Membicarakan Tentang Orang-orang Munafik

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Mujaadilah Ayat 14-16

0
209

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Mujaadilah Ayat 14-16, Beberapa ayat ini membicarakan tentang orang-orang munafik yang mengambil suatu kaum sebagai kawannya, dimana mereka mencintai dan bersikap setia kepadanya, maka di dalam ayat ini tirai dan kedok mereka dibuka. Dalam ayat ini juga terdapat larangan berteman dengan orang-orang yang memusuhi Islam.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (١٤) أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١٥) اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ (١٦)

Tidakkah engkau perhatikan orang-orang (munafik) yang menjadikan suatu kaum yang telah dimurkai Allah sebagai sahabat? Orang-orang itu bukan dari (kaum) kamu dan bukan dari (kaum) mereka. Dan mereka bersumpah atas kebohongan, sedang mereka mengetahuinya. Allah telah menyediakan azab yang sangat keras bagi mereka. Sungguh, betapa buruknya apa yang telah mereka kerjakan. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah; maka bagi mereka azab yang menghinakan. (Q.S. Al-Mujaadilah : 14-16)

.

Tafsir Ibnu Abbas

A lam tara (apakah kamu tidak melihat), yakni apakah kamu tidak memperhatikan, hai Muhammad!

Ilal ladzīna tawallau (orang-orang yang menjadikan sebagai teman) dalam hal saling memberi bantuan dan pertolongan.

Qauman (suatu kaum), yakni kaum Yahudi.

Ghadliballāhu ‘alaihim (yang Dimurkai Allah), yakni yang sangat dimarahi Allah Ta‘ala.

Mā hum (orang-orang itu bukanlah), yakni orang-orang munafik itu tidak termasuk.

Mingkum (dari golongan kalian), yakni secara batin, tetapi mereka mempunyai kewajiban yang sama dengan kalian.

Wa lā minhum (dan bukan pula dari golongan mereka), yakni secara terang-terangan bukan pula termasuk golongan Yahudi, tetapi mereka mempunyai kewajiban yang sama dengan orang-orang Yahudi.

Wa yahlifūna ‘alal kadzibi (dan mereka bersumpah atas kebohongan itu), yakni bersumpah dengan penuh kebohongan bahwa mereka adalah orang-orang mukmin yang bersungguh-sungguh dalam keimanan mereka.

Wa hum ya‘lamūn (sedangkan mereka mengetahui) bahwa mereka berdusta dalam sumpah mereka.

A‘addallāhu lahum (Allah telah menyediakan bagi mereka), yakni bagi orang-orang munafik, ‘Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya.

‘Adzābaη syadīdā (azab yang sangat keras) di dunia dan akhirat.

Innahum sā-a mā kānū ya‘malūn (sungguh amatlah buruk apa yang selalu mereka perbuat), yakni alangkah buruknya kemunafikan yang selalu mereka perbuat.

Ittakhadzū aimānahum (mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka), yakni sumpah palsu mereka atas nama Allah Ta‘ala.

Junnatan (sebagai perisai) untuk menghindari pembunuhan.

Fa shaddū ‘aη sabīlillāhi (seraya menghalang-halangi dari Jalan Allah), yakni secara diam-diam mereka berupaya memalingkan orang-orang dari Agama Allah Ta‘ala dan dari ketaatan kepada-Nya.

Fa lahum ‘adzābum muhīn (maka bagi mereka adalah azab yang menghinakan), yakni mereka akan dihinakan dengan azab di akhirat.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [8]Tidakkah engkau perhatikan orang-orang (munafik) yang menjadikan suatu kaum yang telah dimurkai Allah[9] sebagai sahabat? Orang-orang itu bukan dari (kaum) kamu[10] dan bukan dari (kaum) mereka[11]. [12]Dan mereka bersumpah atas kebohongan[13], sedang mereka mengetahuinya[14].

[8] Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan tentang buruknya keadaan kaum munafik yang berwala’ (memberikan sikap cinta dan setia) kepada orang-orang kafir dan menjadikan mereka sebagai sahabat, baik mereka itu orang-orang Yahudi, Nasrani dan yang lainnya yang Allah Subhaanahu wa Ta’aala murkai. Mereka memperoleh laknat Allah dan bersikap ragu-ragu antara beriman atau kafir. Mereka bukan orang-orang mukmin baik zhahir (luar) maupun batin (dalam) karena batin mereka bersama orang-orang kafir, dan bukan pula orang-orang kafir baik zhahir maupun batin karena zhahir mereka bersama kaum mukmin. Inilah sifat mereka yang telah disebutkan Allah Subhaanahu wa Ta’aala, mereka bersumpah dengan sumpah yang berlawanan dengan keadaan mereka, yaitu bahwa mereka adalah orang-orang mukmin, padahal mereka mengetahui bahwa mereka bukan orang-orang mukmin. Maka balasan terhadap mereka yang berkhianat itu yang fasik lagi berdusta adalah Allah siapkan untuk mereka azab yang pedih. Mereka mengerjakan perbuatan yang mendatangkan kemurkaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala, mendatangkan hukuman dan laknat-Nya.

[9] Yaitu orang-orang Yahudi.

[10] Yaitu orang-orang mukmin.

[11] Yaitu orang-orang Yahudi.

[12] Imam Ahmad di juz 1 hal. 240 meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Akan masuk menemui kamu seorang yang melihat dengan satu mata setan atau kedua mata setan.” Lalu ada seorang yang biru matanya dan berkata, “Wahai Muhammad! Atas dasar apa engkau engkau memakiku atau mencelaku.” atau semisalnya. Ibnu Abbas berkata, “Ia pun bersumpah, dan turunlah ayat ini yang ada di surah Al Mujaadilah, “Dan mereka bersumpah atas kebohongan,” dan ayat yang lain. (Haitsami berkata dalam Majma’uz Zawaa’id, “Diriwayatkan oleh Ahmad, Al Bazzar dan para perawi semuanya adalah para perawi hadits shahih, namun di sana disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ yang berkata kepada orang itu, “Atas dasar apa engkau dan kawanmu memakiku.” Syaikh Muqbil menjelaskan, bahwa inilah yang disebutkan dalam Musnad di halaman 267 dan 350. Hadits tersebut diriwayatkan pula oleh Hakim dalam Mustadrak juz 2 hal. 482, ia berkata, “Hadits ini shahih sesuai syarat Muslim, namun keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak menyebutkannya.”).

Ibnu Jarir di juz 10 hal. 185 dan Asy Syaukaani di juz 2 hal. 384 menyandarkannya kepada Thabrani, Abusy Syaikh dan Ibnu Mardawaih dari hadits Ibnu Abbas yang sama dengan hadits di atas, namun di sana disebutkan, dan turunlah ayat, “Wa yahlifuuna billahi maa qaaluu…dst” (At Taubah: 74) Syaikh Muqbil menjelaskan, bisa saja kedua ayat itu turun bersamaan karena satu sebab atau bisa juga karena mudhtrarib (goncangnya) Sammak bin Harb, karena ia seorang yang goncang haditsnya terlebih setelah tuanya, wallahu a’lam. Sedangkan ayat yang turun di surah Al Mujaadilah lebih kuat karena yang meriwayatkan darinya adalah Syu’bah, dan ia sudah mendengar sejak lama sebagaimana disebutkan dalam Tahdzibut Tahdzib.

[13] Bahwa mereka beriman.

[14] Bahwa mereka berdusta dalam ucapan itu.

  1. Allah telah menyediakan azab yang sangat keras bagi mereka. Sungguh, betapa buruknya apa yang telah mereka kerjakan.
  2. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai[15], lalu mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah[16]; maka bagi mereka azab yang menghinakan[17].

[15] Terhadap diri dan harta mereka. Mereka gunakan sumpah itu agar mereka tidak mendapatkan celaan dari Allah, Rasul-Nya dan kaum mukmin.

[16] Yaitu jalan yang menghubungkan ke surga, seperti jihad dan lainnya. Mereka halangi diri mereka dan orang lain dari jalan Allah tersebut.

[17] Karena mereka sombong dari beriman kepada Allah dan tunduk kepada ayat-ayat-Nya sehingga Allah Subhaanahu wa Ta’aala menghinakan mereka dengan azab yang kekal yang tidak dikurangi meskipun sebentar dan tidak pula diberi tangguh.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Tidakkah kamu perhatikan) tidakkah kamu melihat (orang-orang yang menjadikan teman) mereka adalah kaum munafik (suatu kaum) yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi (yang dimurkai Allah? Orang-orang itu bukan) yakni orang-orang munafik itu bukan (dari golongan kalian) orang-orang mukmin (dan bukan pula dari golongan mereka) bukan dari kalangan orang-orang Yahudi akan tetapi mereka adalah orang-orang yang bermuka dua. (Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan) yakni perkataan mereka bahwa sesungguhnya mereka adalah orang-orang beriman (sedang mereka mengetahui) bahwa dalam hal ini mereka berdusta belaka.
  2. (Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan) dari perbuatan-perbuatan maksiat.
  3. (Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai) untuk melindungi jiwa dan harta mereka (lalu mereka halangi) dengan sumpah mereka itu orang-orang mukmin (dari jalan Allah) untuk berjihad melawan mereka yang musuh dalam selimut itu, dengan cara membunuh mereka dan merampas harta benda mereka (karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan) siksaan yang membuat mereka hina.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. berfirman, mengingkari orang-orang munafik karena mereka membantu orang-orang kafir dalam batinnya, padahal dalam waktu yang sama mereka tidak bersama;sama dengan orang-orang kafir, juga tidak bersama-sama dengan kaum mukmin. Sebagaimana yang diterangkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:

مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَلِكَ لَا إِلَى هَؤُلاءِ وَلا إِلَى هَؤُلاءِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلا

Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman dan kafir); tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barang siapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. (An-Nisa: 143)

Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? (Al-Mujadilah: 14)

Yakni orang-orang Yahudi yang munafik bersekongkol dan memihak kepada mereka dalam batinnya. Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya:

Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. (Al-Mujadilah: 14)

Artinya, orang-orang munafik itu pada hakikatnya bukan dari kalangan kamu, hai orang-orang mukmin; bukan pula dari kalangan orang-orang yang di pihak oleh mereka, yakni orang-orang Yahudi. Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan:

Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedangkan mereka mengetahui. (Al-Mujadilah: 14)

Orang-orang munafik itu bersumpah dengan dusta, sedangkan mereka mengetahui bahwa sumpah yang mereka lakukan itu dusta belaka, yang dikenal dengan yaminul gamus. Hal ini merupakan kebiasaan mereka yang terkutuk, na’uzu billah. Karena sesungguhnya apabila bersua dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami beriman.” Dan apabila datang kepada Rasul, mereka bersumpah kepadanya dengan nama Allah bahwa diri mereka beriman. Padahal mereka mengetahui dalam dirinya bahwa sumpah yang mereka lakukan itu hanyalah dusta belaka, karena mereka tidak meyakini kebenaran dari apa yang mereka katakan, sekalipun secara lahiriahnya dibenarkan. Karena itulah maka Allah menyaksikan kedustaan sumpah dan persaksian mereka terhadap hal tersebut.

Kemudian Allah Swt. berfirman:

Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (Al-Mujadilah: 15)

Yakni sebagai balasan dari perbuatan mereka itu, Allah telah menyiapkan azab yang pedih karena mereka berpihak kepada orang-orang kafir, menolong mereka, dan memusuhi serta menipu orang-orang mukmin. Untuk itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:

Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah. (Al-Mujadilah: 16)

Yaitu mereka melahirkan keimanan, padahal di dalam batin mereka memendam kekufuran. Mereka menutupi keadaan mereka yang sebenarnya dengan sumpah-sumpah dusta, sehingga kebanyakan orang yang tidak mengetahui keadaan mereka mengira bahwa mereka benar. Akhirnya teperdayalah ia, dan dengan demikain maka berhasillah cara mereka dalam menghalangi sebagian manusia dari jalan Allah.

karena itu. mereka mendapat azab yang menghinakan. (Al-Mujadilah: 16)

Yakni sebagai balasan dari penghinaan mereka kepada Allah karena mereka menyebut-Nya dalam sumpah-sumpah dusta mereka.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

 ««««« juz 27 «««   ««« juz 28 «««  ««« juz 29 «««««