Hari Berbangkit, Hari Pemberian Keputusan

Tafsir Al-Qur’an: Surah An-Naba’ Ayat 17-20

0
39

Tafsir Al-Qur’an: Surah An-Naba’ Ayat 17-20, Kedahsyatan hari berbangkit dimana ia merupakan hari pemberian keputusan di antara hamba-hamba-Nya.

إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتاً -١٧- يَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجاً -١٨- وَفُتِحَتِ السَّمَاء فَكَانَتْ أَبْوَاباً -١٩- وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَاباً -٢٠

Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan, yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala, lalu kamu datang berkelompok-kelompok, dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu; dan dijalankanlah gunung-gunung, maka menjadi fatamorganalah ia. (Q.S. An-Naba : 17-20)

 .

Tafsir Ibnu Abbas

Inna yaumal fashli kāna mīqātā (sesungguhnya hari penentuan telah pasti waktu[nya]), yakni waktunya telah ditentukan bagi orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang kemudian. Mereka semua akan berkumpul pada hari itu.

Yauma yuηfakhu fish shūri (pada hari sangkakala ditiup), yakni tiupan kebangkitan.

Fa ta’tūna afwājā (maka kalian akan datang dengan berduyun-duyun), yakni rombongan demi rombongan, kelompok demi kelompok.

Wa futihatis samā-u (dan langit dibuka), yakni pintu-pintu langit (dibuka).

Fa kānat abwābā (maka terdapatlah pintu-pintu), yakni maka jadilah jalan-jalan.

Wa suyyiratil jibālu (dan gunung-gunung digerakkan) dari permukaan bumi.

Fa kānat sarābā (maka jadilah ia fatamorgana), yakni maka jadilah ia bak fatamorgana.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sesungguhnya hari keputusan) di antara semua makhluk (adalah suatu waktu yang ditetapkan) waktu yang ditentukan untuk memberi pahala dan menimpakan siksaan.
  2. (Yaitu hari ditiup sangkakala) menjadi Badal dari lafal Yaumal Fashl; atau merupakan Bayan daripadanya; yang meniupnya adalah malaikat Israfil (lalu kalian datang) dari kuburan kalian menuju ke Mauqif atau tempat penantian (berkelompokkelompok) secara bergelombang yang masing-masing gelombang berbeda dari gelombang yang lainnya.
  3. (Dan dibukalah langit) dapat dibaca Futtihat dan Futihat, artinya langit terbelah karena para malaikat turun (maka terdapatlah beberapa pintu) yakni langit itu membentuk beberapa pintu.
  4. (Dan dijalankanlah gunung-gunung) maksudnya, lenyap dari tempat-tempatnya (maka menjadi fatamorganalah ia) menjadi debu yang beterbangan, atau dengan kata lain gunung-gunung itu menjadi sangat ringan jalannya bagaikan debu yang diterbangkan.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [18]Sungguh, hari keputusan adalah suatu waktu yang telah ditetapkan,

[18] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan hal yang akan terjadi pada hari Kiamat, hari yang mereka saling bertanya-tanya tentangnya dan diingkari oleh orang-orang yang yang keras kepala. Hari yang besar yang Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah menetapkan waktunya.

  1. (yaitu) pada hari (ketika) sangsakala ditiup[19], lalu kamu datang[20] berbondong-bondong[21],

[19] Oleh malaikat Israafil.

[20] Dari kuburmu.

[21] Pada hari itu terjadi kecemasan yang luar biasa yang menjadikan anak-anak beruban, hati ketakutan, gunung-gunung dijalankan lalu dijadikan seperti debu yang dihambur-hamburkan, langit terbelah menjadi pintu-pintu dan Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberikan keputusan dengan hukum-Nya yang adil, api neraka yang Allah sediakan untuk orang-orang yang melampaui batas menyala, dan Dia jadikan neraka itu sebagai tempat tinggal mereka dalam waktu yang lama.

  1. Dan langit pun dibukalah[22], maka terdapatlah beberapa pintu,

[22] Untuk turunnya malaikat.

  1. dan gunung-gunung pun dijalankan sehingga menjadi fatamorgana.

 .

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. berfirman, menceritakan tentang Hari Keputusan yaitu hari kiamat, bahwa sesungguhnya hari itu telah ditetapkan waktu yang tertentu bagi kejadiannya, tidak diundurkan, dan tidak dikurangi (dimajukan), dan tiada seorang pun yang mengetahui tentang ketetapan waktunya secara tertentu melainkan hanya Allah Swt. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَما نُؤَخِّرُهُ إِلَّا لِأَجَلٍ مَعْدُودٍ

Dan Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu tertentu. (Hud: 104)

Adapun firman Allah Swt.:

yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala, lalu kalian datang berkelompok-kelompok. (An-Naba: 18)

Mujahid mengatakan bergelombang-gelombang atau rombongan-rombongan. Ibnu Jarir mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah setiap umat datang bersama dengan rasulnya sendiri, semakna dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya:

يَوْمَ نَدْعُوا كُلَّ أُناسٍ بِإِمامِهِمْ

(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya. (Al-Isra: 71)

Imam Bukhari sehubungan dengan firman-Nya: yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala, lalu kamu datang berkelompok-kelompok. (An-Naba: 18) mengatakan bahwa:

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, dari Al-Abu’masy, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

ما بين النفختين أربعون. قَالُوا: أَرْبَعُونَ يَوْمًا؟ قَالَ: أبيتُ. قَالُوا: أَرْبَعُونَ شَهْرًا؟ قَالَ: أَبَيْتُ. قَالُوا: أَرْبَعُونَ سَنَةً؟ قَالَ: أَبَيْتُ. قَالَ: ثُمَّ يُنزلُ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فينبتُونَ كَمَا ينبتُ البقلُ، لَيْسَ مِنَ الْإِنْسَانِ شيءٌ إِلَّا يَبلَى، إِلَّا عَظْمًا وَاحِدًا، وَهُوَ عَجْبُ الذنَب، وَمِنْهُ يُرَكَّبُ الخَلْقُ يومَ الْقِيَامَةِ

“Jarak waktu di antara kedua tiupan adalah empat puluh.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Apakah empat puluh hari?” Rasulullah menjawab, “Aku tidak mau mengatakannya.” Mereka bertanya, “Apakah empat puluh bulan?” Rasulullah menjawab, “Aku menolak untuk mengatakannya.” Mereka bertanya lagi, “Apakah empat puluh tahun?” Rasulullah menjawab, “Aku menolak untuk mengatakannya.” Lalu Rasulullah melanjutkan, “Kemudian Allah menurunkan hujan dari langit, maka bermunculanlah mereka sebagaimana tumbuhnya sayur-mayur. Tiada suatu anggota tubuh pun dari manusia melainkan pasti hancur kecuali satu tulang, yaitu tulang ekornya, maka darinyalah makhluk disusun kembali kelak di hari kiamat.”

Firman Allah Swt.:

dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu. (An-Naba: 19)

Yakni membentuk jalan-jalan atau jalur-jalur untuk turunnya para malaikat.

dan dijalankanlah gunung-gunung, maka menjadi fatamorganalah ia. (An-Naba: 20)

Semakna dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya:

وَتَرَى الْجِبالَ تَحْسَبُها جامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحابِ

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (An-Naml: 88)

Dan firman-Nya:

وَتَكُونُ الْجِبالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ

dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. (Al-Qari’ah: 5)

Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:

maka menjadi falamorganalah ia. (An-Naba: 20)

Artinya, terbayang oleh orang yang memandangnya seakan-akan gunung itu adalah sesuatu benda, padahal kenyataannya tidaklah demikian; sesudah itu gunung-gunung tersebut lenyap sama sekali tanpa bekas, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَيَسْئَلُونَكَ عَنِ الْجِبالِ فَقُلْ يَنْسِفُها رَبِّي نَسْفاً فَيَذَرُها قَاعًا صَفْصَفاً لَا تَرى فِيها عِوَجاً وَلا أَمْتاً

Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah, “Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya, maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi.” (Thaha: 105-107)

Dan firman Allah Swt.:

وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبالَ وَتَرَى الْأَرْضَ بارِزَةً

Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar. (Al-Kahfi: 47)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 29 «««««                        ««««««« juz 30 «««««