Kekuasaan Allah Menciptakan Alam

Tafsir Al-Qur’an: Surah An-Naba’ Ayat 6-16

0
52

Tafsir Al-Qur’an: Surah An-Naba’ Ayat 6-16, Kekuasaan Allah menciptakan alam dan nikmat-nikmat yang diberikan-Nya adalah bukti kekuasaan-Nya membangkitkan manusia.

أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَاداً -٦- وَالْجِبَالَ أَوْتَاداً -٧- وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجاً -٨- وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتاً -٩- وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاساً -١٠- وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشاً -١١- وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعاً شِدَاداً -١٢- وَجَعَلْنَا سِرَاجاً وَهَّاجاً -١٣- وَأَنزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاء ثَجَّاجاً -١٤- لِنُخْرِجَ بِهِ حَبّاً وَنَبَاتاً -١٥- وَجَنَّاتٍ أَلْفَافاً -١٦

Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak? Dan Kami jadikan kalian berpasang-pasangan, dan Kami jadikan tidur kalian untuk istirahat, dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, dan Kami bangun di atas kalian tujuh buah (langit) yang kokoh, dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat. (Q.S. An-Naba : 6-16)

 .

Tafsir Ibnu Abbas

A lam naj‘alil ardla mihādā (bukankah Kami telah menjadikan bumi terbentang), yakni laksana kasur atau tempat tidur.

Wal jibāla autādā (dan gunung-gunung sebagai pasak) bagi bumi agar tidak bergoncang bersama mereka.

Wa khalaqnākum azwājā (dan Kami Menjadikan kalian berpasang-pasangan), laki-laki dan perempuan.

Wa ja‘alnā naumakum subātā (dan Kami telah menjadikan tidur kalian sebagai istirahat), yakni sebagai waktu istirahat bagi tubuh kalian. Menurut yang lain, sebagai sesuatu yang baik lagi indah.

Wa ja‘alnal laila libāsā (dan Kami telah menjadikan malam sebagai penutup), yakni sebagai ketenangan. Menurut yang lain, sebagai pakaian.

Wa ja‘alnan nahāra ma‘āsyā (dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan), yakni sebagai waktu untuk pencaharian.

Wa banainā (dan Kami telah Membangun), yakni telah menciptakan.

Fauqakum (di atas kalian), yakni di atas kepala kalian.

Sab‘an (tujuh), yakni tujuh petala langit.

Syidādā (yang kokoh), yakni kuat.

Wa ja‘alnā sirājaw wahhājā (dan Kami telah menjadikan pelita yang terang benderang), yakni matahari yang menyinari Bani Adam.

Wa aηzalnā minal mu‘shirāti (dan Kami telah menurunkan dari mega mendung), yakni dari awan dengan perantaraan angin.

Mā-aη tsajjājā (air yang sangat lebat), yakni hujan yang deras dan terus-menerus.

Li nukhrija bihī (supaya dengannya Kami dapat mengeluarkan), yakni supaya dengan hujan itu Kami dapat menumbuhkan.

Habbaw wa nabātā (biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan), yakni segala biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan.

Wa jannātin alfāfā (dan kebun-kebun yang rimbun), yakni taman-taman yang rindang. Menurut satu pendapat, yang beraneka warna.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan) yakni terhampar bagaikan permadani.
  2. (Dan gunung-gunung sebagai pasak) yang menstabilkan bumi, sebagaimana halnya kemah yang berdiri dengan mantapnya berkat patok-patok yang menyangganya. Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna Taqrir atau menetapkan.
  3. (Dan Kami jadikan kalian berpasang-pasangan) yaitu terdiri dari jenis laki-laki dan perempuan.
  4. (Dan Kami jadikan tidur kalian untuk istirahat) untuk istirahat bagi tubuh kalian.
  5. (Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian) sebagai penutup karena kegelapannya.
  6. (Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan) yaitu waktu untuk mencari penghidupan.
  7. (Dan Kami bina di atas kalian tujuh lapis) maksudnya langit yang berlapis tujuh (yang kokoh) lafal Syidaadan adalah bentuk jamak dari lafal Syadidatun, artinya sangat kuat lagi sangat rapi yang tidak terpengaruh oleh berlalunya zaman.
  8. (Dan Kami jadikan pelita) yang menerangi (yang amat terang) yang dimaksud adalah matahari.
  9. (Dan Kami turunkan dari awan yang tebal) yaitu awan yang banyak mengandung air dan sudah saatnya menurunkan air yang dikandungnya, sebagaimana halnya seorang gadis yang sudah masanya untuk berhaid (air yang tercurah) artinya bagaikan air yang dicurahkan.
  10. (Supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian) seperti biji gandum (dan tumbuh-tumbuhan) seperti buah Tin.
  11. (Dan kebun-kebun) atau taman-taman (yang lebat) tumbuh-tumbuhannya; lafal Alfaafan bentuk jamak dari lafal Lafiifun, wazannya sama dengan lafal Syariifun yang bentuk jamaknya adalah Asyraafun.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [8]Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan[9],

[8] Menurut penyusun tafsir Al Jalaalain, bahwa pada ayat ini dan setelahnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengisyaratkan mampunya Dia membangkitkan manusia yang telah mati. Menurut Syaikh As Sa’diy, bahwa pada ayat ini dan setelahnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerangkan nikmat-nikmat-Nya dan dalil-dalil yang menunjukkan benarnya apa yang diberitakan para rasul.

[9] Yakni bukankah Kami anugerahkan kepada kamu nikmat yang banyak; Kami jadikan untuk kamu bumi sebagai hamparan sehingga siap ditempati, digarap dan dibuat jalan.

  1. dan gunung-gunung sebagai pasak[10]?

[10] Agar bumi tidak goyang dengannya sebagaimana kemah tidak goyang dengan sebab pasak. Kalimat pertanyaan pada ayat tersebut adalah untuk mengokohkan.

  1. dan Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan[11],

[11] Laki-laki dan perempuan agar yang satu merasa tenteram dengan yang lain, tumbuh rasa cinta dan kasih sayang, dan dari keduanya lahir keturunan.

  1. dan Kami menjadikan tidurmu untuk istirahat[12],

[12] Bagi badanmu yang jika tidak diistirahatkan tentu akan memadharratkan badanmu. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta’aala menjadikan malam dan tidur meliputi manusia untuk menghentikan gerakan mereka dan agar tercapai istirahat yang bermanfaat.

  1. dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian[13],

[13] Malam itu disebut sebagai pakaian karena kegelapannya menutupi jagat sebagaimana pakaian menutupi tubuh manusia.

  1. dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan,
  2. dan Kami membangun di atas kamu tujuh (langit) yang kokoh[14],

[14] Oleh karena itu, langit tetap tidak rapuh meskipun telah berlalu masa yang panjang. Allah Subhaanahu wa Ta’aala menahannya dengan kekuasaan-Nya dan menjadikannya sebagai atap bagi bumi.

  1. dan Kami menjadikan pelita yang terang-benderang (matahari),
  2. dan Kami turunkan dari awan, air hujan yang tercurah dengan hebatnya,
  3. untuk Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian[15] dan tanam-tanaman[16],

[15] Yang dimakan manusia.

[16] Untuk dimakan hewan ternak mereka.

  1. dan kebun-kebun yang rindang[17].

[17] Yang di sana terdapat berbagai macam buah-buahan yang enak. Nah, mengapa kamu sampai mengingkari dan mendustakan berita yang disampaikan oleh Allah seperti kebangkitan dan pembalasan terhadap amal, padahal Dia telah mengaruniakan bermacam-macam nikmat kepadamu sampai kamu tidak sanggup menjumlahkan nikmat-nikmat itu. Demikian pula mengapa kamu gunakan nikmat-nikmat yang diberikan-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya?

.

Tafsir Ibnu Katsir

Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? (An-Naba: 6)

Maksudnya, telah dihamparkan-Nya dan dijadikan-Nya layak untuk dihuni oleh makhluk-Nya, lagi tetap, tenang, dan kokoh.

dan gunung-gunung sebagai pasak? (An-Naba: 7)

Dia menjadikan pada bumi pasak-pasak untuk menstabilkan dan mengokohkannya serta memantapkannya sehingga bumi menjadi tenang dan tidak mengguncangkan orang-orang dan makhluk yang ada di atasnya. Kemudian Allah Swt. berfirman:

dan Kami jadikan kalian berpasang-pasangan. (An-Naba: 8)

Yaitu dari jenis laki-laki dan perempuan, masing-masing dapat bersenang-senang dengan lawan jenisnya, dan karenanya maka berkembanglah keturunan mereka. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman Allah Swt:

وَمِنْ آياتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْواجاً لِتَسْكُنُوا إِلَيْها وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. (Ar-Rum:21)

dan Kami jadikan tidur kalian untuk istirahat. (An-Naba: 9)

Yakni istirahat dari gerak agar tubuh kalian menjadi segar kembali setelah banyak melakukan aktiyitas dalam rangka mencari upaya penghidupan di sepanjang siang hari. Hal seperti ini telah diterangkan di dalam tafsir surat Al-Furqan.

dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. (An-Naba: 10)

yang menutupi semua manusia dengan kegelapannya, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَاللَّيْلِ إِذا يَغْشاها

dan malam apabila menutupinya. (Asy-Syams: 4)

Dan ucapan seorang penyair yang mengatakan dalam salah satu bait syairnya,

فَلَمَّا لَبِسْنَ اللَّيْلَ أَوْ حِينَ نَصَّبَتْ … لَهُ مِنْ خَذَا آذَانِهَا وَهْوَ جَانِحُ

“Dan manakala malam mulai menggelarkan kain penutupnya, maka seluruh semesta menjadi gelap.”

Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. (An-Naba: 10) Maksudnya, ketenangan.

dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan. (An-Naba: 11)

Kami menjadikannya terang benderang agar manusia dapat melakukan aktiyitasnya untuk mencari upaya penghidupan dengan bekerja, berniaga, dan melakukan urusan lainnya.

dan Kami bangun di atas kalian tujuh buah (langit) yang kokoh. (An-Naba: 12)

Yaitu tujuh lapis langit dengan segala keluasannya, ketinggiannya, kekokohannya, dan kerapiannya serta hiasannya yang dipenuhi dengan bintang-bintang, baik yang tetap maupun yang beredar. Karena itulah dalam firman berikutnya disebutkan:

dan Kami jadikan pelita yang amat terang. (An-Naba: 13)

Yakni matahari yang menerangi semesta alam, yang cahayanya menerangi seluruh penduduk bumi.

dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah. (An-Naba: 14)

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan al-mu’sirat ialah angin. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Abu Daud Al-Hafari, dari Sufyan, dari Al-A’masy, dari Al-Minhal, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan Kami turunkan dari awan. (An-Naba: 14)

Bahwa makna yang dimaksud ialah dari angin. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ikrimah, Mujahid, Qatadah, Muqatil, Al-Kalabi, Zaid ibnu Aslam, dan putranya (yaitu Abdur Rahman), semuanya mengatakan bahwa sesungguhnya yang dimaksud dengan mu’sirat ialah angin. Dikatakan demikian karena anginlah yang meniup awan yang mengandung air, hingga awan itu menurunkan kandungan airnya dan terjadilah hujan. Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya, “Al-mu’sirat,” bahwa makna yang dimaksud ialah awan yang mengandung air hujan. Hal yang sama dikatakan oleh Ikrimah, Abul Aliyah, Ad-Dahhak, Al-Hasan, Ar-Rabi’ ibnu Anas, dan As-Sauri, lalu dipilih oleh Ibnu Jarir. Al-Farra mengatakan bahwa mu’sirat ialah awan yang mengandung air dan masih belum diturunkan, sebagaimana yang dikatakan terhadap seorang wanita yang mu’sir artinya ‘bilamana masa haidny tiba, sedangkan sebelum itu ia tidak pernah haid’. Diriwayatkan pula dari Al-Hasan dan Qatadah, bahwa minal mu’sirat artinya dari langit, tetapi pendapat ini garib. Dan yang jelas adalah pendapat yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud dengan mu’sirat ialah awan yang mengandung air, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّياحَ فَتُثِيرُ سَحاباً فَيَبْسُطُهُ فِي السَّماءِ كَيْفَ يَشاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفاً فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلالِهِ

Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya. (Ar-Rum: 48)

Adapun firman Allah Swt.:

air yang banyak tercurah. (An-Naba: 14)

Mujahid, Qatadah, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas mengatakan bahwa sajjajan artinya tercurah. As-Sauri mengatakan berturut-turut. Ibnu Zaid mengatakan banyak. Ibnu Jarir mengatakan bahwa tidak diketahui dalam pembicaraan orang Arab untuk menggambarkan hal yang banyak memakai kata as-sajj, melainkan menunjukkan pengertian curahan yang berturut-turut. Termasuk ke dalam pengertian ini sabda Nabi ﷺ yang mengatakan:

أفضلُ الْحَجِّ الْعَجُّ وَالثَّجُّ

Haji yang paling afdal ialah yang banyak debunya dan banyak mengalirkan darah kurban.

Yakni mengalirkan darah hewan kurban. Menurut hemat saya, demikian pula dalam hadis wanita yang mustahadah (keputihan) saat Rasulullah ﷺ bersabda, kepadanya,

أَنْعَتُ لَكِ الكُرسُفَ

“Aku anjurkan kamu memakai penyumbat dari katun.”

Maka wanita itu menjawab, “Wahai Rasulullah, darah itu lebih banyak daripada yang engkau perkirakan, sesungguhnya ia mengalir dengan sederas-derasnya.” Hal ini menunjukkan adanya penggunaan kata as-sajj untuk menunjukkan pengertian curahan yang berturut-turut lagi banyak; hanya Allah jualah Yang Maha Mengetahui.

supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat? (An-Naba: 15-16)

Yaitu agar melalui air yang banyak, baik, bermanfaat, lagi mengandung berkah ini Kami tumbuhkan biji-bijian untuk manusia dan hewan, dan Kami tumbuhkan pula sayur-sayuran yang dapat dimakan secara mentah, Kami tumbuhkan pula taman-taman dan kebun-kebun yang menghasilkan berbagai macam buah-buahan yang beraneka ragam rasa dan baunya, yang adakalanya kesemuanya itu dapat dijumpai dalam satu kawasan tanah. Karena itulah maka disebutkan alfafan, yang menurut Ibnu Abbas dan lain-lainnya artinya lebat. Hal ini berarti sama dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَفِي الْأَرْضِ قِطَعٌ مُتَجاوِراتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوانٌ وَغَيْرُ صِنْوانٍ يُسْقى بِماءٍ واحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَها عَلى بَعْضٍ فِي الْأُكُلِ إِنَّ فِي ذلِكَ لَآياتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanam-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (Ar-Ra’d: 4)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

««««« juz 29 «««««                        ««««««« juz 30 «««««