Berita Besar: Informasi Tentang Hari Kiamat

Tafsir Al-Qur’an: Surah An-Naba’

0
34

Tafsir Al-Qur’an: Surah An-Naba’ (Berita Besar). Surah ke-78. 40 ayat. Makkiyyah. Turun sesudah Surah Al-Ma’arij. Ayat 1-5, Informasi tentang hari Kiamat dan keadaan kaum musyrik antara mengingkari dan meragukannya.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

عَمَّ يَتَسَاءلُونَ -١- عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ -٢- الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ -٣- كَلَّا سَيَعْلَمُونَ -٤- ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ -٥

Tentang apakah mereka saling bertanya? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini. Sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui, kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui. (Q.S. An-Naba : 1-5)

.

Tafsir Ibnu Abbas

‘Ammā yatasā-alūn (tentang apakah mereka saling bertanya), yakni apakah yang diperbincangkan kaum Quraisy?

‘Anin naba-il ‘azhīm (tentang berita yang besar), yakni tentang informasi Al-Qur’an yang agung, luhur, dan mulia.

Alladzī hum fīhi mukhtalifūn (yang mereka perselisihkan tentangnya), yakni ada yang mendustakan Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an dan ada pula yang membenarkannya. Hal itu terjadi ketika Jibril datang menemui Nabi Muhammad ﷺ dengan membawa Al-Qur’an. Kemudian Nabi ﷺ membacakannya kepada orang-orang. Sejak saat itulah orang-orang mulai memperbincangkannya (apa yang dibawa Al-Qur’an) dengan sesama mereka, sebagian ada membenarkannya, dan sebagian lagi mendustakannya.

Kallā (janganlah begitu). Ungkapan ini merupakan penyangkalan terhadap orang-orang yang mendustakan.

Sa ya‘lamūn (nanti mereka akan tahu), yakni kelak mereka akan tahu, manakala maut datang menjemput, tindakan apa yang akan Dia timpakan terhadap mereka.

Tsumma kallā (sekali lagi, janganlah begitu), yakni sungguh.

Sa ya‘lamūn (nanti mereka akan tahu), yakni kelak mereka akan tahu di dalam kubur, apa yang akan Dia timpakan terhadap mereka. Ini merupakan ancaman Allah Ta‘ala terhadap orang-orang yang mendustakan Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Tentang apakah) mengenai apakah (mereka saling bertanya-tanya?) yakni orang-orang Quraisy sebagian di antara mereka bertanya-tanya kepada sebagian yang lainnya.
  2. (Tentang berita yang besar) ayat ini merupakan penjelasan bagi sesuatu yang dipertanyakan mereka itu. Sedangkan Istifham atau kata tanya pada ayat yang pertama tadi mengandung makna yang mengagungkannya. Hal yang dimaksud adalah Alquran yang disampaikan oleh Nabi ﷺ yang di dalamnya terkandung berita mengenai adanya hari berbangkit dan hal-hal lainnya.
  3. (Yang mereka perselisihkan tentang ini) orang-orang yang beriman mempercayainya, sedangkan orang-orang kafir mengingkarinya.
  4. (Sekali-kali tidak) kata ini merupakan sanggahan yang ditujukan kepada orang-orang kafir tadi (kelak mereka mengetahui) apa yang bakal menimpa mereka sebagai akibat daripada keingkaran mereka kepada Alquran.
  5. (Kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui) ayat ini merupakan pengukuh dari ayat sebelumnya; dan pada ayat ini dipakai kata Tsumma untuk memberikan pengertian, bahwa ancaman yang kedua lebih keras dan lebih berat daripada ancaman yang dikandung pada ayat sebelumnya. Selanjutnya Allah swt. memberikan isyarat yang menunjukkan tentang kekuasaan-Nya untuk membangkitkan makhluk semuanya; untuk itu Dia berfirman:

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Tentang apakah mereka[1] saling bertanya-tanya?

[1] Yakni orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah seperti sebagian orang Quraisy.

  1. [2]Tentang berita yang besar (hari berbangkit)[3],

[2] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerangkan tentang sesuatu yang mereka pertanyakan itu.

[3] Yakni tentang apa yang dibawa Nabi ﷺ berupa Al-Qur’an yang menyebutkan tentang kebangkitan, pembalasan dan lain-lain yang merupakan kebenaran tanpa keraguan lagi. Akan tetapi, orang-orang yang mendustakan pertemuan Tuhan mereka tetap saja tidak beriman, meskipun didatangkan setiap ayat sampai mereka melihat azab yang pedih.

  1. yang dalam hal itu mereka berselisih[4].

[4] Orang-orang mukmin membenarkannya, sedangkan orang-orang kafir mengingkarinya,

  1. Tidak[5]! Kelak mereka akan mengetahui[6],

[5] Ini adalah sanggahan terhadap pendapat orang-orang kafir Mekah yang mengingkari hari berbangkit dan hari kiamat.

[6] Sesuatu yang akan menimpa mereka akibat keingkaran mereka.

  1. Sekali lagi tidak! Kelak mereka akan mengetahui[7].

[7] Diulangi lagi adalah untuk menguatkan, dan pengulangan dengan menggunakan kata “Tsumma” (artinya: kemudian) adalah untuk memberitahukan, bahwa ancaman kedua lebih dahsyat daripada sebelumnya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. berfirman, mengingkari orang-orang musyrik karena mereka saling bertanya tentang hari kiamat dengan rasa tidak percaya akan kejadiannya.

Tentang apakah mereka saling bertanya? Tentang berita yang besar. (An-Naba: 1-2)

Yakni apakah yang dipertanyakan mereka? Tentang hari kiamat, yaitu berita yang besar, yakni berita yang amat besar, amat mengerikan, lagi amat mengejutkan. Qatadah dan Ibnu Zaid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan berita besar ini ialah kebangkitan sesudah mati. Mujahid mengatakannya Al-Qur’an, tetapi yang jelas adalah pendapat yang pertama, karena dalam firman berikutnya disebutkan:

yang mereka perselisihkan tentang ini. (An-Naba: 3)

Manusia dalam hal ini ada dua macam, ada yang beriman kepadanya dan ada yang kafir. Kemudian Allah Swt. dalam firman berikutnya mengancam orang-orang yang ingkar dengan adanya hari kiamat.

Sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui, kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui. (An-Naba: 4-5)

Ini merupakan peringatan yang tegas dan ancaman yang keras. Kemudian Allah menjelaskan tentang kekuasaan-Nya yang besar melalui ciptaan-Nya terhadap segala sesuatu yang besar lagi menakjubkan, yang semuanya itu menunjukkan kekuasaan-Nya atas segala sesuatu yang dikehendaki-Nya, termasuk masalah hari berbangkit dan lain-lainnya.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 29 «««««                        ««««««« juz 30 «««««