Keutamaan Bersabar Terhadap Musibah

Tafsir Al-Qur’an: Surah At-Taghaabun Ayat 11-13

0
209

Tafsir Al-Qur’an: Surah At-Taghaabun Ayat 11-13. Keutamaan bersabar terhadap musibah, perintah taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta peringatan agar tidak berpaling dari seruan Allah.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (١١) وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلاغُ الْمُبِينُ (١٢) اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (١٣)

Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. Jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanah Allah) dengan terang. (Dialah) Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah. (Q.S. At-Taghaabun : 11-13)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Mā ashāba mim mushībatin (tak ada suatu musibah pun yang menimpa), tubuh, keluarga, maupun harta benda kalian.

Illā bi idznillāhi (melainkan dengan seizin Allah) dan ketentuan-Nya.

Wa may yu’mim billāhi (dan barangsiapa beriman kepada Allah), yakni yang memandang bahwa musibah itu dari Allah Ta‘ala.

Yahdi qalbahū (niscaya Dia akan Menunjukkan hatinya) pada kerelaan dan kesabaran. Menurut satu pendapat, barangsiapa yang apabila diberi karunia ia bersyukur, diberi cobaan ia bersabar, dizalimi ia memberi maaf, dan ditimpa musibah ia beristirja‘ (mengucapkan innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn [Sesungguhnya kami adalah Kepunyaan Allah, dan hanya kepada-Nya kami kembali]), niscaya Dia akan menunjukkan hatinya kepada istirja‘.

Wallāhu bi kulli syai-in ‘alīm (dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu), yakni Maha mengetahui musibah dan lain sebagainya, yang Dia Timpakan kepada kalian.

Wa athī‘ullāha (dan taatlah kepada Allah) berkenaan dengan Ketentuan-ketentuan-Nya.

Wa athī‘ur rasūla (serta taatlah kepada rasul) berkenaan dengan Sunnah-sunnahnya.

Fa iη tawallaitum (namun, jika kalian berpaling) dari ketaatan kepada keduanya.

Fa innamā ‘alā rasūlinā (maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah), yaitu Muhammad ﷺ.

Al-balāghu (menyampaikan) risalah dari Allah Ta‘ala.

Al-mubīn (dengan terang), yakni menjelaskan kepada kalian dengan bahasa yang kalian pahami.

Allāhu lā ilāha illā huw (Allah, tak ada tuhan melainkan Dia), yakni Dia tidak mempunyai anak dan sekutu.

Wa ‘alallāhi fal yatawakkalil mu’minūn (dan hanya kepada Allah saja hendaklah orang-orang mukmin bertawakal), yakni hendaklah orang-orang mukmin bertawakal kepada Allah Ta‘ala semata, bukan kepada selain Dia.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah[1]; dan barang siapa beriman kepada Allah niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya[2]. Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

[1] Dengan perintah Allah, yakni dari taqdir dan kehendak-Nya. Hal ini umum mencakup semua musibah baik yang menimpa diri, harta, anak, kekasih dsb. Semua ini dengan qadha’ Allah dan qadar-Nya yang telah diketahui oleh Allah, ditulis-Nya, dikehendaki-Nya dan sejalan dengan hikmah-Nya? Yang terpenting di antara semua itu adalah apakah seorang hamba dapat memikul tugasnya (bersabar) dalam kondisi ini atau tidak? Barang siapa yang mampu memikulnya dengan bersabar, maka dia akan memperoleh pahala yang besar di dunia dan akhirat. Jika dia beriman bahwa musibah itu dari sisi Allah, dia pun ridha dengannya serta menerima, maka Allah akan menunjuki hatinya sehingga dia pun tenang dan tidak akan gelisah ketika ada musibah sebagaimana yang terjadi pada orang yang tidak ditunjuki oleh Allah hatinya. Tidak hanya itu, Allah Subhaanahu wa Ta’aala juga mengaruniakan kepadanya tsabat (keteguhan) ketika musibah itu datang, dan ia mampu memikul tugasnya yaitu bersabar sehingga ia memperoleh pahala yang segera disamping pahala yang Allah simpan untuknya pada hari pembalasan sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Terj. Az Zumar: 10)

Dari ayat ini juga dapat diketahui, bahwa barang siapa yang tidak beriman kepada Allah ketika ada musibah, yakni Dia tidak melihat kepada qadha’ Allah dan qadar-Nya, bahkan berhenti di hadapan sebab, maka dia akan ditelantarkan dan Allah Subhaanahu wa Ta’aala akan menyerahkannya kepada dirinya, dan jika sudah diserahkan kepada dirinya, maka tidak ada yang dia lakukan selain keluh kesah dan gelisah yang merupakan hukuman yang disegerakan kepada seorang hamba sebelum hukuman di akhirat karena ia melalaikan kewajiban sabar. Hal ini yang terkait dengan firman-Nya, “Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah,” dalam hal musibah, adapun yang terkait dengan ayat itu dari sisi keumuman lafaz adalah bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan, barang siapa yang beriman yakni kepada semua yang diperintahkan untuk diimani seperti beriman kepada rukun iman yang enam dan ia benarkan imannya dengan konsekwensi dari iman berupa menegakkan lawazim (hal yang menyatu) dan kewajibannya, maka keimanannya itu merupakan sebab terbesar agar ia mendapatkan hidayah Allah dalam semua keadaaannya, ucapannya dan perbuatannya, demikian pula dalam ilmu dan amalnya. Ini merupakan balasan paling utama yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan berbuat apa yang Dia kehendaki.” (Terj. Ibrahim: 27)

Pada asalnya tsabat (keteguhan) adalah tetapnya hati, sabar dan yakinnya dia ketika datang semua fitnah. Oleh karena itu, orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang paling mendapat petunjuk hatinya, paling kokoh saat menghadapi peristiwa yang mengguncangkan hatinya karena keimanan yang ada padanya.

[2] Menurut Ibnu Katsir, maksudnya adalah barang siapa yang ditimpa musibah lalu ia mengetahui bahwa musibah itu dengan dengan qadha’ Allah dan qadar-Nya, sehingga ia pun bersabar dan mengharap pahala, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengganti terhadap apa yang luput baginya dari dunia dengan petunjuk dan keyakinan yang benar di dunia. Ibnu Abbas berkata, “Maksudnya Allah tunjuki hatinya kepada keyakinan, sehingga dia mengetahui bahwa apa yang (ditetapkan) menimpanya maka tidak akan meleset dan apa yang tidak akan menimpanya, maka tidak akan mengenainya.” Al A’masy berkata dari ‘Alqamah tentang ayat, “Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan tunjuki hatinya,“ maksudnya adalah seorang yang terkena musibah, ia pun mengetahui bahwa musibah itu berasal dari sisi Allah sehingga ia pun ridha dan menerima.“ Sa’id bin Jubair berkata, “Ia beristirja’ dengan mengucapkan innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun (artinya: sesungguhnya kami milik Allah dan akan kembali kepada-Nya).”

  1. Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul[3]. Jika kamu berpaling[4] maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanah Allah) dengan terang[5].

[3] Dengan melaksanakan perintah keduanya dan menjauhi larangannya, karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan pusat kebahagiaan dan tanda keberuntungan.

[4] Dari taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

[5] Yakni menyampaikan apa yang diembannya dengan jelas sehingga hujjah tegak, dia tidak bisa menjadikan kamu mendapatkan hidayah taufiq selain hidayah irsyad (menerangkan yang hak dan yang batil sejelas-jelasnya) dan dia bukan yang menghisabmu, bahkan yang menghisabmu adalah Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang mengetahui yang gaib dan yang nyata.

  1. (Dialah) Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia[6]. Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah[7].

[6] Oleh karena itu, segala sesuatu yang diibadahi selain-Nya adalah batil.

[7] Yakni hendaknya mereka bersandar kepada-Nya dalam semua masalah yang menimpa mereka dan dalam hal yang ingin mereka kerjakan, karena tidak ada satu urusan pun yang mudah kecuali dengan pertolongan Allah dan seseorang tidaklah sempurna bersandar kepada Allah sampai dia berhusnuzhzhan (bersangka baik) kepada Allah, percaya bahwa Dia akan mencukupinya, dan tingkat tawakkal seseorang sesuai dengan keimanan seorang hamba, setiap kali imannya menguat, maka semakin kuat pula tawakkalnya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah) atau dengan kepastian-Nya. (Dan barang siapa yang beriman kepada Allah) melalui ucapannya, bahwa musibah itu datang atas kepastian dari-Nya (niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada kalbunya) untuk bersabar di dalam menghadapinya. (Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu).
  2. (Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kalian berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul Kami hanyalah menyampaikan, amanat Allah, dengan terang) yakni secara jelas.
  3. (Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakal kepada Allah saja).

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. menceritakan kembali apa yang telah Dia ceritakan di dalam surat Al-Hadid, yaitu firman-Nya:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Al-Hadid: 22)

Demikian pula hal yang sama disebutkan dalam surat ini melalui firman-Nya:

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. (At-Taghabun: 11)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah dengan perintah Allah, yakni dengan kekuasaan dan kehendak-Nya.

Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (At-Taghabun: 11)

Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. (At-Taghabun: 11)

Yakni mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah dan mengatakan:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan hanya kepada-Nyalah kami dikembalikan. (Al-Baqarah: 156)

Di dalam hadis yang telah disepakati disebutkan sebagai berikut:

عَجَبًا لِلْمُؤْمِنِ، لَا يَقْضِي اللَّهُ لَهُ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ، إِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاء صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاء شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ

Sungguh mengagumkan orang mukmin itu, tiadalah Allah memutus¬kan suatu keputusan baginya kecuali adalah kebaikan belaka baginya. Jika ia tertimpa kedukaan, maka ia bersabar, dan bersabar itu adalah baik baginya. Dan jika ia mendapat kesukaan, maka bersyukurlah ia dan bersyukur itu lebih baik baginya. Dan hal itu tidak didapati pada seorang pun kecuali pada diri orang mukmin.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepada kami Al-Haris ibnu Yazid, dari Ali ibnu R’abbah; ia pernah mendengar Junadah ibnu Abu Umayyah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ubadah ibnus Samit mengatakan, sesungguhnya pernah ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu bertanya,

أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: إِيمَانٌ بِاللَّهِ، وَتَصْدِيقٌ بِهِ، وَجِهَادٌ فِي سَبِيلِهِ. قَالَ: أُرِيدُ أهونَ مِنْ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: لَا تَتَّهِمِ اللَّهَ فِي شَيْءٍ، قَضَى لَكَ بِهِ

“Amal apakah yang paling utama?” Rasulullah menjawab: Iman kepada Allah, membenarkan-Nya dan berjihad di jalan-Nya. Lelaki itu bertanya lagi, “Aku bermaksud hal yang lebih ringan daripada semuanya itu, wahai Rasulullah.” Rasulullah menjawab: Janganlah kamu berburuk prasangka kepada Allah terhadap sesuatu yang telah ditetapkan-Nya atas dirimu.

Para pemilik kitab sunan tiada yang mengetengahkannya.

Firman Allah Swt.:

Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. (At-Taghabun: 12)

Ini merupakan perintah untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya, yaitu dengan mengerjakan syariat agama-Nya, mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya, serta meninggalkan apa yang dilarang dan diharamkan-Nya. Kemudian disebutkan dalam firman selanjutnya:

jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (At-Taghabun: 12)

Yaitu jika kamu membangkang tidak mau mengamalkannya, maka sesungguhnya bagi Rasul Kami hanyalah menjalankan apa yang ditugaskan kepadanya, yaitu menyampaikan risalah; dan diwajibkan atas kalian melakukan kewajiban yang dibebankan kepada kalian, yaitu mendengar dan menaatinya. Az-Zuhri mengatakan bahwa yang dari Allah adalah risalah, dan tugas Rasul ialah menyampaikannya, sedangkan tugas kita ialah mendengar dan menaatinya.

Kemudian Allah Swt. memberitakan bahwa Dia adalah Maha Esa, bergantung kepada-Nya segala sesuatu, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

(Dialah) Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakal kepada Allah saja. (At-Taghabun: 13)

Bagian pertama dari ayat ini merupakan kalimat berita yang memberitakan tentang keesaan Allah, tetapi makna yang dimaksud ialah kalimat perintah yakni ‘esakanlah penyembahan itu hanya bagi-Nya, dan ikhlaskanlah ketaatan itu hanya kepada-Nya, kemudian bertawakallah kamu kepada-Nya (bagian terakhir dari ayat ini)’. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلا

(Dialah) Tuhan masyriq dan magrib (timur dan barat), tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka jadikanlah Dia sebagai pelindung. (Al-Muzzammil: 9)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

 ««««« juz 27 «««   ««« juz 28 «««  ««« juz 29 «««««