Sifat Orang-orang Mukmin dan Balasannya

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Ma'arij Ayat 22-35

0
367

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Ma’arij Ayat 22-35. Sifat orang-orang mukmin dan balasan bagi para pemilik sifat tersebut. Mereka berada di dalam surga-surga dengan pahala, persembahan, dan hadiah.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِلَّا الْمُصَلِّينَ -٢٢- الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ -٢٣- وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ -٢٤- لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ -٢٥- وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ -٢٦- وَالَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ -٢٧- إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ -٢٨- وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ -٢٩- إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ -٣٠- فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاء ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ -٣١- وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ -٣٢- وَالَّذِينَ هُم بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ -٣٣- وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ -٣٤- أُوْلَئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُّكْرَمُونَ -٣٥

Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan. (Q.S. Al-Ma’arij : 19-35)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Illal mushallīn (kecuali orang-orang yang shalat), yakni orang-orang yang senantiasa melaksanakan shalat lima waktu tidaklah seperti itu.

Alladzīna hum ‘alā shalātihim dā-imūn (yaitu orang-orang yang tetap menunaikan shalatnya), yakni mereka berkesinambungan menunaikan shalat wajib siang dan malam, tanpa pernah meninggalkannya.

Wal ladzīna fī amwālihim haqqum ma‘lūm (dan orang-orang yang dalam harta kekayaannya terdapat hak tertentu), yakni orang-orang yang memandang bahwa dalam harta kekayaan mereka terdapat hak tertentu selain zakat.

Lis sā-ili (bagi orang yang meminta), yakni bagi orang yang meminta hartamu.

Wal mahrūm (dan orang yang tidak mempunyai apa-apa), yakni orang yang dihalangi mendapatkan upah dan ganimah. Menurut satu pendapat, al-mahrūm, adalah orang yang mencari nafkah, tetapi tidak mencukupi penghidupan dan makanannya. Menurut pendapat yang lain, al-mahrūm adalah orang fakir yang tidak meminta, tidak diberi, dan tidak memiliki kepandaian.

Wal ladzīna yushaddiqūna bi yaumid dīn (dan orang-orang yang membenarkan hari pembalasan), yakni yang membenarkan yaumul hisab (hari penghisaban) beserta segala kejadiannya.

Wal ladzīna hum min ‘adzābi rabbihim musyfiqūn (dan orang-orang yang takut akan Azab Rabb mereka).

Inna ‘adzāba rabbihim ghairu ma’mūn (sesungguhnya Azab Rabb mereka itu tidak ada yang dapat merasa aman), yakni rasa aman dari Rabb mereka tak akan datang kepada mereka.

Wal ladzīna hum li furūjihim hāfizhūn (dan orang-orang yang menjaga kehormatan mereka), yakni yang memelihara kesucian diri dari hal-hal yang haram.

Illā ‘alā azwājihim (kecuali terhadap istri-istri mereka) yang (maksimal) berjumlah empat.

Au mā malakat aimānuhum (atau budak-budak yang mereka miliki), yakni budak-budak perempuan yang jumlahnya tidak dibatasi.

Fa innahum ghairu malūmīn (maka sesungguhnya mereka tidak tercela), yakni tidak berdosa dengan hal itu, dan tidak pula tercela karena perbuatan halal itu.

Fa manibtaghā warā-a dzālika (namun, barangsiapa mencari di balik itu), yakni barangsiapa mencari selain istri-istri dan budak-budak perempuan yang telah Kukemukakan itu.

Fa ulā-ika humul ‘ādūn (maka mereka adalah orang-orang yang melampaui batas), yakni yang melampaui batas halal menuju hal yang haram.

Wal ladzīna hum li amānātihim (dan orang-orang yang terhadap amanat-amanat), yakni sesuatu yang diamanatkan kepadanya, baik menyangkut urusan agama ataupun urusan yang lain.

Wa ‘ahdihim (dan janji mereka) baik antara mereka dengan Rabb mereka maupun antara mereka dengan sesama manusia. Menurut satu pendapat, dan sumpah mereka dengan Nama Allah Ta‘ala.

Rā‘ūn (memelihara), yakni menjaganya, dengan menepati dan menyempurnakan hingga batas waktu yang dijanjikan.

Wal ladzīna hum bi syahādātihim qā-imūn (dan orang-orang yang memberikan kesaksian mereka) di hadapan para hakim apabila diminta memberikan kesaksian, seraya tidak menyembunyikan kesaksiannya.

Wal ladzīna hum ‘alā shalātihim yuhāfizhūn (dan orang-orang yang senantiasa menjaga shalat mereka), yakni senantiasa menjaga shalat lima waktu tepat pada waktunya.

Ulā-ika (mereka), yakni para pemilik sifat tersebut.

Fī jannātin (berada di dalam surga-surga), yakni taman-taman.

Mukramūn ([lagi] dimuliakan) dengan pahala, persembahan, dan hadiah.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Kecuali orang-orang yang melaksanakan shalatnya[4],

[4] Yaitu orang-orang mukmin. Mereka apabila mendapatkan kebaikan, maka mereka bersyukur kepada Allah dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Allah berikan, dan apabila mereka mendapatkan kesusahan, maka mereka bersabar dan mengharap pahala. Sifat-sifat mereka ini disebutkan dalam ayat selanjutnya.

  1. mereka yang tetap setia melaksanakan shalatnya[5],

[5] Mereka senantiasa melakukan shalat pada waktunya dengan memenuhi syarat dan penyempurnanya. Mereka bukanlah orang yang tidak melaksanakannya dan bukan pula orang yang mengerjakannya jarang-jarang atau melakukannya secara kurang.

  1. dan orang-orang yang dalam hartanya disiapkan bagian tertentu[6],

[6] Untuk zakat dan sedekah.

  1. Bagi orang (miskin) yang meminta dan yang tidak meminta,
  2. dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan[7],

[7] Yakni beriman kepada apa yang Allah dan Rasul-Nya beritakan, seperti kebangkitan dan pembalasan, mereka meyakininya dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Beriman kepada hari pembalasan mengharuskan pula beriman kepada para rasul dan apa yang mereka bawa.

  1. dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya[8],

[8] Oleh karena itulah, mereka menjauhi segala yang dapat membuat mereka diazab.

  1. sesungguhnya terhadap azab Tuhan mereka, tidak ada seseorang merasa aman (dari kedatangannya),
  2. dan orang-orang yang memelihara kemaluannya[9],

[9] Oleh karena itu, mereka tidak menaruhnya di tempat yang haram seperti zina, liwath (homoseks), menaruhnya di dubur atau ketika istri haidh, dsb. Mereka juga meninggalkan sarana-sarana yang haram yang dapat mendorong mereka berbuat keji.

  1. kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki[10] maka sesungguhnya mereka tidak tercela.

[10] Maksudnya, budak-budak belian yang didapat dalam peperangan dengan orang kafir, bukan budak belian yang didapat di luar peperangan. Dalam peperangan dengan orang-orang kafir itu, wanita-wanita yang ditawan biasanya dibagi-bagikan kepada kaum muslimin yang ikut dalam peperangan itu, dan kebiasan ini bukanlah suatu yang diwajibkan. Imam boleh melarang kebiasaan ini.

  1. Maka barang siapa mencari di luar itu[11], mereka itulah orang-orang yang melampaui batas[12].

[11] Yakni selain istrinya dan budaknya, seperti melakukan zina, homoseks, lesbian dan sebagainya.

[12] Dari yang halal kepada yang haram. Ayat ini juga menunjukkan haramnya nikah mut’ah (kontrak), karena keadaan wanitanya bukan istri yang dimaksudkan dan bukan pula budak.

  1. Dan orang-orang yang memelihara amanat[13] dan janjinya[14],

[13] Mereka memeliharanya, melaksanakan kewajibannya dan berusaha memenuhinya. Amanah di sini mencakup amanah antara seorang hamba dengan Tuhannya seperti beban (kewajiban) agama dan beban-beban yang menjadi tanggung jawabnya yang tersembunyi yang hanya diketahui oleh Allah seperti titipan, maupun amanah antara seorang hamba dengan hamba yang lain baik dalam hal harta maupun sesuatu yang dirahasiakan.

[14] Baik janji antara dia dengan Allah Subhaanahu wa Ta’aala, maupun janji antara dia dengan hamba-hamba Allah. Janji ini akan ditanya; apakah dia memenuhinya atau tidak?

  1. dan orang-orang yang berpegang teguh pada kesaksiannya[15],

[15] Mereka bersaksi sesuai yang mereka ketahui tanpa menambah, mengurangi atau menyembunyikan, tidak memihak kepada kerabat, teman dan lainnya, tetapi dia lakukan karena mencari keridhaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala sebagaimana firman-Nya, “Wa aqiimusy syahaadata lillah.” (artinya: tegakkanlah persaksian karena Allah).

  1. dan orang-orang yang memelihara shalatnya[16].

[16] Dengan melaksanakannya pada waktunya, terpenuhi rukun dan syaratnya dan mengerjakan yang wajib dan sunnahnya.

  1. Mereka itu[17] dimuliakan dalam surga[18].

[17] Yang telah disebutkan sifatnya.

[18] Kesimpulan ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya, bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyifati orang-orang yang berbahagia dengan sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia, yaitu ibadah badan seperti shalat dan konsisten di atasnya, ibadah hati seperti takut kepada Allah yang mendorong melakukan semua perbuatan yang baik, Ibadah harta, ‘aqidah yang bermanfaat, akhlak yang utama, bermu’amalah dengan Allah dan dengan makhluk-Nya dengan mu’amalah yang terbaik seperti inshaf (adil), memelihara janji dan rahasia, memiliki rasa ‘iffah (menjaga diri dari yang haram) secara sempurna dengan menjaga kemaluan dari perkara yang dibenci Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Kecuali orang-orang yang mengerjakan salat) yakni, orang-orang yang beriman.
  2. (Yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya) terus-menerus mengerjakannya.
  3. (Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu) yakni zakat.
  4. (Bagi orang miskin yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa) yang tidak mau meminta-minta, demi memelihara kehormatannya sekalipun ia tidak punya.
  5. (Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan) yaitu, hari ketika semua orang mendapatkan balasan amal perbuatannya.
  6. (Dan orang-orang yang takut terhadap azab Rabbnya) mereka takut akan azab-Nya.
  7. (Karena sesungguhnya azab Rabb mereka tidak dapat orang merasa aman) dari kedatangannya.
  8. (Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya.)
  9. (Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki) yakni budak-budak perempuan (maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela.)
  10. (Barang siapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas) melanggar batas kehalalan menuju kepada keharaman.
  11. (Dan orang-orang yang terhadap amanat-amanat mereka) menurut suatu qiraat lafal amaanaatihim dibaca dalam bentuk mufrad atau tunggal, sehingga bacaannya menjadi amaanatihim, yakni perkara agama dan duniawi yang dipercayakan kepadanya untuk menunaikannya (dan janji mereka) yang telah diambil dari mereka dalam hal tersebut (mereka memeliharanya) benar-benar menjaganya.
  12. (Dan orang-orang yang terhadap kesaksiannya) menurut suatu qiraat dibaca dalam bentuk jamak, sehingga bacaannya menjadi syahaadaatihim (mereka menunaikannya) mereka menegakkannya dan tidak menyembunyikannya.
  13. (Dan orang-orang yang memelihara shalatnya) yaitu dengan mengerjakan pada waktunya.
  14. (Mereka itu dimasukkan ke dalam surga lagi dimuliakan.)

.

Tafsir Ibnu Katsir

kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat. (Al-Ma’arij: 22)

Yakni manusia itu ditinjau dari segi pembawaannya menyandang sifat-sifat yang tercela, terkecuali orang yang dipelihara oleh Allah dan diberi-Nya taufik dan petunjuk kepada kebaikan dan memudahkan baginya jalan untuk meraihnya. Mereka adalah orang-orang yang mengerjakan salat.

yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya. (Al-Ma’arij: 23)

Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah orang-orang yang memelihara salat dengan menunaikannya di waktunya masing-masing dan mengerjakan yang wajib-wajibnya. Demikianlah menurut Ibnu Mas’ud, Masruq, dan Ibrahim An-Nakha’i. Menurut pendapat yang lain, yang dimaksud dengan tetap dalam ayat ini ialah orang yang mengerjakan salatnya dengan tenang dan khusyuk, semakna dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خاشِعُونَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya. (Al-Mu’minun: 1-2)

Demikianlah menurut Uqbah ibnu Amir. Dan termasuk ke dalam pengertian ini kalimat al-ma-ud da-im, artinya air yang tenang dan diam, tidak beriak dan tidak bergelombang serta tidak pula mengalir. Makna ini menunjukkan wajib tuma-ninah dalam salat, karena orang yang tidak tuma-ninah dalam rukuk dan sujudnya bukan dinamakan orang yang tenang dalam salatnya, bukan pula sebagai orang yang menetapinya, bahkan dia mengerjakannya dengan cepat bagaikan burung gagak yang mematuk, maka ia tidak beroleh keberuntungan dalam salatnya.

Menurut pendapat yang lain, apabila mereka mengerjakan suatu amal kebaikan, maka mereka menetapinya dan mengukuhkannya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis sahih diriwayatkan melalui Siti Aisyah r.a., dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلّ

Amal yang paling disukai oleh Allah ialah yang paling tetap, sekalipun sedikit.

Menurut lafaz yang lain disebutkan:

مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ

yang paling tetap diamalkan oleh pelakunya

Selanjutnya Aisyah r.a. mengatakan, Rasulullah ﷺ adalah seorang yang apabila mengamalkan suatu amalan selalu menetapinya. Menurut lafaz yang lain disebutkan selalu mengukuhkannya.

Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya. (Al-Ma’arij: 23), Telah diceritakan kepada kami bahwa Nabi Danial a.s. menyebutkan sifat umat Muhammad ﷺ. Maka ia mengatakan bahwa mereka selalu mengerjakan shalat yang seandainya kaum Nuh mengerjakannya, niscaya mereka tidak ditenggelamkan; dan seandainya kaum ‘Ad mengerjakannya, niscaya mereka tidak tertimpa angin yang membinasakan mereka; atau kaum Samud, niscaya mereka tidak akan tertimpa pekikan yang mengguntur. Maka kerjakanlah shalat, karena sesungguhnya salat itu merupakan akhlak orang-orang mukmin yang baik.

Firman Allah Swt.:

dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta). (Al-Ma’arij: 24-25)

Yakni orang-orang yang di dalam harta mereka terdapat bagian tertentu bagi orang-orang yang memerlukan pertolongan. Masalah ini telah diterangkan di dalam tafsir surat Az-Zariyat.

Firman Allah Swt.:

Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan. (Al-Ma’arij: 26)

Yaitu meyakini adanya hari kiamat, hari penghisaban, dan pembalasan; maka mereka mengerjakan amalnya sebagaimana orang yang mengharapkan pahala dan takut akan siksaan. Karena itulah dalam firman berikutnya disebutkan:

dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. (Al-Ma’arij:27)

Maksudnya, takut dan ngeri terhadap azab Allah Swt.:

Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). (Al-Ma’arij: 28)

Yakni tiada seorang pun yang merasa aman dari azab-Nya dari kalangan orang yang mengetahui akan perintah Allah Swt. kecuali hanya bila mendapat jaminan keamanan dari Allah Swt.

Firman Allah Swt.:

Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, (Al-Ma’arij: 29)

Yaitu mengekangnya dari melakukan hal yang diharamkan baginya dan menjaganya dari meletakkannya bukan pada tempat yang diizinkan oleh Allah Swt. Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:

kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. (Al-Ma’arij: 30)

Maksudnya, budak-budak perempuan yang dimiliki oleh mereka.

maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Al-Ma’arij: 30-31)

Tafsir ayat ini telah disebutkan di dalam permulaan surat Al-Mu’minun, yaitu pada firman-Nya:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al-Mu’minun: 1), hingga beberapa ayat berikutnya. sehingga tidak perlu diulangi lagi dalam surat ini.

Firman Allah Swt.:

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. (Al-Ma’arij: 32)

Yakni apabila mereka dipercaya, mereka tidak khianat; dan apabila berjanji, tidak menyalahinya. Demikianlah sifat orang-orang mukmin dan kebalikannya adalah sifat-sifat orang-orang munafik, sebagaimana yang disebutkan di dalam sebuah hadis sahih yang mengatakan:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Pertanda orang munqfik itu ada tiga, yaitu apabila berbicara, dusta; apabila berjanji, menyalahi; dan apabila dipercaya, khianat.

Menurut riwayat yang lain disebutkan:

إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خاصم فجر

Apabila berbicara, dusta; dan apabila berjanji, melanggar; dan apabila bertengkar, melampaui batas.

Firman Allah Swt:

Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. (Al-Ma’arij: 33)

Yakni bersikap hati-hati dalam bersaksi, tidak menambahi dan tidak mengurangi, tidak pula menyembunyikan sesuatu.

وَمَنْ يَكْتُمْها فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ

Dan barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya. (Al-Baqarah: 283)

Kemudian Allah Swt. berfirman:

Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. (Al-Ma’arij: 34)

Yakni waktu-waktunya, rukun-rukunnya, wajib-wajibnya, dan sunat-sunatnya. Pembicaraan dimulai dengan menyebutkan shalat dan diakhiri dengan menyebutkannya pula, hal ini menunjukkan perhatian yang besar terhadap masalah shalat dan mengisyaratkan tentang kemuliaannya.

Sebagaimana yang telah disebutkan dalam permulaan surat Al-Mu’minun melalui firman-Nya:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al-Mu’minun: 1)

Maka di penghujung pembahasannya disebutkan hal yang sama dengan di sini, yaitu firman-Nya:

أُولئِكَ هُمُ الْوارِثُونَ الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيها خالِدُونَ

Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni ) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (Al-Mu’minun: 10-11)

Dan dalam surat Al-Ma’arij ini disebutkan oleh firman-Nya:

Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan. (Al-Ma’arij: 35)

Yakni dimuliakan dengan berbagai macam kenikmatan dan kesenangan surgawi.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 28 «««««   ««««« juz 29 ««««« ««««« juz 30 «««««

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here