Hukuman Bagi yang Mendustakan Para Rasul

Tafsir Al-Qur’an: Surah At-Taghaabun Ayat 5-6

0
413

Tafsir Al-Qur’an: Surah At-Taghaabun Ayat 5-6. Hukuman bagi umat-umat yang mendustakan para rasul Allah.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ فَذَاقُوا وَبَالَ أَمْرِهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٥) ذَلِكَ بِأَنَّهُ كَانَتْ تَأْتِيهِمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالُوا أَبَشَرٌ يَهْدُونَنَا فَكَفَرُوا وَتَوَلَّوْا وَاسْتَغْنَى اللَّهُ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (٦)

Apakah belum sampai kepadamu (orang-orang kafir) berita orang-orang kafir dahulu? Maka mereka telah merasakan akibat buruk dari perbuatannya (di dunia) dan mereka memperoleh azab yang pedih. Yang demikian itu karena sesungguhnya ketika rasul-rasul datang kepada mereka membawa keterangan-keterangan, lalu mereka berkata, “Apakah (pantas) manusia yang memberi petunjuk kepada kami?” Lalu mereka ingkar dan berpaling; padahal Allah tidak memerlukan (keimanan mereka). Dan Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji. (Q.S. At-Taghaabun : 5-6)

.

Tafsir Ibnu Abbas

A lam ya’tikum (belumkah datang kepada kalian) dalam kitab, hai penduduk Mekah!

Naba-u (berita), yakni informasi.

Alladzīna kafarū ming qablu (tentang orang-orang kafir yang dahulu), yakni yang ada sebelum kalian dari kalangan umat-umat yang telah silam. Bagaimana Dia telah bertindak terhadap mereka.

Fa dzāqū wa bāla amrihim (maka mereka telah merasakan akibat buruk dari perbuatan mereka), yakni balasan atas persoalan mereka di dunia, berupa azab dan kebinasaan.

Wa lahum ‘adzābun alīm (dan bagi mereka azab yang pedih), yakni azab yang menyakitkan di akhirat.

Dzālika (hal itu), yakni azab itu.

Bi annahū kānat ta’tīhim rusuluhum bil bayyināti (adalah karena telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata) berupa perintah, larangan, dan berbagai tanda.

Fa qālū a basyarun (lalu mereka berkata, Apakah seorang manusia) keturunan Adam seperti kami.

Yahdūnanā (yang akan memberi kami petunjuk), yakni yang akan menyeru kami kepada tauhid.

Fa kafarū (kemudian mereka pun kafir) kepada kitab-kitab, rasul-rasul, dan mukjizat-mukjizat.

Wa tawallau wastaghnallāh (dan berpaling, dan Allah tidak membutuhkan [mereka]), yakni keimanan mereka.

Wallāhu ghaniyyun (dan Allah Maha Kaya), yakni tidak membutukan keimanan mereka.

Hamīd (lagi Maha Terpuji) dalam Tindakan-tindakan-Nya. Menurut yang lain, Maha Memuji orang-orang yang mengesakan-Nya.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [10]Apakah belum sampai kepadamu (orang-orang kafir) berita orang-orang kafir dahulu? Maka mereka telah merasakan akibat buruk dari perbuatannya (di dunia) dan mereka memperoleh azab yang pedih.

[10] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan sifat-sifat-Nya yang sempurna dan agung, dimana dengan sifat-sifat itu Dia dikenal, diibadahi, dikerahkan pengorbanan untuk mencari keridhaan-Nya serta dihindari hal-hal yang mendatangkan kemurkaan-Nya, maka Dia memberitahukan apa yang dilakukan-Nya terhadap umat-umat terdahulu dimana berita-berita mereka selalu dibicarakan oleh orang-orang yang datang kemudian, dan bahwa ketika para rasul datang kepada mereka dengan membawa kebenaran, namun mereka mendustakannya dan menentangnya, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menimpakan kepada mereka akibat dari perbuatan mereka di dunia dan menghinakan mereka di sana, dan bagi mereka di akhirat ada azab yang pedih.

  1. Yang demikian itu[11] karena sesungguhnya ketika rasul-rasul datang kepada mereka membawa keterangan-keterangan[12], lalu mereka berkata, “Apakah (pantas) manusia yang memberi petunjuk kepada kami?”[13] Lalu mereka ingkar dan berpaling[14]; padahal Allah tidak memerlukan (keimanan mereka). Dan Allah Mahakaya[15] lagi Maha Terpuji[16].

[11] Yakni azab di dunia dan akhirat.

[12] Yakni ayat-ayat yang jelas yang menunjukkan mana yang benar dan mana yang batil, tetapi mereka membencinya dan menyombongkan diri.

[13] Maksud mereka, jika rasul itu manusia, maka tidak ada kelebihannya di atas kami dan karena sebab apa Allah Subhaanahu wa Ta’aala melebihkan mereka di atas kami? Pertanyaan ini telah dijawab Allah Subhaanahu wa Ta’aala dalam ayat yang lain, “Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, “Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi Kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal.” (Terj. Ibrahim: 11) Mereka yang menolak seruan rasul karena alasan demikian sesungguhnya sama saja hendak mencegah karunia Allah dan nikmat-Nya kepada para nabi-Nya berupa nikmat menjadi para rasul(utusan)-Nya kepada manusia, mereka telah sombong untuk tunduk kepada mereka (para rasul) sehingga mereka ditimpa musibah dengan menyembah batu, pohon, dsb.

[14] Dari taat kepada Allah.

[15] Dia tidak butuh kepada semua makhluk-Nya.

[16] Dalam perkataan-Nya, perbuatan-Nya dan sifat-sifat-Nya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Apakah belum datang kepada kalian) hai orang-orang kafir Mekah (berita) atau cerita (tentang orang-orang kafir dahulu? Maka mereka telah merasakan akibat yang buruk dari perbuatan mereka) yaitu hukuman di dunia sebagai pembalasan dari kekafiran mereka (dan bagi mereka) di akhirat nanti (azab yang pedih) yang menyakitkan.
  2. (Yang demikian itu) atau azab di dunia itu (adalah karena sesungguhnya) dhamir yang terdapat dalam lafal annahu adalah dhamir sya’n (telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata) hujah-hujah yang jelas yang menunjukkan kepada keimanan (lalu mereka berkata, “Apakah manusia) yang dimaksud adalah jenisnya (yang akan memberi petunjuk kepada kami?” Lalu mereka ingkar dan berpaling) dari keimanan (dan Allah tidak memerlukan) keimanan mereka. (Dan Allah Maha Kaya) dari makhluk-Nya (lagi Maha Terpuji) dalam perbuatan-perbuatan-Nya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. menceritakan tentang umat-umat terdahulu dan apa yang telah menimpa mereka berupa azab dan pembalasan Allah disebabkan mereka menentang rasul-rasul dan mendustakan perkara yang hak. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

Apakah belum datang kepadamu (hai orang-orang kafir) berita orang-orang kafir dahulu? (At-Taghabun: 5)

Yakni kisah mereka dan apa yang telah dialami oleh mereka.

Maka mereka telah merasakan akibat yang buruk dari perbuatan mereka. (At-Taghabun: 5)

Maksudnya, balasan yang buruk akibat kedustaan mereka dan amal perbuatan mereka yang jahat. Yaitu berupa hukuman dan kehinaan yang menimpa mereka dalam kehidupan dunia ini.

dan mereka memperoleh azab yang pedih. (At-Taghabun: 5)

Yakni di negeri akhirat nanti di samping azab dunia yang telah menimpa mereka. Kemudian disebutkan penyebabnya melalui firman-Nya:

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka (membawa) keterangan-keterangan. (At-Taghabun: 6)

Maksudnya, membawa alasan-alasan, dalil-dalil, dan keterangan-keterangan yang jelas.

lalu mereka berkata, “Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?” (At-Taghabun: 6)

Yakni mereka menganggap mustahil bila rasul itu dari kalangan manusia, dan petunjuk mereka berada di tangan manusia yang sama seperti mereka.

lalu mereka ingkar dan berpaling. (At-Taghabun: 6)

Yaitu mendustakan perkara yang hak dan membangkang, tidak mau mengamalkannya.

dan Allah tidak memerlukan (mereka). (At-Taghabun: 6)

Yakni tidak membutuhkan keimanan dan pengamalan mereka.

Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (At-Taghabun: 6)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

 ««««« juz 27 «««   ««« juz 28 «««  ««« juz 29 «««««