Nikmat-nikmat Allah ‘Azza wa Jalla

Tafsir Al-Qur’an: Surah Nuuh Ayat 13-20

0
173

Tafsir Al-Qur’an: Surah Nuuh Ayat 13-20. Nabi Nuh ‘alaihis salam mengingatkan kaumnya nikmat-nikmat Allah ‘Azza wa Jalla, kekuasaan-Nya dan agungnya ciptaan-Nya.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

مَّا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَاراً -١٣- وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَاراً -١٤- أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقاً -١٥- وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُوراً وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجاً -١٦- وَاللَّهُ أَنبَتَكُم مِّنَ الْأَرْضِ نَبَاتاً -١٧- ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجاً -١٨- وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطاً -١٩- لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلاً فِجَاجاً -٢٠

Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah? Dan sungguh, Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita (yang cemerlang)? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah, tumbuh (berangsur-angsur), kemudian Dia akan mengembalikan kamu ke dalamnya (tanah) dan mengeluarkan kamu (pada hari kiamat) dengan pasti. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, agar kamu dapat pergi kian kemari di jalan yang luas. (Q.S. Nuh : 13-20)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Mā lakum lā tarjūna lillāhi waqārā (mengapa kalian tidak takut oleh Kebesaran Allah), yakni mengapa kalian tidak takut terhadap keagungan dan kekuasaan Allah Ta‘ala. Menurut pendapat yang lain, mengapa kalian tidak mengagungkan Allah Ta‘ala lalu bertauhid kepada-Nya?

Wa qad khalaqakum athwārā (padahal Dia sungguh-sungguh telah menciptakan kalian dalam beberapa tingkatan), yakni dalam beberapa tahapan. Maksudnya, dari satu keadaan ke keadaan lainnya, mulai dari nutfah, segumpal darah, segumpal daging, lalu tulang.

A lam tarau (apakah kalian memperhatikan), yakni apakah kalian tidak diberi tahu, hai penduduk Mekah!

Kaifa khalaqallāhu sab‘a samāwātiη thibāqā (bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat), yakni yang satu di atas yang lain laksana kubah yang ujung-ujungnya bersambungan.

Wa ja‘alal qamara fīhinna (dan Dia telah menjadikan bulan padanya), yakni bersama (penciptaan tujuh lapis langit).

Nūran (sebagai cahaya) yang bersinar.

Wa ja‘alasy syamsa sirājā (dan telah menjadikan matahari sebagai pelita) yang terang benderang untuk Bani Adam.

Wallāhu ambatakum minal ardli nabātā (dan Allah telah menumbuhkan kalian dari tanah dengan sebaik-baiknya), yakni Allah Ta‘ala telah menciptakan kalian dari Adam a.s., Adam a.s. dari tanah, dan tanah berasal dari bumi.

Tsumma yu‘īdukum fīhā (kemudian Dia akan mengembalikan kalian ke dalamnya), yakni akan mengubur kalian di dalam bumi.

Wa yukhrijukum ikhrājā (dan mengeluarkan kalian dengan sebenar-benarnya), yakni mengeluarkan kalian dari dalam kubur pada hari kiamat.

Wallāhu ja‘ala lakumul ardla bisāthā (dan Allah telah membuat bumi untuk kalian sebagai hamparan), yakni laksana kasur dan tempat tidur.

Li taslukū minhā (supaya di bumi itu kalian dapat menempuh), yakni supaya di bumi itu kalian dapat menggunakan.

Subulaη fijājā (jalan-jalan yang luas).

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah?
  2. Dan sungguh, Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan (kejadian)[1].

[1] Yaitu dari mani lalu menjadi segumpal darah kemudian menjadi segumpal daging dst. kemudian lahir ke dunia, lalu disusui, kemudian menjadi anak-anak, lalu menjadi besar sehingga bisa membedakan, kemudian menjadi pemuda dan menjadi orang tua dan seterusnya sampai keadaannya yang terakhir. Lihat pula surat Al Mu’minun ayat 12, 13 dan 14. Nah, Tuhan yang menciptakan sendiri dan mengatur dengan pengaturan yang indah jelas berhak satu-satunya diibadahi. Disebutkan awal penciptaan untuk mengingatkan manusia agar mereka mengakui adanya kebangkitan dan bahwa yang menciptakan mereka dari yang sebelumnya tidak ada berkuasa menghidupkan mereka kembali setelah mereka mati untuk diberikan balasan.

  1. [2]Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis?

[2] Nabi Nuh ‘alaihis salam juga berdalih terhadap adanya kebangkitan dengan penciptaan langit yang keadaannya lebih besar daripada manusia.

  1. Dan di sana Dia menciptakan bulan yang bercahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita (yang cemerlang)?[3]

[3] Besarnya makhluk-makhluk itu menunjukkan keagungan Allah Subhaanahu wa Ta’aala, dan banyaknya manfaat pada matahari dan bulan menunjukkan rahmat Allah dan luasnya ihsan-Nya Oleh karena itu, Allah Yang Mahaagung dan Maha Penyayang berhak untuk diagungkan, dicintai, diibadahi, ditakuti dan diharap.

  1. Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah, tumbuh (berangsur-angsur)[4],

[4] Ketika Dia menciptakan nenek moyang kamu Adam sedangkan kamu dalam tulang shulbi(punggung)nya.

  1. Kemudian Dia akan mengambalikan kamu ke dalamnya (tanah)[5] dan mengeluarkan kamu (pada hari kiamat) dengan pasti[6].

[5] Dalam keadaan terkubur.

[6] Untuk dibangkitkan. Dengan demikian, Dialah yang berkuasa menghidupkan, mematikan dan membangkitkan.

  1. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan[7],

[7] Yakni terhampar dan siap untuk dimanfaatkan.

  1. agar kamu dapat pergi kian-kemari di jalan-jalan yang luas[8].

[8] Jika sekiranya Dia tidak membentangkannya, tentu mereka tidak tidak dapat pergi kian-kemari di jalan yang luas, bahkan mereka tidak akan bisa menggarap tanahnya, menanam tanaman, membuat bangunan dan tinggal di atasnya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Mengapa kalian tidak mengharapkan keagungan dari Allah?) tidak mengharapkan Allah mengangkat derajat kalian, agar kalian beriman kepada-Nya.
  2. (Padahal sesungguhnya Dia telah menciptakan kalian dalam beberapa tingkatan kejadian) lafal athwaaran bentuk jamak dari lafal thaurun, artinya tahap; yakni mulai dari tahap air mani terus menjadi darah kental atau alaqah, hingga menjadi manusia yang sempurna bentuknya. Dan memperhatikan kejadian makhluk-Nya seharusnya menuntun mereka iman kepada yang telah menciptakannya.
  3. (Tidakkah kalian perhatikan) kalian lihat (bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?) sebagian di antaranya berada di atas sebagian yang lain.
  4. (Dan Allah menciptakan padanya bulan) yaitu pada langit yang paling terdekat di antara keseluruhan langit itu (sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?) yang memancarkan sinar terang yang jauh lebih kuat daripada sinar bulan.
  5. (Dan Allah menumbuhkan kalian) Dia telah menciptakan kalian (dari tanah) karena Dia telah menciptakan bapak moyang kalian, yaitu Nabi Adam daripadanya (dengan sebaik-baiknya.)
  6. (Kemudian Dia mengembalikan kalian ke dalam tanah) dalam keadaan terkubur di dalamnya (dan mengeluarkan kalian) dari dalamnya menjadi hidup kembali pada hari kiamat (dengan sebenar-benarnya.)
  7. (Dan Allah menjadikan bagi kalian bumi sebagai hamparan) yakni dalam keadaan terhampar.
  8. (Supaya kalian menempuh padanya jalan-jalan) atau menempuh jalan-jalan (yang luas.”) yang lebar.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Ta’aala:

Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? (Nuh: 13)

Yakni kebesaran-Nya, menurut Ibnu Abbas, Mujahid, dan Ad-Dahhak.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa kalian tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenar-benarnya. Dengan kata lain, mengapa kamu tidak takut kepada pembalasan dan azab-Nya.

Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian? (Nuh: 14)

Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah dari nutfah, kemudian menjadi ‘alaqah, kemudian menjadi segumpal daging. Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ikrimah, Qatadah, Yahya ibnu Rafi’, As-Saddi, dan Ibnu Zaid.

Firman Allah Swt.:

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? (Nuh: 15)

Yakni berlapis-lapis satu lapis di atas lapis yang lainnya bersusun-susun. Akan tetapi, apakah hal ini termasuk di antara perkara yang hanya dapat didengar saja (metafisika)? Ataukah termasuk di antara perkara yang dapat dijangkau oleh indra melalui penyelidikan dan penemuan ilmiah (fisika)? Karena sesungguhnya tujuh bintang yang beredar satu sama lainnya saling menutupi yang lainnya. Yang paling dekat dengan kita adalah bulan yang berada di langit terdekat, ia menutupi bintang lainnya yang ada di atasnya, dan pada lapis yang kedua terdapat bintang ‘Utarid, dan pada lapis yang ketiga terdapat Zahrah (Venus). Sedangkan matahari terdapat pada lapis yang keempat. Mars pada lapis yang kelima, Musytari pada lapis yang keenam, dan Zuhal pada lapis yang ketujuh. Adapun bintang-bintang lainnya yaitu bintang-bintang yang tetap (tidak beredar), maka semuanya berada di lapis yang kedelapan; mereka menamakannya falak bintang-bintang yang menetap. Dan para ahli falak yang berilmu syariat menamakannya dengan istilah Al-Kursi. Dan falak yang kesembilan dinamakan Al-Atlas dan juga Al-Asir, yang menurut ahli ilmu falak pergerakannya kebalikan dari peredaran semua falak yang ada. Yaitu peredarannya dimulai dari barat menuju ke timur, sedangkan semua falak kebalikannya yaitu dari arah timur ke arah barat, dan bersamaan dengannya beredar pula semua bintang mengikutinya. Akan tetapi, bintang-bintang yang beredar mempunyai pergerakan yang berbeda dengan semua falaknya, karena sesungguhnya bintang-bintang tersebut beredar dari arah barat menuju ke arah timur. Masing-masing darinya menempuh falaknya menurut kecepatannya. Bulan menempuh garis edarnya setiap bulannya sekali, dan matahari menempuh garis edarnya setiap tahunnya sekali, dan Zuhal baru dapat menempuhnya selama tigapuluh tahun sekali. Demikian itu berdasarkan luas falak masing-masing, sekalipun gerakan semuanya dalam hal kecepatannya berimbang.

Demikianlah kesimpulan dari apa yang dikatakan oleh ahli ilmu falak dalam bab ini dengan adanya perbedaan pendapat di kalangan mereka mengenai berbagai masalah yang cukup banyak, tetapi bukan termasuk ke dalam pembahasan kita sekarang ini. Tujuan kita hanyalah untuk menjelaskan bahwa Allah Swt:

telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita. (Nuh: 15-16)

Yaitu Allah Swt. membedakan cahaya keduanya, dan menjadikan masing-masing dari keduanya sebagai tanda untuk mengetahui malam dan siang hari melalui terbit dan tenggelamnya matahari. Allah telah menetapkan pula garis-garis edar dan manzilah-manzilah bagi bulan serta mengubah-ubah cahayanya. Adakalanya cahayanya bertambah hingga sempurna, kemudian menurun (berkurang) hingga lenyap tersembunyi; hal ini untuk mengetahui perjalanan bulan dan tahun, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman Allah Swt.:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِياءً وَالْقَمَرَ نُوراً وَقَدَّرَهُ مَنازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآياتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Yunus: 5)

Adapun firman Allah Swt.:

Dan Allah menciptakan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya. (Nuh: 17)

Nabatan adalah isim masdar, dan mendatangkannya di tempat ini merupakan ungkapan yang sangat indah.

kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah. (Nuh: 18)

Yakni apabila kalian mati.

dan mengeluarkan kamu dengan sebenar-benarnya. (Nuh: 18)

Maksudnya, di hari kiamat Dia akan mengembalikan kamu hidup kembali daripadanya, sebagaimana Dia menciptakan kamu pada yang pertama kali.

Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan. (Nuh: 19)

Allah telah menggelarkannya dan menjadikannya layak untuk dihuni, dan menetapkan serta mengokohkannya dengan gunung-gunung yang-besar lagi tinggi menjulang ke langit.

supaya kamu menempuh jalan-jalan yang luas di bumi itu. (Nuh: 20)

Yakni Allah telah menciptakan bumi untuk tempat menetap kalian, dan kalian dapat melakukan perjalanan padanya ke mana pun yang kalian kehendaki dari kawasan dan daerah-daerahnya. Semuanya itu termasuk di antara apa yang diingatkan oleh Nuh terhadap kaumnya, untuk menunjukkan kepada mereka kekuasaan Allah dan kebesaran-Nya melalui penciptaan-Nya terhadap langit, bumi, dan semua nikmat yang dirasakan oleh mereka berupa berbagai manfaat, baik yang berasal dari langit maupun yang berasal dari bumi. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Memberi rezeki. Dia telah menjadikan langit sebagai atap dan bumi sebagai hamparan dan melimpahkan kepada makhluk-Nya rezeki-rezeki-Nya. Maka Dialah Tuhan Yang wajib disembah dan diesakan dan tidak boleh dipersekutukan dengan siapa pun. Karena sesungguhnya Allah itu tiada tandingan, tiada lawan, dan tiada yang sepadan dengan-Nya, tidak beranak, tidak mempunyai pembantu, tidak mempunyai penasihat, bahkan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

««««« juz 28 «««««   ««««« juz 29 ««««« ««««« juz 30 «««««