Arti fai’i, Sifat dan Hukumnya

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Hasyr Ayat 6

0
346

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Hasyr Ayat 6, Hukum fai’i.

  وَمَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْهُمْ فَمَا أَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَلا رِكَابٍ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٦)

Dan harta rampasan (fai’i) dari mereka yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya, kamu tidak memerlukan kuda atau unta untuk mendapatkannya, tetapi Allah memberikan kekuasaan kepada rasul-rasul-Nya terhadap siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa mā afā-allāhu ‘alā rasūlihī (dan apa saja harta rampasan [fai’i] yang Di berikan Allah kepada rasul-Nya), yakni kemenangan yang diberikan Allah Ta‘ala kepada rasul-Nya.

Minhum (dari mereka), yakni dari Bani an-Nadlir. Semua itu khusus untuk Rasulullah ﷺ dan bukan untuk kalian.

Fa mā aujaftum ‘alaihi (maka untuk mendapatkannya kalian tidak mengerahkan), yakni untuk mendapatkannya kalian tidak menjalankan ….

Min khailiw wa lā rikābin (seekor kuda pun dan tidak pula seekor unta pun), dan tidak pula kalian mesti melakukan suatu perjalanan untuk mendapatkannya, sebab letaknya dekat dengan Madinah.

Wa lākinnallāha yusallithu rusulahū (tetapi Allah memberikan kekuasaan kepada Rasul-Nya), yakni kepada Nabi Muhammad ﷺ.

‘ Alā may yasyā-u (terhadap siapa saja yang dikehendaki-Nya), yakni terhadap Bani an-Nadlir.

Wallāhu ‘alā kulli syai-ing qadīr (dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu), termasuk memberi kemenangan dan ganimah.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Dan harta rampasan (fai’i)[18] dari mereka yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya, kamu tidak memerlukan kuda atau unta untuk mendapatkannya[19], tetapi Allah memberikan kekuasaan kepada rasul-rasul-Nya terhadap siapa yang Dia kehendaki[20]. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

[18] Fai’i ialah harta rampasan yang diperoleh dari orang-orang kafir tanpa terjadinya pertempuran, misalnya harta yang mereka tinggal lari karena takut kepada kaum muslimin. Harta tersebut dinamakan fai’i yang artinya kembali, karena harta itu kembali dari orang-orang kafir yang tidak berhak memilikinya kepada kaum muslimin yang memiliki hak terhadapnya. Pembagian fai’i berlainan dengan pembagian ghanimah (harta rampasan yang diperoleh dari musuh setelah terjadi pertempuran). Pembagian fai’i disebutkan pada ayat 7 surah ini, sedangkan pembagian ghanimah disebutkan dalam surah Al Anfaal ayat 41.

Pembagian fai’i, berdasarkan ayat ke-7 surah Al Hasyr ini adalah dibagi menjadi lima bagian:

– 1/5 untuk Allah dan Rasul-Nya ﷺ yang kemudian dialihkan untuk maslahat kaum muslimin secara umum,

– 1/5 untuk kerabat Rasulullah ﷺ (Bani Hasyim dan Bani Muththalib), dimana antara laki-laki dan perempuannya disamaratakan. Bani Muththalib mendapatkan 1/5 bersama Bani Hasyim sedangkan Bani Abdi Manaf yang lain tidak, karena mereka (Bani Muththalib) ikut serta dengan Bani Hasyim dalam masuknya mereka ke dalam satu suku besar ketika orang-orang Quraisy mengadakan kesepakatan untuk menjauhi dan memusuhi mereka; mereka menolong Rasulullah ﷺ berbeda dengan selain mereka. Oleh karena itu, Nabi ﷺ menjelaskan tentang Bani Muththalib, “Sesungguhnya mereka tidak berpisah denganku di masa Jahiliyyah maupun Islam.”

– 1/5 untuk anak-anak yatim yang fakir, yaitu anak-anak yang ditinggal wafat bapaknya sedangkan mereka belum baligh.

– 1/5 untuk orang-orang miskin, dan

– 1/5 lagi untuk Ibnus Sabil, yaitu orang asing yang terputus dalam perjalanan karena kehabisan bekal.

[19] Yakni kamu wahai kaum muslimin tidak perlu bersusah payah untuk memperolehnya; tidak perlu mengerahkan jiwa ragamu maupun hewan ternakmu.

[20] Oleh karena itu, tidak ada hak bagi kamu padanya dan hal itu khusus bagi Nabi ﷺ dan orang-orang yang disebutkan bersama Beliau ﷺ dalam ayat selanjutnya yang terdiri dari empat golongan, yaitu bahwa masing-masing mereka mendapatkan seperlima dan sisanya untuk Beliau ﷺ, dimana Beliau ﷺ bebas melakukan apa yang Beliau kehendaki, lalu Beliau memberikan di antaranya kepada kaum muhajirin dan tiga orang Anshar karena fakirnya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan apa saja harta difaikan) harta yang diberikan (oleh Allah kepada Rasul-Nya dari harta benda mereka, maka kalian tidak mengerahkan) tidak melarikan hai kaum muslimin (untuk mendapatkannya) huruf min di sini adalah huruf zaidah (seekor kuda pun dan tidak pula seekor unta pun) yang dimaksud dengan lafal rikabin adalah unta kendaraan. Makna yang dimaksud ialah bahwa untuk mendapatkan harta fai’i itu kalian tidak susah payah lagi (tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada Rasul-Nya terhadap siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu) maka tidak ada hak lagi bagi kalian dalam harta fai’i itu; itu khusus hanya untuk Nabi ﷺ dan untuk orang-orang yang akan disebutkan pada ayat selanjutnya, yaitu terdiri dari empat golongan, sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh Allah dalam pembagiannya. Maka bagi setiap golongan di antara mereka mendapatkan seperlimanya, dan bagi Nabi ﷺ sendiri adalah sisanya, artinya sama juga dengan seperlima. Nabi ﷺ boleh memberlakukan bagiannya itu sesuai dengan apa yang disukainya, untuk itu maka beliau memberikan sebagian daripadanya kepada orang-orang Muhajirin dan tiga orang dari kalangan sahabat Ansar karena mengingat kefakiran mereka.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. berfirman, menjelaskan apa arti fai’i, sifat dan hukumnya. Harta fai’i ialah harta yang diambil dari orang-orang kafir tanpa melalui proses peperangan, tanpa mengerahkan seekor kuda dan seekor unta pun, seperti harta yang diperoleh dari Bani Nadir. Karena sesungguhnya harta itu diperoleh tanpa mengerahkan seekor kuda dan seekor unta pun, yakni dalam memperolehnya tidak melalui jalan peperangan dengan musuh, baik perang tanding maupun perang campuh. Bahkan mereka menyerah tanpa syarat berkat rasa takut yang dicampakkan oleh Allah Swt. ke dalam hati mereka hingga mereka takut kepada Rasulullah ﷺ. Maka Allah Swt. memberikan harta mereka kepada Rasul-Nya sebagai harta fai’i, karena itulah maka beliau membelanjakannya menurut apa yang disukainya. Akan tetapi, Rasulullah ﷺ mengembalikan harta itu kepada kaum muslim dan membelanjakannya ke jalan-jalan kebaikan dan kebajikan, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat-ayat berikut. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

Dan apa saja harta rampasan (fai’i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) mereka. (Al-Hasyr: 6)

Yakni dari Bani Nadir.

Maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun. (Al-Hasyr: 6)

Yang dimaksud dengan rikab ialah unta kendaraan.

Tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada Rasul-Nya terhadap siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Hasyr: 6)

Dia Maha Kuasa, tidak terkalahkan dan tidak ada yang dapat menghalang-halangi-Nya, bahkan Dia Maha mengalahkan segala sesuatu.

 .

 ««««« juz 27 «««   ««« juz 28 «««  ««« juz 29 «««««