Sifat Neraka Jahanam, Keadaannya yang Marah

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Mulk Ayat 6-11

0
462

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Mulk Ayat 6-11, Sifat neraka Jahanam yang disiapkan untuk orang-orang kafir, keadaannya yang marah kepada mereka, dan azab yang diderita orang-orang kafir di neraka.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ -٦- إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقاً وَهِيَ تَفُورُ -٧- تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ -٨- قَالُوا بَلَى قَدْ جَاءنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِن شَيْءٍ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ -٩- وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ -١٠- فَاعْتَرَفُوا بِذَنبِهِمْ فَسُحْقاً لِّأَصْحَابِ السَّعِيرِ -١١

Dan orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, memperoleh azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedangkan neraka itu menggelegak, hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” Mereka menjawab, “Benar ada, ” sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, tetapi kami mendustakan(nya) dan kami katakan, “Allah tidak menurunkan sesuatu pun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.” Dan mereka berkata, “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. (Q.S. Al-Mulk : 6-11)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa lil ladzīna kafarū bi rabbihim ‘adzābu jahannam, wa bi’sal mashīr (dan bagi orang-orang yang kafir kepada Rabb mereka azab neraka Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali), yakni seburuk-buruk tempat kembali yang mereka tuju adalah neraka Jahannam.

Idzā ulqū fīhā (apabila mereka dicampakkan ke dalamnya), yakni apabila umat-umat yang akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam itu dilemparkan ke dalamnya. Mereka adalah kaum Yahudi, Nasrani, majusi, dan orang-orang musrik Arab.

Sami‘ū lahā (mereka mendengarnya), yakni mendengar neraka Jahannam.

Syahīqan ([mengeluarkan] suara yang mengerikan), yakni bersuara seperti suara keledai.

Wa hiya tafūr (dan neraka itu menggelegak), yakni mendidih.

Takādu tamayyazu (hampir-hampir neraka itu tercerai-berai), yakni berserakan.

Minal ghaizhi (karena marah) kepada orang-orang kafir.

Kullamā ulqiya fīhā (setiap kali dicampakkan ke dalamnya), yakni dilemparkan ke dalam neraka Jahannam.

Faujun (sekumpulan), yakni serombongan orang-orang kafir, yaitu: orang-orang Yahudi, Nasrani, majusi, dan seluruh kaum kafirin.

Sa-alahum khazanatuhā (berkatalah para penjaganya kepada mereka), yakni para penjaga neraka.

A lam ya’tikum nadzīr (Apakah belum pernah datang kepada kalian seo rang pemberi peringatan), yakni seorang rasul yang menakuti (kalian)?

Qālū balā qad jā-anā nadzīrun (mereka menjawab, benar, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan), yakni seorang rasul yang mempertakuti.

Fa kadz-dzabnā (tetapi kami telah mendustakan) rasul-rasul itu.

Wa qulnā mā nazzalallāhu miη syai-in (dan kami berkata, Allah tidak menurunkan apa pun), yakni tidak menurunkan kitab dan tidak pula mengutus seorang rasul kepada kami.

In aηtum (tiadalah kalian), yakni dan kami katakan pula kepada rasul-rasul itu, Tiadalah kalian ….

Illā fī dlalāling kabīr (melainkan berada dalam kesesatan yang besar), yakni dalam kekeliruan yang besar karena kalian menganggap Allah Esa. Menurut yang lain, para Malaikat Zabaniyyah berkata kepada mereka,

In aηtum (tiadalah kalian), yakni tiadalah kalian di dunia ini;

illā fī dlalāling kabīr (melainkan berada dalam kesesatan yang besar), yakni dalam kekeliruan yang besar berkenaan dengan mempersekutukan Allah.

Wa qālū (dan mereka berkata) kepada para penjaga neraka.

Lau kunnā nasma‘u (Kalaulah kami mendengar) kebenaran dan petunjuk.

Au na‘qilu (atau memahami), yakni memilih kebenaran itu di dunia.

Mā kunnā fī ashhābis sa‘īr (tentulah kami tidak termasuk para penghuni neraka yang menyala-nyala), yakni tentulah pada hari ini kami tidak akan bersama para penghuni neraka yang berkobar-kobar.

Fa‘ tarafū bi dzambihim (alhasil, mereka pun mengakui dosanya), yakni mengakui kemusyrikan mereka.

Fa suhqan (maka kebinasaanlah), yakni dijauhkan dan dibalikkan dari Rahmat Allah Ta‘ala.

Li ash-hābis sa‘īr (bagi para penghuni neraka yang menyala-nyala itu), yakni suluh-suluh neraka itu pada hari ini.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Dan orang-orang yang ingkar kepada Tuhannya, akan mendapat azab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.
  2. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya[18] mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu membara,

[18] Yakni dengan dihinakan dan direndahkan.

  1. hampir meledak karena marah[19]. Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya, penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, “Apakah belum pernah ada orang yang datang memberi peringatan kepadamu (di dunia)[20]?”

[19] Kepada orang-orang kafir.

[20] Yaitu Rasul yang datang memberikan peringatan terhadap azab akhirat.

  1. Mereka menjawab, “Benar, sungguh, seorang pemberi peringatan telah datang kepada Kami, tetapi Kami mendustakan(nya) dan Kami katakan, “Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun, kamu sebenarnya di dalam kesesatan yang besar[21].”

[21] Mereka menggabung antara mendustakan secara khusus dengan mendustakan secara umum kepada semua yang Allah turunkan, bahkan tidak hanya itu, mereka terang-terangan menyesatkan para rasul yang memberi peringatan, padahal sesungguhnya mereka adalah para pemimpin yang memberi petunjuk.

  1. Dan mereka berkata[22], “Sekiranya (dahulu) kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala[23].”

[22] Mengakui ketidaklayakan mendapat petunjuk.

[23] Mereka singkirkan jalan-jalan petunjuk yaitu mendengar apa yang Allah turunkan dan apa yang dibawa para rasul serta akal yang bermanfaat bagi pemiliknya, yang mengarahkannya kepada hakikat segala sesuatu, mengutamakan kebaikan, membuat berhenti terhadap semua yang berakibat buruk, sehingga mereka tidak memiliki pendengaran dan akal lagi. Berbeda dengan orang-orang yang yakin dan berilmu; orang-orang yang jujur dan beriman, mereka perkuat keimanan mereka dengan dalil-dalil yang sam’i (naqli), mereka dengar semua yang datang dari Allah dan yang dibawa Rasulullah ﷺ dengan mengilmuinya dan mengamalkannya. Demikian pula mereka perkuat iman mereka dengan dalil-dalil ‘aqli (akal) sehingga mereka dapat mengetahui mana petunjuk dan mana kesesatan, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang indah dan mana yang jelek, maka Mahasuci Allah yang telah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dan menelantarkan siapa yang tidak layak memperoleh kebaikan.

  1. Maka mereka mengakui dosanya[24]. Tetapi, jauhlah (dari rahmat Allah) bagi penghuni neraka yang menyala-nyala itu[25].

[24] Yaitu mendustakan para pemberi peringatan.

[25] Sungguh sengsara dan binasa mereka karena tidak memperoleh pahala Allah, menetap terus di neraka yang membakar badan mereka dan menembus sampai ke hati.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan orang-orang yang kafir kepada Rabb mereka, memperoleh azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali) yakni neraka Jahanam.
  2. (Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan) yaitu suara yang tidak enak didengar sebagaimana suara keledai (sedang neraka itu menggelegar) yakni mendidih.
  3. (Hampir-hampir neraka itu terpecah-pecah) menurut suatu qiraat lafal tamayyazu dibaca tatamayyazu sesuai dengan asalnya, artinya terbelah-belah (lantaran marah) karena murka kepada orang kafir. (Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan orang) segolongan di antara orang-orang kafir (penjaga-penjaga neraka itu bertanya kepada mereka) dengan pertanyaan yang mengandung nada celaan, (“Apakah belum pernah datang kepada kalian seorang pemberi peringatan?”) maksudnya seorang rasul yang memberikan peringatan kepada kalian akan azab Allah swt.
  4. (Mereka menjawab, “Benar ada, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakannya dan kami katakan, Allah tidak menurunkan sesuatu pun; tidak lain) tiadalah (kamu hanyalah di dalam kesesatan yang besar.”) Kalimat in antum illaa fii dhalaalin kabiir dapat dianggap sebagai perkataan para malaikat penjaga neraka kepada orang-orang kafir sewaktu mereka dijelaskan sebagai orang-orang yang mendustakan rasul-rasul. Kalimat ini pun dapat pula dianggap sebagai perkataan orang-orang kafir sebagai alasan mereka tidak percaya kepada rasul-rasul.
  5. (Dan mereka berkata, “Sekiranya kami mendengarkan) maksudnya mendengar yang disertai pemahaman (atau memikirkan) memikirkan apa yang didengarnya, yaitu peringatan rasul-rasul kepada mereka (niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”).
  6. (Mereka mengakui) orang-orang kafir itu mengaku di saat tiada gunanya lagi pengakuan (dosa mereka) yaitu dosa mendustakan peringatan-peringatan. (Maka kebinasaanlah) dapat dibaca fasuhqan dan fasuhuqan (bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala) mereka dijauhkan dari rahmat Allah swt.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Dan. (Al-Mulk: 6) Kami sediakan.

bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, memperoleh azab neraka Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (Al-Mulk: 6)

Yakni Jahanam itu adalah tempat kembali yang paling buruk.

Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan. (Al-Mulk: 7)

Menurut Ibnu Jarir, makna yang dimaksud ialah suara jeritan.

sedangkan neraka itu menggelegak. (Al-Mulk: 7)

As-Sauri mengatakan bahwa neraka itu mendidih membakar mereka, sebagaimana sedikit biji-bijian yang digodok di dalam air yang banyak.

Firman Allah Swt.:

hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. (Al-Mulk: 8)

Yakni hampir-hampir neraka itu sebagian darinya terpisah dengan sebagian lainnya karena kemarahan dan dendamnya yang sangat terhadap orang-orang kafir.

Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang , pemberi peringatan?” Mereka menjawab, “Benar ada,” sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, tetapi kami mendustakan(nya) dan kami katakan, “Allah tidak menurunkan sesuatu pun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.” (Al-Mulk: 8-9)

Allah Swt. menyebutkan tentang keadilan yang Dia terapkan terhadap makhluk-Nya, bahwa Dia tidak mengazab seseorang melainkan sesudah menegakkan alasan terhadapnya dan setelah mengutus seorang rasul kepadanya, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

وَما كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

dan Kami tidak mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Al-Isra: 15)

Dan firman-Nya:

حَتَّى إِذا جاؤُها فُتِحَتْ أَبْوابُها وَقالَ لَهُمْ خَزَنَتُها أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آياتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قالُوا بَلى وَلكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذابِ عَلَى الْكافِرِينَ

Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakan pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab, “Benar (telah datang).” Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir. (Az-Zumar: 71)

Demikian pula mereka menyalahkan diri mereka sendiri dan menyesali perbuatannya, di saat tiada gunanya lagi penyesalan bagi mereka. Mereka mengatakan, sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya:

Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. (Al-Mulk: 10)

Yaitu sekiranya dahulu kami menggunakan akal kami dengan sebenarnya atau mendengarkan kebenaran yang diturunkan oleh Allah, niscaya kami tidak akan terjerumus ke dalam kekafiran kepada Allah dan tidak teperdaya oleh kekafiran. Akan tetapi, ternyata dahulu kami tidak menggunakan pemahaman kami untuk menyadari apa yang disampaikan oleh para rasul, dan tidak pula kami menggunakan akal kami yang dapat memberi petunjuk kepada kami untuk mengikuti para rasul. Maka Allah Swt. berfirman:

Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. (Al-Mulk: 11)

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّة، عَنْ أَبِي البَخْتَريّ الطَّائِيِّ قَالَ: أَخْبَرَنِي مَنْ سَمِعَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: “لَنْ يَهْلِكَ النَّاسُ حَتَّى يُعذِروا مِنْ أَنْفُسِهِمْ

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Amr ibnu Murrah, dari Abul Buhturi At-Ta-i yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku seseorang yang telah mendengarkan hadis berikut dari Rasulullah yang telah bersabda: Manusia tidak akan binasa sebelum mereka menyadari akan kesalahan diri mereka sendiri.

Di dalam hadits yang lain disebutkan:

لَا يَدْخُلُ أَحَدٌ النَّارَ، إِلَّا وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّ النَّارَ أَوْلَى بِهِ مِنَ الْجَنَّةِ

Tidaklah seseorang masuk neraka melainkan dia menyadari bahwa neraka adalah tempat yang lebih layak baginya daripada surga.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

  .

««««« juz 28 «««««   ««««« juz 29 ««««« ««««« juz 30 «««««