Sungguh Apa yang Dijanjikan Itu Pasti Terjadi

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Mursalat

0
462

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Mursalat (Malaikat Yang Diutus). Surah ke-77. 50 ayat. Makkiyyah. Turun sesudah Surah Al-Humazah. Ayat 1-15. Sumpah dengan para malaikat bahwa Kiamat adalah hak. Sungguh apa yang dijanjikan itu pasti terjadi.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَالْمُرْسَلَاتِ عُرْفا -١- فَالْعَاصِفَاتِ عَصْفاً -٢- وَالنَّاشِرَاتِ نَشْراً -٣- فَالْفَارِقَاتِ فَرْقاً -٤- فَالْمُلْقِيَاتِ ذِكْراً -٥- عُذْراً أَوْ نُذْراً -٦- إِنَّمَا تُوعَدُونَ لَوَاقِعٌ -٧

Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan, dan (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya, dan (malaikat-malaikat) yang menyebarkan (rahmat Tuhannya) dengan seluas-luasnya, dan (malaikat-malaikat) yang membedakan (antara yang hak dan yang batil) dengan sejelas-jelasnya, dan (malaikat-malaikat) yang menyampaikan wahyu, untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan, sungguh apa yang dijanjikan kepadamu itu pasti terjadi. (Q.S. Al-Mursalat : 1-15)

 .

Tafsir Ibnu Abbas

Wal mursalāti ‘urfā (demi malaikat-malaikat yang diutus secara berturut-turut), yakni Allah Ta‘ala Bersumpah dengan malaikat-malaikat yang banyaknya seperti surai kuda. Ada yang berpendapat, mereka adalah malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan. Malaikat-malaikat itu adalah Jibril, Mikail, dan Israfil.

Fal ‘āshifāti ‘ashfā (dan demi angin yang berhembus sangat kencang), yakni dan Allah Ta‘ala Bersumpah dengan angin yang berhembus sangat kencang. Al-‘ashfu adalah angin yang dapat menyapu tempat-tempat tinggal manusia.

Wan nāsyirāti nasyrā (dan demi hujan yang menyebar dengan seluas-luasnya), yakni Allah Ta‘ala Bersumpah dengan hujan. Menurut satu pendapat, Allah Ta‘ala Bersumpah dengan awan yang menyebarkan hujan. Dan menurut pendapat lainnya, mereka adalah malaikat-malaikat yang menyebarkan kitab.

Fal fāriqāti farqā (dan malaikat-malaikat yang membedakan dengan sejelas-jelasnya), yakni Allah Ta‘ala Bersumpah dengan malaikat-malaikat yang membedakan antara yang hak dan yang batil. Menurut satu pendapat, yang dimaksud adalah ayat-ayat al-Quran yang memisahkan antara hak dan batil serta halal dan haram. Dan menurut pendapat lainnya, ketiga ayat tersebut berbicara tentang angin.

Fal mulqiyāti dzikrā (dan demi malaikat-malaikat yang menyampaikan wahyu), yakni dan Allah Ta‘ala juga Bersumpah dengan malaikat-malaikat yang menurunkan wahyu.

‘Udzran (untuk menolak alasan), (yang menyatakan) bahwa Allah Ta‘ala telah berbuat aniaya dan zalim.

Au nudzrā (atau memberikan peringatan) kepada Makhluk-Nya dari Azab-Nya. Menurut satu pendapat, ‘udzran (untuk menyatakan alasan), yakni kehalalan; au nudzrā (atau memberikan peringatan) tentang keharaman. Ada yang berpendapat, ‘udzran (untuk menyatakan alasan), yakni perintah; au nudzrā (atau memberikan peringatan), yakni larangan. Dan ada pula yang berpendapat, ‘udzran (untuk menyatakan alasan), yakni janji; au nudzrā (atau memberikan peringatan), yakni ancaman.

Innamā tū‘adūna (sesungguhnya apa yang dijanjikan kepada kalian itu), yakni perihal pahala dan siksa di akhirat.

La wāqī‘ (pasti terjadi), yakni pasti terbukti dan menimpa mereka. Lalu Dia menjelaskan kapan hal itu akan terjadi.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [1]Demi (malaikat-malaikat)[2] yang diutus untuk membawa kebaikan,

[1] Allah Subhaanahu wa Ta’aala bersumpah terhadap kebangkitan dan pembalasan terhadap amal dengan mursalaat ‘urfaa, yaitu para malaikat yang diutus Allah Ta’ala dengan membawa urusan qadari-Nya dan pengaturan-Nya terhadap alam serta dengan membawa urusan syar’i-Nya dan wahyu-Nya kepada para rasul-Nya. Sedangkan maksud ‘urfaa adalah keadaan mereka diutus, yakni mereka diutus dengan membawa ‘uruf (perkara yang baik), hikmah dan maslahat, bukan dengan membawa sesuatu yang mungkar dan main-main.

[2] Sebagian mufassir mengartikan, “Demi angin yang dikirim.”

  1. dan (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya[3],

[3] Maksudnya, terbang dengan cepat untuk melaksanakan perintah Tuhannya. Ada pula yang menafsirkan “Demi angin yang bertiup dengan kencang.”

  1. dan (malaikat-malaikat) yang menyebarkan (rahmat Allah) dengan seluas-luasnya[4],

 [4] Di waktu malaikat turun untuk membawa wahyu. Sebagian mufassir berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan An Naasyiraat ialah angin yang bertiup dengan membawa hujan.

  1. dan (malaikat-malaikat) yang membedakan (antara yang baik dan yang buruk) dengan sejelas-jelasnya[5],

[5] Ada pula yang menafsirkan dengan, “Ayat-ayat Al-Qur’an yang memisahkan antara yang hak dan yang batil, yang halal dan yang haram.”

  1. dan (malaikat-malaikat) yang menyampaikan wahyu[6],

[6] Kepada para nabi dan rasul yang kemudian mereka sampaikan kepada umat-umat mereka. Dengan wahyu yang diturunkan-Nya, Allah Subhaanahu wa Ta’aala merahmati hamba-hamba-Nya.

  1. untuk menolak alasan-alasan[7] atau memberi peringatan[8],

[7] Dengan menegakkan hujjah sehingga mereka tidak memiliki hujjah lagi di hadapan Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

[8] Kepada manusia terhadap apa yang ada di hadapan mereka berupa hal-hal yang menakutkan mereka..

  1. Sungguh, apa yang dijanjikan kepadamu[9] pasti terjadi.

[9] Yaitu kebangkitan dan pembalasan terhadap amal.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Demi angin yang bertiup sepoi-sepoi) yang bertiup secara beruntun bagaikan beruntunnya susunan rambut kuda yang satu sama lainnya saling beriring-iringan. Dinashabkan karena menjadi Haal atau kata keterangan keadaan.
  2. (Dan demi angin yang bertiup dengan kencang) yang bertiup sangat kencang.
  3. (Dan demi angin yang menyebarkan rahmat) yaitu angin yang menyebarkan hujan.
  4. (Dan demi yang membedakan sejelas-jelasnya) maksudnya, demi ayat-ayat Al-Qur’an yang membedakan antara perkara yang hak dan perkara yang batil, serta yang membedakan antara perkara yang halal dan perkara yang haram.
  5. (Dan demi malaikat-malaikat yang menyampaikan peringatan) yakni malaikat-malaikat yang turun untuk menyampaikan wahyu kepada para nabi dan para rasul supaya wahyu tersebut disampaikan kepada umat-umat manusia.
  6. (Untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan-peringatan) dari Allah swt. Menurut suatu qiraat dibaca ‘Udzuran dan Nudzuran, dengan memakai harakat damah pada kedua huruf Dzalnya.
  7. (Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepada kalian itu) hai orang-orang kafir Mekah, yaitu mengenai hari berbangkit dan azab yang akan menimpa kalian (pasti terjadi) pasti akan terjadi.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Hafs ibnu Gayyas, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, telah menceritakan kepadaku Ibrahim, dari Al-Aswad, dari Abdullah ibnu Mas’ud r.a. yang mengatakan bahwa ketika kami sedang bersama dengan Rasulullah ﷺ dalam sebuah gua di Mina, tiba-tiba turunlah kepadanya surat Al-Mursalat, lalu beliau membacakannya dan aku menerimanya langsung dari mulut beliau, dan sesungguhnya mulut beliau benar-benar basah karenanya, tiba-tiba seekor ular menyerang kami, maka Nabi ﷺ bersabda,

اقْتُلُوهَا. فَابْتَدَرْنَاهَا فَذَهَبَتْ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وُقِيَتْ شَرَّكُمْ كَمَا وُقِيتُم شرّهَا

“Bunuhlah ular itu!” Lalu kami bersegera untuk membunuhnya, tetapi kemudian ular itu menghilang (pergi), maka Nabi bersabda: Dia telah dipelihara dari keburukanmu, sebagaimana kamu dipelihara dari keburukannya.

Imam Muslim telah mengetengahkannya pula melalui jalur Al-A’masy.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Az-Zuhri, dari Ubaidillah, dari Ibnu Abbas, dari ibunya, bahwa ia pernah mendengar Nabi ﷺ membaca surat Al-Mursalat dalam shalat Magrib.

Menurut riwayat Malik, dari Az-Zuhri, dari Ubaidillah, dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa Ummul Fadl pernah mendengar putranya membaca surat Al-Mursalat. lalu Ummul Fadl berkata, “Hai Anakku, sesungguhnya bacaanmu terhadap surat itu benar-benar mengingatkan aku kepada akhir sesuatu yang kudengar dari Rasulullah ﷺ membacanya dalam shalat Magrib.”

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadis ini di dalam kitab sahih masing-masing melalui jalur Malik dengan sanad yang sama.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Zakaria ibnu Sahl Al-Marwazi, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Hasan ibnu Syaqiq, telah menceritakan kepadaku Al-Husain ibnu Waqid, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah sehubungan dengan makna firman-Nya: Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan. (Al-Mursalat: 1) Yakni malaikat-malaikat.

Telah diriwayatkan pula dari Masruq, Abud Duha, Mujahid dalam suatu riwayatnya, As-Saddi, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas. Dan diriwayatkan dari Abu Saleh, bahwa ia mengatakan sehubungan dengan makna mursalat, yaitu para rasul. Tetapi menurut riwayat lain yang juga darinya disebutkan para malaikat. Hal yang sama dikatakan oleh Abu Saleh dalam lafaz al-‘asifat (para malaikat penggiring angin), an-nasyirat (para malaikat penyebar hujan), al-fariqal (para malaikat pembeda hak dan batil), dan al-mulqiyat (para malaikat penyampai wahyu).

As-Sauri telah meriwayatkan dari Salamah ibnu Kahi!, dari Muslim Al-Batin, dari Abul Abidain yang mengatakan bahwa aku pernah bertanya kepada Ibnu Mas’ud tentang makna mursalat ‘urfan, artinya angin. Hal yang sama dikatakan olehnya sehubungan dengan makna firman-Nya: dan (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya, dan (malaikat-malaikat) yang menyebarkan (rahmat Tuhannya) dengan seluas-luasnya. (Al-Mursalat: 2-3)

Sesungguhnya makna yang dimaksud ialah angin. Hal yang sama dikatakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, dan AbuSaleh menurut riwayat yang bersumber darinya.

Tetapi Ibnu Jarir bersikap diam sehubungan dengan makna firman-Nya: Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan. (Al-Mursalat: 1) Bahwa apakah makna yang dimaksud adalah malaikat-malaikat yang diutus membawa kebaikan, ataukah yang seperti rambut kuda yang sebagian darinya mengiringi sebagian yang lain, ataukah yang dimaksud adalah angin apabila bertiup sedikit demi sedikit? Tetapi ia memastikan bahwa yang dimaksud dengan ‘asifat adalah angin yang bertiup dengan kencang, sama dengan pendapat yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud dan para pengikutnya. Dan di antara orang yang berpendapat sama sehubungan dengan ‘asifat ‘asfa ialah Ali ibnu Abu Talib dan As-Saddi; tetapi bersikap diam terhadap an-nasyirat, apakah makna yang dimaksud adalah para malaikat ataukah angin, sama dengan sebelumnya.

Diriwayatkan dari Abu Saleh, bahwa an-nasyirati nasyran ialah hujan. Tetapi pendapat yang jelas menyebutkan bahwa al-mursalat adalah angin, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya:

وَأَرْسَلْنَا الرِّياحَ لَواقِحَ

Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan). (Al-Hijr:22)

Dan firman Allah Swt.:

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّياحَ بُشْراً بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ

Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya. (Al-A’raf: 57)

Demikian pula al-‘asifat artinya angin. Dikatakan ‘asafatir riyahu artinya angin telah bertiup dengan kencangnya sehingga menimbulkan suara. Begitu pula an-nasyirat artinya angin yang menggiring awan di ufuk langit menurut apa yang dikehendaki oleh Tuhannya.

Firman Allah Swt.:

dan (malaikat-malaikat) yang membedakan (antara yang hak dan yang batil) dengan sejelas-jelasnya, dan (malaikat-malaikat) yang menyampaikan wahyu, untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan. (Al-Mursalat: 4-6)

Yakni para malaikat, menurut Ibnu Mas’ud. Ibnu Abbas, Masruq, Mujahid, Qatadah. Ar-Rabi’ ibnu Anas, As-Saddi, dan As-Sauri. Tidak ada perbedaan di sini, karena sesungguhnya para malaikat turun dengan membawa perintah Allah kepada rasul-rasul-(Nya) untuk membedakan antara perkara yang hak dan perkara yang batil, antara petunjuk dan kesesatan, dan antara perkara halal dan haram. Dan para malaikat itu menyampaikan wahyu kepada para rasul yang di dalamnya mengandung alasan terhadap makhluk dan sekaligus peringatan bagi mereka akan siksa Allah jika mereka menentang perintah-Nya.

sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu itu pasti terjadi. (Al-Mursalat: 7)

Inilah objek dari sumpah-sumpah di atas, yakni sesungguhnya apa yang telah dijanjikan kepadamu, yaitu terjadinya kiamat, peniupan sangkakala, dibangkitkannya semua makhluk dan dihimpunkan-Nya semua orang yang terdahulu dan yang terkemudian dalam suatu lapangan untuk menerima pembalasannya masing-masing; jika baik, maka balasannya baik; dan jika buruk, maka balasannya buruk pula. Semuanya itu pasti terjadi dan tidak terelakkan lagi.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

««««« juz 28 «««««««   ««««« juz 29 ««««« ««««««« juz 30 «««««

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here