Perintah untuk Bersabar Terhadap Gangguan

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Muzzammil Ayat 10-14

0
301

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Muzzammil Ayat 10-14, Perintah kepada Rasulullah ﷺ untuk bersabar terhadap gangguan kaum musyrik dan tidak mempedulikan mereka sampai Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang sendiri membalas mereka.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْراً جَمِيلاً -١٠- وَذَرْنِي وَالْمُكَذِّبِينَ أُولِي النَّعْمَةِ وَمَهِّلْهُمْ قَلِيلاً -١١- إِنَّ لَدَيْنَا أَنكَالاً وَجَحِيماً -١٢- وَطَعَاماً ذَا غُصَّةٍ وَعَذَاباً أَلِيماً -١٣- يَوْمَ تَرْجُفُ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ وَكَانَتِ الْجِبَالُ كَثِيباً مَّهِيلاً -١٤

Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar. Karena sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang menyala-nyala. Dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan azab yang pedih. Pada hari bumi dan gunung-gunung berguncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan pasir beterbangan. (Q.S. Al-Muzzammil : 10-14)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Washbir (dan bersabarlah kamu) hai Muhammad!

‘Alā mā yaqūlūna (atas apa pun yang mereka katakan), yakni atas kecaman dan kebohongan yang mereka katakan.

Wahjurhum hajraη jamīlā (dan jauhilah mereka dengan cara yang baik), yakni menghindarlah dari mereka dengan cara yang baik, tanpa harus berkeluh kesah dan mengeluarkan kata-kata kotor.

Wa dzarnī wal mukadz-dzibīna (dan biarkanlah Aku bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan) Al-Qur’an. Ungkapan ini merupakan ancaman Allah Ta‘ala terhadap mereka. Mereka adalah orang-orang yang berhasil ditikam dalam Perang Badr.

Ulin na‘mati (orang-orang yang mempunyai kemewahan), yakni orang-orang yang mempunyai harta dan kekayaan.

Wa mahhilhum (dan berilah mereka tangguh), yakni berilah mereka batas waktu.

Qalīlā (barang sebentar), yakni sampai Perang Badr.

Inna ladainā (sesungguhnya pada sisi Kami), yakni untuk mereka di sisi Kami pada hari akhirat.

Angkālan (ada belenggu-belenggu), yakni borgol-borgol yang akan diikatkan ke kaki mereka, ikatan-ikatan yang akan dipasangkan ke tangan kanan mereka sampai ke leher mereka, dan rantai-rantai yang akan dibelenggukan pada leher mereka.

Wa jahīmā (dan neraka yang menyala-nyala) yang akan mereka masuki.

Wa tha‘āman dzā ghush-shatin (dan makanan yang menyumbat di kerongkongan), yakni yang dapat menyumpal tenggorokan mereka. Itulah pohon zaqqum.

Wa ‘adzāban alīmā (serta azab yang pedih), yakni azab yang menyakitkan yang rasa sakitnya terkonsentrasi di dalam hati mereka. Kemudian Dia menjelaskan kapan hal itu akan terjadi.

Yauma tarjuful ardlu (pada hari ketika bumi berguncang), yakni ketika bumi bergoyang dengan keras.

Wal jibālu (serta gunung-gunung), yakni gunung-gunung bergoyang keras.

Wa kānatil jibālu katsīban (dan jadilah gunung-gunung itu tumpukan pasir), yakni debu.

Mahīlā (yang diterbangkan). Maksudnya, sesuatu yang bila kamu mengangkat bagian bawahnya, maka bagian atasnya pasti jatuh menimpamu, seperti halnya pasir.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [1]Dan bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka[2] katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik.

[1] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan shalat secara khusus kepada Nabi-Nya ﷺ dan berdzikr secara umum sehingga seorang hamba memiliki kemampuan untuk memikul beban dan mengerjakan pekerjaan yang berat, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan Beliau bersabar terhadap apa yang diucapkan oleh orang-orang yang menentang Beliau, mencaci-maki Beliau dan mencaci-maki apa yang Beliau bawa, dan agar Beliau tetap terus melaksanakan perintah Allah, tidak berhenti hanya karena ada yang menghalangi, dan agar Beliau menghajr (meninggalkan) mereka dengan cara yang baik yang sesuai maslahat yang tidak ada gangguan padanya. Maka Beliau ﷺ meninggalkan mereka dan berpaling dari mereka dan dari ucapan mereka yang menyakitkan serta memerintahkan Beliau untuk berdebat dengan cara yang baik.

[2] Kaum kafir Mekkah.

  1. Dan biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang-orang yang mendustakan[3], yang memiliki segala kenikmatan hidup[4], dan berilah mereka penangguhan sebentar[5].

[3] Seperti para tokoh mereka (kaum kafir Mekkah).

[4] Mereka bersikap melampaui batas ketika Allah Subhaanahu wa Ta’aala meluaskan rezeki-Nya dan melimpahkan karunia-Nya, seperti yang difirmankan Allah Subhaanahu wa Ta’aala, “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, Karena dia melihat dirinya serba cukup.” (Terj. Al ‘Alaq: 6-7)

[5] Oleh karena itu, tidak lama kemudian para tokoh mereka terbunuh di perang Badar.

  1. Sungguh, di sisi Kami ada belenggu-belenggu (yang berat) dan neraka yang menyala-nyala[6],

[6] Yang disiapkan untuk mereka yang mendustakan itu.

  1. dan (ada) makanan yang menyumbat di kerongkongan[7] dan azab yang pedih.

[7] Yakni tidak keluar dari mulut dan tidak turun ke perut. Entah makanan itu zaqqum, dhari’ (pohon yang berduri), ghisliin (campuran darah dan nanah), atau duri dari neraka. Hal itu, karena pahitnya makanan itu, atau baunya yang tidak sedap dan menyakitkannya makanan tersebut.

  1. (Ingatlah) pada hari ketika bumi dan gunung-gunung berguncang keras, dan menjadilah gunung-gunung itu[8] seperti onggokan pasir yang dicurahkan[9].

[8] Yang sebelumnya kokoh, kuat dan keras.

[9] Setelah itu dilumatkan menjadi debu yang berhamburan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan) bersabarlah kamu di dalam menghadapi gangguan orang-orang kafir Mekah (dan jauhilah mereka dengan cara yang baik) tanpa keluh-kesah; ayat ini diturunkan sebelum ada perintah memerangi mereka.
  2. (Dan biarkanlah Aku) maksudnya biar Aku saja yang bertindak (terhadap orang-orang yang mendustakan itu) lafal almukadzdzibiin diathafkan kepada maf`ul atau kepada maf’ul ma`ah. Maknanya Akulah yang akan bertindak terhadap mereka; mereka adalah pemimpin-pemimpin kaum Quraisy (orang-orang yang mempunyai kemewahan) kemewahan hidup (dan beri tangguhlah mereka barang sebentar) dalam jangka waktu yang tidak lama, dan ternyata selang beberapa waktu kemudian, akhirnya mereka mati terbunuh dalam perang Badar.
  3. (Karena sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu) merupakan bentuk jamak dari lafal niklun, artinya belenggu-belenggu yang berat (dan neraka Jahim) yaitu neraka yang apinya sangat membakar.
  4. (Dan makanan yang menyumbat di kerongkongan) mengganjal di kerongkongan, itu adalah buah pohon zaqum atau buah pohon dhari’ atau buah pohon ghislin atau berupa duri api, apabila dimakan tidak dapat dikeluarkan dan pula tidak dapat masuk ke dalam perut (dan azab yang pedih) di samping azab yang telah disebutkan tadi, hal ini disediakan bagi orang-orang yang mendustakan Nabi ﷺ.
  5. (Pada hari berguncang) karena gempa yang dahsyat (bumi dan gunung-gunung, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan) tumpukan-tumpukan pasir (yang beterbangan) menjadi debu yang beterbangan yang pada sebelumnya kokoh bersatu. Lafal mahiilan berasal dari lafal haala, yahiilu; bentuk asalnya adalah mahyuulun, kemudian karena mengingat harakat dhammah dianggap berat atas huruf ya, maka dipindahkan kepada huruf ha, sehingga jadilah mahuwylun. Kemudian huruf wawu dibuang karena mengingat kedudukannya yang zaidah, sehingga jadilah mahuylun, selanjutnya harakat damah diganti menjadi kasrah untuk menyesuaikannya dengan huruf ya, sehingga jadilah mahiilun.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. berfirman, memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk bersabar terhadap ucapan orang-orang yang mendustakannya dari kalangan orang-orang yang kurang akalnya dari kaumnya, dan hendaklah dia menjauhi mereka dengan cara yang baik, yaitu dengan cara yang tidak tercela. Kemudian Allah Swt. berfirman kepada Nabi-Nya yang isinya mengandung ancaman terhadap orang-orang kafir dari kalangan kaumnya, dan Dia adalah Tuhan Yang Maha Besar, tiada sesuatu pun yang dapat bertahan terhadap murka-Nya:

Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan. (Al-Muzzammil: 11)

Yakni biarkanlah Aku saja yang akan bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, padahal mereka adalah orang-orang yang hidup mewah dan mempunyai harta yang banyak. Seharusnya mereka lebih taat ketimbang orang lain, mengingat mereka mempunyai semua sarananya dan dapat menunaikan hak-hak yang tidak dimiliki oleh selain mereka.

dan beri tangguhlah mereka barang sebentar. (Al-Muzzammil: 11)

Yakni barang sedikit waktu. Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

نُمَتِّعُهُمْ قَلِيلًا ثُمَّ نَضْطَرُّهُمْ إِلى عَذابٍ غَلِيظٍ

Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras. (Luqman: 24)

Karena itulah disebutkan dalam surat ini oleh firman-Nya:

Karena Sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat. (Al-Muzzammil: 12)

Yang dimaksud dengan ankalan ialah belenggu-belenggu, menurut Ibnu Abbas, Ikrimah,Tawus, Muhammad ibnu Ka’b, Abdullah ibnu Buraidah, Abu Imran Al-Juni, Abu Mijiaz, Ad-Dahhak, Hammad ibnu Abu Sulaiman, Qatadah, As-Saddi, Ibnul Mubarak, dan As-Sauri serta selain mereka.

dan neraka yang bernyala-nyala. (Al-Muzzammil: 12)

Yaitu yang apinya menyala-nyala dengan hebatnya.

dan makanan yang menyumbat di tenggorokan. (Al-Muzzammil: 13)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah makanan yang tertahan di tenggorokan, tidak dapat masuk, dan tidak dapat pula keluar.

dan azab yang pedih. Pada hari bumi dan gunung-gunung berguncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan pasir yang beterbangan. (Al-Muzzammil: 13-14)

Bumi dan gunung-gunung mengalami gempa yang amat dahsyat sehingga jadilah gunung-gunung itu seperti tumpukan-tumpukan pasir, yang sebelumnya berupa batu-batu besar. Setelah itu gunung-gunung itu diledakkan dengan ledakan yang sedahsyat-dahsyatnya, sehingga tiada sesuatu pun darinya melainkan lenyap. Lalu bumi menjadi datar sama sekali, tidak ada sedikit pun padanya tempat yang tinggi dan tidak pula tempat yang rendah; semuanya rata, tiada bukit dan tiada lembah.

Kemudian Allah Swt. berfirman, ditujukan kepada kaum kafir Quraisy, tetapi makna yang dimaksud terhadap seluruh manusia:

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

««««« juz 28 «««««««   ««««« juz 29 ««««« ««««««« juz 30 «««««