Sebab Orang-orang Kafir Enggan Beribadah

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Mursalat ayat 45-50

0
46

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Mursalat ayat 45-50, Sebab orang-orang kafir enggan beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala, yaitu sombong, melampaui batas dan berbuat dosa.

وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ -٤٥- كُلُوا وَتَمَتَّعُوا قَلِيلاً إِنَّكُم مُّجْرِمُونَ -٤٦- وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ -٤٧- وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ارْكَعُوا لَا يَرْكَعُونَ -٤٨- وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ -٤٩- فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ -٥٠

Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (Dikatakan kepada orang-orang kafir), “Makanlah dan bersenang-senanglah kamu (di dunia dalam waktu) yang pendek; sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa.” Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Dan apabila dikatakan kepada mereka.”Rukuklah.” niscaya mereka tidak mau rukuk. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Maka kepada ajaran manakah (selain Al-Qur’an) ini mereka akan beriman? (Q.S. Al-Mursalat : 45-50)

 .
Tafsir Ibnu Abbas

Wailun (kecelakaanlah), yakni azab yang beratlah.

Yauma-idzin (pada hari itu), yakni pada hari kiamat.

Lil mukadz-dzibīn (bagi orang-orang yang mendustakan) keimanan dan kebangkitan.

Kulū (makanlah), wahai segenap orang-orang yang mendustakan!

Wa tamatta‘ū (dan bersenang-senanglah kalian), yakni hiduplah kalian.

Qalīlan (untuk sementara waktu), yakni di dunia, untuk sesaat.

Innakum mujrimūn (sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang berdosa), yakni orang-orang yang musyrik dan tempat kembali kalian di akhirat adalah neraka. Ini merupakan ancaman dari Allah Ta‘ala terhadap mereka.

Wailun (kecelakaanlah), yakni azab yang beratlah.

Yauma-idzin (pada hari itu), yakni pada hari kiamat.

Lil mukadz-dzibīn (bagi orang-orang yang mendustakan) keimanan dan kebangkitan.

Wa idzā qīla lahum (dan apabila dikatakan kepada mereka), yakni kepada orang-orang yang mendustakan, saat mereka masih berada di dunia.

Irka‘ū (Rukuklah kalian), yakni hendaklah kalian tunduk kepada Allah Ta‘ala dengan cara bertauhid.

Lā yarka‘ūn (niscaya mereka tidak akan rukuk), yakni tidak akan tunduk kepada Allah Ta‘ala dengan bertauhid. Menurut satu pendapat, hal ini terjadi di akhirat, ketika Allah Ta‘ala Berfirman kepada mereka, Sujudlah kalian, jika apa yang kalian katakan, bahwa kalian bukan orang-orang yang musyrik itu benar. Akan tetapi, mereka tidak sanggup untuk bersujud karena tulang punggung mereka kak u seperti tanduk. Ada yang mengatakan bahwa ayat ini berhubungan dengan suku Tsaqif yang mengatakan, Kami tidak akan membungkukkan punggung kami untuk rukuk dan sujud.

Wailun (kecelakaanlah), yakni azab yang beratlah.

Yauma-idzin (pada hari itu), yakni pada hari kiamat.

Lil mukadz-dzibīn (bagi orang-orang yang mendustakan) Allah Ta‘ala, rasul, kitab, dan kebangkitan.

Fa bi ayyi hadītsin (maka kepada perkataan apa lagi), yakni kepada kitab apa lagi.

Ba‘dahū (sesudahnya), yakni sesudah kitabullah ini.

Yu’minūn (mereka akan beriman), jika mereka tidak mau beriman kepada berita ini?

.
Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an
  1. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran)[6].

[6] Kalau pun celakanya mereka karena kehilangan nikmat-nikmat itu, maka hal itu sudah cukup sebagai kecelakaan bagi mereka.

  1. (Dikatakan kepada orang-orang kafir), “Makan dan bersenang-senanglah kamu (di dunia) sebentar, sesungguhnya kamu orang-orang durhaka!”[7]

[7] Ayat ini merupakan ancaman keras bagi orang-orang yang mendustakan, bahwa mereka meskipun makan, minum dan bersenang-senang dengan kenikmatan dunia dan lalai dari beribadah, maka karena mereka adalah orang-orang yang berdosa, mereka pantas mendapatkan hukuman orang-orang yang berdosa; dimana segala kenikmatan akan hilang dari mereka dan tinggallah beban pertanggungjawaban.

  1. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran).
  2. [8]Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Rukulah,” mereka tidak mau ruku’[9].

[8] Di antara dosa mereka adalah bahwa apabila mereka diperintahkan shalat yang merupakan ibadah yang paling utama, maka mereka menolaknya. Padahal dosa apa yang lebih besar daripada ini dan pendustaan apa yang lebih besar daripada ini?

[9] Sebagian ahli tafsir mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan ruku’ di sini ialah tunduk kepada perintah Allah; sebagian yang lainnya mengatakan, maksudnya ialah shalat.

  1. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran)[10].

[10] Termasuk celakanya mereka adalah pintu-pintu taufiq tertutup bagi mereka, mereka dihalangi dari setiap kebaikan. Hal itu, karena apabila mereka telah mendustakan Al-Qur’an yang merupakan kebenaran yang paling tinggi, maka kepada ajaran manakah selain Al-Qur’an ini mereka akan beriman? Apakah kepada kebatilan yang tidak mampu menjadi syubhat apalagi menjadi dalil? Ataukah kepada perkataan setiap orang musyrik yang dusta? Padahal tidak ada setelah cahaya yang terang ini selain gelapnya kegelapan, dan tidak ada setelah kebenaran yang telah disaksikan dalil dan bukti terhadap kebenarannya selain kedustaan. Sungguh celaka mereka, apa yang membuat mereka buta dan sungguh sengsara mereka karena kerugian mereka.

  1. Maka kepada ajaran manakah selain Al-Qur’an ini mereka akan beriman?
 .
Tafsir Jalalain
  1. (Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.)
  2. (“Makanlah dan bersenang-senanglah kamu sekalian) khithab atau perintah ini ditujukan kepada orang-orang kafir di dunia (dalam waktu yang pendek) waktu yang singkat; yang batasnya adalah kematian mereka. Di dalam ungkapan ini terkandung makna ancaman terhadap mereka (sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang berdosa.”)
  3. (Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.)
  4. (Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Rukuklah”) yakni salatlah kalian (niscaya mereka tidak mau rukuk) tidak mau salat.
  5. (Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.)
  6. (Maka kepada perkataan apakah sesudah ini) sesudah Alquran ini (mereka akan beriman?) maksudnya, tidak mungkin mereka akan beriman kepada kitab-kitab Allah lainnya sesudah mereka mendustakannya, karena di dalam Alquran terkandung unsur I’jaz atau mukjizat yang tidak terdapat pada kitab-kitab Allah lainnya.
.
Tafsir Ibnu Katsir

Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (Al-Mursalat: 45)

(Dikatakan kepada orang-orang kafir), “Makanlah dan bersenang-senanglah kamu (di dunia dalam waktu) yang pendek; sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa.” (Al-Mursalat: 46)

Khitab atau pembicaraan ini ditujukan kepada orang-orang yang mendustakan hari kiamat dan perintah ini adalah perintah yang mengandung arti peringatan dan ancaman. Karena itu Allah Swt. berfirman: (Dikatakan kepada orang-orang kafir), “Makanlah dan bersenang-senanglah kamu (di dunia dalam waktu) yang pendek ” (Al-Mursalat: 46) Yaitu dalam masa yang pendek, tidak lama. Betapa pun panjangnya usia di dunia, bila dibandingkan dengan akhirat, amatlah pendek dan bukan apa-apa.

sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa. (Al-Mursalat: 46)

Kemudian kalian akan digiring ke dalam neraka Jahanam, yang telah disebutkan di atas. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (Al-Mursalat: 47)

Semakna dengan firman-Nya:

نُمَتِّعُهُمْ قَلِيلًا ثُمَّ نَضْطَرُّهُمْ إِلى عَذابٍ غَلِيظٍ

Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras. (Luqman: 24)

Dan firman Allah Swt.:

إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ مَتاعٌ فِي الدُّنْيا ثُمَّ إِلَيْنا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ نُذِيقُهُمُ الْعَذابَ الشَّدِيدَ بِما كانُوا يَكْفُرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung.” (Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kamilah mereka kembali. kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat disebabkan kekafiran mereka. (Yunus: 69-70)

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Rukuklah.” niscaya mereka tidak mau rukuk. (Al-Mursalat: 48)

Yakni apabila mereka yang bodoh dari kalangan orang-orang kafir itu diperintahkan agar menjadi orang-orang yang salat bersama jamaah, mereka menolak dan bersikap sombong. Karena itulah maka disebutkan oleh firman selanjutnya: Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (Al-Mursalat: 49)

Maka kepada ajaran manakah (selain Al-Qur’an) ini mereka akan beriman? (Al-Mursalat: 50)

Yaitu bilamana mereka tidak mau beriman kepada Al-Qur’an ini, maka perkataan apakah yang mereka imani? Semakna dengan firman-Nya:

فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآياتِهِ يُؤْمِنُونَ

maka dengan perkataan mana lagi mereka akan beriman setelah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya? (Al-Jatsiyah: 6)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ismail ibnu Umayyah; ia pernah mendengar seorang lelaki Badui mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah apabila membaca surat Al-Mursalat, lalu bacaannya sampai pada firman Allah Swt.: Maka kepada ajaran manakah (selain Al-Qur’an) ini mereka akan beriman? (Al-Mursalat: 50)

Selanjutnya lelaki Badui yang meriwayatkan hadis ini kepada Ismail ibnu Umayyah mengatakan.”Bila bacaanmu sampai kepada ayat tersebut, hendaklah kamu ucapkan.”Aku beriman kepada Allah dan juga kepada Al-Qur’an yang diturunkan oleh-Nya’.”

Hadis ini telah kami kemukakan dalam tafsir surat Al-Qiyamah. Demikianlah akhir tafsir surat Al-Mursalat. Segala puji dan karunia hanyalah milik Allah, dan hanya kepada-Nya kami memohon taufik dan pemeliharaan.

Demikian akhir Surah Al-Mursalat. Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

««««« juz 28 «««««««   ««««« juz 29 ««««« ««««««« juz 30 «««««