Azab yang Ada di Dalam Neraka Jahanam

Tafsir Al-Qur’an: Surah An-Naba’ Ayat 21-30

0
28

Tafsir Al-Qur’an: Surah An-Naba’ Ayat 21-30, Membicarakan tentang neraka Jahanam dan azab yang ada di dalam neraka Jahanam yang telah disiapkan untuk orang kafir.

إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَاداً -٢١- لِلْطَّاغِينَ مَآباً -٢٢- لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَاباً -٢٣- لَّا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْداً وَلَا شَرَاباً -٢٤- إِلَّا حَمِيماً وَغَسَّاقاً -٢٥- جَزَاء وِفَاقاً -٢٦- إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَاباً -٢٧- وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّاباً -٢٨- وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَاباً -٢٩- فَذُوقُوا فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَاباً -٣٠

Sesungguhnya neraka Jahanam itu (padanya) ada tempat pengintai, lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pembalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab, dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya. Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab. Karena itu, rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain dari azab. (Q.S. An-Naba : 21-30)

 

Tafsir Ibnu Abbas

Inna jahannama kānat mirshādā (sesungguhnya neraka Jahannam adalah tempat mengintai), yakni tempat penahanan atau penjara.

Lith-thāghīna ma-ābā (tempat kembali bagi orang-orang yang durhaka), yakni bagi orang-orang kafir.

Lābitsīna fīhā ahqābā ([mereka] tinggal di dalamnya sepanjang masa), yakni mereka langgeng di dalam neraka Jahannam sepanjang masa, masa demi masa. Satu huqub (jamak: ahqāb) adalah sama dengan sepuluh tahun, satu tahun sama dengan tiga ratus enam puluh hari, yang satu harinya sama dengan seribu tahun menurut perhitungan penghuni dunia. Menurut satu pendapat, hanya Allah Ta‘ala saja yang mengatahui bilangan ahqāb itu. Yang jelas, masa itu tidak akan terputus dari mereka.

Lā yadzūqūna fīhā (di dalamnya mereka tidak merasakan), yakni di dalam neraka. Bardan (dingin), yakni air yang sejuk. Menurut yang lain, tidur.

Wa lā syarābā (dan tidak pula minuman) yang dingin.

Illā hamīman (kecuali air yang mendidih), yakni air panas yang telah mencapai titik paling panas.

Wa ghassāqā (dan keadaan yang sangat dingin), yakni keadaan yang teramat dingin menusuk. Menurut yang lain, sesuatu yang busuk tiada terkira.

Jazā-aw wifāqā (sebagai balasan yang setimpal), yakni yang sesuai dengan amal perbuatan mereka.

Innahum kānū (sesungguhnya mereka) ketika di dunia.

Lā yarjūna hisābā (tidak mengharapkan adanya hisab), yakni tidak takut oleh azab di akhirat dan tidak pula beriman kepadanya.

Wa kadz-dzabū bi āyātinā (mereka telah mendustakan ayat-ayat Kami), yakni kitab Kami dan Rasul Kami.

Kidz-dzābā (dengan sebenar-benarnya).

Wa kulla syai-in (dan segala sesuatu) dari amal perbuatan anak Adam.

Ahshaināhu kitābā (telah Kami Catat dalam sebuah Kitab), yakni telah Kami tulis dalam Lauh Mahfuzh.

Fa dzūqū (karena itu, rasakanlah) azab di dalam neraka!

Fa lan nazīdakum (Kami tidak akan menambah untuk kalian) di dalam neraka.

Illā ‘adzābā (selain azab), macam demi macam. Kemudian Allah Ta‘ala memaparkan kemuliaan kaum mukminin dengan Firman-Nya:

Tafsir Jalalain

  1. (Sesungguhnya neraka Jahanam itu padanya ada tempat pengintaian) artinya, selalu mengintai atau ada tempat pengintaian.
  2. (Bagi orang-orang yang melampaui batas) karena itu mereka tidak akan dapat menyelamatkan diri daripadanya (sebagai tempat kembali) bagi mereka, karena mereka akan dimasukkan ke dalamnya.
  3. (Mereka tinggal) lafal Laabitsiina adalah Haal bagi lafal yang tidak disebutkan, yakni telah dipastikan penempatan mereka (di dalamnya berabad-abad) yakni untuk selama-lamanya tanpa ada batasnya; lafal Ahqaaban bentuk jamak dari lafal Huqban.
  4. (Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya) mereka tidak pernah merasakan tidur di dalamnya (dan tidak pula mendapat minuman) minuman yang lezat.
  5. (Kecuali) atau selain (air yang mendidih) yaitu air yang panasnya tak terperikan (dan nanah) dapat dibaca Ghasaaqan dan Ghassaaqan artinya nanah yang keluar dari tubuh penghuni-penghuni neraka; mereka diperbolehkan untuk meminumnya.
  6. (Sebagai pembalasan yang setimpal) atau sesuai dengan amal perbuatan mereka, karena tiada suatu dosa pun yang lebih besar daripada kekafiran, dan tiada azab yang lebih besar daripada azab neraka.
  7. (Sesungguhnya mereka tidak mengharapkan) artinya, mereka tidak takut (kepada hisab) karena mereka ingkar kepada adanya hari berbangkit.
  8. (Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami) mendustakan Alquran (dengan sesungguh-sungguhnya) maksudnya, dengan kedustaan yang sesungguhnya.
  9. (Dan segala sesuatu) dari amal-amal perbuatan (telah Kami hitung) telah Kami catat (dalam suatu kitab) yaitu dalam catatan-catatan di Lohmahfuz supaya Kami memberikan balasan kepadanya, antara lain karena kedustaan mereka terhadap Alquran.
  10. (Karena itu rasakanlah) artinya, lalu dikatakan kepada mereka sewaktu azab menimpa mereka, “Rasakanlah pembalasan kalian ini.” (Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kalian selain daripada azab) di samping azab yang kalian rasakan sekarang.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Sungguh, (neraka) Jahanam itu (sebagai) tempat mengintai[23],

[23] Maksudnya, di neraka Jahannam ada suatu tempat yang dari tempat itu para penjaga neraka mengintai dan mengawasi isi neraka.

  1. menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas.
  2. Mereka tinggal di sana dalam masa yang lama,
  3. mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya[24] dan tidak (pula mendapat) minuman[25],

[24] Ada yang menafsirkan “Kesejukan” di sini dengan tidur. Ada pula yang menafsirkan, bahwa mereka tidak mendapatkan sesuatu untuk menyejukkan kulit mereka.

[25] Untuk menghilangkan rasa haus mereka dan menyejukkan bagian dalam badan mereka. Dengan demikian, mereka merasakan panas luar dan dalam.

  1. selain air yang mendidih[26] dan nanah[27],

[26] Yang memutuskan usus-usus mereka.

[27] Yaitu nanah penghuni neraka; yang sangat bau dan sangat tidak enak rasanya.

  1. sebagai pambalasan yang setimpal[28].

[28] Mereka mendapatkan hukuman yang buruk itu adalah sebagai balasan yang sesuai dengan amal yang mereka lakukan. Allah tidaklah menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri. Pada ayat selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan beberapa amalan mereka sehingga mereka pantas mendapatkan azab itu.

  1. Sesungguhnya dahulu mereka tidak berharap (takut) kepada hisab[29],

[29] Mereka mengingkari kebangkitan dan pembalasan terhadap amal, sehingga mereka tidak beramal untuk akhirat.

  1. dan mereka benar-benar mendustakan ayat-ayat Kami.
  2. Dan segala sesuatu[30] telah Kami catat dalam suatu kitab (buku catatan amalan manusia)[31].

[30] Sedikit maupun banyak, baik maupun buruk.

[31] Di antara yang tercatat dalam catatan amal itu adalah pendustaan mereka terhadap Al Qur’an.

  1. Karena itu rasakanlah![32] Maka tidak ada yang akan Kami tambahkan kepadamu selain azab[33].

[32] Azab yang pedih dan kehinaan yang kekal wahai orang-orang yang mendustakan.

[33] Ayat ini merupakan ayat yang paling keras menerangkan tentang dahsyatnya azab neraka, semoga Allah melindungi kita darinya. Allahumma aamiin.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.

Sesungguhnya neraka Jahanam itu adalah tempat yang telah disediakan. (An-Naba: 21)

Yakni tempat yang telah disediakan dan dikhususkan,

bagi orang-orang yang melampaui batas. (An-Naba: 22)

Mereka adalah para pembangkang, para pendurhaka yang menentang rasul-rasul Allah.

sebagai tempat kembali (mereka). (An-Naba: 22)

Yaitu sebagai tempat kembali dan tempat menetap serta tempat mereka berpulang.

Al-Hasan dan Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah Swt: Sesungguhnya neraka Jahanam itu (padanya) ada tempat pengintai. (An-Naba: 21) Maksudnya, tiada seorang pun yang akan masuk surga melainkan harus melewati neraka. Maka jika ia mempunyai jawaz (paspor), selamatlah ia; dan apabila tidak mempunyainya, maka ia ditahan.

Sufyan As-Sauri mengatakan bahwa di atas neraka terdapat tiga buah jembatan.

mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. (An-Naba: 23)

Yakni mereka tinggal di dalam neraka selama berabad-abad, bentuk jamak dari hiqbun, yang artinya suatu masa dari zaman. Mereka berselisih pendapat tentang kadarnya masa ini.

Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Ibnu Humaid, dari Mahran, dari Sufyan As-Sauri, dari Ammar Ad-Duhni, darr Salim ibnu Abul Ja’d yang mengatakan bahwa Ali ibnu Abu Talib pernah bertanya sehubungan dengan penanggalan kamariah hijriah, “Apakah yang kalian jumpai dalam Kitabullah tentang makna al-hiqbu? Lalu dijawab, “Kami menjumpainya berarti delapan puluh tahun, tiap tahun mengandung dua belas bulan, dan tiap bulan mengandung tiga puluh hari, dan setiap hari lamanya sama dengan seribu tahun.” Hal yang sama telah diriwayatkan dari Abu Hurairah, Abdullah ibnu Amr, Ibnu Abbas, Sa’id ibnu Jubair, Amr ibnu Maimun, Al-Hasan, Qatadah, Ar-Rabi’ ibnu Anas, dan Ad-Dahhak.

Telah diriwayatkan pula dari Al-Hasan dan As-Saddi, bahwa lamanya tujuh puluh tahun dengan ketentuan yang sama. Telah diriwayatkan dari Abdullah ibnu Amr, bahwa satu hiqbu adalah empat puluh tahun, tiap hari darinya sama lamanya dengan seribu tahun menurut perhitunganmu. Keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Basyir ibnu Ka’b mengatakan, pernah diceritakan kepadanya bahwa satu hiqbu adalah tiga ratus tahun, dua belas bulan pertahunnya, dan setiap tahunnya mengandung tiga ratus enam puluh hari, dan lama tiap harinya sama dengan seribu tahun. Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim.

Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Amr ibnu Ali ibnu Abu Bakar Al-Isfidi, telah menceritakan kepada kami Marwan ibnu Mu’awiyah Al-Fazzari, dari Ja’far ibnuz Zubair, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah, dari Nabi ﷺ sehubungan dengan makna firman-Nya: mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. (An-Naba: 23) Bahwa al-hiqbu adalah satu bulannya bulan yang berisikan tiga puluh hari, dan tahunnya berisikan dua belas bulan, dan satu tahunnya berisikan tiga ratus enam puluh hari; setiap harinya sama dengan seribu tahun menurut perhitunganmu; maka satu hiqbu adalah tiga puluh ribu tahun. Hadis ini munkar sekali. Al-Qasim dan orang yang meriwayatkan darinya yaitu Ja’far ibnuz Zubair. Kedua-duanya hadisnya tidak terpakai.

Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mirdas, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Muslim alias Abul Ala yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Sulaiman At-Taimi, “Apakah ada seseorang yang dikeluarkan dari neraka?” Maka ia menjawab bahwa telah menceritakan kepadaku Nafi’, dari Ibnu Umar, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:

وَاللَّهِ لَا يُخْرُجُ مِنَ النَّارِ أَحَدٌ حَتَّى يَمْكُثَ فِيهَا أَحْقَابًا

Demi Allah, tiada seorang pun yang dikeluarkan dari neraka sebelum tinggal di dalamnya selama berabad-abad.

Lalu ia menyebutkan bahwa satu hiqbu ialah delapan puluh tahun lebih setiap tahunnya mengandung tiga ratus enam puluh hari menurut perhitunganmu. Kemudian Sulaiman ibnu Muslim Al-Basri mengatakan bahwa pendapat inilah yang terkenal.

As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. (An-Naba: 23) Yakni tujuh ratus hiqbu, setiap hiqbu tujuh puluh tahun, setiap tahun tiga ratus enam puluh hari, dan setiap hari sama dengan seribu tahun menurut perhitunganmu.

Muqatil ibnu Hayyan telah mengatakan bahwa sesungguhnya ayat ini telah di-mansukh oleh firman Allah Swt. yang mengatakan: Karena itu, rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kalian selain dari azab. (An-Naba: 30)

Khalid ibnu Ma’dan telah mengatakan bahwa ayat ini dan firman Allah Swt.: kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). (Hud: 107) berkenaan dengan ahli tauhid (yang berbuat durhaka); keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan bahwa dapat pula ditakwilkan bahwa firman Allah Swt.: mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. (An-Naba: 23) Berkaitan dengan firman-Nya: mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman. (An-Naba: 24)

Kemudian Allah mengadakan lagi bagi mereka sesudahnya azab yang lain yang berbeda dengan azab yang sebelumnya. Selanjutnya Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat yang sahih mengatakan bahwa azab di neraka itu tiada habis-habisnya, seperti yang dikatakan oleh Qatadah dan Ar-Rabi’ ibnu Anas.

Yang hal ini telah dikatakannya sebelumnya, bahwa telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abdur Rahim Al-Burqi, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Abu Salamah, dari Zuhair, dari Salim yang mengatakan bahwa aku mendengar Al-Hasan ditanya tentang makna firman Allah Swt.: mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. (An-Naba: 23). Lalu Al-Hasan menjawab, bahwa makna ahqab tiada bilangannya melainkan hanyalah menunjukkan kekal di dalam neraka. Tetapi jika mereka menyebutkan al-hiqbu adalah tujuh puluh tahun, itu berarti setiap hari darinya sama dengan seribu tahun menurut perhitunganmu.

Sa’id telah meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. (An-Naba: 23) Yang dimaksud dengan berabad-abad adalah masa yang tiada habis-habisnya, setiap kali habis satu abad datang lagi abad selanjutnya, tanpa ada batasnya.

Ar-Rabi’ ibnu Anas mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. (An-Naba: 23) Bahwa tiada seorang pun yang mengetahui bilangan masa tersebut kecuali hanya Allah Swt. Telah diriwayatkan pula kepada kami bahwa al-hiqbu sama dengan delapan puluh tahun, dan setiap tahunnya mengandung tiga ratus enam puluh hari, sedangkan setiap harinya sama dengan seribu tahun menurut perhitunganmu. Kedua pendapat diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Firman Allah Swt.:

mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman. (An-Naba: 24)

Yakni di dalam neraka Jahanam mereka tidak menjumpai hal yang menyejukkan hati mereka, tidak pula menjumpai minuman yang baik buat pengisi perut mereka. Oleh karena itu, maka disebutkan dalam firman berikutnya:

selain air yang mendidih dan nanah. (An-Naba: 25)

Abul Aliyah mengatakan bahwa ini merupakan lawan kata dari sebelumnya; kesejukan diganti dengan air yang mendidih dan minuman yang enak diganti dengan nanah. Yang dimaksud dengan hamim ialah air yang panasnya telah mencapai puncak didihnya; dan yang dimaksud dengan gassaq ialah campuran dari nanah, keringat, air mata, dan yang keluar dari luka-luka ahli neraka, dinginnya tidak terperikan, dan baunya yang busuk tidak tertahankan. Kami telah menerangkan tentang gassaq ini dalam tafsir surat Sad, hingga tidak perlu diulangi lagi. Semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut berkat karunia dan kemurahan-Nya.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa suatu pendapat ada yang mengatakan bahwa firman-Nya: mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya. (An-Naba: 24) Yakni tidak dapat tidur selamanya, seperti yang dikatakan oleh Al-Kindi:

بَرَدَتْ مَرَاشِفُهَا عَلَيَّ فَصَدَّنِي … عَنْهَا وَعَنْ قُبُلَاتِهَا الْبَرْدُ

Terasa sejuk olehku moncong wadah minumannya, tetapi rasa kantuk yang menyerang diriku menghalangiku dari mereguknya.

Yang dimaksud dengan al-bard (dingin) ialah rasa kantuk yang berat. Demikianlah menurut penuturan Ibnu Jarir, tetapi dia tidak menisbatkan syair ini kepada siapa pun. Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkannya melalui jalur As-Saddi, dari Murrah At-Tayyib; dan ia telah menukilnya pula dari Mujahid. Al-Bagawi telah meriwayatkannya pula dari Abu Ubaidah dan Al-Kisa-i.

sebagai pembalasan yang setimpal. (An-Naba: 26)

Yaitu siksaan yang sedang mereka alami ini merupakan hasil dari amal perbuatan mereka yang rusak selama mereka berada di dunia. Demikianlah menurut Mujahid dan Qatadah serta selain keduanya yang bukan hanya seorang. Kemudian dalam firman berikutnya disebutkan:

Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab. (An-Naba: 27)

Yakni mereka sama sekali tidak percaya bahwa di alam akhirat ada kehidupan lain yang mereka akan mendapati balasan amal perbuatannya dan menjalani hisab (perhitungan)nya.

dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya. (An-Naba: 28)

Dahulu mereka mendustakan hujah-hujah Allah dan bukti-bukti kebenaran-Nya terhadap makhluk-Nya, yang Dia turunkan kepada para rasul-Nya, tetapi mereka menyambutnya dengan kedustaan dan keingkaran.

dengan kedustaan yang sesungguh-sungguhnya. (An-Naba: 28)

Yaitu takziban (dengan sesungguh-sungguhnya), ini merupakan bentuk masdar yang bukan berasal dari fi’il (kata kerja)nya. Ulama Nahwu mengatakan bahwa pernah ada seorang Arab Badui meminta fatwa dari Al-Farra sehubungan dengan tahalhil di Marwah, “Apakah memotong rambut yang lebih engkau sukai ataukah mencukurnya pendek-pendek?” Yakni dengan memakai ungkapan al-qissar (sewazan dengan kizzaba). Dan sebagian dari mereka mengucapkan dalam salah satu bait syairnya,

لَقَد طالَ مَا ثَبَّطتنِي عَن صَحَابَتِي … وَعَنْ حِوَجٍ قَضَاؤُهَا مِن شفَائيا …

“Sesungguhnya telah lama masa yang menghambat dia dari menemaniku dan dari menunaikan keperluannya yang banyak disebabkan keadaanku yang sengsara.”

Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab. (An-Naba: 29)

Sesungguhnya Kami mengetahui amal perbuatan semua hamba dan Kami telah mencatatkannya atas mereka, maka Kami akan membalaskannya terhadap mereka; jika baik, maka balasannya baik; danjika buruk, maka balasannya buruk.

Karena itu, rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kalian selain dari azab. (An-Naba: 30)

Yakni dikatakan kepada penduduk neraka, “Rasakanlah akibat dari perbuatanmu, maka Kami tidak akan menambahkan kepada kalian selain azab yang beraneka ragam.”

Qatadah telah meriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Azdi, dari Abdullah ibnu Amr ibnul Asyang mengatakan bahwa tiada suatu ayat pun yang lebih keras bagi ahli neraka selain dari firman-Nya: Karena itu, rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kalian selain dari azab. (An-Naba: 30) Bahwa mereka berada dalam tambahan azab selama-lamanya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Muhammad ibnu Mus’ab As-Suri, telah menceritakan kepada kami Khalid ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Jusr ibnu Farqad, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Abu Barzah Al-Aslami tentang ayat yang paling keras di dalam Kitabullah atas ahli neraka. Maka ia menjawab, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ membaca firman-Nya: Karena itu, rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kalian selain dari azab. (An-Naba: 30)

Lalu beliau ﷺ bersabda:

هَلَكَ الْقَوْمُ بِمَعَاصِيهِمُ اللَّهَ عَزّ وَجَلَّ

Binasalah kaum itu disebabkan perbuatan-perbuatan durhaka mereka kepada Allah Swt.

Jusr ibnu Farqad hadisnya lemah sama sekali.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 29 «««««                        ««««««« juz 30 «««««