Ayat Ini Menerangkan Kifarat Zhihar

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Mujaadilah

0
189

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Mujaadilah, Kisah wanita yang mengajukan gugatan yaitu Khaulah binti Tsa’labah yang dizhihar suaminya mengikuti kebiasaan kaum Jahiliyyah yang mengharamkan istri dengan melakukan zhihar. Ayat 3-4 menerangkan kifarat zhihar.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (٣) فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ذَلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٤)

Dan mereka yang menzhihar istrinya, kemudian menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan, maka (mereka diwajibkan) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan Allah kepadamu, dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. Maka barang siapa tidak dapat (memerdekakan budak), maka (dia wajib) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Tetapi barang siapa tidak mampu (berpuasa), maka (wajib) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang yang mengingkarinya akan mendapat azab yang sangat pedih. (Q.S. Al-Mujaadilah : 3-4)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wal ladzīna yuzhāhirūna min nisā-ihim (dan orang-orang yang menzhihar istri mereka), yakni yang mengharamkan diri sendiri untuk menggauli istrinya.

Tsumma ya‘ūdūna li mā qālū (kemudian hendak menarik kembali apa yang telah mereka katakan), yakni mereka hendak kembali menghalalkan persetubuhan yang telah mereka haramkan untuk diri mereka.

Fa tahrīru raqabatin (maka hendaklah memerdekakan seorang budak), yakni maka ia wajib memerdekakan seorang budak.

Ming qabli ay yatamāssā (sebelum keduanya bercampur), yakni bersetubuh.

Dzālikum (itulah), yakni memerdekakan itulah.

Tū‘azhūna bih (yang diajarkan kepada kalian), yakni yang diperintahkan ke pada kalian sebagai kifarat zhihar.

Wallāhu bimā ta‘malūna khabīr (dan Allah Maha mengetahui apa yang kalian perbuat) berkaitan dengan masalah zhihar, kifarat zhihar, dan lain sebagainya.

Fa mal lam yajid (barangsiapa tidak mendapatkan) budak untuk dimerdekakan.

Fa shiyāmu syahraini mutatābi‘aini (maka [wajib atasnya] shaum dua bulan berturut-turut), yakni berurutan.

Ming qabli ay yatamāssā (sebelum keduanya bercampur), yakni bersetubuh.

Fa mal lam yastathi‘ (namun, barangsiapa tidak mampu) shaum karena lemah.

Fa ith‘āmu sittīna miskīnā (maka [wajib atasnya] memberi makan enam puluh orang miskin), dengan setengan sha‘ gandum atau satu sha‘ jelai atau kurma.

Dzālika (itulah), yakni kifarat zhihar yang telah Kuterangkan itu.

Li tu’minū billāhi wa rasūlihī (supaya kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya), yakni supaya kalian mengakui ketentuan-ketentuan Allah Ta‘ala dan Sunnah Rasul-Nya.

Wa tilka hudūdullāhi (dan itulah Had-had Allah), yakni itulah Hukum-hukum Allah Ta‘ala dan ketentuan-ketentuan-Nya tentang zhihar.

Wa lil kāfirīna (dan bagi orang-orang yang kafir) kepada Had-had Allah Ta‘ala.

‘Adzābun alīm (adalah azab yang sangat pedih), yakni yang sangat menyakitkan, yang rasa sakitnya terkonsentrasi di dalam hati mereka. Mulai ayat pertama sampai ayat ini diturunkan berhubungan dengan Khaulah binti Tsa‘la bah bin Malik bin ad-Dakhtsam al-Anshariyyah dan suaminya Aus bin ash-Shamit yang juga merupakan saudara laki-laki ‘Ubadah bin ash-Shamit. Suatu ketika Aus bin ash-Shamit memarahi istrinya karena tidak mau menuruti perintahnya. Sehingga Aus menetapkan pada dirinya bahwa istrinya seperti punggung ibu nya (baca: menzhihar). Kemudian Aus menyesali tindakannya, sehingga turunlah Penjelasan Allah Ta‘ala melalui lisan Rasulullah ﷺ yang berkata kepada Aus, Merdekakanlah seorang budak. Aus menjawab, Harta saya tidak banyak, sedangkan budak sangat mahal. Beliau berkata lagi, Shaumlah dua bulan berturut-turut. Dia menjawab, Saya tidak sanggup. Jika dalam satu hari saya tidak makan barang sekali atau dua kali, mata saya akan menjadi lemah dan saya khawatir akan mati. Nabi ﷺ berkata lagi, Berilah makan enam puluh orang miskin. Dia menjawab, Saya tidak punya. Lalu Rasulullah ﷺ memerintahkan (seseorang) agar memberi Aus setumpuk kurma serta menyuruhnya agar memberikan kurma itu kepada orang-orang miskin. Tetapi Aus berkata, Setahu saya, di Madinah ini tak ada orang yang lebih membutuhkannya ketimbang saya. Maka beliau menyuruh Aus untuk memakannya, dan beliaulah yang memberi makan enam puluh orang miskin. Aus pun kembali menghalalkan apa yang telah ia haramkan untuk dirinya. Dan Nabi ﷺ beserta yang lainnya telah membantu Aus untuk menunaikan hal tersebut.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Dan mereka yang menzhihar istrinya, kemudian menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan[10], maka (mereka diwajibkan) memerdekakan seorang budak[11] sebelum kedua suami istri itu bercampur[12]. Demikianlah yang diajarkan Allah kepadamu[13], dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan[14].

[10] Para ulama berbeda pendapat tentang makna ‘aud’ (menarik kembali). Ada yang mengatakan, bahwa maknanya adalah berniat untuk menjima’i istrinya yang telah dizhihar, dan bahwa dengan adanya niat untuk kembali, maka ia wajib membayar kaffarat yang disebutkan.” Ada pula yang mengatakan, bahwa ‘aud’ di sini adalah berjima’. Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Maksudnya adalah kembali berjima’ atau berniat untuknya, maka tidak halal baginya sampai ia membayar kaffarat ini.”

Al Hasan Al Bashriy berkata, “Maksudnya (haram) menyetubuhi di farjinya.” Menurutnya, tidak mengapa jika seseorang bersenang-senang dengan istrinya namun tidak di farjinya sebelum ia membayar kaffarat. Namun menurut Az Zuhri, ia tidak boleh mencium dan menyentuhnya sebelum membayar kaffarat, wallahu a’lam.

[11] Yakni budak yang mukmin, laki-laki atau perempuan dengan syarat harus selamat dari cacat yang dapat merugikan kerjanya.

[12] Maksudnya, suami tidak boleh menjima’i istri yang dia zhihar sampai ia membayar kaffarat dengan memerdekakan seorang budak.

[13] Yakni itulah nasihat-Nya kepadamu; Dia menerangkan hukum dengan disertai targhib (dorongan) dan tarhib (ancaman).

[14] Lalu Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang yang beramal.

  1. Maka barang siapa tidak dapat (memerdekakan budak)[15], maka (dia wajib) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Tetapi barang siapa tidak mampu (berpuasa), maka (wajib) memberi makan enam puluh orang miskin[16]. Demikianlah[17] agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya[18]. Itulah hukum-hukum Allah[19], dan bagi orang-orang yang mengingkarinya akan mendapat azab yang sangat pedih.

[15] Seperti tidak menemukan budak atau tidak memiliki biaya untuk memerdekakan budak.

[16] Bisa dengan memberi mereka makan dari makanan pokok daerahnya yang cukup bagi mereka, bisa juga dengan memberikan setiap seorang miskin satu mud gandum atau setengah sha’ dari selain gandum dari makanan pokok sesuai daerah itu.

[17] Yakni hukum yang diterangkan-Nya kepada kamu.

[18] Yaitu dengan memegang teguh hukum tersebut dan hukum-hukum lainnya dan mengamalkannya, karena berpegang dengan hukum-hukum Allah dan mengamalkannya termasuk bagian dari iman, bahkan yang demikian adalah maksudnya dan menambah keimanan, mengembangkannya dan menyempurnakannya.

[19] Yakni batasan-batasan Allah untuk mencegah agar seseorang tidak terjatuh ke dalamnya, sehingga tidak boleh dilampaui dan diremehkan.

Syaikh As Sa’diy menerangkan, bahwa dalam ayat ini terdapat sejumlah hukum, di antaranya kami sebutkan secara ringkas-:

– Kelembutan Allah Subhaanahu wa Ta’aala kepada hamba-hamba-Nya dan perhatian-Nya kepada mereka, dimana Dia menyebutkan keluhan perempuan itu, lalu diangkat-Nya dan dihilangkan-Nya, bahkan Dia singkirkan pula dengan hukum-Nya yang umum setiap orang yang tertimpa masalah atau musibah seperti ini.

– Zhihar hanya khusus kepada istri. Oleh karena itu, jika seorang menzhihar budaknya, maka itu bukanlah zhihar, bahkan tergolong ke dalam mengharamkan makanan dan minuman yang mubah yang cukup dengan kaffarat sumpah saja.

– Zhihar tidaklah sah terhadap wanita yang belum dinikahinya karena waktu menzhiharnya wanita itu belum menjadi istrinya, sebagaimana tidak sah juga menalak wanita yang belum menjadi istrinya.

– Zhihar hukumnya haram, karena Allah menamainya sebagai sebuah kemungkaran dan dusta.

– Allah Subhaanahu wa Ta’aala dalam ayat tersebut mengingatkan sisi (sebab) hukumnya dan hikmah-Nya.

– Dimakruhkan seorang suami memanggil istrinya dan menyebutnya dengan nama salah seorang dari mahramnya, seperti memanggil istrinya, “Umi” (artinya: ibuku), “Ukhti” (Saudariku) dsb. Karena hal itu mirip dengan mahramnya.

– Kaffarat hanyalah wajib karena ‘aud (menarik kembali) ucapan yang diucapkan penzhihar sesuai khilaf tentang maksud ‘aud’ yang sudah disebutkan sebelumnya, bukan semata-mata karena zhihar.

– Kaffarat wajib dibayarkan jika berupa memerdekakan budak atau berpuasa sebelum berjima’ sebagaimana yang telah Allah batasi dengannya, berbeda dengan kaffarat yang berupa memberi makan, maka boleh menjima’i istri di tengah-tengah memberi makan tersebut.

– Mungkin hikmah wajibnya kaffarat sebelum jima’, karena yang demikian dapat mendorong untuk segera membayarkannya, karena ketika ia ingin menjima’i istrinya, maka ia sadar bahwa ia tidak mungkin melakukannya kecuali setelah membayar kaffarat, maka ia pun segera mengeluarkannya atau membayarnya.

– Dalam memberi makan harus enam puluh orang miskin. Oleh karena itu, jika dikumpulkan makanan untuk 60 orang miskin, tetapi malah diberikan satu, dua atau tiga orang miskin, maka hal itu tidak sah.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan orang-orang yang menzihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan) tentang zihar ini, seumpama dia bersikap berbeda dengan apa yang telah dikatakannya itu, yaitu dengan cara tetap memegang istri yang diziharnya. Sedangkan perbuatan ini jelas bertentangan dengan maksud tujuan daripada perkataan zihar, yaitu menggambarkan istri dengan sifat yang menjadikannya haram bagi dia (maka memerdekakan seorang budak) maksudnya wajib atasnya memerdekakan seorang budak (sebelum kedua suami istri itu bercampur) bersetubuh. (Demikianlah yang diajarkan kepada kalian, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan).
  2. (Maka barang siapa yang tidak mendapatkan) budak (maka wajib atasnya berpuasa dua bulan berturut-turut, sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak mampu) melakukan puasa (memberi makan enam puluh orang miskin) diwajibkan atasnya, yakni sebelum keduanya bercampur kembali sebagai suami istri; untuk tiap-tiap orang miskin satu mudd makanan pokok negeri orang yang bersangkutan. Kesimpulan hukum ini berdasarkan pemahaman menyamakan pengertian yang mutlak dengan yang muqayyad. (Demikianlah) keringanan ini dengan memakai kifarat (supaya kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah) yakni hukum-hukum tersebut (batasan-batasan Allah, dan bagi orang-orang yang ingkar) kepada batasan-batasan atau hukum-hukum Allah itu (azab yang sangat pedih) atau siksaan yang amat menyakitkan.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Dan orang-orang yang men-zihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan. (Al-Mujadilah: 3)

Ulama Salaf dan para imam berbeda pendapat mengenai makna yang dimaksud oleh firman-Nya: kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan. (Al-Mujadilah: 3) Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘kembali’ ialah kembali mengulangi kata-kata zihar-nya, tetapi pendapat ini batil. Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Hazm dan pendapat Daud yang diriwayatkan oleh Abu Umar ibnu Abdul Bar, dari Bukair ibnul Asyaj dan Al-Farra, serta segolongan ulama ilmu kalam (tauhid).

Imam Syafii mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah hendaknya si suami tetap memegang istrinya sesudah ia men-zihar–nya selama suatu masa yang memungkinkan baginya dalam masa itu menjatuhkan talaknya, tetapi dia tidak menjatuhkannya.

Imam Ahmad ibnu Hambal mengatakan, makna yang dimaksud ialah bila suami yang bersangkutan hendak kembali menyetubuhi istri yang telah di-zihar-nya, atau bertekad akan menyetubuhinya, maka istrinya itu tidak halal baginya sebelum ia membayar kifarat zihar-nya.

Telah diriwayatkan pula dari Malik, bahwa makna yang dimaksud ialah tekad untuk menyetubuhi atau tekad untuk tetap memegangnya sebagai istri. Dan menurut riwayat lain yang bersumberkan darinya, makna yang dimaksud ialah hendak menyetubuhi.

Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah bila si suami kembali melakukan zihar lagi sesudah zihar diharamkan dan hukum Jahiliah mengenainya dihapuskan (yakni zihar sama dengan talak). Maka manakala seorang lelaki men-zihar istrinya, berarti istrinya itu haram baginya, dan status haramnya itu tidak dapat dihilangkan kecuali dengan membayar kifaratnya. Pendapat ini pulalah yang dianut oleh murid-murid Imam Abu Hanifah dan Al-Lais ibnu Sa’d.

Ibnu Lahi’ah mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ata, dari Sa’ id ibnu Jubair sehubungan dengan makna firman-Nya: kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan. (Al-Mujadilah: 3) Yakni mereka bermaksud akan menyetubuhi istri-istri mereka yang telah mereka haramkan atas diri mereka melalui zihar.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah menyetubuhi kemaluan. Al-Hasan menilai tidak mengapa melakukan persetubuhan di luar kemaluan sebelum yang bersangkutan membayar kifarat zihar-nya.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: sebelum kedua suami istri itu bercampur. (Al-Mujadilah: 3) Yang dimaksud dengan bercampur ialah nikah (jimak). Hal yang sama telah dikatakan oleh Ata, Az-Zuhri, Qatadah, dan Muqatil ibnu Hayyan.

Az-Zuhri mengatakan bahwa tidak boleh bagi suami yang telah men-zihar istrinya mencium istri yang di-zihar-nya, tidak boleh pula menyetubuhinya sebelum ia membayar kifarat zihar-nya.

Ahlus Sunan telah meriwayatkan melalui hadis Ikrimah, dari Ibnu Abbas:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي ظَاهَرْتُ مِنِ امْرَأَتِي فَوَقَعْتُ عَلَيْهَا قَبْلَ أَنْ أُكَفِّرَ. فَقَالَ: “مَا حَمَلَكَ عَلَى ذَلِكَ يَرْحَمُكَ اللَّهُ؟ “. قَالَ: رَأَيْتُ خَلْخَالَهَا فِي ضَوْءِ الْقَمَرِ. قَالَ: فَلَا تَقْرَبْهَا حَتَّى تَفْعَلَ مَا أَمَرَكَ اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ

Bahwa seorang lelaki bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah men-zihar istriku, lalu aku menyetubuhinya sebelum kubayar kifaratnya.” Rasulullah balik bertanya, “Apakah yang mendorongmu melakukan hal itu? Semoga Allah merahmatimu.” Lelaki itu menjawab, “Aku melihat kemilauan gelang kakinya yang terkena sinar rembulan.” Rasulullah bersabda: Jangan kamu dekati dia sebelum kamu kerjakan apa yang telah diperintahkan Allah Swt. kepadamu.

Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib sahih. Imam Abu Daud dan Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Ikrimah secara mursal. Menurut Imam Nasai, yang berpredikat mursal-lah yang lebih mendekati kebenaran.

Firman Allah Swt.:

Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak. (Al-Mujadilah: 3)

Yakni memerdekakan seorang budak secara utuh, sebelum yang bersangkutan menggauli istri yang telah di-zihar-nya. Dalam ayat ini sebutan raqabah atau budak tidak diikat dengan keimanan, sedangkan di dalam kifarat membunuh diikat dengan keimanan. Maka Imam Syafii rahimahullah menakwilkan kemutlakan dalam ayat ini, bahwa ia diikat dengan pengertian budak yang ada pada kifarat pembunuhan; mengingat subjeknya sama, yaitu memerdekakan budak.

Dan Imam Syafii mendukung pendapatnya ini dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Malik berikut sanadnya, dari Mu’awiyah ibnul Hakam As-Sulami sehubungan dengan kisah seorang budak perempuan berkulit hitam. Disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

Merdekakanlah dia, karena sesungguhnya dia adalah wanita yang beriman.

Imam Ahmad telah meriwayatkan hadis ini di dalam kitab musnadnya, demikian pula Imam Muslim di dalam kitab sahihnya.

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنُ مُسْلِمٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، عَنْ طَاوُسٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ: إِنِّي تَظَاهَرْتُ مِنِ امْرَأَتِي ثُمَّ وَقَعْتُ عَلَيْهَا قَبْلَ أَنْ أُكَفِّرَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَلَمْ يَقُلِ اللَّهُ {مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا} قَالَ: أَعْجَبَتْنِي؟ قَالَ: “أَمْسِكْ حَتَّى تُكَفِّرَ

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Numair, dari Ismail ibnu Muslim ibnu Yasar, dari Amr ibnu Dinar, dari Tawus, dari Ibnu Abbas yang menceritakan pernah ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu bertanya, “Sesungguhnya aku telah men-zihar istriku dan aku menggaulinya sebelum kubayar kifaratnya.” Rasulullah balik bertanya, “Bukankah Allah Swt. telah berfirman, ‘Sebelum keduanya bercampur’?” Lelaki itu menjawab, “Aku terangsang olehnya.” Rasulullah bersabda: Tahanlah dirimu (dari bersetubuh) hingga kamu membayar kifaratmu.

Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa tiada suatu riwayat dari Ibnu Abbas yang lebih baik daripada ini; Ismail ibnu Muslim orangnya masih diperbincangkan, tetapi banyak ulama yang mengambil riwayat darinya. Di dalam hadis ini terkandung hukum fiqih yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak memerintahkan kepada lelaki itu kecuali hanya membayar satu kali kifarat.

Firman Allah Swt.:

Demikianlah yang diajarkan kepadamu. (Al-Mujadilah: 3)

Yakni sebagai peringatan bagimu.

dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Mujadilah: 3)

Yaitu mengetahui semua yang bermaslahat lagi sesuai dengan keadaan kalian.

Firman Allah Swt.:

Barang siapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. (Al-Mujadilah: 4)

Dalam penjelasan yang lalu telah dikemukakan hadis-hadis yang memerintahkan hal ini secara tertib, sebagaimana telah ditetapkan di dalam kitab Sahihain mengenai kisah seorang lelaki yang menyetubuhi istrinya dalam bulan Ramadan.

Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. (Al-Mujadilah: 4)

Artinya, Kami perintahkan demikian itu agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Firman Allah Swt.:

Dan itulah hukum-hukum Allah. (Al-Mujadilah: 4)

Yakni batasan-batasan yang diharamkan-Nya, maka janganlah kamu melanggarnya.

Dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih. (Al-Mujadilah: 4)

Yaitu orang-orang yang tidak beriman dan tidak mau menetapi hukum-hukum syariat ini serta tidak meyakini bahwa mereka akan selamat dari musibah. Keadaan yang sebenarnya tidaklah seperti apa yang diduga oleh mereka, bahkan bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat nanti.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

 ««««« juz 27 «««   ««« juz 28 «««  ««« juz 29 «««««