Azab yang Menimpa Umat-umat Terdahulu

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Muzzammil Ayat 15-19

0
363

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Muzzammil Ayat 15-19, Peringatan kepada kaum musyrik dengan azab yang menimpa umat-umat terdahulu yang kafir karena kezaliman mereka.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولاً شَاهِداً عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَى فِرْعَوْنَ رَسُولاً -١٥- فَعَصَى فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذاً وَبِيلاً -١٦- فَكَيْفَ تَتَّقُونَ إِن كَفَرْتُمْ يَوْماً يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيباً -١٧- السَّمَاء مُنفَطِرٌ بِهِ كَانَ وَعْدُهُ مَفْعُولاً -١٨- إِنَّ هَذِهِ تَذْكِرَةٌ فَمَن شَاء اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ سَبِيلاً -١٩

Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Mekah) seorang rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang rasul kepada Fir’aun. Maka Fir’aun mendurhakai rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat. Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban. Langit (pun) menjadi pecah belah pada hari itu karena Allah. Adalah janji-Nya itu pasti terlaksana. Sesungguhnya ini adalah suatu peringatan. Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan (yang menyampaikannya) kepada Tuhannya. (Q.S. Al-Muzzammil : 15-19)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Innā arsalnā (sesungguhnya Kami telah mengutus), yakni telah mengirim.

Ilaikum rasūlan (seorang rasul kepada kalian), yakni Nabi Muhammad ﷺ.

Syāhidan ‘alaikum (yang akan menjadi saksi terhadap kalian) berkenaan dengan risalah yang telah dia sampaikan.

Kamā arsalnā (sebagaimana Kami telah mengutus pula), yakni telah mengirim pula.

Ilā fir‘auna rasūlā (seorang rasul kepada Fir‘aun), yakni Nabi Musa a.s.

Fa ‘ashā fir‘aunur rasūla (akan tetapi Fir‘aun mendurhakai rasul itu), yakni mendurhakai Musa a.s. dan tidak mau meresponsnya.

Fa akhadznāhu akhdzaw wabīlā (maka Kami pun menghukumnya dengan hukuman yang berat), yakni Kami pun menyiksanya dengan siksaan yang berat, yaitu penenggelaman.

Fa kaifa tattaqūna (lalu bagaimana kalian dapat memelihara diri), yakni bagaimana kalian dapat menjauhi kekafiran dan kemusyrikan, dan beriman kepada Allah Ta‘ala, hai penduduk Mekah!

Ing kafartum (jika tetap kafir), yakni apabila di dunia kalian tetap kafir.

Yauman (kepada hari), yakni hari kiamat.

Yaj‘alu (yang akan membuat), yakni yang hari itu akan membuat.

Al-wildāna syībā (anak-anak menjadi beruban) manakala mereka mendengar Allah Ta‘ala berfirman kepada Adam, Hai Adam, perintahkanlah di antara keturunanmu (agar masuk) ke dalam neraka! Adam bertanya, Ya Rabbi, berapa banyak? Allah Ta‘ala Berfirman, Dari tiap-tiap seribu orang, sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang ke neraka, dan seorang ke surga.

As-samā-u muηfathirun (langit pun menjadi pecah-belah), yakni menjadi berantakan.

Bih (pada hari itu), yakni pada hari yang membuat anak-anak menjadi beruban itu. Menurut satu pendapat, menjadi pecah-belah karena turunnya Perintah Rabb Ta‘ala dan para malaikat.

Kāna wa‘duhū (adalah janji-Nya), yakni Janji-Nya tentang kebangkitan.

Maf‘ūlā (pasti terlaksana), yakni pasti terjadi.

Inna hādzihi (sesungguhnya ini) surah.

Tadzkiratun (merupakan suatu peringatan), yakni merupakan suatu pelajaran dan penjelasan untuk kalian.

Fa maη syā-attakhadza ilā rabbihī sabīlā (karena itu, barangsiapa menghendaki, pastilah ia menempuh jalan kepada Rabb-nya), yakni jalan yang dapat mengantarkan ia kepada Rabb-nya. Ada yang berpendapat, barangsiapa menghendaki, pastilah ia bertauhid, dan tauhid menjadi sebuah jalan menuju Rabb-nya.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [10]Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang rasul (Muhammad) kepada kamu, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus seorang Rasul kepada Fir’aun.

[10] Dalam ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan manusia untuk memuji-Nya dan bersyukur kepada-Nya karena Dia telah mengutus Nabi yang ummi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, yang menjadi saksi terhadap ummat atas amal yang mereka kerjakan. Demikian pula memerintahkan mereka untuk tidak kafir kepada Beliau seperti yang dilakukan Fir’aun yang kafir kepada Nabi Musa ‘alaihis salam yang diutus-Nya kepadanya saat ia mengajak Fir’aun menyembah Allah, namun ia menolaknya dan mendurhakainya, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyiksanya dengan siksaan yang berat.

  1. Namun Fir’aun mendurhakai Rasul itu, maka Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.
  2. Lalu bagaimanakah kamu akan dapat menjaga dirimu (dari azab) jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban[11].

[11] Yaitu hari Kiamat, hari dimana segala sesuatu yang keras dan besar menjadi luluh, anak-anak beruban, langit yang kuat terbelah dan bintang-bintang berjatuhan.

  1. Langit terbelah pada hari itu. Janji Allah pasti terlaksana.
  2. Sungguh, ini[12] adalah peringatan[13]. Barang siapa menghendaki, niscaya dia mengambil jalan (yang lurus) kepada Tuhannya[14].

[12] Yakni peristiwa yang terjadi pada hari Kiamat.

[13] Orang-orang yang beriman akan sadar dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

[14] Yaitu dengan iman dan amal saleh atau mengikuti syariat-Nya, karena Allah telah menerangkan sejelas-jelasnya jalan yang dapat menuju Allah dan negeri akhirat (surga).

Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberikan kemampuan pada hamba untuk melakukan perbuatan mereka tidak sebagaimana yang dikatakan kaum Jabariyyah yang mengatakan bahwa perbuatan yang dilakukan hamba terjadi bukanlah dengan kehendak mereka. Hal ini jelas bertentangan dengan dalil dan akal.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kalian) hai penduduk Mekah (seorang rasul) yakni Nabi Muhammad ﷺ (yang menjadi saksi terhadap kalian) kelak di hari kiamat, tentang kedurhakaan-kedurhakaan yang telah kalian kerjakan (sebagaimana Kami telah mengutus, dahulu, seorang rasul kepada Firaun) yakni Nabi Musa a.s.
  2. (Maka Firaun mendurhakai rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat) atau azab yang keras.
  3. (Maka bagaimanakah kalian dapat memelihara diri kalian jika tetap kafir) di dunia (kepada hari) lafal yauman menjadi maf’ul kedua dari lafal tattaquuna. Yakni memelihara diri dari azab hari itu. Atau dengan kata lain, dengan benteng apakah kalian memelihara diri dari azab pada hari itu (yang menjadikan anak-anak beruban) lafal syiiban bentuk jamak dari lafal asyyab; dikatakan anak-anak beruban, sebagai gambaran tentang hari itu yang penuh dengan kengerian yang sangat mencekam; hari yang dimaksud adalah hari kiamat. Bentuk asal lafal syiiban adalah syuyban, dengan memakai harakat damah pada huruf syin. Kemudian harakat itu diganti menjadi kasrah demi untuk menyelaraskannya dengan huruf ya yang jatuh sesudahnya, sehingga jadilah syiiban. Dikatakan di dalam menggambarkan hari yang penuh dengan malapetaka, yaumun yusyiibu nawaashial athfaali, yakni hari yang dapat membuat ubun-ubun anak-anak beruban. Ungkapan ini adalah ungkapan majaz atau kata kiasan. Akan tetapi boleh juga makna yang terkandung di dalam ayat ini dimaksud adalah makna hakiki bukan majazi.
  4. (Langit pun menjadi pecah belah) menjadi retak dan pecah-pecah (pada hari itu) mengingat beratnya hari itu. (Adalah janji Dia) janji Allah swt. mengenai kedatangan hari itu (pasti terlaksana) pasti terjadi.
  5. (Sesungguhnya ini) yaitu ayat-ayat yang memperingatkan ini (adalah suatu peringatan) suatu nasihat bagi semua makhluk. (Maka barang siapa yang menghendaki niscaya ia menempuh jalan kepada Rabbnya) menempuh jalan yang menyampaikan kepada-Nya, yaitu melalui iman dan taat kepada-Nya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Ta’aala:

Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Mekah) seorang rasul, yang menjadi saksi terhadapmu. (Al-Muzzammil: 15)

Yakni terhadap amal perbuatanmu.

sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang rasul kepada Fir’aun. Maka Fir’aun mendurhakai rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat. (Al-Muzzammil: 15-16)

Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, As-Saddi, dan As-Sauri telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dengan siksaan yang berat. (Al-Muzzammil: 16)

Maksudnya, siksaan yang keras. Maka hati-hatilah kamu, jangan mendustakan rasul ini yang akibatnya kamu akan ditimpa azab seperti azab yang menimpa Fir’aun, yang telah disiksa oleh Allah dengan siksaan dari Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa.

Allah Swt. telah berfirman:

فَأَخَذَهُ اللَّهُ نَكالَ الْآخِرَةِ وَالْأُولى

Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. (An-Nazi’at:25)

Dan kalian lebih utama untuk mendapat kebinasaan dan kehancuran bila mendustakan rasul kalian, karena rasul kalian adalah rasul yang paling mulia dan lebih besar daripada Musa ibnu Imran. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Mujahid.

Firman Allah Swt.:

Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban. (Al-Muzzammil: 17)

Dapat ditakwilkan bahwa lafaz yauman merupakan ma’mul dari lafaz tattaqima, seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari qiraat Ibnu Mas’ud, yang artinya “maka bagimanakah kamu takut, hai manusia, akan dapat memelihara dirimu jika tetap kafir kepada Allah dan mendustakan-Nya dalam menghadapi hari yang dapat menjadikan anak-anak beruban?” Dapat pula ditakwilkan sebagai ma’mul dari lafaz kafartum. Atas dasar makna yang pertama, arti ayat ialah “maka bagaimanakah kamu akan mendapat keamanan dari hari yang kegemparannya sangat dahsyat itu jika kamu tetap kafir?”. Dan menurut makna yang kedua, artinya “maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir dan ingkar kepada hari kiamat?”. Keduanya baik, tetapi yang lebih utama adalah pendapat yang pertama; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Maka firman Allah Swt.:

kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban. (Al-Muzzammil: 17)

Yakni karena kegemparan, keguncangan, dan huru-hara yang terjadi di hari itu sangat dahsyat. Yang demikian itu terjadi di saat Allah berfirman kepada Nabi Adam, “Kirimkanlah orang-orang yang akan dimasukkan ke dalam neraka !” Adam bertanya, “Berapakah jumlahnya?” Allah Swt. berfirman, “Dari tiap seribu orang sebanyak sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang dimasukkan ke dalam neraka, sedangkan yang seorang ke dalam surga.”

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ay’yub Al-Allaf, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Nafi’ ibnu Yazid. telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Ata Al-Khurrasani, dari ayahnya, dari Ikrimah, dari ibnu Abbas r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ membaca firman-Nya:

يَوْمًا يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيبًا قَالَ: ذَلِكَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ، وَذَلِكَ يَوْمَ يَقُولُ اللَّهُ لِآدَمَ: قُمْ فَابْعَثْ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ بَعَثًا إِلَى النَّارِ. قَالَ: مِنْ كَمْ يَا رَبِّ؟ قَالَ: مِنْ كُلِّ أَلْفٍ تِسْعُمِائَةٍ وَتِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ، وَيَنْجُو وَاحِدٌ. فَاشْتَدَّ ذَلِكَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ، وَعَرَفَ ذَلِكَ رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم قَالَ حِينَ أَبْصَرَ ذَلِكَ فِي وُجُوهِهِمْ: إِنَّ بَنِي آدَمَ كَثِيرٌ، وَإِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِنْ وَلَدِ آدَمَ، وَإِنَّهُ لَا يَمُوتُ مِنْهُمْ رَجُلٌ حَتَّى يَرِثَهُ لِصُلْبِهِ أَلْفُ رَجُلٍ. فَفِيهِمْ وَفِي أَشْبَاهِهِمْ جُنَّةٌ لَكُمْ

Kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban. (Al-Muzzammil: 17) Lalu beliau bersabda: Demikian itn terjadi di hari kiamat, yaitu hari yang padanya Allah berfirman kepada Adam, “Bangkitlah dan kirimkanlah dari keturunanmu orang-orang yang akan dimasukkan ke dalam neraka !” Adam bertanya, “Dari berapakah jumlah mereka, Ya Tuhanku?” Allah Swt. berfirman, “Dari seliap seribu orang sebanyak sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang, sedangkan yang seorangnya selamat.” Maka hal itu terasa berat di kalangan kaum muslim, dan Rasulullah Saw. dapat membaca mereka, lalu beliau melanjutkan sabdanya pada saat melihat rasa keberatan ini di wajah mereka: Sesungguhnya keturunan Adam itu banyak sekali, dan sesungguhnya Ya-juj dan Ma-juj termasuk keturunan Adam, dan sesungguhnya tidaklah mati seseorang dari mereka sebelum menebarkan dari sulbinya seribu orang anak. Maka kiriman ke neraka itu adalah mereka dan orang-orang yang serupa dengan mereka, sedangkan surga untuk kalian.

Hadis ini garib, dan telah disebutkan keterangan mengenai hadis-hadis ini dalam permulaan tafsir surat Al-Hajj.

Firman Allah Swt.:

Langit (pun) menjadi pecah belah pada hari itu karena Allah. (Al-Muzzammil: 18)

Al-Hasan dan Qatadah mengatakan bahwa hal itu terjadi karena kedahsyatan dan kegemparan yang terjadi pada hari kiamat. Di antara ulama tafsir adapula yang merujukkan damir kepada Allah, yakni karena perintah-Nya. Pendapat ini diriwayatkan dari Mujahid dan Ibnu Abbas, tetapi diniiai kurang kuat. mengingat dalam konteks yang sebelumnya tidak disebut-sebut nama Allah.

Firman Allah Swt.:

Adalah janji-Nya itu pasti terlaksana. (Al-Muzzammil: 18)

Artinya, janji Allah yang menyatakan akan terjadinya hari kiamat itu pasti terjadi dan tidak dapat dielakkan lagi.

Allah Swt. berfirman:

Sesungguhnya ini. (Al-Muzzammil: 19)

Yaitu surat ini.

adalah suatu peringatan. (Al-Muzzammil: !9)

Ayat ini merupakan peringatan bagi orang-orang yang berakal. Karena itu, disebutkan dalam firman berikutnya:

Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan (yang menyampaikannya) kepada Tuhannya. (Al-Muzzammil: 19)

Maksudnya, dari mereka yang dikehendaki oleh Allah Swt. untuk mendapat hidayah-Nya. Seperti yang dijelaskan di dalam surat lain melalui firman Allah Swt.:

وَما تَشاؤُنَ إِلَّا أَنْ يَشاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كانَ عَلِيماً حَكِيماً

Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Al-Insan: 30)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

««««« juz 28 «««««««   ««««« juz 29 ««««« ««««««« juz 30 «««««