Kebangkitan dan Kiamat yang Pasti Terjadi

Tafsir Al-Qur’an: Surah At-Taghaabun Ayat 7-10

0
413

Tafsir Al-Qur’an: Surah At-Taghaabun Ayat 7-10. Membicarakan tentang kebangkitan dan Kiamat yang pasti terjadi dan bagaimana kaum musyrik sampai mengingkarinya.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (٧)  فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (٨)  يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ذَلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (٩)  وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ خَالِدِينَ فِيهَا وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (١٠

Orang-orang yang kafir mengira, bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Muhammad), “Tidak demikian, demi Tuhanku, kamu pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah kamu kerjakan.” Dan yang demikian itu mudah bagi Allah. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Qur’an) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan kamu pada hari berhimpun, itulah hari pengungkapan kesalahan-kesalahan. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan beramal saleh niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (Q.S. At-Taghaabun : 7-10)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Za‘amal ladzīna kafarū (orang-orang kafir beranggapan), yakni orang-orang yang kafir Mekah beranggapan.

Al lay yub‘atsū (bahwa mereka sama sekali tidak akan dibangkitkan) sesudah mati.

Qul (katakanlah) kepada mereka, hai Muhammad!

Balā wa rabbī la tub‘atsunna (Tidaklah demikian, demi Rabb-ku, kalian sungguh-sungguh akan dibangkitkan) sesudah mati.

Tsumma la tunabba-unna (kemudian kalian pasti akan diberitahu), yakni kalian pasti akan dikabari.

Bimā ‘amiltum (tentang segala apa yang telah kalian perbuat), yakni semua kebaikan dan keburukan yang telah kalian perbuat di dunia.

Wa dzālika (dan hal itu), yakni kebangkitan itu.

‘Alallāhi yasīr (adalah mudah bagi Allah), yakni gampang bagi Allah Ta‘ala. .

Fa āminū (maka berimanlah kalian), hai penduduk Mekah!

Billāhi wa rasūlihī (kepada Allah dan Rasul-Nya), Muhammad ﷺ, dan juga kepada adanya kebangkitan sesudah mati.

Wan nūri (serta kepada cahaya), yakni al-Kitab (Al-Qur’an).

Alladzī aηzalnā (yang telah Kami Turunkan) melalui Jibril kepada Nabi Muhammmad ﷺ.

Wallāhu bi mā ta‘malūna khabīr (dan Allah Maha mengetahui segala apa yang kalian perbuat), yakni kebaikan dan keburukan.

Yauma ([ingatlah] hari), yakni akan hari kiamat.

Yajma‘ukum li yaumil jam‘i (ketika Allah mengumpulkan kalian pada hari pengumpulan), yakni pada hari dikumpulkannya semua orang yang terdahulu dan semua orang yang kemudian.

Dzālika yaumut taghābun (itulah hari saling mengecewakan), yakni orang kafir akan melupakan diri, keluarga, para pelayan, dan tempat tinggalnya di dalam surga, dan semua itu akan diwarisi oleh orang mukmin. Ada yang mengatakan, orang mukmin akan melupakan orang kafir beserta keluarga dan tempat tinggalnya. Pada hari itu orang kafir akan melupakan dirinya di surga, dan surga akan diwarisi oleh orang Mukmin, bukan oleh orang kafir. Pada hari itu orang yang dizalimi akan menelantarkan orang yang menzalimi dengan mengambil kebaikan-kebaikan orang yang menzaliminya, serta membebankan keburukan-keburukannya kepada orang yang menzaliminya.

Wa may yu’min billāhi (dan barangsiapa beriman kepada Allah), kepada Nabi Muhammad ﷺ, dan kepada Al-Qur’an.

Wa ya‘mal shālihan (serta beramal saleh), yakni beramal secara tulus dalam hal yang berhubungan dengan Rabb-nya.

Yukaffir ‘anhu sayyi-ātihī (niscaya Dia akan menutupi keburukan-keburukannya), yakni niscaya Dia akan mengampuni dosa-dosanya berkat tauhid.

Wa yudkhilhu jannātin (dan memasukkannya ke dalam surga-surga), yakni ke dalam taman-taman.

Tajrī miη tahtihā (yang mengalir di bawahnya), yakni di bawah pepohonan dan tempat-tempat tinggalnya.

Al-anhāru (sungai-sungai), yaitu sungai madu, sungai susu, sungai air, dan sungai khamar.

Khālidīna fīhā (mereka kekal di dalamnya), yakni mereka langgeng di dalam surga, tidak akan mati dan tidak akan dikeluarkan dari dalamnya.

Abadā, dzālikal fauzul ‘azhīm (selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar), yakni keberhasilan yang gemilang. Mereka berhasil meraih surga dan mereka pun selamat dari neraka.

Wal ladzīna kafarū (dan orang-orang yang kafir) kepada Allah Ta‘ala. Yang dimaksud adalah orang-orang kafir Mekah.

Wa kadz-dzabū bi āyātinā (serta mendustakan Ayat-ayat Kami), yaitu Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an.

Ulā-ika ash-hābun nāri (mereka adalah para penghuni neraka), yakni ahli neraka.

Khālidīna fīhā (mereka kekal di dalamnya), yakni mereka langgeng di dalam surga. Tidak akan mati dan tidak akan dikeluarkan dari dalamnya.

Wa bi’sal mashīr (dan itulah seburuk-buruk tempat kembali), yakni seburuk-buruk tempat kembali yang mereka tuju di akhirat adalah neraka.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [17]Orang-orang yang kafir mengira, bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Muhammad), “Tidak demikian, demi Tuhanku, kamu pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah kamu kerjakan.” Dan yang demikian itu mudah bagi Allah[18].

[17] Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan tentang keras kepalanya orang-orang yang kafir, persangkaan mereka yang batil dan pendustaan mereka kepada kebangkitan tanpa ilmu dan petunjuk serta tanpa kitab yang menerangi, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan kepada manusia yang paling mulia yaitu Nabi Muhammad ﷺ untuk bersumpah dengan nama Tuhannya memastikan bahwa mereka akan dibangkitkan dan bahwa amal mereka yang buruk serta pendustaan mereka kepada kebenaran akan mendapat balasan.

[18] Yakni betapa pun kebangkitan itu berat bagi makhluk, dimana jika mereka semua berkumpul untuk membangkitkan makhluk tentu tidak akan bisa, namun hal itu mudah bagi Allah ‘Azza wa Jalla yang apabila Dia menghendaki sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya, “Jadilah” maka jadilah ia. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (Terj. Az Zumar: 68).

  1. [19]Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya[20] dan kepada cahaya (Al-Qur’an) yang telah Kami turunkan[21]. Dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan[22].

[19] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan pengingkaran orang-orang yang mengingkari kebangkitan dan bahwa hal itu sama saja mereka kafir kepada Allah dan ayat-ayat-Nya, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk melakukan sesuatu yang dapat menjaga seseorang dari kebinasaan dan kesengsaraan, yaitu beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan kitab-Nya.

[20] Beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan kitab-Nya menghendaki keyakinan yang pasti serta beramal terhadap konsekwensi dari pembenaran itu berupa mengerjakan perintah dan menjauhi larangan.

[21] Allah Subhaanahu wa Ta’aala menamai kitab-Nya dengan “cahaya” karena keadaannya yang menyinari gelapnya kebodohan dan kesesatan, dan dengannya seseorang dapat berjalan di tengah kegelapan-kegelapan itu.

[22] Lalu Dia akan membalas amalmu yang baik dan yang buruk.

  1. (Ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan kamu pada hari berhimpun[23], itulah hari pengungkapan kesalahan-kesalahan[24]. [25]Dan barang siapa beriman kepada Allah dan beramal saleh[26] niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai[27], mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.

[23] Yaitu hari Kiamat. Pada hari itu, Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan yang datang kemudian, menempatkan mereka pada tempat yang menegangkan dan Dia memberitahukan kepada mereka amal yang mereka kerjakan, ketika itulah tampak perbedaan antara makhluk, dimana sebagian kaum ditempatkan ke tempat-tempat yang tinggi (surga) yang penuh kesenangan dan sebagian kaum ditempatkan ke tempat yang rendah (neraka) yang menjadi tempat kesedihan, kegundahan, kesengsaraan dan azab yang keras sebagai hasil dari apa yang mereka kerjakan untuk diri mereka.

[24] Ada pula yang menafsirkan bahwa dikatakan hari Kiamat dengan ‘taghaabun’ karena pada hari itu orang-orang mukmin mengalahkan orang-orang kafir dengan mengambil tempat tinggal dan calon istri mereka di surga yang sudah disiapkan jika mereka beriman.

[25] Seakan-akan ada pertanyaan, “Karena apa mereka memperoleh keberuntungan dan kenikmatan atau kesengsaraan dan azab?” Maka pada lanjutan ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta’aala sebutkan sebabnya.

[26] Yang wajib maupun yang sunat, baik berupa memenuhi hak Allah maupun hak hamba-hamba-Nya.

[27] Di dalamnya terdapat apa yang disenangi jiwa, enak dipandang mata, disukai hati dan menjadi akhir cita-cita.

  1. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami[28], mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali[29].

[28] Mereka mengingkarinya tanpa sandaran syar’i maupun ‘aqli (akal), bahkan datang kepada mereka dalil-dalil dan bukti, namun mereka tetap mendustakan dan menentangnya.

[29] Hal itu, karena di neraka menghimpun semua keburukan, kesengsaraan dan azab.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Orang-orang yang kafir menduga, bahwa sesungguhnya) mereka. Lafal An di sini adalah bentuk Takhfif dari Anna sedangkan yang menjadi Isimnya tidak disebutkan, yakni sesungguhnya mereka (sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, “Memang demi Rabbku, benar-benar kalian akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.” Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah).
  2. (Maka berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya dan cahaya) yakni Al-Qur’an (yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan).
  3. Ingatlah (hari yang di waktu itu Allah mengumpulkan kalian pada hari pengumpulan) yakni hari kiamat (itulah hari ditampakkannya kesalahan-kesalahan) maksudnya orang-orang mukmin pada hari itu memperoleh keuntungan yang besar dari orang-orang kafir, karena orang-orang mukmin mengambil tempat-tempat tinggal dan istri-istri mereka di surga, seandainya mereka beriman. (Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya) menurut suatu qiraat lafal yukaffir dan yudkhilhu dibaca nukaffir dan nudkhilhu (ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar).
  4. (Dan orang-orang yang kafir mendustakan ayat-ayat Kami) yakni Al-Qur’an (mereka itulah penghuni-penghuni neraka. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali) yakni neraka itu.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. menceritakan perihal orang-orang kafir, orang-orang musyrik, dan orang-orang yang atheis; mereka mengira bahwa dirinya tidak akan dibangkitkan.

Katakanlah, “Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taghabun: 7)

Yaitu niscaya akan diberitakan kepadamu semua amal perbuatan yang telah kamu lakukan, baik yang besar maupun yang kecil dan baik yang ringan maupun yang berat.

Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (At-Taghabun: 7)

Yakni teramat mudah bagi Allah untuk membangkitkan kalian dan membalas amal perbuatan kalian. Hal ini merupakan ayat ketiga yang Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk mengungkapkannya dengan memakai sumpah atas nama Tuhannya, bahwa sesungguhnya hal itu pasti terjadi dan hari berbangkit itu benar-benar ada. Ayat pertama yang bermakna sama terdapat di dalam surat Yunus melalui firman-Nya:

وَيَسْتَنْبِئُونَكَ أَحَقٌّ هُوَ قُلْ إِي وَرَبِّي إِنَّهُ لَحَقٌّ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ

Dan mereka menanyakan kepadamu, “Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?” Katakanlah, “Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya azab itu adalah benar dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (daripadanya).”(Yunus: 53)

Ayat yang kedua berada di dalam surat Saba melalui firman-Nya:

وَالثَّانِيَةُ فِي سُورَةِ سَبَأٍ: {وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَأْتِينَا السَّاعَةُ قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتَأْتِيَنَّكُمْ} الْآيَةَ

Dan orang-orang kafir berkata, “Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami.” Katakanlah, “Pasti datang, demi Tuhanku Yang mengetahui yang gaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu.” (Saba: 3), hingga akhir ayat.

Dan ayat yang ketiga ialah firman-Nya yang terdapat dalam surat ini:

Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, “Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (At-Taghabun: 7)

Kemudian Allah Swt. berfirman:

Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya yang telah Kami turunkan. (At-Taghabun: 8)

Yakni Al-Qur’an.

Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (At-Taghabun: 8)

Maksudnya, tiada sesuatu pun dari amal perbuatan kalian yang ter¬sembunyi bagi-Nya.

Firman Allah Swt.:

(Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab). (At-Taghabun: 9)

Yaitu hari kiamat. Dinamakan demikian karena pada hari itu dihimpunkan oleh Allah Swt. semua orang yang terdahulu dan yang terkemudian di suatu lapangan, yang suara penyeru terdengar oleh mereka semua dan tiada sesuatu pun yang menghalangi pandangan mereka. Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

ذَلِكَ يَوْمٌ مَجْمُوعٌ لَهُ النَّاسُ وَذَلِكَ يَوْمٌ مَشْهُودٌ

Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan (untuk dihisab), dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk). (Hud: 103)

Sama pula dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

قُلْ إِنَّ الأوَّلِينَ وَالآخِرِينَ لَمَجْمُوعُونَ إِلَى مِيقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُومٍ

Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian, benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal.” (Al-Waqi’ah: 49-50)

Adapun firman Allah Swt.:

itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan. (At-Taghabun: 9)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa Taghabun merupakan salah satu dari nama lain bagi hari kiamat. Demikian itu karena ahli surga membuat ahli neraka merasa iri hati. Hal yang semisal telah dikatakan oleh Qatadah dan Mujahid.

Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa tiada iri hati yang lebih besar daripada saat ahli surga dimasukkan ke dalam surga dan ahli neraka dimasukkan ke dalam neraka. Yakni saat itulah ahli neraka menyadari kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya. Menurut penulis, hal ini ditafsirkan oleh firman-Nya:

Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (At-Taghabun: 9-10)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

 ««««« juz 27 «««   ««« juz 28 «««  ««« juz 29 «««««