminta minuman karena sangat haus, maka mereka mereka diberi minuman seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah (lihat Al Kahfi: 29).

  1. Sungguh, inilah[23] keyakinan yang benar[24].

[23] Yakni pemberian balasan terhadap kebaikan dan keburukan yang dilakukan hamba serta rinciannya.

[24] Yang tidak ada keraguan lagi, bahkan benar dan pasti terjadi. Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah memberikan buktinya baik dari dalil ‘aqli (akal) maupun naqli yang menunjukkan demikian sehingga hal itu di kalangan orang-orang yang berakal seakan-akan dirasakan oleh mereka dan disaksikannya. Maka mereka memuji Allah Subhaanahu wa Ta’aala atas nikmat yang dikaruniakan-Nya kepada mereka berupa hidayah irsyad (petunjuk) maupun hidayah taufiq (bantuan dari Allah untuk menjalankan petunjuk itu). Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar.”

  1. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar[25].

[25] Maka Mahasuci Allah Tuhan kita Yang Maha Agung dari apa yang diucapkan orang-orang yang zalim dan ingkar dengan ketinggian yang besar, dan segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam dengan pujian yang banyak, baik lagi diberkahi.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Adapun jika dia) orang yang mati itu (termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah).
  2. (Maka dia memperoleh ketenteraman) dia mendapatkan ketenangan (dan rezeki) yang baik (serta surga yang penuh dengan kenikmatan) apakah jawab ini bagi lafal Amma ataukah bagi In, ataukah menjadi Jawab bagi kedua-duanya?, sehubungan dengan masalah ini ada beberapa pendapat.
  3. (Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan).
  4. (Maka keselamatan bagi kamu) yakni baginya keselamatan dari siksaan (karena kamu termasuk golongan kanan) karena dia termasuk di antara mereka.
  5. (Dan adapun jika dia termasuk golongan orang-orang yang mendustakan lagi sesat).
  6. (Maka dia mendapat hidangan air yang sangat panas).
  7. (Dan dibakar di dalam neraka Jahim).
  8. (Sesungguhnya yang disebutkan ini adalah suatu keyakinan yang benar) lafal Haqqul Yaqiin termasuk ungkapan dengan memakai cara mengidhafahkan Maushuf kepada sifatnya.
  9. (Maka bertasbihlah kamu dengan menyebut nama Rabbmu Yang Maha Besar) penafsirannya sebagaimana yang telah lalu.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Ketika keadaan ini merupakan kepastian yang dialami oleh manusia saat menghadapi kematiannya. Adakalanya dia termasuk orang yang didekatkan kepada Allah, atau bukan termasuk golongan kanan, dan adakalanya termasuk orang yang mendustakan kebenaran lagi sesat dari jalan petunjuk dan tidak mengerti tentang perintah Allah. Untuk itu maka disebutkan oleh firman-Nya:

Adapun jika dia. (Al-Waqi’ah: 88)

Yakni orang yang sedang menghadapi kematiannya.

termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah). (Al-Waqi’ah: 88)

Mereka adalah orang-orang yang menunaikan amal-amal yang wajib dan yang sunat serta meninggalkan hal-hal yang diharamkan dan yang dimakruhkan, serta sebagian hal yang diperbolehkan.

maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga kenikmatan. (Al-Waqi’ah: 89)

Mereka akan mendapatkan ketenteraman dan kesenangan serta para malaikat menyampaikan berita gembira ini kepada mereka di saat mereka menghadapi kematiannya, sebagaimana yang telah disebutkan di dalam hadis Al-Barra yang menyebutkan bahwa sesungguhnya para malaikat rahmat mengatakan, “Hai roh yang baik yang ada di dalam tubuh yang baik yang kamu huni, keluarlah kamu menuju kepada ketenteraman, kesenangan, dan menemui Tuhan yang tidak murka.”

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: maka dia memperoleh ketenteraman. (Al-Waqi’ah: 89) Yaitu ketenteraman dan kesenangan, yakni ketenangan. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, bahwa makna rauh ialah ketenteraman.

Abu Hirzah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah beristirahat dari dunia.

Sa’id ibnu Jubair dan As-Saddi mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah terbebas.

Telah diriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya: maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki. (Al-Waqi’ah: 89) Yakni surga dan kesenangan.

Qatadah mengatakan bahwa rauh artinya rahmat.

Ibnu Abbas, Mujahid, dan Sa’id ibnu Jubair mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, “Raihan” artinya rezeki.

Pendapat-pendapat yang telah disebutkan di atas satu sama lainnya berdekatan lagi benar. Karena sesungguhnya orang yang mati dalam keadaan didekatkan kepada Allah akan memperoleh kesemuanya itu, yaitu rahmat, ketenteraman, kebebasan, istirahat, kesenangan, kegembiraan, dan rezeki yang baik.

serta surga kenikmatan. (Al-Waqi’ah: 89)

Abul Aliyah mengatakan bahwa tidaklah roh seseorang yang didekatkan kepada Allah terpisah dari jasadnya sebelum didatangkan kepadanya suatu tangkai (dahan) dari pepohonan surga yang harum, sesudah itu barulah rohnya dicabut di dalamnya.

Muhammad ibnu Ka’b mengatakan bahwa tidaklah seorang manusia meninggal dunia sebelum diperlihatkan kepadanya apakah dia termasuk ahli surga ataukah ahli neraka? Dan dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan hadis-hadis yang mengisahkan tentang masa menjelang kematian, yaitu dalam tafsir firman-Nya:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu. (Ibrahim: 27)

Sebaiknya kita sebutkan salah satu di antaranya yang paling utama, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Tamim Ad-Dari, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:

يَقُولُ اللَّهُ لِمَلَكِ الْمَوْتِ: انْطَلِقْ إِلَى فُلَانٍ فَأْتِنِي بِهِ، فَإِنَّهُ قَدْ جَرَّبْتُهُ بِالسَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ فَوَجَدْتُهُ حَيْثُ أُحِبُّ، ائْتِنِي بِهِ فَلَأُرِيحَنَّهُ. قَالَ: فَيَنْطَلِقُ إِلَيْهِ مَلَكُ الْمَوْتِ وَمَعَهُ خَمْسُمِائَةٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ، مَعَهُمْ أَكْفَانٌ وحَنُوط مِنَ الْجَنَّةِ، وَمَعَهُمْ ضَبَائر الرَّيْحَانِ، أَصِلُ الرَّيْحَانَةِ وَاحِدٌ وَفِي رَأْسِهَا عِشْرُونَ لَوْنًا، لِكُلِّ لَوْنٍ مِنْهَا رِيحٌ سِوَى رِيحِ صَاحِبِهِ، وَمَعَهُمُ الْحَرِيرُ الْأَبْيَضُ فِيهِ الْمِسْكُ

Bahwa Allah Swt. berfirman kepada malaikat maut: “Berangkatlah kamu kepada si Fulan dan datangkanlah dia kepada-Ku, karena sesungguhnya Aku telah mengujinya dengan keadaan suka dan duka, ternyata Kujumpai dia dalam keadaan yang Aku sukai. Datangkanlah dia, maka Aku akan membuatnya senang.” Kemudian malaikat maut berangkat menuju kepadanya dengan ditemani oleh lima ratus malaikat, mereka membawa kafan-kafan dan kapur barus dari surga, juga membawa beberapa kayu wangi (cendana) yang setiap ikatan mengandung dua puluh macam jenis dan masing-masing jenis mempunyai bau wangi yang berbeda dengan lainnya, dan mereka membawa pula kain sutra putih yang mengandung minyak kesturi. Hingga akhir hadis yang cukup panjang sebagaimana yang telah disebutkan dalam tafsir surat Ibrahim.

Banyak hadis yang diketengahkan sehubungan dengan ayat ini, seperti berikut:

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Harun, dari Badil ibnu Maisarah, dari Abdullah ibnu Syaqiq, dari Aisyah, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ membaca firman-Nya dengan me-rafa’-kan huruf ra: maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki. (Al-Waqi’ah: 89)

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Daud, Turmuzi dan Nasai melalui hadis Harun alias Ibnu Musa yang tuna netra dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi memberikan komentarnya bahwa kami tidak mengenal hadis ini kecuali melalui hadis Harun. Dan qira-ah ini adalah qira-ah Ya’qub semata. Sedangkan ulama qira-at lainnya berbeda dengannya, mereka membacanya: Farauhun waraihanun.

Imam Ahmad mengatakan pula,, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepada kami Abul Aswad Muhammad ibnu Abdur Rahman ibnu Naufal, bahwa ia pernah mendengar Durrah binti Mu’az menceritakan hadis berikut dari Ummu Hani’ yang bertanya kepada Rasulullah,

أَنَتَزَاوَرُ إِذَا مُتْنَا وَيَرَى بَعْضُنَا بَعْضًا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَكُونُ النَسمُ طَيْرًا يَعْلُقُ بِالشَّجَرِ، حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ دَخَلَتْ كُلُّ نَفْسٍ فِي جَسَدِهَا

“Apakah kami saling berkunjung bila telah mati dan sebagian dari kami melihat sebagian yang lainnya?” Maka Rasulullah menjawab: Kelak diri seseorang itu berupa burung yang hinggap di pepohonan (surga), dan manakala hari kiamat telah terjadi, maka tiap-tiap jiwa (roh) masuk ke dalam tubuhnya masing-masing.

Hadis ini mengandung berita gembira bagi tiap orang mukmin. Makna yang dimaksud dengan ‘hinggap’ ialah ‘makan’, yakni makan dari pohon-pohon yang dihinggapinya.

Kesahihan hal ini dibuktikan pula dengan hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Imam Muhammad ibnu Idris Asy-Syafii, dari Imam Malik ibnu Anas, dari Az-Zuhri, dari Abdur Rahman ibnu Ka’b ibnu Malik, dari ayahnya, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda:

إِنَّمَا نَسَمة الْمُؤْمِنِ طَائِرٌ يَعْلُقُ فِي شَجِرِ الْجَنَّةِ حَتَّى يُرْجِعَهُ اللَّهُ إِلَى جَسَدِهِ يَوْمَ يَبْعَثُهُ

Sesungguhnya jiwa orang mukmin itu berupa burung yang bergantung di pepohonan surga hingga Allah mengembalikannya ke jasadnya pada hari Dia membangkitkannya.

Sanad hadis ini hebat dan matannya dapat dipertanggungjawabkan.

Di dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

إِنَّ أَرْوَاحَ الشُّهَدَاءِ فِي حَوَاصِلِ طَيْرٍ خُضْرٍ تَسْرَحُ فِي الْجَنَّةِ (4) حَيْثُ شَاءَتْ، ثُمَّ تَأْوِي إِلَى قَنَادِيلَ مُعَلَّقَةٍ بِالْعَرْشِ

Sesungguhnya arwah para syuhada itu berada di dalam perut burung hijau yang terbang bebas di taman-taman surga sekehendak hatinya, kemudian hinggap di lentera-lentera yang bergantungan di Arasy.

Imam Ahmad mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Ata ibnus Sa’ib yang mengatakan bahwa pada hari pertama mula-mula ia mengenal Abdur Rahman ibnu Abu Laila, ia melihatnya sebagai seorang syekh yang telah beruban rambut dan jenggotnya, sedang mengendarai keledai mengiringi jenazah. Lalu ia mendengarnya mengatakan bahwa Fulan bin Fulan yang telah mendengar dari Rasulullah ﷺ telah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ. قَالَ: فَأَكَبَّ الْقَوْمُ يَبْكُونَ فَقَالَ: مَا يُبكيكم؟  فَقَالُوا: إِنَّا نَكْرَهُ الْمَوْتَ. قَالَ: لَيْسَ ذَاكَ، وَلَكِنَّهُ إِذَا حُضِر {فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ. فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ} ، فَإِذَا بُشِّر بِذَلِكَ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَاللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ، لِلِقَائِهِ أَحَبُّ {وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ. فَنزلٌ مِنْ حَمِيمٍ [وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ] فَإِذَا بُشِّر بِذَلِكَ كَرِهَ لِقَاءَ الله، والله للقاءه أَكْرَهُ

Barang siapa yang mencintai (hari) perjumpaannya dengan Allah, maka Allah suka berjumpa dengannya; dan barang siapa yang benci akan perjumpaannya dengan Allah, maka Allah benci pula berjumpa dengannya. Maka kaum yang ada menangis, lalu Rasulullah bertanya, “Mengapa kalian menangis?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami benci mati.” Rasulullah bersabda, bahwa bukan itu yang dimaksud, tetapi apabila menjelang ajalnya. adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga kenikmatan. (Al-Waqi’ah: 88-89) Apabila ia mendapat berita gembira tersebut, maka timbullah rasa cintanya untuk bersua dengan Allah, sedangkan Allah Swt. lebih suka darinya untuk bersua dengannya. Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, dan dibakar di dalam neraka. (Al-Waqi’ah: 92-94) Apabila dia telah mendapat berita tersebut, maka dia benci untuk bersua dengan Allah, dan Allah lebih benci untuk bersua dengannya.

Hal yang semakna telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Di dalam kitab sahih disebutkan dari Aisyah r.a. hadis yang menguatkan maknanya.

Firman Allah Swt.:

Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan. (Al-Waqi’ah: 90)

Yakni apabila orang yang sedang menjelang kematiannya itu termasuk golongan kanan,

maka keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan. (Al-Waqi’ah:91)

Yaitu para malaikat menyampaikan berita gembira ini kepada mereka. Berkata malaikat kepada salah seorang dari mereka, “Salaimun laka” artinya kamu dalam keadaan baik-baik saja dan selamat, kamu termasuk golongan kanan.

Qatadah dan Ibnu Zaid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah para malaikat mengucapkan kepadanya, “Selamatlah kamu dari azab Allah,” dan para malaikat mengucapkan salam penghormatan kepadanya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ikrimah, bahwa para malaikat mengucapkan salam kepadanya dan memberitahukan kepadanya bahwa dia termasuk golongan kanan.

Pendapat ini merupakan pendapat yang baik, dan pengertiannya sama dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنزلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ. نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ. نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah, ” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu mem¬peroleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Fushshilat: 30-32)

Imam Bukhari telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: maka keselamatan bagimu. (Al-Waqi’ah: 91) Yakni kamu diselamatkan karena kamu termasuk golongan kanan, kemudian dalam bahasa Arabnya dipersingkat ungkapannya yaitu dengan membuang huruf an, tetapi maknanya masih tetap. Sebagaimana kamu katakan, “Kamu benar akan melakukan perjalanan sebentar lagi,” bilamana sebelumnya ia mengatakan, “Sesungguhnya aku akan bepergian sebentar lagi.” Dan adakalanya ungkapan, “Salamun laka” ini mengandung doa, sebagaimana ucapanmu, uSuqyan laka minar rijali,” semoga kamu mendapat pengairan karena kamu termasuk laki-laki; ini jika lafaz salamun dibaca rafa’, maka termasuk doa.

Demikianlah apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari sebagian ulama bahasa yang kemudian dipilih oleh Ibnu Jarir; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Firman Allah Swt.:

Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, dan dibakar di dalam neraka. (Al-Waqi’ah: 92-94)

Maksudnya, jika orang yang sedang menjelang kematiannya itu termasuk orang yang mendustakan kebenaran lagi sesat dari jalan petunjuk.

maka dia mendapat hidangan. (Al-Waqi’ah: 93)

Yakni sajian.

air yang mendidih. (Al-Waqi’ah 93)

Artinya, air yang mendidih yang dapat menghancurkan semua isi perut dan kulitnya.

dan dibakar di dalam neraka. (Al-Waqi’ah: 94)

Ini mengukuhkan keberadaannya di dalam neraka yang mengepungnya dari segala penjuru.

Kemudian Allah Swt. berfirman:

Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar. (Al-Waqi’ah: 95)

Yaitu berita ini benar-benar hal yang pasti terjadi, tiada keraguan dan tiada kebimbangan padanya, dan tiada jalan lari bagi seorang pun darinya.

Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar. (Al-Waqi’ah: 96)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ayyub Al-Gafiqi, telah menceritakan kepadaku Iyas ibnu Amir, dari Uqbah ibnu Amir Al-Juhani yang mengatakan bahwa ketika diturunkan kepada Rasulullah ﷺ ayat ini, yaitu firman-Nya:

{فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ} قَالَ: اجْعَلُوهَا فِي رُكُوعِكُمْ وَلَمَّا نَزَلَتْ: {سَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الأعْلَى} [الْأَعْلَى:1] ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “اجْعَلُوهَا فِي سُجُودِكُمْ

Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar. (Al-Waqi’ah: 96) Maka beliau bersabda: Jadikanlah bacaan tasbih ini dalam rukuk kalian. Dan ketika turun kepada beliau firman-Nya: Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi. (Al-A’la: 1) Maka beliau bersabda: Jadikanlah bacaan ini dalam sujud kalian.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Ibnu Majah melalui hadis Abdullah ibnul Mubarak, dari Musa ibnu Ayyub dengan sanad yang sama.

Rauh ibnu Ubadah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj As-Sawwaf dari Abuz Zubair, dari Jabir yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ

Barang siapa yang mengucapkan, “Maha Suci Allah Yang Maha Besar dan dengan memuji kepada-Nya, ” maka ditanamkan baginya sebuah pohon kurma di dalam surga.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi melalui hadis Rauh, dan Imam Nasai meriwayatkannya pula melalui hadis Hammad ibnu Salamah, dari hadis Abuz Zubair, dari Jabir, dari Nabi ﷺ dengan lafaz yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib, kami tidak mengenalnya melainkan melalui hadis Abuz Zubair.

Imam Bukhari di dalam akhir kitabnya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Isykab, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fudail, telah menceritakan kepada kami Imarah ibnul Qa’qa’, dari Abu Zar’ah, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Ada dua kalimah yang ringan di mulut, berat dalam timbangan amal perbuatan, lagi disukai oleh Tuhan Yang Maha Pemurah, yaitu: “Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Besar.”

Jamaah yang lainnya (selain Imam Bukhari) selain Abu Daud, telah meriwayatkan hadis ini melalui Muhammad ibnu Fudail dengan sanad yang semisal.

Demikianlah akhir surah Al-Hadid. Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

««««« juz 26 «««   ««« juz 27 «««   ««« juz 28 «««««